The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 35 - Situasi Genting


__ADS_3

Sesampainya di tempat Avrim menunggu. Avrim langsung panik melihat banyak luka di tubuh Clara, terutama bahu kanannya.


"Nona, kalau seperti ini seharusnya saya tidak kabur barusan."


"Tenang saja, Avrim melakukan itu agar tempat ini lebih aman untuk kita datangi. Oh ya, apakah tidak ada musuh disini?"


"Tidak ada Nona, saya sudah memeriksanya berkali - kali dan tidak ada siapapun yang memata - matai tempat ini."


"Baguslah..."


Duke Wayne menatap Avrim dengan tajam, "Sejujurnya jika situasi kita tidak seperti ini. Mungkin saja kau tidak akan selamat karena sudah menyusup ke wilayah Wayne."


"Maafkan saya Duke Wayne, akan tetapi tugas adalah tugas. Tuan sudah memberikan perintah, maka saya harus menyelesaikannya."


"Apakah Tuan yang kau bicarakan ini salah satu bangsawan? Kupikir akan aneh jika kau bukan dikirim bangsawan."


"Sekali lagi maafkan saya Duke Wayne. Hal tersebut tidak bisa saya bocorkan kepada siapapun. Bahkan sampai saat ini, Nona pun belum mengetahuinya."


Mendengar Avrim mengatakan itu, Duke Wayne beralih menatap Clara. Sontak Clara menggeleng dengan cepat, dia memang tidak tahu apa - apa sesuai perkataan Avrim.


Duke Wayne menghela napas dengan berat. Ini adalah kali kedua dia ditimpa masalah sebesar ini. Tapi demi melindungi Clara dari tangan - tangan hitam di Ranunculus ini, dia membutuhkan bantuan Avrim. Hortensia mungkin adalah tempat yang tepat untuk Clara.


"Cepatlah lewati perbatasan utama, jika terlalu banyak menghabiskan waktu disini. Maka... habislah sudah. Tak akan ada kesempatan kedua untuk melarikan diri."


Clara dan Avrim mengangguk.


Rencana awal berjalan cukup baik sampai saat ini. Kecacatan dari rencana ini hanyalah terlukanya Clara. Mungkin Avrim akan mendapat teguran keras setelah sampai di Hortensia.


"Ayo Nona."


"Um. Sampai jumpa lagi... Duke Wayne."


Eh? Firasatku benar - benar buruk saat ini. Tidak mungkin kan...?


SRAT


CRAS


"Avrim?!!!"


Avrim yang berada di depan Clara tiba - tiba mendapatkan luka tebasan di punggungnya. Bahkan kedua kuda yang dipegang Avrim mendadak menjadi liar dan berlari tak tentu arah.


Bukankah kata Avrim tidak ada siapa - siapa yang mengintai? Apakah hawa keberadaannya begitu tipis hingga Avrim tak menyadari kehadirannya?


Duke Wayne siaga kembali, "Sial. Baru saja aku mengalahkan mereka di tengah perjalanan. Sekarang mereka mulai menambah jumlah, aku kagumi Count Cheltics sangat pandai berurusan dengan strategi perang."


"Cukup sampai disana, Duke Wayne."


Keluar dari kegelapan malam, disinari oleh rembulan. Pria berpakaian bangsawan itu mengampiri Duke Wayne sambil mengarahkan pedangnya pada orang yang ia hormati itu.

__ADS_1


Duke Wayne kemudian nampak tertarik, "Oh... kukira itu Count Cheltics. Ternyata itu adalah kau, Raģe. Bagaimana keadaan Ayahmu?"


"Huh, dia tentu saja sedang berdiam diri dan menunggu anda menyerahkan gadis muda itu. Siapa sebenarnya namanya?"


Raģe menatap Clara yang saat ini memegang tubuh Avrim yang penuh dengan simbahan darah. Karena hari ini malam, tentu saja Clara hanya memakai jubah tanpa menutup kepalanya.


Meski Raģe menganggap jika Clara Scoleths adalah gadis tercantik dengan kecantikan paling mengesankan sekalipun. Raģe lebih memilih untuk menyerahkannya kepada algojo untuk dieksekusi.


"Mengapa? Mengapa Duke Wayne begitu melindunginya? Bukankah anda selama ini merasa tertekan karena keberadaannya? Yang Mulia Raja terdahulu adalah teman anda, bukan?"


"Lalu?"


Raģe tersenyum simpul, "Apakah anda 'menyimpan' gadis itu sebagai bentuk kenangan terakhir dari teman anda?"


"....."


"Saya juga ingat jika Freesia sangat membenci anda. Sebenarnya, mengapa bisa anda punya begitu banyak masalah dalam hidup anda?"


"Hee... siapa yang tahu?"


"Kau...!"


Di tengah percakapan antara Duke Wayne dan Raģe Cheltics. Clara, yang masih memegang Avrim di pelukannya menatap menyalang pada Raģe.


"Sial, jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri maka...!"


SRING


Selama ini aku selalu menjaga keselamatan Avrim. Duke, Duchess, Hendrick bahkan Hellen, aku beruntung karena kekhawatiranku tidak terjadi! Akan tetapi dia...!


"Clara Scoleths! Apakah kau mendengarku?!" Teriak Duke Wayne.


Namun Clara, yang saat ini sudah diambang kewarasannya. Tetap fokus kepada seorang target, Raģe Cheltics.


"Manusia sepertimu, seharusnya mati saja...!"


Clara berlari kearah Raģe dengan seluruh kebenciannya. Duke Wayne sadar, seharusnya yang saat ini mendominasi kesadaran gadis itu adalah pribadi dalamnya.


Namun nampaknya Raģe sudah bersiap dan menunggu kedatangan Clara. Dia melakukan kuda - kuda demi menghadapi serangan dari seorang gadis.


Anehnya, meski ia menganggap Clara memang seperti gadis pada umumnya. Akan tetapi dalam pertarungan, Raģe sama sekali tak mau meremehkan siapapun lawannya bahkan meski itu adalah perempuan.


"Gawat?!"


"Ugh...!"


Mendadak dari arah berlawanan, seorang manusia berjubah hitam yang menunggangi kuda menangkap kerah baju Clara dan membuatnya duduk di bagian belakang.


Dan ketika itu mereka kembali bertukar kesadaran.

__ADS_1


Clara yang baru kembali sadar pun tak bisa melakukan perlawanan apapun. Meski begitu, dia menatap tempat dimana Avrim berada sebelum ia melupakan banyak hal.


Hi..hilang?! Dimana Avrim sebenarnya?!


...****...


Meninggalkan Clara dan sosok misterius penunggang kuda tersebut. Duke Wayne serta Raģe masih tak bergemin dari tempat awal mereka, masih terkejut dengan kedatangan tiba - tiba orang tersebut.


Setelah itu, dengan sinis Duke Wayne menatap Raģe yang jauh di sampingnya. "Apakah kau akan menangkapku karena membantu buronan kabur?"


Tapi Raģe mengabaikan pertanyaan itu, "Hal itu tidak akan saya lakukan. Bagaimanapun, anda sudah banyak berjasa pada saya, juga pada Ranunculus."


"Heh, kemampuan menyusupmu makin luar biasa saja. Aku tak mengira jika satu - satunya muridku ini akan menjadi seorang penasihat kerajaan di masa depan. Padahal kau lebih bagus berada di medan perang."


Benar sekali, Raģe Cheltics adalah calon penasihat kerajaan setelah Grand Duke Harold. Hal itu bisa terjadi karena Grand Duke Harold sendiri tidak memiliki anak laki - laki. Keempat anaknya adalah perempuan dan yang paling bungsu ialah Valentina Harold.


Salah satu gadis paling diminati dari dataran Ranunculus ini. Tentunya setelah Hellen Wayne, anak bungsu dari Duke Wayne.


Hendrick tidak bisa menjadi penasihat kerajaan, dia memilih meneruskan jabatan ayahnya sebagai seorang Duke.


Karena kondisi inilah, Raģe yang menyukai pertarungan dipaksa untuk mempelajari hal - hal berbau sejarah serta politik sedari kecil. Beruntung dia masih diperbolehkan memegang pedang kapanpun ia mau.


"Awalnya, itu jugalah yang kuinginkan... aku lebih menyukai senjata dibandingkan semua kertas kuning itu."


Raģe menyarungkan kembali pedang miliknya, berjalan masuk ke kegelapan malam.


"Sampai jumpa lagi, Guru Fred."


...****...


"Siapa kau...?!"


Clara yang masih diatas kuda dengan keadaan tengkurap kemudian diturunkan dari sana. Dia menunjuk kearah orang yang baru saja menculiknya.


"Apa kau memang tidak mengenalku? Kita baru bertemu kemarin malam, seingatku."


Huh? Kemarin malam? Firasatku buruk tentang ini!!


Orang itu melepas tudung kepalanya, memperlihatkan wajah yang dikagumi para wanita di tanah ini. Mungkin gadis pada umumnya akan berteriak histeris melihat ini.


Namun Clara berbeda, dia hanya bisa berekspresi datar setelah melihat keseluruhan wajahnya.


"Kita bertemu lagi, Nona Scoleths."


"Ha.. ha.. iya benar, Pangeran..."


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2