
Setelah perdebatan waktu itu, mereka memutuskan untuk ke Vinca terlebih dahulu. Semua agar pengobatan yang diterima pada Clara lebih baik lagi. Bisa saja mereka ke Hortensia, namun akan beda ceritanya jika Meiger tahu yang terluka paling parah ialah Clara.
Pasti tidak akan ada jalan - jalan lagi.
Clara ditempatkan di kamar tamu. Ini sudah pagi ketiga sejak pelarian mereka dari Freesia. George dan Jean sedang menunggu kedatangan Edmond di ruang makan.
"Saya tahu Tuan George khawatir pada Nona. Tapi setidaknya Tuan George tak boleh lupa makan, Nona takkan senang dengan ini." Jean meletakkan selembar roti pada piring George yang masih kosong.
George tak bereaksi, dia tetap diam. Tetapi dia mengambil roti tersebut dan memakannya perlahan.
Mungkin dia merasa bersalah atas terlukanya Clara. Jean bisa menyembuhkan Clara, hanya saja dia kekurangan sumber dari sihir. Entahlah, seperti Vinca adalah wilayah yang bersih dari sihir hitam.
Anehnya, pewarisnya malah sebelas dua belas dengan iblis hitam.
Edmond datang dengan seseorang di belakangnya. Cara jalannya berlebihan, pantaskah seorang pewaris tahta seperti dirinya?
Jean terkejut ketika seseorang di belakang Edmond adalah kaisar Hortensia.
"Salam sejahtera untuk Kaisar Hortensia."
George sendiri masih tak bergeming. Dia tidak memperhatikan sekitarnya, seolah tenggalam dalam pikirannya sendiri. Tidak masalah juga sih. Karena Meiger bukanlah kaisar yang gila kehormatan.
Meiger menarik kursi di depan George dan mendudukinya. Tampaknya George hanya fokus dengan pikirannya, tetapi tatapan kosong di matanya tidak menjabarkan apapun.
"Sejak kapan dia menjadi begini?" Tanya Meiger.
"Sejak penyerangan Freesia gagal, Yang Mulia. Atau mungkin lebu tepatnya setelah Nona terluka dan dia membangkitkan semacam kekuatan misterius. Itu seperti dari... sihir hitam?"
Meiger terperanjat. Lalu, dia dengan tenang mengambil cangkir teh di depannya dan menyesapnya.
Edmond duduk di samping Meiger tanpa izin dari empunya. Jean sendiri masih tahu tata krama, jadi dia tak duduk kembali. Dia memilih berdiri di samping George agak kebelakang.
"Kau tahu tidak, Meiger? Raja Willem mengatakan jika Clara diutus langsung oleh Ranunculus untuk menculik pria muda ini. Padahal ini semua 'kan salah Hortensia, malah yang kena imbasnya Ranunculus. Kasihan sekali mereka itu ckckck!" Celetuk Edmond, memecah keheningan.
Itu memanglah benar.
Tempo hari setelah kepulangan Edmond dari Hortensia. Pria itu ternyata punya janji dengan Raja Willem dari Freesia. Mereka akan melakukan sebuah rencana kerja sama, tentu ini menguntungkan bagi keduanya. Maka dari itu, Raja Vinca atau ayah Edmond, mengirim Edmond sendiri ke Freesia.
Yang dibahas oleh mereka tidak jauh dari masalah politik Ranunculus serta Freesia. Ranunculus sendiri telah menyebabkan banyak kerugian bagi Freesia karena ulah mereka, jadi Freesia begitu dendam kepada wilayah tersebut.
Akhirnya, Vinca memutuskan untuk memberikan Freesia bantuan apabila Ranunculus dan Agapanthus memulai penyerangan mereka.
Dan di benua Herbras ini tersisa satu wilayah lagi yang masih netral. Hanya Hortensia saja, wilayah Barat sangat tidak memperdulikan kondisi mencekam para tetangganya.
Parahnya, Vinca malah memulai koalisinya dengan Freesia.
Setelah ini, kemampuan tempur mereka menjadi seimbang.
Meiger berfikir itu seimbang karena Agapanthus bukanlah wilayah yang lemah. Kemampuan tempur mereka sangat luar biasa Bahkan Vinca sendiri yang wilayahnya lebih luas malah lebih lemah dari mereka.
Alasan kenapa Meiger menyebut Vinca lebih lemah adalah... Vinca selama ini hanya tahu cara bertahan, mereka buta dalam menyerang. Di peperangan ratusan tahun lalu pun mereka tak begitu menonjol atau ditakuti kelompok lain, beruntung saja mereka dapat tanah yang begitu luas seperti Vinca.
Raja Willem juga, walaupun dari luar terlihat seperti pendendam akut. Matanya masih bisa melihat dengan jelas bagaimana Vinca itu. Jadi Raja Willem bekerja sama dengan Vinca hanya untuk memperkuat pertahanan mereka saja.
Kembali pada topik.
Edmond datang ke Freesia setelah mendapat kabar jika sembilan belas prajurit elit yang dimilikinya tewas, serta George (anak haram nya) dibawa kabur oleh Clara.
Raja Willem yang dibutakan oleh amarah langsung menyalahkan Ranunculus. Mereka mengira bahwa Ranunculus sengaja membuat Clara datang kesini dan menculik George agar Freesia tak punya senjata lagi.
Ini adalah kisah lama yanh terulang kembali.
__ADS_1
"Mengkambing hitamkan Ranunculus, apa salahnya?" Meiger mengangkat sebelah alisnya, pose bertanya.
"Astaga! Mereka sangat sial! Dirugikan oleh wilayah netral seperti Hortensia. Bahkan Kaisar Hortensia selaku sang pemimpin tidak mau meluruskan masalah ini." Cibir Edmond.
TAK
Meiger meletakkan cangkir teh nya kembali ke atas meja makan, "Aku hanya tak mau membuat semuanya makin runyam."
"Benar juga sih..." Edmond meringis pelan.
"Jean?"
"Ada sesuatu, Yang Mulia?"
"Bagaimana Clara?"
"Nona baik - baik saja. Hanya saja butuh waktu yang cukup lama agar Nona bangun. Tapi tenang saja Yang Mulia, luka Nona sudah pulih total." Jean menjawabnya sambil berkeringat dingin, padahal mereka kesini untuk menghindari Kaisar.
Sayang sekali semuanya tak sesuai skenario.
Bagaimana jika kaisar malah mengeksekusi George sebagai ganti karena telah melukai barang antiknya?
Jean waspada akan ledakan.
"Ouh..."
Namun bukan ledakan yang ia dapat. Melainkan hanya 'ouh' saja. Sepertinya Meiger masih dalam mode sadis sampai - sampai dia tak peduli pada kondisi Clara.
Ini semua menjadi membingungkan bagiku.
...❀...
Di kamar sebuah mewah, Clara terbaring dengan cantiknya. Baru kali ini dia tertidur dalam posisi seperti para gadis bangsawan. Biasanya Clara tidur akan misuh sana - sini jika badannya belum mendapatkan kenyamanan.
Tanpa bantuan siapapun, Clara berhasil duduk.
Hmm... Claire, kau sudah menuntaskannya 'kan? Aku tak mau dengar jika George terluka!
[Heh! Master terlalu khawatir kepadanya. Bahkan tanpa bantuanku sekalipun, dia mampu membantai 8 prajurit elit itu.]
Maksudmu kau tak keluar dan mengambil alih kesadaranku?
[Itu tak diperlukan. Lagipula karena terlukanya Master, pria itu seperti terpicu untuk melakukan sesuatu. Kondisi khusus yang istimewa, tidak seperti kita namun agak mirip saja.]
Dia membantai mereka semua?! Semuanya?! Jangan bercanda Claire. Dia bahkan ketakutan saat melihat kepala buntung. Masa sih hanya dalam semalam mendadak jadi pembunuh ahli...?
Clara menggaruk kepalanya. Dia sama sekali tak memperkirakan ending yang membagongkan ini. Claire malah tak mengambil alih kesadarannya, serta George yang mendadak mampu membunuh. Bahkan dia membantai kedelapannya dengan mudah.
[Jika Master tak percaya itu hak Master. Tetapi yang Master perlu ingat adalah, kini George telah menjadi senjata sepenuhnya karena Master.]
Kok karena aku sih?
[Master sendiri yang memicunya melakukan pertahanan diri. Maka jadilah dia seorang pembunuh.]
Pembicaraan mereka terhenti disana. Clara sibuk memikirkan bagaimana caranya George bisa menjadi pembantai dadakan. Ini sama sekali tidak terdengar seperti George.
Penipuan macam apa ini?
Mendengar pernyataan Claire. Dia malah merasa bersalah terhadap George. Hidup George makin rumit saja sekarang, dan ini semua karena dirinya.
"Aku harus melihat keadaan George."
__ADS_1
Clara langsung bangkit dari tempat tidurnya. Tidak peduli jika dia masih mengenakan piyama. Dia berjalan kesana kemari, namun dia baru sadar jika tempat ini bukanlah di Hortensia.
"Aree? Dimana ini? Dan dimana aku...?"
"Argh! Payah sekali!" Clara mengumpat sial.
Beruntung sekali ada seorang pelayan wanita yang melewatinya. Dia langsung menarik pelayan itu dan menanyakan tentang dimana keberadaan George saat ini. Pelayan itu menjawabnya sekalian menunjukka jalan pada Clara yang buta peta istana ini.
"Terima kasih."
Clara bergegas melangkah kearah yang ditunjukkan pelayan itu. Dan disanalah, dia menemukan ruang makan. Dimana ada beberapa orang yang dia kenali. Dan pria yang duduk membelakanginya dengan surai silver.
"Itu George."
Clara buru - buru menghampiri George. Dia tidak peduli jika ketiga pria lain disana menatapnya dengan aneh. Clara benar - benar telah banyak membuat George kesusahan. Ini adalah waktu yang tepat untuk minta maaf.
"George?"
"Nona..." Lirih Jean.
George belum merespon, dia tak bergeming sedikitpun meski Clara memanggil namanya ataupun menggoncangkan tubuhnya karena kesal George tak bereaksi.
"Bagaimana jika kau memeluknya?"
Edmond dengan santainya memberi saran yang absurd. Dia bahkan mendapatkan tatapan tajam dari Meiger serta Jean karena perkataan absurd nya yang menyesatkan.
Mata Edmond melebar. Dia tersenyum penuh arti. Kini dia paham dengan apa yang terjadi pada keempat manusia yang sedang drama di hadapannya.
Edmond menatap Clara tertarik.
Gadis ini mau menciptakan harem atau apa?
Clara yang mendengar saran Edmond, tadinya mau protes tapi jika dipikir - pikir lagi itu bukanlah saran yang salah. Mungkin kalau dia mencobanya sekali, George akan merespon.
Clara membuka lebar kedua tangannya, melingkari leher George. Dagu Clara menumpu pada kepala George, ini benar - benar sebuah adegan yang Edmond tunggu - tunggu.
Dia tertawa cekikikan melihat reaksi Meiger dan Jean.
Meiger menatap mereka dengan dingin dan mengeluarkan aura hitam yang menyeramkan, kalau cemburu bilang saja.
Di sisi lain, Jean juga sama saja. Dia bahkan menatap jijik seolah George adalah makhluk rendahan.
"Huh?"
George tersadarkan, dia merasakan suatu beban berat yang dipikul kepala dan lehernya. Kemudian dia melihat jika Clara dalam posisi sedang memeluknya. Jujur, dia senang. Tapi tidak dengan kedua orang yang menatapnya. Karena itulah, George perlu menyudahi pelukan ini.
"Clara, kau tidak seharusnya memelukku." Gumam George.
Setelah memastikan bahwa George telah 100% sadar. Clara melepaskan pelukannya, dia duduk di samping George dengan cepat. Matanya masih menatap lekat pemuda yang kata Claire telah menjadi senjata sepenuhnya ini.
"Maaf." Kata itu dengan spontan keluar dari bibir Clara.
Tatapan Meiger melunak. Adegan di depannya sudah berganti. Dia takkan mengurus apa yang terjadi saat ini, karena itu urusan mereka berdua. Menjadi senjata adalah hal rumit dan sangat beresiko. Tak ikut campur adalah pilihannya sekarang.
Meiger berdiri dan menatap Jean, mereka harus keluar dari tempat ini. Atau semuanya tak akan berjalan mulus bagi mereka. Para senjata memiliki perbincangan yang takkan orang lain pahami. Jean pasrah harus meninggalkan kedua orang ini berduaan.
Melihat aksi Meiger dan Jean yang keluar ruangan, menjauhi kedua senjata. Edmond mengerti sepenuhnya, mereka membutuhkan ruang untuk bicara. Jadi Edmond segera menyusul Meiger dan Jean yang sudah agak jauh darisana.
Para senjata itu, punya rahasia mereka masing - masing.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~