The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 82 - Tentang Mawar Biru


__ADS_3

Siang ini, Clara sedang makan siang bersama kaisar tentunya. Jean? Entah kemana orang itu. Sejak pagi tadi saat Clara merusuh di kuil istana, Jean tidak ada disamping kaisar.


"Yang Mulia. Jean kemana?"


"Dia ada urusan di Vinca."


"Menjenguk George?"


Kaisar mengerutkan keningnya, kenapa Clara punya banyak kenalan akrab yang adalah pria? Oke, Clara punya paras yang cantik. Hanya saja, kaisar yakin bahwa para pria itu tidak melihat dari fisiknya saja. Sebab Clara punya sikap yang menyebalkan. Jadi kaisar berfikiran siapapun pria yang melihat Clara dengan cara berbeda, sudah dipastikan jika dia punya perasaan khusus pada Clara.


"Seperti yang kau katakan."


"Tapi kita baru dari Vinca kemarin, masa Jean belum lewat beberapa hari kembali lagi sih." Clara menekuk wajahnya.


Bukan hanya Jean yang hilang. Bahkan Nero pun sama. Saat Clara merusuh ke dapur, tidak ada Nero di manapun. Clara bertanya pada koki lain dan jawaban mereka itu sama, 'Tidak tahu'.


Tidak lucu kalau mereka kawin lari 'kan?


"Jangan tanya padaku, tanya saja padanya."


"Memangnya Jean tidak mengatakan apapun saat akan ke Vinca?"


"Tidak juga..."


"Huh! Misterius sekali."


Clara menjauhkan tubuhnya dari meja makan. Dia sedang tidak berselera makan, bukan karena hilangnya Jean. Melainkan rasa masakan hari ini agak pahit, dan dirinya tak kuasa untuk menghabiskan sepiring penuh.


"Yang Mulia, hamba sudah kenyang."


"Kenapa? Isi piringmu cuma habis sepertiganya. Tidak seperti dirimu saja. Ada apa denganmu?"


"Seharusnya Yang Mulia bertanya ada apa dengan makananmu 'kan?"


"Sama saja."


"Rasanya pahit, seperti gosong. Hamba lebih suka dengan masakan Nero, rasanya istimewa kalau dia yang memasak."


Kaisar terdiam sejenak, dia mengambil potongan kecil daging dari piring Clara. Hal itu membuat Clara terkejut, kenapa? Karena makan sepiring berdua itu seperti pasangan.


Kalian tidak lupa bukan dengan perubahan status Clara hari ini setelah pernyataan pagi tadi?


Rasanya memang membahagiakan, namun Clara lagi - lagi mengomentari tindakan kaisar. Di pagi hari di musim dingin, sungguh bukan waktu yang romantis. Tapi Clara ambil positif nya saja, dia dicintai oleh kaisar.


Clara sedikit tersentak ketika mengingat pernyataan kaisar. Bahkan pria ini tidak mengucapkan 'aku mencintaimu'. Lalu mengapa Clara mendefinisikan perkataan kaisar sebagai sesuatu yang romantis?


Sudahlah, mungkin ada kode diantara mereka berdua yang hanya bisa dipahami oleh mereka saja.

__ADS_1


TUK TUK


Clara mengetuk - ngetuk meja makan saking bosannya. Tidak ada Jean yang bisa ia ajak untuk merusuh istana. Kaisar sendiri juga pasti sibuk dengan tugasnya, Clara tidak mau menjadi nyamuk diantara kaisar dengan pekerjaannya. Dan juga Nero, Clara tak bisa minta diajari memasak kue olehnya.


"Sebenarnya kemana Nero pergi?" Gerutu Clara.


Kaisar yang mendengarnya hanya menatap datar. Gadis ini sepertinya akan sangat sulit untuk diajak kerja sama dalam situasi apapun.


"Minggu depan aku akan ke Vinca, mau ikut?"


Wajah Clara menjadi cemerlang seketika, ini adalah ajakan jalan - jalan setelah pernyataan cinta. Bisakah ini disebut kencan? Sebenarnya mereka sudah kencan (hanya Clara yang menyebutnya kencan) beberapa kali sebelumnya, jadi Clara agak terbiasa.


"Boleh Yang Mulia! Hamba rasanya bosan jika harus terus berada di dalam sini. Sejujurnya juga hamba ingin ke Freesia sebentar..." Suara Clara semakin rendah ketika dia mengatakan ingin ke Freesia.


Bukan alasan khusus dia ingin kesana. Clara hanya mau mengunjungi tempat dimana Avrim melebur menjadi bunga. Avrim yang selama ini selalu bersama Clara, telah meninggalkannya.


Clara tahu jika Avrim yang ia temui adalah hasil dari pengendalian Jean pada mayat Avrim. Avrim yang sebenarnya sudah tiada. Walaupun begitu, Clara ingin menghormati Avrim dan mendatangi makamnya untuk terakhir kali. Entahlah itu makam atau bukan, Clara akan menyebutnya begitu.


"Vinca dan Freesia itu berada di dua tempat yang saling berlawanan arah. Satu utara dan yang satunya selatan, kita tidak bisa mampir ke Freesia." Meiger menghela napas, mendadak dia merasa lelah hanya karena bicara dengan senjata ini.


"Benar juga sih..." Clara terdengar kecewa.


Sungguh, Clara selalu pandai dalam membuat senjata pamungkas untuk melawan Meiger. Dia tahu saja kalau kaisar Hortensia akan sulit menolak permintaan ini, ditambah dia meminta dengan ekspresi menyedihkan.


"Ck! Kita ke Freesia besok saja. Jangan sampai kau telat bangun."


"Avrim..."


...❀...


Siang telah berganti malam. Matahari sudah digantikan oleh rembulan. Bintang - bintang yang sebelumnya bersembunyi kini tak malu lagi untuk menampakkan dirinya.


Clara berdiri diantara hamparan bunga mawar biru yang telah separuhnya tertutupi salju. Sayup - sayup ia mendengar suara jangkrik dan mahkluk malam yang sudah bangun dari tidur siangnya.


Pandangan Clara pada langit malam teralihkan, dia memandang mawar biru yang masih bisa bertahan di dinginnya musim dingin. Mereka ternyata tidak akan mati oleh musim. Apakah mereka itu abadi?


Clara berjongkok, menatap salah satu mawar biru yang ada dengan lebih intens. Duri - duri yang ada batang mawar cukup menyakitkan kalau tertusuk jarinya, paling parah mungkin tergores dan berdarah.


Tanpa disadari, tangan Clara bergerak untuk menyentuh mawar tersebut. Ada sesuatu pada bunga ini yang membuatnya tertarik.


Sungguh, berapa banyak pengaruh Clara Scoleths asli terhadap dirinya yang sekarang?


Mengapa Clara Scoleths dalam novel tak pernah melepaskan mawar biru yang telah ia genggam? Seistimewa itukah bunga ini? Aku pikir pansy, cosmos atau dandelion juga tak kalah uniknya. Jadi kenapa bunga ini...?


Kenapa penulisnya membuat mawar biru sebagai benda berharga milik Clara Scoleths?


TAP

__ADS_1


Clara menyentuh kelopak mawar biru. Itu tampak indah, mawar biru itu seperti bercahaya, seolah memantulkan sinar bulan.


Tubuh Clara mendadak membeku, dia tidak bisa menarik tangannya dari mawar tersebut. Kabut hitam keluar dari telapak tangan Clara dan terlihat diserap oleh mawar biru. Semakin banyak kabut hitam yang terserap mawar itu, warnanya semakin menghitam. Kini warna mawar itu telah menjadi hitam sepenuhnya.


Clara menyadari sesuatu. Meskipun yang dia miliki adalah sepasang safir. Bukan berarti dia bukanlah reinkarnasi dari Lyserith.


Gadis dalam mimpinya, Lyserith serta Clara Scoleths adalah orang yang sama dengan raga berbeda. Clara takkan membicarakan tentang perbedaan mereka, melainkan kesamaannya.


Clara Scoleths, dalam novelnya selalu membawa mawar biru. Lain dengan Lyserith yang dalam mimpinya membawa mawar putih.


Seharusnya Clara sadar lebih awal, asal - usul mawar biru itu. Mawar biru takkan pernah ada tanpa kehadiran mawar putih. Sebab, di dunianya, Clara belajar cara membuat mawar biru dari mawar putih.


Konsepnya memang sama. Sama - sama dari mawar putih, meski begitu ada perbedaan dari cara pembuatannya. Bagaimana bisa putih menjadi biru.


Kabut hitam yang keluar dari telapak tangan Clara barusan pastilah sihir hitam. Dan sihir itu terserap dengan mudahnya kedalam mawar biru. Kini, mawar biru telah berubah warna menjadi hitam.


Itu berarti, alasan mengapa mawar putih menjadi biru adalah sihir hitam. Lyserith selalu membawa - bawa mawar putih sebagai media untuk menyimpan sihir hitam yang ia serap.


"Ahaha... sungguh mind blowing sekali." Clara tertawa hambar.


Jadi, semua mawar biru yang terdapat disini adalah hasil dari kerja keras Lyserith dalam mengumpulkan sihir hitam. Terlebih lagi Clara mengetahui benar jika jumlah mawar biru di Hortensia lebih banyak dari wilayah lain di benua Herbras. Bukankah itu artinya Hortensia adalah wilayah dengan sihir hitam terbanyak? Betapa mengerikannya.


Pertanyaan Clara saat ini adalah...


"Siapa yang menanam semua ini?"


...❀...


SREK


Seorang pemuda memotong ilalang yang menghalangi jalannya dengan menggunakan pedang. Dia harus ke Vinca segera untuk menyampaikan pesan, tapi bisa - bisanya rumput ini menghambat perjalanannya. Karena hamabatan ini, dirinya jadi melakukan perjalanan ke Vinca lebih lama.


Jean mendongak keatas, dimana langit sudah menggelap. Dia menggaruk kepalanya dengan frustasi, semua ini sangat membuang waktunya. Kalau saja ini bukan berita penting, maka Jean akan memilih mengirimkannya lewat merpati.


Jean menengadahkan tangan kanannya. Memunculkan api di telapak tangannya, sihir hitam di Hortensia masih banyak seperti hari - hari sebelumnya. Seakan keberadaan ribuan mawar biru di halaman istana dan taman bunga tidak ada artinya. Sebab sihir hitam masih terus merajalela.


Di tengah kesunyian malam, wajah bodoh dan licik Clara teringat oleh Jean. Gadis senjata yang punya dua kepribadian karena ulah Kaisar Siegward. Berpindah tempat ke Freesia dan dimanfaatkan habis - habisan. Tinggal di Ranunculus bersama keluarga Wayne. Dan akhirnya Clara malah kembali ke tempat asalnya.


Jean tersenyum tipis, "Nona... senang bertemu dengan anda. Nona selalu terlihat manis dengan ekspresi apapun. Akan tetapi..."


Jean mendekat pada kudanya dan mengelus kuda tersebut. Meski tatapannya lurus pada kudanya, sorotan mata itu kosong. Seolah pikiran Jean sedang melalang buana. Namun tiba - tiba Jean berhenti mengelus kudanya, senyumannya semakin menipis.


"Nona masih menyedihkan seperti biasanya."


TBC


Jangan lupa letakkan LIKE dan KOMEN.

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2