The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 84 - Tamu Dari Wilayah Selatan


__ADS_3

[2 Bulan Kemudian]


"Hm.. hm.."


Clara bersenandung pelan ketika dirinya sedang asyik menyiram bunga hellebore yang ia bawa dari makam Avrim. Dia sudah menanamnya di dalam pot bunga.


"Aku juga belum mendapat surat balasan dari Duke Wayne ataupun Allen. Betapa tidak enaknya menunggu itu."


Clara menghela napas, merasa gusar. Selama masuk ke dunia novel ini, yang Clara lakukan hanyalah rebahan. Kalau dia terlibat dalam masalah, itu berarti Tuhan sedang mengingat kalau Clara masih ada di dunia.


Untuk kaisar, ayolah jangan tanyakan perihal pria itu. Tentu saja kaisar sibuk bercengkerama dan menyapa kertas - kertas penuh tugasnya itu. Menjadi kaisar tidaklah mudah, Clara tahu.


Clara akhirnya memutuskan untuk berjalan - jalan di sekitar istana kekaisaran. Dia memperhatikan lukisan - lukisan para kaisar yang terpajang di dinding. Termasuk ada wajah Meiger disana.


Sampai sekarang, Clara masih belum bisa melukis wajah manusia. Jadi Clara hanya bisa menikmati wajah - wajah itu tanpa bisa melukisnya. Karena itulah seringkali Clara melupakan wajah seseorang meski baru sebentar tidak bertemu. Dia cenderung menghafal seseorang melalui lukisannya. Jangan heran jika Clara lebih mengingat nama bunga dibandingkan orang.


"Kalau aku bisa melukis wajah manusia, itu akan menjadi akhir dari tujuanku."


Sudah dua bulan terlewati. Bunga - bunga mulai bermekaran dengan indah di musim ini. Berbeda dengan musim dingin yang cenderung dihiasi bunga berwarna biru, hitam atau putih. Saat musim semi, Hortensia ditumbuhi bunga berwarna - warni. Tidak salah kalau musim semi dikatakan sebagai musim pertemuan.


Sekitar 7 minggu yang lalu. Clara dan Jean sempat ke Vinca sebagai persiapan Edmond yang akan berangkat menuju Agapanthus. Rasanya cepat sekali waktu berlalu, hari ini Clara akan diantarkan oleh Jean ke Vinca. Nanti disana Clara bersama Edmond dan George langsung bergerak ke Agapanthus.


"Ini menyebalkan. Aku hanya mau santai dan jalan - jalan layaknya kehidupan normal yang kudambakan."


...❀...


Hei... Apa yang sedang terjadi disini? Adakah yang bisa menjelaskannya kepadaku??


Clara menatap penasaran dua orang yang sedang duduk bersama. Itu adalah Edmond dan George. Edmond selalu banyak bicara dan diiringi gelak tawa. Berbeda dengan George yang sesekali tersenyum tipis untuk menanggapi lelucon garing Edmond.


Yang Clara herankan adalah, George menjadi pribadi yang penyabar sekarang. Kalau itu George yang dulu, dia pasti akan langsung menghina lelucon Edmond dengan perkataan menohok. Itu adalah perubahan yang baik.


Clara duduk di samping George, "Kau mau ke Agapanthus juga bersama kami?"


Sebenarnya itu bukan sekedar penawaran, tapi Clara sangat berharap agar George juga mau ikut. Betapa bahagianya Clara ketika George menganggukkan kepalanya.


Edmond yang melihat interaksi itu tersenyum mengejek pada kaisar. Tatapannya seolah mengatakan 'kau akan kalah kalau diam saja dan menganggurinya'. Tapi kaisar tak peduli, dia mencampakkan temannya itu.


Edmond memperhatikan sekeliling, "Mana Jean? Tumben sekali tidak datang bersamanya."


"Dia memang tidak ikut." Kaisar menjawab acuh sambil mengambil kue asin yang tersaji di piring. Dia juga mendekatkan kue cokelat pada Clara karena gadis itu terus memperhatikannya.


Serelah Clara menerima piringnya, dia memakannya dengan lahap. Bukan berarti dia rakus, tapi kaisar lah yang tidak membiarkannya sarapan pagi ini. Dia langsung dengan tega menyeret Clara yang perutnya berbunyi nyaring.


"Mau?"


George mendapati pipinya disentuh oleh kue kering yang dipegang oleh Clara. Gadis itu, dengan senyum manisnya berniat menyuapi George tanpa disadari. George juga, tanpa lihat keadaan sekitar melahap kue yang diberikan langsung dari tangan Clara. Atmosfer sekitar agak memburuk karena adegan ini rupanya.


Hal ini justru membuat senyum Edmond semakin merekah.


Edmond mendekatkan mulutnya pada pada telinga kaisar. "Kau yakin tidak mau ikut? Atau hanya sekedar membiarkan Jean pergi bersama kami? Soalnya aku bakal sering mengunjungi Nona Cinta. Kau baik - baik saja kalau mereka kutinggal hanya berdua?"

__ADS_1


Pria brengs*k itu bahkan menekankan kata 'berdua' supaya kaisar mau ikut serta. Si payah ini mendadak amnesia, padahal temannya sudah menjadi kaisar, bukan sekedar calon seperti dirinya. Jadi si payah ini tak tahu betapa banyaknya pekerjaan seorang kaisar itu. Seharusnya sesekali dia membantu ayahnya yang sebentar lagi sekarat itu!


Kaisar menggerutu dalam hatinya. Dia kesal kala sikap Clara pada para pria sungguh meresahkan. Ini membuat kaisar tidak tenang membiarkan Clara pergi ke Agapanthus hanya dengan dua cecunguk ini.


Kaisar juga merutuki dirinya di masa lalu yang mana menyuruh Clara untuk pergi. Kaisar bisa saja memerintahkan Clara untuk tidak ikut. Tapi sepertinya gadis itu lebih senang dalam perjalanan ini karena bisa reuni bersama George. Jadi... untuk saat ini biarkanlah saja.


"Aku akan kesana saat tugasku selesai setengahnya." Kaisar menyeruput teh melati.


"Kau 'kan Kaisar. Tidak sesebentar itu menyelesaikan pekerjaan rumah." Edmond mengejek kaisar, dia mendadak ingat lagi kalau Meiger itu seorang kaisar.


Menyebalkan sampai ke ubun - ubun memang manusia ini, tapi Meiger sendiri belum begitu risih dengan kehadiran Edmond. Dan jangan lupa ketika dirinya mulai mengurung diri di kamar dan jarang bersosialisasi lagi setelah kematian ibunya, Edmond muda selalu datang meracau di Hortensia sampai saat ini. Kaisar sangat menghargai itu, tapi dia takkan mengatakan apapun atau Edmond akan menjadi lebih menyebalkan lagi.


"Yang Mulia mau ke Agapanthus juga?" Tanya Clara.


"Hm..."


"Lalu kenapa tidak berangkat bersama kami sekarang?"


"...Ada yang harus kuselesaikan terlebih dahulu."


...❀...


"Kita akan kedatangan calon Penasihat Kerajaan Freesia jadi bersiaplah. Dan juga, ada tamu istimewa dari wilayah selatan. Mereka akan datang juga hari ini. Meski Raģe Cheltics sepertinya akan datang lebih cepat dibandingkan mereka."


James mendengarkan dengan seksama permberitahuan dari ayah nya. Dia tidak kaget dengan kedatangan calon Penasihat Kerajaan Freesia itu, namun tamu istimewa dari Vinca yang akan datang juga hari ini. James tidak tahu ada keperluan apa tamu istimewa itu datang ke Agapanthus.


Apa ada sesuatu yang mereka rencanakan?


James waspada saja bilamana tamu istimewa Vinca ini mempunyai niat lain dari kedatangan mereka. Bahkan pak tua itu tidak waspada terhadap Vinca. James harus bekerja dengan ekstra kali ini.


"Yang Mulia, Tuan Muda Cheltics sudah memasuki gerbang utama istana."


Seseorang dengan tergopoh - gopoh berjalan menghampiri James dan Raja Agapanthus. Dia membawakan pesan kalau Raģe Cheltics sudah mencapai gerbang. Mereka berdua pun bersiap atas kedatangan keponakan Raja.


.


.


.


"Ouh... Raģe sudah lama tidak bertemu denganmu."


Raja memeluk Raģe, tidak hanya sebagai keformalan. Raja memang merindukan Raģe yang notabene adalah anak dari adik perempuannya yang menikah dengan Count Cheltics.


"Bagaimana dengan Celosia?" Raja menanyakan kabar adik kesayangannya itu.


Raģe mengangguk sambik tersenyum, "Ibunda sehat disana, ada Ayahanda yang menjaganya juga. Terima kasih sudah memberiku pelatihan, Yang Mulia Raja."


Raja tertawa lalu menepuk pundak Raģe dengan cukup keras. "Panggil saja aku paman. Aku ini 'kan pamanmu. Bahkan anakku sendiri memanggilku ayah bukannya Raja."


Yah tentu saja bocah itu akan memanggil anda ayah. Pengecualian untuk Kaisar Hortensia. Hanya dia satu - satunya anak penguasa yang tidak memanggil ayahnya 'ayah'.

__ADS_1


Raģe memandang sepupunya dengan bosan. Tidak, Raģe tidak akan melakukan pelatihan bersama James. Dia akan menolak dengan segenap hati apabila itu terjadi. Jadi... tidak, terima kasih.


Bukan berarti dia membenci sepupunya. Raģe hanya enggan saja kalau harus ada di pelatihan yang sama dengan makhluk penuh keseriusan ini. Bisa - bisa Raģe akan semakin dekat dengan kursi penasihat kerajaan. Dia tidak mau itu, titik.


SRET


James melebarkan tangannya, dengan tatapan penuh harap dia memandang Raģe. "Kakak sepupu tidak memelukku juga?"


Akhirnya, dengan seperempat dari setengah kerelaan hatinya. Raģe memeluk James. Pria itu memang senang, tapi tidak dengan Raģe. Dengan secepat kilat pula Raģe melepaskan pelukannya sebelum anak itu memeluknya semakin erat.


"Kudengar kakak sepupu datang dengan Nona Harold. Apakah itu benar?" Tanya James.


Raģe mengangguk malas.


"Lalu dimana dia?"


Raģe menunjuk pada seorang gadis yang tengah turun dari kereta kuda yang ia naiki juga barusan. Mereka hanya menggunakan satu kereta kuda saja, lagipula yang datang hanya Raģe dan Valentina.


Valentina memberi hormat kepada ayah dan anak itu. "Salam sejahtera untuk Raja dan Pangeran Mahkota Agapanthus."


"Ya-yang Mulia."


Perhatian kini tertuju pada seorang pembawa pesan yang sama. Raģe, James dan Valentina juga mendengarkan dengan seksama pesan apa yang dibawakan orang tersebut.


"Tamu istimewa dari Vinca, Yang Mulia. Sepertinya mereka sudah datang dan sebentar lagi memasuki gerbang."


Raja mengangguk paham. Dia menatap ketiga anak muda yang ada bersamanya. "Tamu dari Vinca akan datang, tidak masalahkah kalian menunggu sebentar? Atau mau diantarkan James ke dalam saja?"


Valentina menggeleng dengan sopan, "Tidak Yang Mulia. Kami juga akan menunggu disini bersama Yang Mulia. Kami penasaran dengan siapa yang datang."


"Mereka? Jadi lebih dari satu, eh.." Cetus James.


Raģe terdiam, menatap sebuah kereta kuda yang menuju kearah mereka. Tidak mengira jika ada tamu selain mereka berdua. Lagipula, Vinca yang sudah berkoalisi dengan Freesia untuk apa datang kesini? Mencurigakan.


Kereta kuda tersebut berhenti tidak jauh dari tempat keempat orang itu berdiri. Seseorang yang turun pertama kali adalah Edmond Southbayern, sang pewaris tahta. Selanjutnya ada pemuda bersurai dan bernetra perak bak permata, Raģe tidak tahu identitas pria muda itu. Sampai seorang lainnya turun dibantu oleh si pemuda bersurai perak.


Mata Raģe membelakak ketika melihat surai putih yang bergerak pelan mengikuti semilir angin. Mata yang indah seperti permata safir, keindahan matanya mengalahkan langit.


Raja, James dan Valentina tentu saja tidak mengetahui gadis itu. Yang mereka kenali disini hanyalah sang pewaris tahta Vinca saja. Raģe bungkam, lidahnya terasa kelu ketika gadis itu menatapnya juga.


"Raģe, bukan?" Clara bertanya dengan polosnya pada Raģe yang masih terdiam seperti batu.


Tentu saja, ketiga orang yang bersama dengan Raģe juga terkejut ketika tahu gadis yang kecantikannya menyaingi langit malam ini mengenal Raģe. Raja tersenyum tipis mendapati kebungkaman keponakannya. Ada sesuatu diantara mereka, Raja menyadari itu.


Di sisi lain, wajah George yang tampan mendadak jelek mendengar sapaan Clara yang ditujukan pada pria bernama Raģe yang berdiri di samping Pangeran Mahkota Agapanthus. Sedangkan Edmond menatap horor pada Clara, gadis ini seharusnya berhenti memperbanyak rival temannya.


Astaga, padahal Meiger sudah menitipkanmu kepadaku.


TBC


Jangan lupa letakkan like dan komen. Dukungan kalian begitu berharga untukku :-)

__ADS_1


__ADS_2