The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 86 - Identitas Mereka


__ADS_3

George dan Edmond masih dalam posisi yang sama semenjak Clara pergi meninggalkan mereka. Dan disini hanya Edmond lah yang bekerja keras untuk berfikir. Padahal George sudah mengatakannya berulang kali agar menyampaikannya dengan cara sederhana saja sudah cukup.


Tapi Edmond yang punya kepercayaan diri diatas rata - rata segera menolaknya. Malah Edmond menyanggah usulan George dengan berkata harus berkesan lah, inilah, itulah. Dan akhirnya George tidak mau memberikan usulan apapun lagi, biarlah si buaya ini berfikir sendiri.


"Apakah itu benar jika Wayne bersaudara akan kemari?" George mengalihkan pandangannya, menatap matahari yang meninggi.


Di tengah - tengah pemikirannya, Edmond diingatkan kembali dengan berita yang disampaikan ayahnya dan kaisar mengenai Duke Wayne. Sebenarnya hanya Duke Wayne saja, tapi karena paksaan adiknya, Duke Wayne memperbolehkan Hellen ikut bersamanya.


Kaisar Vinca mengatakan jikalau alasan mereka datang ke Agapanthus adalah untuk sesuatu yang bersifat rahasia. Topik mereka yaitu berita tentang munculnya senjata yang satu lagi oleh Freesia, namun malah diculik oleh Ranunculus. Begitulah isinya. Meskipun itu terkesan seperti rumor bohong dibuat - buat bagi yang tahu cerita aslinya, sama hal nya saat Clara di Ranunculus.


Karena hanya beberapa orang yang mengetahui tentang sisi gelap pemerintahan. Akhirnya Duke Wayne sedirilah yang perlu turun tangan menangani ini.


"Ya."


"Ini masalahku?"


Edmond tidak menjawab. Dari sana George tahu benar, kalau masalah yang mau didiskusikan terhadap Raja Agapanthus adalah tentang dirinya dan kegencaran Freesia untuk menyerang Ranunculus. Benar - benar musuh sejati.


"Oi, kenapa Freesia begitu membenci Ranunculus?"


Edmond mengambil kepingan kue kering dan memakannya. Menatap selidik pada pria yang berstatus sebagai senjata kedua ini. Junior dari si gadis yang menjadi barang antik di Hortensia.


George diam sejenak, agak ragu untuk menceritakannya. "Musuh utama Freesia sebenarnya ialah Frederick Wayne."


Edmond menghentikan kunyahannya, seharusnya ia tidak kaget sama sekali. Mengingat kalau Freesia ingin sekali menghancurkan Frederick Wayne sebelum Ranunculus. Rumor mengatakan kalau Frederick adalah musuh bebuyutan Raja Willem.


"Apa alasan Raja Freesia membenci Frederick Wayne?" Kini pertanyaan Edmond sedikit ada perubahan pada subjek nya.


George mendelik, pria ini sangat tidak peka jika George tidak mau menceritakannya lebih lanjut. "Apakah kau ingat jika dalam silsilah keluarga kerajaan, Raja Willem mempunyai kakak perempuan?"


Edmond mengangguk. Dia ingat, tentu saja. Saat dirinya masih kecil dan sering merusuh di istana kekaisaran, ketika itu juga Kaisar Siegward masih hidup. Beliau selalu memberikan pelajaran kepada Meiger secara privat mengenai silsilah keluarga bangsawan. Edmond yang datang selalu berakhir mendengarkan pelajaran Kaisar Siegward.


"Memangnya ada apa dengan itu?"


George mengerutkan alisnya, ekspresinya berubah serius. "Istri dari Frederick Wayne alias Eleanor Wayne adalah kakak dari Raja Willem. Nama aslinya ialah Eleanor Northern."


"...?!"


"Lalu dimana letak masalahnya?"


"Dahulu, bibi Lea mempunyai seorang tunangan dari benua tetangga. Dan di hari pernikahannya, Frederick Wayne datang dan menculik bibi Lea. Sudah kuduga penculikan itu atas dasar cinta. Frederick Wayne dan bibi Lea menikah. Berita ini membuat Raja Willem marah besar kepadanya. Dan akhirnya semua itu berubah seperti saat ini."


"Dan soal Ranunculus... apa masih ada hubungannya dengan Clara Scoleths? Insiden penculikan senjata itu."


"Ya. Ini semakin runyam lagi saat kalian membawaku juga."


"Cih! Sulit sekali menjadi bangsawan itu."

__ADS_1


...❀...


Di kediaman Wayne. Eleanor sedang memperhatikan sebuah lukisan yang selalu ia simpan. Lukisan buatan adik kecilnya. Eleanor tersenyum tipis ketika adiknya itu berhasil menyelesaikan karya pertamanya.


Lukisannya tidak bagus - bagus amat, tapi cukup untuk membuat Eleanor menangis. Dia merindukan suasana indah sama seperti pada lukisan.


Lukisan tersebut terdiri dari seorang pria dan wanita dewasa yang terlihat penuh kharisma. Duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar. Disana juga terdapat seorang gadis remaja yang meminum teh dengan anggun. Dan anak laki - laki tujuh tahun yang sedang tertawa lepas.


"Aku akan menamai lukisan ini 'Keluargaku'!"


Teriakan nyaring dari adiknya saat itu membuat Eleanor semakin merindukan suasana penuh kehangatan keluarga itu. Dia menitikkan air matanya yang sudah tak tertahankan lagi.


CKLEK!


Pintu kamar terbuka. Disana berdiri Frederick yang masih memakai pakaian kekaisaran setelah pengadilan yang dilaksanakan. Frederick melihat punggung istrinya yang tampak bergetar, istrinya lagi - lagi menangis.


Sorot mata Frederick nampak sayu.


Jika kau takut hal ini akan terjadi. Mengapa kau memintaku untuk menculikmu saat itu? Katakan kepadaku isi hatimu... Eleanor Northern.


...❀...


Raja mendongakkan kepalanya, menatap sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding istana. Sebuah keluarga kecil yang bahagia. Dalam lukisan, ayah dan ibunya sedang duduk. Dirinya tersenyum senang. Sedangkan kakak perempuannya... dia anggun seperti biasanya.


Tatapannya hanya tertuju pada figur Eleanor seorang.


Tanpa ia sadari, tangannya mengepal erat. Merasa kesal, benci, namun ingin memaafkan setiap kesalahan dari kakaknya karena sudah meninggalkan keluarganya. Gadis muda dalam lukisan itu, telah membuat Willem merasa sakit hati.


Dan karena perbuatannya, koalisi Freesia dengan benua tetangga hancur dalam sekejap. Mereka memalingkan wajah dari Freesia, seakan semua yang berhubungan dengan Freesia adalah hina. Willem menyimpan dendam itu dalam - dalam.


Juga Clara Scoleths. Gadis yang awalnya dia pergunakan untuk bisa membunuh Frederick malah jatuh ke tangannya. Anak perempuan kecil itu dibawa oleh Lraight, Raja Ranunculus sebelumnya dan Frederick. Kala itu, Willem hanya berhasil membunuh Lraight, namun tidak dengan Frederick.


Kemarahan dan dendam tersirat jelas dari tatapan Raja Willem. Tangannya mengepal semakin erat, saking eratnya hingga menetes darah darisana. Dia tidak merasakan sakitnya, sebab dendam dalam hatinya lebih kuat dari itu.


"Sebentar lagi... aku sudah dekat dengan hari dimana kau menghancurkan seluruh keluargaku. Kubunuh kau, Frederick!"


...❀...


Di sebuah taman lavender. Raģe masih menatap Clara yang baginya terlihat begitu jernih dan menyejukkan. Warna yang ia lihat ini, tidak seperti warna yang ia lihat pada orang lain. Clara itu istimewa baginya, jadi sekalinya Raģe menatapnya, agak sulit untuk mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kenapa, Tuan Muda Cheltics?"


Clara merasa aneh sebab sejak tadi Raģe hanya diam menatapnya. Tidak ada lagi yang pria itu lakukan selain memandangi sesuatu. Dan Clara yakin, sesuatu itu adalah yang ada pada dirinya.


"Mengapa suaramu warnanya transparan seperti kaca?" Tanpa sadar pertanyaan itu lolos dari mulut Raģe.


"Warna dari suaraku transparan?"

__ADS_1


"Eh? Tidak. Bukan itu maksudku."


Warna dari suara 'kah? Kalau dia benar mempunyai kelainan seperti itu. Namanya sindrom sinestesia kalau aku tidak salah ingat.


"Apa yang bisa kau lihat hanyalah suaraku?" Clara melebarkan senyumnya, bertanya pada Raģe. Dia penasaran dengan orang - orang yang memiliki sindrom sinestesia. Kebetulan sekali ada satu yang bisa diajak wawancara.


"Tidak..." Rage menjawab ragu.


Sebab, saat dia masih muda dan Raģe menceritakan tentang masalahnya ini kepada teman - temannya. Dia selalu diejek dan dikatakan sebagai seseorang yang gila. Ketika Raģe mulai mengakui komplikasinya ini kepada kedua orang tuanya. Mereka membawa Raģe pada tabib dan tabib tidak tahu apa penyakit yang diderita Raģe.


"Huft..."


Raģe memutuskan untuk duduk di bukit kecil yang menghadap langsung pada hamparan bunga lavender. Kemudian Raģe menepuk rumput halus di sebelahnya, memerintah Clara agar duduk disana.


Clara yang bingung akhirnya duduk di samping Raģe. "Kenapa?"


"Aku... sebenarnya aku bisa melihat warna dan merasakan suaramu, bahkan aroma dari suaramu juga. Terkadang aku pun bisa melihat warna dari tulisan. Ini seperti... panca indera ku memiliki lebih dari satu fungsi saja."


Jadi benar sindrom sinestesia. Hebat! Di seluruh dunia ini hanya ada sekitar 1% sampai 3% manusia yang mempunyai sindrom ini.


Raģe menceritakan masalahnya ini dengan gugup. Dia menggigit bibir bawahnya, takut kalau respon Clara akan sama seperti teman - teman ataupun kedua adiknya. Sebab sampai saat ini kedua adiknya masih tidak percaya dengan kelainan yang dikatakan olehnya.


"Hee... begitukah. Apakah menyenangkan mempunyai kemampuan seperti itu? Itu seperti sihir tahu! Meskipun bukan."


Raģe terkejut dengan respon Clara. Tentu saja. Biasanya orang - orang akan langsung memandangnya dengan aneh. James dan Valentina pun sama. Meski Valentina sedikit tersenyum padanya untuk upaya menghargai Raģe saja. Tapi Clara, dia terlihat mempercayainya.


Kenapa Raģe bisa tahu? Itu karena dia merasakan sensasi manis yang bergerumul di lidahnya. Warna disekitar Clara juga masih sama warnanya, itu transparan dan jernih. Karena biasanya ketika seseorang sedang berbohong di dekatnya, Raģe bisa merasakan pahit yang sangat pada lidahnya.


Raģe tersenyum lembut pada Clara. "Itu menyenangkan saat aku tahu ada seseorang yang mempercayainya. Kau tahu? Keberadaan orang sepertimu disekitar kami adalah sesuatu yang berharga."


"Hehe... benarkah? Kenapa aku merasa suasana hati anda cukup baik hari ini, yah?"


"Itu karena ada kau." Jawab Raģe dengan spontan.


Eh?


"Apa-"


"Jadi ini membuatmu tidak mengirimiku surat selama dua bulan lamanya? Beraninya kau bermain di belakangku."


Suara ini...


Clara terkesiap, menoleh ke belakangnya dengan spontan. Disana berdiri seseorang dengan pakaian resminya, tangannya bersidekap di depan dadanya. Wajahnya berkedut karena menahan amarah.


"Tuan Hendrick?!"


Habislah aku...

__ADS_1


TBC


Jangan lupa letakkan like dan komen. Dukungan kalian begitu berharga untukku :')


__ADS_2