
"Saya bisa mengirim Nona menuju ke wilayah barat." Ucap Avrim.
Ruangan tersebut mendadak sepi, Clara yang memakai cadar pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar Avrim mengatakan hal itu.
Duke Wayne menautkan alisnya, "Memangnya apa hubunganmu dengan wilayah barat?"
...****...
Siang tadi, Avrim membicarakan tentang solusi dari masalah Clara. Dan benar saja, solusi dari Avrim langsung disetujui oleh Duke Wayne walau mereka sempat bersitegang sejenak.
Itu karena ternyata Avrim adalah seorang pelayan setia dari kekeiasaran Hortensia. Lebih dikenal dengan wilayah Barat, wilayah paling besar di seluruh benua Herbras.
Clara akan pergi ke Hortensia untuk kabur dari Ranunculus sehingga dirinya tidak dihukum penggal atau sebagainya.
Yang ia dengar dari Duke Wayne, nampaknya setelah rumor itu menyebar. Pertahanan di Ranunculus semakin diperketat untuk menghindari sang buronan, Clara Scoleths kabur dari Ranunculus.
Avrim sendiri memang sudah bekerja sama dengan Duke Wayne, demi membantu Clara Scoleths melewati pertahanan perbatasan utama. Dan setelah diluar perbatasan utama, itu akan menjadi urusan Avrim.
Masalah yang berpengaruh cukup besar terhadap keluarga Wayne.
Karena Duke Wayne pernah meminta Clara menjadi pelindung bayangan keluarga Wayne. Hal itu akan menjadi sesuatu yang tidak akan terjadi di masa depan. Karena, jika Clara tetap di Ranunculus, dia akan dicari bahkan sampai ke lubang tikus sekalipun.
Cukup mengerikan jika Clara malah harus berakhir dieksekusi mati.
"Padahal aku hanya ingin hidup! Mengapa mereka selalu mengancam nyawaku?!" Clara berdecak kesal.
TOK TOK TOK
Pintu kamar Clara diketuk, karena itulah Clara menghentikan kegiatan pengemasan barang - barangnya untuk bekal saat kabur.
"Hm? Siapa?" Tanya Clara.
"Ini aku, Allen." Terdengar suara Hellen dari luar ruangan.
"Ouh... masuklah."
Hellen memutar daun pintu, memasukinya secara perlahan. Dia datang kesini karena dua alasan. Dan salah satunya mengenai Clara yang akan pergi ke Hortensia.
"Um, Clara..." Hellen berucap dengan ragu, dia agak takut untuk mempertanyakan hal tersebut. Namun jika tidak ditanyakan, akan hanya menjadi batu ganjalan di hatinya.
"Ya?" Clara menunggu Hellen untuk berbicara.
"Apakah... kau benar - benar akan pergi ke wilayah barat?"
"Itu benar."
"Dan meninggalkanku... lagi...?" Hellen kali ini meninggikan nada suaranya. Itu terdengar serak dan terisak, pertanda bahwa dia akan menangis.
Clara juga menyadari jika air mata Hellen sudah membasahi pipinya. Itu sangat disayangkan.
"Allen, aku akan berangkat malam ini. Semuanya sudah diatur dan aku tidak bisa menolak kesempatan ini. Jika aku tetap berada disini, apa kau mau aku meninggalkanmu selama - lamanya?"
Hellen tersentak, tubuhnya sudah bergetar hebat akibat tangisannya yang tak kunjung berhenti. Lalu ia berucap sangat pelan, "Benar juga... tempat ini sama sekali tidak aman untuk Clara."
"Aku akan pulang, tapi entah kapan. Tenang saja."
Clara membawa Hellen ke dalam pelukannya, dan mengusap punggung Hellen upaya menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Apa kau benar - benar akan kembali?" Tanya Hellen, suara nya agak teredam karena pelukan dada Clara.
"Aku akan kembali. Aku berjanji padamu. Saat hari itu tiba aku harap kita berdua bertemu dalam keadaan baik - baik saja."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, justru kaulah yang tidak bisa melakukan itu."
Hellen melepas pelukan Clara, saat ini ia tersenyum meski bekas tangisan masih tercetak jelas di wajah cantiknya. Dia mengambil sesuatu dari balik gaunnya.
Itu adalah sebuah kotak yang diukir dengan sangat indah. Dia memiliki dua kotak yang sama, yang satu untuk menyimpan penanda buku hortensia.
Dan yang satunya lagi.
"Ini untukmu Clara. Aku tidak pernah punya waktu untuk memberikannya untukmu. Terakhir kali saat keberanianku sudah terkumpul kau malah beralih kesadaran."
Kemudian Hellen memberikan kotak tersebut pada Clara, "Ini adalah hadiah perpisahan, agar kau tetap ingat bahwa kau punya tempat 'pulang' disini."
Clara menerimanya dan ingin membukanya. Tapi tangan Clara ditahan untuk membuka kotak tersebut oleh Hellen.
"Huh? Kenapa? Apa aku tidak boleh membukanya?"
"Tidak boleh! Kau hanya boleh membuka kotak itu ketika sudah sampai di Hortensia!" Ucap Hellen sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Oke, baiklah."
Clara kemudian memasukkan kota tersebut bersama dengan barang - barang miliknya yang lain. Hellen menunggu kegiatan mengemas Clara selesai, dia senang diakhir waktu sebelum kepergiannya ia bisa berhubungan baik dengan Clara lagi.
"Aku pasti akan menunggumu pulang, pasti!"
"Ya. Aku senang jika seseorang menungguku."
"Baiklah."
...****...
Sebelum pergi, Clara ingin melihat ruang kerja biasa ia berdiam diri menghabiskan waktu. Itu agak menyedihkan ketika ia sudah tidak bisa lagi kembali ke tempat ini. Meski ruangan kerja ini selalu menyiksanya dengan banyak dokumen.
"Tempat ini akan kutinggal entah sampai kapan..."
"Apa yang kau lakukan disini, Clara Scoleths?"
"Um... berpamitan sebelum pergi?" Jawab Clara dengan ragu - ragu. Alhasil jawabannya terdengar seperti pertanyaan lainnya.
Hendrick tiba - tiba datang dari belakang Clara. Tapi Clara sendiri tidak berniat untuk menghadap ke arahnya. Dia lebih memilih menatap ruangan ini dari pada pemiliknya.
TUK
Lalu dari belakang, kening Hendrick menyentuh bahu Clara. Walau merasa kaget, Clara tidak berniat menyingkirkan kepala Hendrick dari bahunya.
"Apa kau akan kembali?"
Suara samar dari Hendrick terdengar kembali setelah beberapa saat mereka terdiam dan terlarut dalam pikiran masing - masing.
"Saya akan kembali, entah kapan. Namun saya telah berjanji kepada'nya' untuk tetap menunggu saya disini."
"Hellen?"
"Ya."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka kembali terdiam, dan Clara merasakan kalau sudah tidak ada lagi yang menyentuh bahunya.
Saat ia sedikit melirik ke belakang, benar saja. Hendrick sedang melakukan sesuatu dengan pengikat rambut milik Clara. Dia menambahkan sebuah batu giok berbentuk bunga ranunculus berwarna putih.
Sambil memaikan Clara giok tersebut Hendrick berkata, "Meski tempat ini sama sekali tidak aman untukmu. Kami selalu berharap, ketika konflik mereda... maka kau bisa kembali."
Clara menunjukkan senyum pilu disana, "Saya harap saya bisa kembali kemari. Padahal hubungan saya dengan Allen kini sudah lebih baik. Nyatanya... dunia memang menentang ketenangan saya."
"Dua bulan yang kuhabiskan bersamamu, tidak akan pernah dilupakan olehku."
Itu benar, huh? Aku baru tinggal disini selama dua bulan. Meski jika dihitung sebelum aku isekai itu akan menjadi enam tahun lebih dua bulan.
Ketika Hendrick sudah selesai menyematkan giok tersebut di pengikat rambut Clara. Akhirnya Clara bisa leluasa untuk menghadap Hendrick.
Clara mendongakkan kepalanya supaya matanya bisa berhadapan langsung dengan wajah Hendrick, "Apakah Tuan Hendrick akan merasa kesepian ketika saya sudah pergi?"
"Entahlah. Di dunia ini yang bisa bersikap kacau dan rusuh dihadapanku hanyalah kau. Tempat ini mungkin akan kembali sepi."
"Tuan Hendrick bisa meminta Allen untuk mengacau di ruangan ini." Ucap Clara sambil tertawa kecil.
"Apa konflik di Ranunculus bisa diatasi dengan cepat?" Tanya Clara.
Dia berfikir, bahkan di dalam novel sekalipun sebuah konflik membutuhkan kurun waktu yang lama untuk bisa selesai.
Tergantung siapa yang memberikan solusinya dan perwujudan dari solusi tersebut. Negeri ini tidak membutuhkan hanya sekedar dari kata - kata saja.
"Tidak tahu. Dilihat dari Raja saat ini. Dia mungkin bisa memberikan solusi yang tepat, hanya saja perwujudannya akan sedikit lambat."
"Begitu."
Kalau begitu, akan cukup lama bagiku bisa bertemu dengan Allen lagi...
"Kapan kau akan pergi?"
"Hng? Malam ini, mungkin. Masalahnya kalau tengah malam akan semakin sulit bagi saya untuk keluar. Mereka akan mengira saya kabur di tengah malam kemudian memperketat pertahanan."
Sekejap mata Hendrick menempelkan keningnya di kening Clara. "Pokoknya kau harus kembali ketika konflik sudah reda dan tak ada satu ancaman pun untukmu."
Sebelum Clara sempat merespon, Hendrick langsung kembali ke posisi awalnya dan segera keluar dari ruang kerjanya.
Eh..eh? Dia bertindak terlalu cepat, bahkan aku telat merespon tindakannya barusan...
"Kalau begitu sampai jumpa di perbatasan wilayah Wayne. Aku akan menunggumu disana."
"Tuan Hendrick tidak berangkat kesana bersama saya?"
"Pak tua payah itu memerintahku untuk mengecek situasi dan kondisi di sana. Supaya kau bisa kabur dengan aman."
Setelah Hendrick tidak terlihat lagi, Clara menundukkan kepalanya pelan. Bergumam diantara kegelapan dan kesunyian.
"Aku sudah banyak merepotkan mereka... aku berjanji akan kembali ke Ranunculus dan bertemu lagi dengan semuanya!"
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1