
..."Maafkan aku karena melibatkan dirimu dalam masalah ini, Lilia."...
...----------------...
Pagi hari yang cerah di musim hujan. Ini adalah awal dari musim hujan, yang berarti awal dari semester dua. Tidak ada yang spesial di hari ini selain terdapat beberapa murid baru yang anehnya masuk di tengah tahun pelajaran.
Sebagai pecinta kedamaian, hari ini cukup menenangkan bagiku. Aku sering menghindari konfrontasi. Jangan kalian pikir jika aku adalah seorang pahlawan yang akan memisahkan kedua pihak yang sedang cekcok.
Aku adalah tipe orang yang paling banyak kalian temui di sekitar. Biasanya mereka hanyalah hiasan di kejadian besar yang berlakon sebagai penonton atau yang mengambil video.
Tipe orang yang paling kubenci adalah orang yang kasar dan sok berkuasa. Ingatlah, aku tak suka konfrontasi, jadi hal ini adalah valid.
Aku berjalan sambil melihat ke bawah, apakah ada genangan air atau tidak. Masalahnya sepatuku akan basah dan saat dipakai rasanya takkan mengenakkan. Jadi, sebisa mungkin kulangkahkan kakiku pada trotoar yang bersih dari genangan air.
Karena aku selalu menunduk, aku tak sengaja menabrak seseorang.
Kudongakkan kepalaku, "Maaf. Aku tidak fokus ke depan saat berjalan."
Dia memakai seragam yang sama denganku. Ah, dia dari sekolahku rupanya. Pria yang kutabrak menengok ke arahku dalam diam, dia tampak tak berekspresi. Tidak marah dan tidak membalas permintaan maafku dengan kalimat 'tak apa' seperti kebanyakan basa - basi.
Sementara pria di sebelahnya juga menatapku. Wajahnya lebih manusiawi karena dia masih bisa berekspresi, tidak seperti temannya yang kutabrak ini. Dia tersenyum semanis mungkin.
Wow. Dalam sekali lihat aku bisa menebak kepribadiannya.
"Dia tidak marah padamu, kok. Dia diam karena jawabannya adalah 'tidak apa - apa'. Percaya padaku." Lalu dia mengedipkan sebelah matanya.
Sekarang aku benar - benar yakin terhadap penilaianku padanya. Apa dia veteran fuvkboy?
Kemudian aku juga membalas senyumnya, ini adalah bentuk basa - basi lainnya. "Begitu, aku percaya padamu kok."
Aku membungkukkan badanku sedikit dan segera berjalan mendahului mereka. Apapun itu, berurusan dengan kedua pria itu akan mengorbankan seluruh kedamaianku. Hanya menilai dari wajahnya saja aku sudah bisa memprediksinya.
Sebab pria tampan tak pernah memiliki hidup yang damai dan tentram.
Terus kulangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Mungkin jarak dari rumahku ke sekolah adalah 15 menit saja, karena itulah aku tak menggunakan bus.
"Wuah...!"
Aku memekik pelan saat badanku hampir limbung ke depan. Namun karena tarikan seseorang pada tasku, tubuhku bisa tetap seimbang dan tidak mencium lapangan basket. Apa aku lagi - lagi lupa untuk mengikat tali sepatu?
Saat aku sudah berdiri tegak, aku membalikkan badanku dan menemukan sosok yang sangat kuketahui ciri - cirinya. Ayolah, kita baru saja berinteraksi sepuluh menit lalu, kenapa kalian berdua melakukannya di sekolah?
"Kita bertemu lagi." Sapa si pria fuvkboy itu.
Sudah kubilang bahwa pria di sebelahnya takkan mengeluarkan suara emasnya. Dia akan jijik sendiri jika orang rendahan sepertiku dapat mendengar suara dari orang yang wajahnya diberkahi dewa - dewi Yunani.
"Hei, kau harus berterima kasih kepadanya. Biasanya saat aku jatuh dia akan membiarkanku untuk bangun sendiri, kejam 'kan?"
Bisa kulihat kok dari wajahnya. Dia ini tipe - tipe S garis keras. Sumpah demi apapun, aku takkan terkejut ketika dia meminta orang yang salah padanya untuk bertekuk lutut semalaman.
"...Terima kasih." Ucapku setelah diam cukup lama. "Dan tolong, bisakah kau melepaskan tasku?"
Dan akhirnya, si tanpa suara ini melepaskan tasku dengan segera. Dia tidak berniat mencekik aku, bukan? Setelah insiden tabrakan sepuluh menit yang lalu.
"LILIA!!!"
__ADS_1
Astaga, haruskah aku ke Dokter THT setelah ini? Telingaku masih berfungsi dengan baik, jadi berhentilah meneriakkan namaku di depan umum. Ini memalukan dan kau tahu jika aku benci menjadi pusat perhatian.
Dari jendela kelasku di lantai paling bawah, kulihat Shafira melambaikan tangannya ke arahku. Karena dia ini hiperaktif, energinya sulit untuk habis. Jadi, mari menghampirinya sebelum namaku kembali menjadi perhatian seisi lapangan.
"Namamu Lilia?"
Tanpa menjawab pertanyaan si fvkboy, segera saja aku berlari kecil menuju jendela kelasku. Shafira menyambutku dengan pelukan yang sangat erat.
"Lilia..."
...****...
"Ugh..."
"Ada apa Kak Rara?"
Clara yang memegangi mata kirinya terus melenguh kesakitan. Bukan karena hadirnya mata baru, melainkan sesuatu yang lain dan terus memenuhi pikirannya.
Tidak ada yang pernah menyebut namaku sejauh ini. Nyaris saja itu menghilang dalam ingatanku. Huft... kenapa aku melupakan banyak sekali hal penting?
Clara terus bermonolog dalam hatinya, yang membuat James juga semakin khawatir. Sebab dia harus memperhatikan kondisi Duke Nielsen dan Clara Scoleths di saat bersamaan. Meski dalam hatinya, dia lebih memprioritaskan Clara.
Sejak dulu Clara punya ingatan yang buruk. Dan entah kenapa, sekarang ada kumpulan ingatan milik orang lain yang memenuhi pikirannya.
Ia bisa menebak bahwa salah satunya ialah Clara Scoleths. Dan gadis yang berpergian dengan banyak mawar dalam genggamannya adalah Lyserith. Ia juga menemukan memorinya saat masih dalam tubuh Lilia.
Sedangkan memori terakhir adalah yang paling asing. Seorang gadis cantik menangisi pria gila yang tertawa di tengah eksekusinya. Pria itu dibakar oleh banyak sekali orang yang melontarkan umpatan dan sumpah serapah padanya.
"Oke, sudah cukup mengingat masa lalu. Bagaimana jika kau mencoba menjadi leluhurmu saja?"
Grein?!
...****...
Gadis itu tersentak pelan ketika menyadari bahwa tempat yang ia singgahi sekarang amat sangat berbeda dari hutan Ranunculus. Tapi, terbesit rasa familiar ketika ia memandangi setiap sudut ruangan besar ini.
Ini... ruangan Kaisar Hortensia? Aku sadar bahwa susunan perabotnya berbeda. Namun ukiran di dinding ini sangat khas dengan Istana Kekaisaran Hortensia.
Clara dengan sisa - sisa tenaganya turun dari kasur besar tersebut. Ia kemudian menemukan kaca yang tingginya setara dengan manusia. Clara berdiri di depan cermin dan tubuhnya seketika membeku.
Apa? Wajah siapa ini?! Jangan lagi... sudah cukup aku menjadi Clara Scoleths. Sumpah, aku menerima diriku yang menjadi pembunuh gila itu.
Clara meraba sekitar wajahnya, ada banyak sekali perubahan disana. Surai seputih salju miliknya tergantikan oleh surai keemasan yang begitu halus terawat. Matanya pun, itu jernih sekali warna safirnya.
Apa karena sihir hitam? Bukan. Sepertinya dia memang warna aslinya begini... Jangan - jangan gadis ini adalah darah Westhley?
"Sudah bangun, pengkhianat?"
Clara mendapat kejut kuadrat, dia membalikkan badannya dengan cepat. Disana dia menemukan sosok di balik suara yang mencemooh dirinya sebagai pengkhianat.
Pria dengan jubah kekaisaran berjalan kearahnya. Tak bisa dipungkiri bahwa dia punya kharisma yang luar biasa. Sayangnya, pria ini mulutnya sangat sadis dan tak tanggung - tanggung.
"Aku belum berniat untuk mengusirmu dari Istana Kekaisaran. Setidaknya, aku takkan membiarkanmu kabur sampai anak itu lahir." Ucapnya lagi dengan suara rendah.
Anak? Anak apa?!
__ADS_1
Clara dengan wajah ketakutan menyentuh perutnya sendiri. Sumpah, dia tidak pernah membuat apapun di dalam sana dengan siapapun. Seketika Clara memasang wajah horor.
"Tenyata aku memang salah meminta bantuan pria itu untuk mendamaikan dunia. Dia malah menghentikan peperangan dengan sihir terkutuknya."
Tanpa dikehendaki, Clara malah menunduk dalam dan mulai terisak. Matanya yang terpejam mulai menitikkan air mata.
"Aku minta maaf. Tapi, semua yang kulakukan karena aku merasa iba pada keluargaku sendiri. Mereka lebih dari sekedar satu nama belakang denganku..."
Oy, kenapa aku berbicara sendiri. Aku tidak berniat mengatakan ini. Niatku adalah mencacinya karena membuat perempuan ini menangis.
"Ivory dengarkan aku. Awalnya aku memilihmu karena kupikir kau tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Sebagai Kaisar Hortensia I, aku merasa menyesal karena telah memilih-"
Jadi gadis ini namanya Ivory? Ampun deh, jangan sampai aku krisis identitas.
"Jangan katakan itu!"
Aku tidak ingin mengatakan itu!
"Kenapa?"
"Karena aku berfikir bahwa kau memilihku karena aku mencintaimu." Ucapnya sambil tertunduk dalam.
Kaisar pertama terdiam. Dia menatap istrinya yang terus menunduk sedalam - dalamnya. Ia yakin jika dia Ivory tidak sedang hamil, maka dia pasti akan berlutut padanya selama mungkin.
Sementara dalam dirinya, Clara malah tersipu dan mengumpat alakadarnya. Ini adalah hari tersial baginya. Ayolah, pria yang dicintainya adalah orang lain dan Clara sendiri sadar akan hal itu.
Demi apapun, bunuh aku saja.
"Crater juga tidak salah! Dia-"
"Berhenti menyebut nama kriminal itu."
"Kenapa kau membenci Lavoisiér, sementara kau sendiri mencintaiku?"
Oy, hentikan mengatakan cinta disini! Aku yang tersiksa karena menempati tubuhmu. Sialnya aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri lagi. Hiks...
Setelah lama terdiam, Kaisar malah beranjak pergi dari kamarnya sendiri.
"Apapun itu, karena sekarang aku telah mengetahui identitasmu. Setelah kau melahirkan anak kita, maka aku akan membunuhmu."
TBC
Siklus kehidupan Clara itu begini, yah. Buat yang masih bingung. Mungkin dengan ini kalian bisa menebak alur sesuai timelinenya.
Ivory de'Lavoisiér/Westhley -> Lyserith Scoleths -> Clara Scoleths -> Lilia -> Jiwa Lilia dalam tubuh Clara.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~