The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 21 - Makna Setangkai Mawar


__ADS_3

Clara membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Dia masih merasakan dinginnya benda tersebut di tangannya. Pandangannya mengarah ke langit - langit kamar.


"Yang terjadi enam dan tiga tahun lalu, aku sama sekali tidak menyangka sesuatu seperti itu bisa terjadi. Bahkan teori apa yang menimpa benua Herbras saja aku belum tahu. Mengapa harus ditambah sebanyak ini?"


Perlahan mata Clara memejam. Ia terlarut oleh musik malam ini.


"Aku butuh petunjuk untuk menyelesaikan kerumitan hidupku ini. Awalnya hanya menghentikan diriku agar tidak seperti Clara Scoleths dalam novel. Namun seiring berjalannya waktu, semuanya makin buruk."


...****...


"Zavius? Zavius!" Seorang gadis dengan surai camelia dan mata seperti berlian menghampiri seseorang yang sedang tidur nyaman sambil menyandar di pohon.


Gadis itu cemberut kesal, sebab pria yang ia panggil Zavius saat ini tidak meresponnya sama sekali. Dia pun ikut duduk di samping Zavius dan mengeluarkan isi tasnya.


Ternyata yang ada di dalam tasnya hanyalah sekumpulan bunga mawar putih yang sudah ia cabuti durinya terlebih dahulu.


Sementara asyik dengan kegiatannya, Zavius sedikit mengintip dari celah jubahnya. "Kau benar - benar serius menanggapi perkataanku, eh?" Lalu dia menyeletuk heran.


Gadis itu sedikit menengok pada Zavius kemudian balik menatap pada bunga - bunganya lagi. "Kau tahu? Ini kulakukan untuk menyelesaikan masalah di dunia tanpa menyelipkan sebuah kebohongan besar."


Zavius mengerutkan keningnya. "Kukira kau akan menganggapku berbohong."


"Hehe... tidak ada alasan untuk tidak membantumu. Lagipula aku ini hanyalah pengangguran yang suka sekali mengerjakan apapun. Menghabiskan waktuku untuk membantumu bukan hal besar sama sekali."


"Namun..."


"Hm?" Gadis itu menatap tanya pada Zavius.


"Pekerjaan ini bukan hal yang mudah. Aku sudah memperingatkan dirimu tentang ini."


"Tenang saja, Zavius. Aku akan selalu bersamamu sampai kapan pun kau membutuhkanku. Selama kau tidak mengatakan sesuatu yang bermakna kau membenciku. Aku juga tidak akan meninggalkanmu!"


Zavius tersenyum lembut menatap gadis tersebut. "Aku tidak akan pernah mengatakan hal semacam itu kepadamu."


"...?"


"...Lyserith. Sebenarnya, aku..."


Zavius menggerakkan bibirnya, bicara pada Lyserith. Namun Lyserith tak bisa mendengarkan apa - apa. Tangannya mengangkat kearah Zavius berusaha meraihnya.


"Zavius? Zavius? Zavius!!!"


"AKKHH...!" Clara bangkit dari tidurnya dan langsung terduduk. Keningnya bercucuran keringat dan matanya melebar ketakutan. Tangannya dalam posisi seperti berusaha meraih sesuatu.


Dia menggenggam erat selimutnya. "Mengapa itu terasa seperti bukan mimpi saja? Begitu nyata terasa."

__ADS_1


Clara menatap jendela kamarnya, ia bangun dan mendekat pada jendela tersebut. Saat dipegang gordennya, rasanya cukup hangat.


"Ini sudah pagi ternyata. Apa aku mengigau semalaman? Biasanya aku tak pernah begitu, seumur - umur ini pertama kalinya bagiku."


Setelah aku masuk ke dalam dunia novel ini, banyak sekali yang terjadi. Bahkan cerita dari Hendrick membuatku merasa kalau Aku tidak bisa menjadikan alur di novel sebagai patokan untukku bisa hidup.


"Bagaimana cara agar terhindar dari kegelapan ini?" Clara bergumam.


"Nona, sarapan sudah datang!"


Untuk saat ini, lebih baik Aku diam saja dan menjalani hidupku seperti dulu. Seolah tidak terjadi apa - apa.


...****...


SREK


SREK


Hendrick menggoreskan penanya pada dokumen yang tengah ia kerjakan. Padahal dia sudah menyelesaikan tumpukan - tumpukan itu. Tidak disangka ayahnya sangat menyebalkan dan memberikannya dokumen lain.


Dia memang mau menyiksaku!


Hendrick mendengus membabi buta mengelurkan rasa masam dalam hatinya. Kemudian ia menengok ke samping tempat ia duduk, ada orang lain di ruangan ini.


Hendrick memangku dagunya sambil terus menatap orang itu dengan pandangan meremehkan.


"Sampai kapan kau mau mogok bicara?"


"Tidak tahu." Clara menjawab ketus.


Tentu saja Hendrick makin kesal. "Kau ini idiot apa? Datang kesini tanpa bicara sepatah kata pun. Kan sudah kubilang sebelumnya, Kau tak perlu menanyakan hal - hal yang bersangkutan dengan masa lalu."


Karena kesal melihat wajah Clara. Hendrick kembali mengerjakan tugasnya, meninggalkan muka masam di wajah Clara.


"Anda marah?"


"Dasar payah, aku bukan anak kecil. Sudahlah, kerjakan saja bagianmu dan diam."


Huh? Tadi aku disuruh bicara karena dia bilang sepi. Sekarang aku disuruh diam karena ia terganggu. Serba salah, ya menjadi aku.


Dengan patuh Clara mengerjakan kembali lembaran kertas di depannya. Dia membuka lembar demi lembar sampai sepucuk surat terlihat di ujung matanya.


Dia mengambil surat tersebut dan membaca isinya.


...----------------...

__ADS_1


Daun - daun kemerahan berjatuhan. Bukan panas, bukan pula dingin. Daun ditelan senja, pohon ditelan usia.


Saya harap Anda bisa datang di jembatan wilayah yang terlukiskan dengan ke- identikan musim gugur.


Untuk Nona yang selalu dikelilingi oleh cinta dan kasih sayang.


...----------------...


Ckckck! Orang yang menulis ini puitis sekali. Aku sampai tak mengerti dengan makna di balik setiap kalimat yang tertulis.


Clara menghiraukan surat tersebut, membuangnya entah kemana. Dia mengambil lembaran dokumen lainnya dan kembali mengerjakannya. Sebenarnya ia bisa saja memecahkan artinya, namun Clara menjadi kurang puitis semenjak ia masuk ke dalam novel.


Saat membalikkan dokumen, Clara mengingat kembali pada mimpinya semalam. Ia melirik diam - diam Hendrick yang masih fokus pada kerjaannya. Namun tak lama terdengar helaan napas darinya.


Hendrick menatap Clara. "Ada apa lagi?"


"Eh?! Tuan Hendrick menyadari itu?" Clara berlagak santai, sebenarnya dia cukup panik karena ketahuan mengintip.


"Cukup basa - basinya, apa yang ingin kau tanyakan sekarang?"


"Apa anda pernah melihat seseorang bermata layaknya berlian berwarna putih bersih."


Hendrick menautkan alisnya, kemudian fokusnya kembali pada dokumen. "Huh? Mata itu sudah hilang sejak kematian terakhir seorang gadis yang memilikinya. Jadi sudah tidak ada lagi yang punya, gadis itu juga meninggal sekitar ratusan tahun lalu."


"Maksudnya gadis itu hidup saat zaman masih kacau dan kita masih berperang?"


"Ya."


"Apa mata putih selangka itu?"


"Memangnya kau pernah melihat ada orang bermata putih?" Hendrick menatap Clara sebal.


"E..em.. tidak..." Jawab Clara ragu - ragu.


"Selesai, bukan?"


Hendrick menunjukkan senyumnya pada Clara. Meski begitu, Clara merasa ada aura gelap yang keluar dari raut wajah Hendrick itu.


Me..menyeramkan!!!


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2