
Sesuai perkataan kaisar kemarin. Clara dan kaisar pagi ini akan mendatangi wilayah Freesia untuk mengunjungi Avrim. Memang belum terlalu memasuki wilayah tersebut, tetapi mereka tetap harus berhati - hati. Sebab Freesia semakin gencar dalam melancarkan serangannya pada Ranunculus, dendam yang sudah tak bisa dibendung lagi.
"Ha? Hanya seekor kuda?"
Clara menatap kosong pada seekor kuda yang akan mereka naiki. Garis bawahi kata mereka. Itu berarti dia akan naik berdua bersama kaisar. Clara tidak masalah jika itu Jean, tapi kalau kaisar. Rasanya terlalu memalukan untuk dilakukan.
"Kenapa? Tidak suka?"
Suara dingin kaisar terdengar, Clara jadi ragu untuk protes. Kaisar sudah meluangkan waktu untuk Clara agar gadis ini bisa mengunjungi makam Avrim. Akan terlihat kurang ajar kalau dirinya melakukan protes hanya karena kuda.
"Apa kuda di istana kekaisaran hanya satu, Yang Mulia?"
"Tidak. Tapi masalahnya adalah kau ini bisa mengendarainya atau tidak. Jadi jangan banyak bicara dan cepat naiklah."
Kaisar masih berdiri di samping kuda. Nampaknya dia sudah hapal kebiasaan Clara yang belum bisa menaiki kuda sendiri. Clara merutuki siapapun, seharusnya ada kayu untuknya mempermudah naik kuda disini. Tahu begitu Clara akan membuatnya sendiri walau itu membunuh waktu rebahannya.
Clara naik keata kuda dengan bantuan kaisar. Setelah itu kaisar yang naik, dia memegang tali kuda. Tangannya tanpa disengaja melingkupi tubuh Clara.
Tentu saja Clara didatangi penyakit jantung yang parah saat ini. Wajahnya panas sekali padahal ini adalah musim dingin. Bahkan dari belakang kaisar menyadari telinga Clara sudah merah padam. Niat menjahili kaisar timbul.
Dia mendekatkan mulutnya pada telinga Clara dan membisikkan sesuatu kepadanya. "Jika kau tidak pegangan jangan salahkan aku kalau jatuh."
Clara merinding mendadak, telinganya terasa geli. Kalau dia tak ingat orang yang ada di belakangnya adalah kaisar, sudah pasti Clara akan menendangnya sampai jatuh dari kuda.
Clara menoleh pada kaisar yang malah datar - datar saja. "Yang Mulia belajar menggoda wanita dari siapa? Jangan katakan kepada hamba jika itu adalah ulah Edmond?"
Kaisar mengerutkan keningnya. Lagi, Clara mengucapkan nama seorang pria dengan cara yang akrab. Seharusnya gadis ini diisolasi saja dalam perpustakaan agar tidak berbincang dengan pria manapun lagi.
Dan sepertinya Edmond lah yang menyuruh Clara untuk memanggilnya begitu. Mungkin beberapa menit dalam obrolan mereka, tanpa diketahui oleh kaisar, Edmond bertindak seenak dengkulnya.
"Bisakah kau tidak menyebut nama pria seakrab itu di depanku? Entah itu senjata kedua, Jean ataupun pewaris Vinca. Jangan sampai juga aku menemukanmu mengakrabkan diri lagi dengan pria lain saat aku tidak ada."
Suara kaisar terdengar masam, dia sudah memendam perasaan kesal lama sekali. Akan tetapi Clara malah terus dan terus menambah kenalan prianya diluar sana tanpa sepengtahuan dirinya. Kaisar jadi bertanya - tanya, mengapa gadis ini seperti magnet untuk para pria?
"Hanya di depan Yang Mulia?" Clara bertanya dengan bodoh.
"Huh? Kalau bisa saat tidak bersamaku juga kau tidak memanggil mereka dengan akrab."
Suara kaisar mulai terdengar jengkel, bahkan pria yang tak pernah menunjukkan ekspresinya di istana kekaisaran malah terlihat sangat muak sekarang. Wajahnya menghitam karena menimbun rasa jengah pada Clara.
Clara yang melihat itu tidak berkutik.
Benar - benar si wajah dua. Sekarang Yang Mulia jadi kelihatan seperti orang sadis yang siap memotong leherku. Aku jadi takut salah berkata - kata.
Kaisar memacu kudanya, mereka tidak terlibat lagi dengan percakapan apapun. Karena Clara bangun pagi - pagi sekali, wajahnya masih terlihat mengantuk.
"Kau terjaga semalaman?" Tanya kaisar.
Clara menguap, "Hamba tidur kok. Tapi bangun saat matahari saja masih istirahat. Jadi sekarang hamba mengantuk sekali."
"Kau bisa tidur."
"Tidak Yang Mulia. Seharusnya Yang Mulia memacu kuda dengan kecepatan tinggi agar kita bisa sampai kesana dengan cepat. Lagipula jika hamba tidur siapa yang menunjukkan jalan pada Yang Mulia? Yang tahu makam Avrim 'kan hanya hamba dan Jean."
__ADS_1
Kaisar tak merespon. Seperti yang dikatakan Clara, dia tidak tahu pasti dimana letak makam Avrim. Jadi dia membutuhkan Clara yang terjaga untuk menjadi penunjuk arah.
"Kalau begitu jangan sampai kau tidur."
"Baik Yang Mulia."
...❀...
"Yang Mulia berhenti! Ini adalah tempatnya, kiya sudah sampai."
Clara meminta kaisar untuk menghentikan kuda. Setelah nyaris memakan waktu 2 jam perjalanan, akhirnya mereka menemukan makam Avrim.
"Bagaimana kau tahu?"
"Lihatlah Yang Mulia! Ada bunga hellebore disana."
Clara menunjuk pada sebuah bunga kecil yang masih bertahan di dinginnya musim dingin. Bunga berwarna hitam, itu adalah hellebore hitam. Kaisar benar, bunga di Hortensia takkan mati oleh musim melainkan waktu dan lama mereka hidup.
Kaisar turun lebih dulu untuk membantu Clara turun. Biasanya Clara bisa turun, tapi karena tempat ini agak curam dan rawan bebatuan jadi kaisar yang membantunya.
Clara memperhatikan sekitar. Tempat ini belum banyak berubah setelah tragedi longsor tempo hari. Meskipun beberapa tempat sudah rata kembali oleh tanah, itu mengurangi potensi terjadinya longsor lainnya.
Dia berjalan mendekati makam Avrim yang telah ditumbuhi hellebore.
"Avrim, aku datang untuk mengunjungimu." Clara tersenyum getir, meratapi nasibnya yang selalu saja ditinggalkan orang - orang.
Kaisar berdiri jauh dari Clara, dia memegangi tali kudanya. Kaisar enggan mendekat, dia berusaha menjaga jarak agar Clara bisa tenang berbicara pada tanah. Terlihat gila memang, tapi kaisar tak peduli.
"Terima kasih telah menjagaku selama ini, Avrim."
...❀...
Kaisar mengernyit ketika Clara datang padanya sambil menangkup sesuatu di tangannya, "Apa yang bawa?"
Clara tersenyum riang, namun kaisar tahu tentang perasaan gadis ini. Masih bisa ia lihat gurat kesedihan di wajah Clara. Kaisar tidak mau berkomentar lebih jauh, urusan hati itu agaj sensitif untuk diatur oleh orang lain.
"Ini adalah hellebore."
"Jadi kau memutuskannya untuk mengambilnya?"
Clara mengangguk.
"Hamba akan menanamnya di balkon kamar hamba. Tentu saja hamba takkan melupakan untuk menyiramnya setiap hari. Jadi hamba akan membawanya."
"Bagaimana kau mau membawanya?"
"Ah... Itu..."
"Yang Mulia dan Nona...?"
Clara dan kaisar berhenti berbincang ketika ada suara orang lain. Clara sangat mengenal suara tersebut, jadi dia langsung menghampirinya.
"Jean!"
__ADS_1
"Ouh Nona, apa kabar?" Jean tersenyum lembut pada Clara. Dan memandang hellebore yang ada di tangan gadis itu. Ah, Jean paham apa yang terjadi disini.
"Baik."
"Apakah Nona mengunjungi Kak Avrim?"
Clara mengangguk untuk mengiyakan.
"Begitu. Bersama Yang Mulia?" Jean bertanya dengan sedikit berbisik, sebab orangnya ada di depan mata.
"Itu benar."
"Kemana saja kau? Aku mencarimu dimana - mana dan Yang Mulia mengatakan jika kau ke Vinca. Ada urusan apa disana?"
"Hanya bersiap untuk keberangkatan Nona ke Agapanthus."
Ah iya... aku 'kan ditumbalkan Yang Mulia untuk melakukan perjalanan ini.
"Jean tidak ikut?"
"Tidak Nona."
Sejak Jean mengatakan Agapanthus. Sejujurnya dia merasa ada yang ia lupakan mengenai wilayah Timur tersebut. Namun Clara hanya mengabaikannya, mungkin saja itu bukan sesuatu yang penting.
Apa aku melewatkan sesuatu, Agapanthus itu...?
...❀...
"Hei, bagaimana persiapanmu untuk keberangkatan menuju Agapanthus?"
Di istana kerajaan Ranunculus. Rovers menyapa Raģe yang nampaknya mulai sibuk akan keberangkatannya ke Agapanthus.
Raģe mendesis kesal, "Jangan tanya aku tentang Agapanthus. Lagipula masih lama bagi bunga untuk kembali mekar."
Aku harap bunga tidak pernah mekar dan musim semi takkan datang. Sayangnya dia selalu berkunjung setiap tahunnya, sial.
Rovers dan Raģe akhirnya meninggalkan topik Agapanthus. Rovers tahu diri juga, Raģe akan seperti permpuan datang bulan kalau bicara tentang wilayah Timur. Karena dia belum sepenuhnya menerima tanggung jawab sebagai penasihat kerajaan di masa depan nanti.
Dari belakang mereka, seorang gadis berlari dengan tergesa - gesa.
"Tuan Muda Cheltics!" Teriak gadis itu.
Sontak Rovers serta Raģe menengok ke belakang mereka. Gadis yang mereka kenali berdiri disana dengan anggun, meski napasnya agak terengah - engah karena berlari barusan.
Raģe menautkan alisnya heran.
"Valentina Harold?"
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1