The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 131 - Seberkas Cahaya Dalam Keputusasaan


__ADS_3

Masih dalam pertarungan yang sengit antara Meiger dan Hendrick. Mengabaikan selimut gelap yang mencekam. Tidak ada satupun suara serangga yang terdengar. Hanya ada dentingan pedang yang saling beradu.


Hendrick berkali - kali mengumpat dalam hatinya. Merasa bahwa kemampuan berpedang miliknya terlalu payah untuk disandingkan dengan Meiger. Buktinya, di saat dia sudah mendapat banyak luka sayatan, serangannya belum ada yang menyentuh Meiger satupun.


Pedang emas yang dipegang Meiger lama - kelamaan berubah warnanya menjadi perak. Mungkin jika semakin banyak sihir hitam yang diserapnya, warnanya akan sepenuhnya menjadi hitam.


Mendadak Meiger mengerang seolah kesakitan. Melihat adanya kesempatan, Hendrick menendang perutnya dengan keras hingga Meiger terpental cukup jauh.


Hendrick mengusap sudut bibirnya yang terdapat lebam. Sementara Meiger di ujung sana malah tertunduk dalam. Mengcengkeram bagian dadanya sambil terus melenguh kesakitan. Pedang emasnya mulai menggelap.


Pergerakan Meiger cukup aneh. Sekarang dia memegangi kepalanya dengan frustrasi. Sedetik selepas dia memejamkan matanya, anehnya iris matanya memunculkan pola. Setengah rambutnya pun kini menjadi keemasan seperti saat dirinya berlakon sebagai Crater de'Lavoisiér.


"Aku tidak menginginkan ini..." Lirihnya.


Hendrick semakin yakin jika ada yang salah dengan peringai Meiger sekarang. Dia tampak kacau balau dengan mental mudah goyah. Apa sesuatu telah mengendalikan isi kepalanya? Jawabannya hanyalah satu, yaitu sihir hitam.


"Dia benar - benar telah ditelan dendam sihir hitam. Seperti Raja Freesia yang kehilangan kendali atas dirinya."


Hendrick mengerutkan keningnya. Ada beberapa hal yang perlu dia lakukan. Sekarang dia sudah kehilangan banyak hal, termasuk ayahnya dan mungkin Clara sedang diambang kematiannya. Dan penyebabnya adalah dalang utama yang menyebarkan sihir hitam di masa lampau.


"Bunuh aku..."


Hendrick tercengang melihat Meiger yang semakin kacau. Ekspresinya menunjukkan kesakitan mendalam tertahankan, ditambah penampilan fisiknya yang berubah total.


"Kenapa aku harus? Kau seorang Kaisar." Ujar Hendrick.


"Meskipun begitu, aku tidak mau ditelan sihir hitam dan berakhir menggelapkan dunia! Maka dari itu, cepatlah bunuh aku!"


Meiger menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Sulit sekali mengendalikan sihir hitam dalam jumlah besar padahal dia bahkan bukan pemiliknya. Hanya Ivory seorang yang mampu melakukannya. Bahkan reinkarnasi nya pun belum tentu mampu.


Hendrick menggenggam pedangnya kuat, namun tidak bisa dipungkiri tangannya gemetar hebat. Memenggal kepala seorang kaisar, dia tidak pernah melakukannya sekalipun. Ini adalah rekor untuknya sendiri.


Langkah Hendrick yang terseok - seok akibat mendapatkan banyak luka serangan Meiger. Pergerakannya menjadi terhambat, ditambah dengan pedang yang dibawanya lumayan berat.


"Cepatlah, aku mencapai batasku..."


Terdengar erangan lagi dari Meiger, tetapi Hendrick benar - benar tidak bisa mempercepat lagi langkahnya. Kakinya juga masih sakit karena menendang Meiger sekuat tenaga.


Cih. Di saat seperti ini kenapa aku malah cacat?


"Hahaha!"


Meiger kembali tertunduk, mendadak dia tertawa lepas layaknya orang yang kepalanya sudah terbentur batu dengan keras. Walaupun keadaannya memburuk serta sihir hitam yang ada semakin menutupi Meiger. Hendrick tidak mengurangi kecepatan langkahnya untuk menghampiri Meiger, dia harus membunuhnya.


Hendrick tertegun melihat Meiger yang telah memegang pedangnya lagi dengan begitu erat. Tawanya tetap menggelegar di udara, dia sudah sinting betul - betul.


Meiger berdiri dengan tegak, mengarahkan mata pedangnya pada tempat dimana Hendrick berdiri. Seringai jahat timbul di bibirnya, perlahan dia melangkah mendekat pada Hendrick sambil terus menjulurkan pedangnya.


Sialan!

__ADS_1


Semakin dekat dengan posisi Hendrick, tanpa sadar Hendrick menghentikan langkahnya dan juga mengangkat pedangnya sejajar tubuhnya. Bersiap menangkis serangan cepat Meiger.


Namun, dalam sedetik dia menangkap siluet seorang wanita yang berlari ke depan dirinya sebagai perisai.


STAB CRUSH!


Bercak darah memenuhi wajah Hendrick, bukan berasal darinya maupun Meiger. Tapi gadis yang menjadi perisainya. Surai putihnya yang bagaikan sutra telah terkena warna darah yang begitu pekat.


Sekali lagi, pedang emas Meiger menembus badan Clara membuat luka sebelumnya makin melebar. Hendrick diam membisu, tangannya melemas dan dia menjatuhkan pedangnya begitu saja.


TRANG!


"Aku akan membawamu pulang ke rumahmu, Crater de'Lavoisiér..." Bisik Clara.


"Huh?"


Meiger tercengang. Tubuhnya seakan membeku dan makin banyak sihir hitam yang mengelilingi dirinya dan Clara. Hanya mereka berdua, sedang Hendrick memicingkan matanya karena sihir hitam seolah meledak di depan matanya.


Dalam sekejap, sihir hitam seakan lenyap dari pandangannya bersamaan dengan sosok Clara dan Meiger. Hendrick tetap berusaha menemukan sosok keduanya, dia menyapu pandangan ke sekitar. Namun nihil, hanya ada dirinya dan kumpulan mayat bergelimpangan disini.


"Clara...?"


Hendrick menyipitkan kedua matanya saat sinar yang begitu terang tiba - tiba menerobos langit penuh kegelapan ini. Setitik cahaya terang itu kemudian semakin melebar ke segala penjuru. Warna langit yang terlihat akan abadi kegelapannya, mulai sirna tergantikan oleh sinar oranye.


Waktu telah berlalu begitu cepat. Perang yang dimulai sejak matahari tenggelam kini berakhir pula pada penghujung hari. Pemandangan yang seluruhnya gelap sudah berubah.


Tanaman di sekitarnya yang kehijauan juga awan lembut yang menemani langit senja. Hendrick kembali menelisik sekitarnya, sekarang matanya bisa melihat lebih jelas segala sesuatu.


"Langit senja yang kurindukan."


BRUK


Tubuh Hendrick limbung ke bawah dengan keras. Semua yang terjadi seharian penuh membuatnya amat sangat lelah. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah istirahat.


Ketika Hendrick mulai memejamkan kedua matanya. Dia mendengar suara Rovers dan Vester yang memangil - manggil namanya.


Huft... biarkan aku tidur sejenak.


...****...


"James!"


Valentina dengan cepat memeluk James yang masih berdiri termenung menatap cakrawala. Langit yang telah kembali warnanya adalah yang paling indah, membuat banyak orang yang telah kehilangan langit ini selama beberapa waktu. Kini memandangnya penuh kekaguman dan rasa syukur.


"Valentina?"


James memeluk balik sepupunya. Di belakang Valentina ada Edmond yang berjalan perlahan. Pakaiannya sudah dipenuhi dengan darah seperti James. Rambut Valentina semerawut karena dia belum membasuh rambutnya seharian.


Di samping James juga ada Vester yang tengah menatap telapak tangannya. Darah yang mengotori tangannya ini adalah milik gadis itu. Ini agak mengganggunya, karena belum sempat dia disembuhkan namun Clara malah berlari menuju tempat pertarungan Meiger dan Hendrick.

__ADS_1


Count Cheltics dan Raja Ranunculus berdiri tak jauh dari mereka semua. Keduanya memandang langit malam yang telah berakhir. Dan kini, malam indah penuh bintang itu akan kembali pada Benua Herbras.


...****...


"Lihatlah, langitnya sudah terang kembali. Aku baru sadar bahwa kita mengalami peperangan sehari penuh."


Raģe memandangi langit senja yang tampak lagi. Raja Agapanthus yang telah siuman hanya bisa menatapnya dalam diam, tanpa bisa mengomentari keindahan ciptaan Tuhan.


George yang duduk di sebelah Raģe, menyandar pada batang pohon. Keindahan ini seakan mematikan pemandangan mengerikan di depan mereka yang hanya diisi oleh mayat bergelimang serta simbahan darah.


Melihat ke atas adalah satu - satunya cara untuk menghilangkan pemandangan buruk sejauh mata memandang. Pepohonan yang tumbang atau masih berdiri tegak, tanah terbelah begitu dalam dan juga banyak reruntuhan yang telah tampak sangat jelas sekarang.


"Aku penasaran bagaimana keadaan Clara sekarang." Gumam George.


Gumaman George terdengar oleh Raģe. Tetapi pria itu cukup lama untuk merespon. Matanya telah dibutakan oleh pesona langit jingga yang membentang luas.


Tak lama, Raģe menarik sudut bibirnya.


"Entah kenapa, aku tidak bisa terlalu berharap sekarang pada dirinya..."


George melirik Raģe sekilas.


Kemudian ia mengangkat telapak tangannya. Tangan yang pernah ia gunakan untuk memeluk Clara sewaktu mereka berada di Freesia. George takkan sampai pada tahap ini jikalau Clara tidak pernah menerobos masuk dalam hidupnya.


"Kenapa pikiranku sama sepertimu, yah...?" George tertawa kecil, tersirat kepiluan dalam tawanya.


...****...


Jauh di wilayah Agapanthus, Hellen juga tengah menatap langit senja. Dia berada di luar istana sebab ada gempa bumi yang nyaris meluluh lantahkan bangunan istana tersebut. Dengan gesit Hellen keluar dari sana bersama para pelayan dan prajurit yang tersisa.


"Ini semua sudah berakhir 'kah? Syukurlah."


Ekspresi Hellen tampak melembut. Kedua tangannya setia menangkup kalung permata safir milik Clara.


...****...


Grein menatap wajahnya pada permukaan air teh. Sedikit saja, wajahnya menampilkan senyum pilu. Ini adalah akhir terbaik yang bisa dilakukan olehnya dan Clara. Ini adalah akhir yang dia inginkan sejak lama bersama Meiger sebelum pengulangan waktu.


"Bodoh."


Ingatannya kembali terlempar pada saat ketika Clara masih berada di dunia mimpi bersamanya. Kata - kata tegas dari Clara membuatnya tidak bisa berkutik dan semua keinginan Clara kini telah tercapai.


"Sekarang tinggal mengirim pesan pada Mirye."


TBC


Like + Komen jangan lupa, see you in the next chapter ~


__ADS_1




__ADS_2