
Clara serta Meiger sedang makan di meja makan. Di samping Meiger ada Jean, sementara di belakang Clara ada Avrim.
"Yang Mulia, bagaimana keadaan Freesia?" Tanya Clara sambil terus menelan setiap buah yang telah dipotong kecil oleh Avrim.
Meiger menghentikan kegiatan makannya. Dia menatap tajam Clara yang masih santai mengunyah potongan buah. "Mengapa Aku harus memberi tahumu tentang mereka?"
"Hamba dulunya 'kan adalah senjata dari Freesia."
"Lalu...?"
"Hamba hanya khawatir saja kalau mereka lagi - lagi membuat senjata. Bukankah berbahaya kalau ada 'Clara kedua'?"
"Kau hanya penasaran saja, bukan?" Meiger mendelik.
"Ehe! Itu tidak salah juga." Clara memegangi tengkuknya dengan canggung. "Namun, alasan yang barusan juga bukanlah kebohongan!"
"Aku tahu."
"Lantas, mengapa Hamba tak boleh tahu?" Clara mulai merengek.
Karena tahu bahwa Clara nantinya akan terus merengek. Meiger dengan pasrah mengatakan apa yang Clara ingin dengar.
"Mereka memang membuat dirimu yang kedua."
"Uhuk!" Clara tersedak anggur yang baru saja ia telan. "Si..siapa yang menjadi korban mereka?" Dengan tak sabar Clara bertanya lagi.
Perkiraan pak tua itu meleset rupanya!
"Seorang pria muda, namanya George."
"...."
George? Aku pernah mendengar nama itu tapi dimana ya? Semakin hari aku semakin banyak melupakan...
"Meskipun dia sekarang adalah dirimu. Namun dia tidak sepenuhnya mirip denganmu."
Clara memandang Meiger dengan cara yang aneh. "Hamba dan dia memang tidak mirip. Dia laki - laki dan hamba perempuan."
"Jika kau masih bicara terus akan kurobek mulutmu." Meiger berkata dingin.
Clara langsung bungkam.
"Tidak sepertimu yang hati nuraninya sudah ditelan sihir hitam. Senjata baru ini terlalu baik dan terlalu murni untuk dijadikan penggantimu. Singkat kata, dia tidak setega itu untuk membunuh orang lain sepertimu."
Clara menatap datar Meiger.
Bukankah dia juga sama saja denganku?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan."
Dengan cepat Clara mengalihkan pandangannya pada Avrim yang sibuk memotongkan buah apel favoritnya.
"Avrim, buatlah bentuknya seperti kelinci, oke?" Pinta Clara.
"Tentu, Nona."
Meiger yang tahu Clara sengaja mengalihkan pembicaraan hanya diam dan menyesap tehnya. Dia menghela nafas pelan dan Jean tiba - tiba pergi ke ruangan kaisar.
"Yang Mulia, apa Hamba bisa menyelematkan senjata baru itu? Seperti di cerita - cerita heroik dalam legenda." Dengan semangat penuh Clara kembali ke topik awal.
"Tidak. Bagaimana jika kau merepotkanku nanti? Aku tak mau mengambil resiko."
"Uhh... apa Yang Mulia khawatir pada Hamba bilamana Hamba lecet? Manis sekali." Tanya Clara dengan niatan menggoda.
__ADS_1
Meiger mengerutkan alisnya. Dia paham jika Clara mulai memainkan alur cerita yang menyebalkan dan tidak ada heroiknya sama sekali.
"Akan kupatahkan kakimu supaya tidak bisa berjalan lagi." Kata Meiger dengan nada datar, namun terselip ancaman disana.
"Hamba bisa digendong Avrim!"
"Kau mau merepotkannya?" Meiger mendelik tajam.
"Ukh...!"
Clara akhirnya menyerah, berdebat dengan seorang penguasa hanya akan menyisakan rasa kecewa saja. Karena bagaimanapun, meski dari luar kelihatannya banyak diam, tapi sekalinya Meiger memberikan perintah, itu adalah mutlak. Tidak ada siapapun yang berani memintanya untuk mengubah.
Meiger tersenyum sangat tipis.
"Aku hanya bercanda, kau bisa pergi bersama Jean dan Avrim. Tapi kau harus bisa kembali paling lambat sebulan setelahnya. Berlama - lama di Freesia akan membuat pikiranmu jadi gelap."
Clara yang sudah putus harapan menjadi semangat lagi ketika Meiger sudah mengizinkannya. Hanya saja, hal yang membuat dirinya khawatir saat ini adalah...
Sebulan, menyelamatkan seorang senjata selama sebulan. Perjalanan ke Freesia memang hanya menghabiskan waktu setengah hari dengan kereta kuda. Dan seperempat hari kalau kami menggunakan kuda dengan kecepatan penuh. Tapi bukan itu masalahnya...
Bagaimana caraku, Jean dan Avrim meyakinkan George untuk meninggalkan Freesia dan kabur ke Hortensia?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kau tidak perlu memikirkannya, menurutku. Dengan caramu yang biasanya juga bisa membuat dia mau mengikutimu kok." Celetuk Meiger.
"Huh?"
Caraku yang biasanya itu maksudnya apa?
...❀...
Clara mengayunkan kedua kakinya ke depan dan ke belakang. Merasa bosan dengan kegiatannya ini, malam ini Clara akan berangkat ke Freesia untuk menyelamatkan senjata kedua itu.
Ini cukup mendebarkan, sebab sejatinya Clara pernah menghuni Freesia dan dipekerjakan sebagai senjata mengerikan yang membunuh orang - orang saat malam datang.
Ditambah lagi, saat ini perang dingin antara Ranunculus dan Freesia sudah tak bisa terelakkan lagi. Pertahanan Freesia semakin diperketat agar tak ada penyusup yang bisa masuk. Oleh sebab itu keberadaan Jean amat penting dalam misi 'penculikan senjata' ini.
"Bagaimana persiapan Jean?" Tanya Clara.
"Jean tidak perlu mempersiapkan apa - apa lagi. Dia sudah berlatih bertahan hidup di tengah masa pelik. Jadi kalau hanya sekedar menculik senjata Freesia yang kedua bukanlah hal besar baginya, mungkin."
"Kedengarannya Jean seperti orang yang sombong."
"Jean hanya tak mau memperberat bawaan yang akan dibawa saja."
Mengapa kau tidak mengatakan itu dari awal? Kalau begini kan aku jadi tak curiga...
Clara menggulingkan tubuhnya hingga ke pinggir kasur. Memperhatikan kegiatan Avrim dengan seksama. Selama ini yang paling dekat dengan Clara ialah wanita paruh baya ini. Clara tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Avrim, mungkin dia akan 'jatuh'?
Entahlah...
Setidaknya dia tahu bahwa di dunia novel ini ada yang menemaninya. Seakan semua penderitaannya musnah hanya dengan mendengar kata - kata Avrim ataupun melihat senyuman di wajah keriputnya itu.
"Saya akan terus tersenyum sampai Nona juga ikut tersenyum."
SLIP BRUK
"Nona!"
Tubuh Clara yang tak seimbang kemudian jatuh ke lantai dengan tidak elitnya. Entah sudah berapa kali dia jatuh tak elit sejak dirinya tinggal di Hortensia. Sepertinya sudah berulang kali, kalau Clara tak salah ingat.
Avrim membantu Clara untuk kembali berdiri.
Mendadak semua ingatan Clara mengenai Avrim muncul di pikirannya. Sudah sejak 6 tahun yang lalu Avrim menjadi pelayan Clara. Dia mengucap sumpah setia, padahal nyatanya Avrim ialah seseorang yang berada di bawah Kaisar Hortensia.
__ADS_1
Awalnya Clara enggan untuk mempercayai Avrim lagi, tapi kalau diingat - ingat lagi. Avrim adalah orang yang membuka jalan bagi Clara di setiap pilihan yang diberikan padanya.
"Avrim, terima kasih banyak."
Avrim melongo ketika nona mudanya ini berkata begitu. Hal ini benar - benar kejutan baginya, sebab sedari kecil Clara bukanlah orang yang peduli pada sesuatu tentang 'terima kasih' dan 'maaf'.
Tapi seharusnya Avrim terbiasa dengan itu, sebab sejak beberapa bulan yang lalu kepribadian Clara berubah drastis. Dia menjadi gadis yang begitu ceria dan penuh akal, perusuh yang mampu membuat Hendrick bahkan Kaisar menjadi tak ingin gadis ini punah.
"Mm... ada apa Nona mendadak berterima kasih?"
Clara menggeleng samar, "Tak ada yang spesial. Aku mengucapkannya karena memang kau pantas untuk itu. Setelah semua yang kau lakukan untukku, aku wajib mengatakannya. Kau yang terbaik, Avrim!"
DEG
Di luar kamar Clara, seseorang berdiri bersandar pada pintu. Dia memegangi dadanya, karena itu terasa sesak serasa dipenuhi oleh luapan kebahagian. Bahkan orang itu nyaris menangis karena terlalu bahagia.
"Padahal Nona tidak mengucapkannya untukku, namun mengapa aku tetap senang?"
"Bolehkah aku meminta Nona untuk mengatakan hal yang sama juga kepadaku?"
Jean menatap pilu, merenungi bagaimana masa depannya akan berjalan. Namun yah... semua itu adalah rahasia yang maha kuasa, tidak akan ada siapapun yang tahu mengenai apa yang akan terjadi.
Tetapi, Jean harap dia akan memiliki masa depan yang bahagia.
Jean kemudian beralih menatap pemandangan diluar jendela. Semua daun kini sudah rontok, dahan dan ranting begitu kosong dan hampa. Cuacanya juga semakin lama semakin dingin. Tanda bahwa musim akan berganti.
"Sepertinya malam ini akan turun salju pertama."
...❀...
Malam pun tiba, sepertinya prediksi Jean mungkin saja benar. Karena cuaca diluar semakin dingin, bahkan suhu mya saja sudah menurun drastis. Perjalanan kali ini akan menyulitkan bagi mereka bertiga.
Clara, Jean dan Avrim sudah siap berangkat menuju Freesia. Pakaian mereka memiliki beberapa lapis supaya bisa menahan hawa dingin yang menusuk malam ini. Kaisar juga ada disana untuk mengantar kepergian mereka.
"Pergilah dengan selamat, jika kalian tergores maka kalian tahu apa akibatnya."
"Baik Yang Mulia." Ucap ketiganya.
Jean lalu menaiki kudanya, begitu juga dengan Avrim. Clara sendiri tentu akan duduk di belakang Avrim, dia masih segan menunggangi kuda bersama Jean. Walaupun dia tahu bahwa Jean penunggang ahli, tapi tetap saja. Clara terlalu takut mencoba hal yang tidak pasti.
Ya ampun... mengapa naik kuda saja sesusah ini?!
Clara menggerutu dalam hati ketika dia kesusahan dalam menaiki kuda. Akhirnya, Meiger jugalah yang harus turun tangan dan membantunya naik keatas kuda.
"Yang Mulia, doakan aku supaya bisa membuat George itu mau ikut pulang bersama kami."
Benar, kalau senjata itu mau ikut bersama kami. Maka kemungkinan penyerangan yang akan dilakukan Freesia akan semakin kecil. Dan ending hitam bisa dijauhkan dariku!
"Terserah mu saja, jangan bawa - bawa aku." Ucap Meiger dengan acuh.
"Kalau begitu kami berangkat."
Di malam yang disinari bulan ini, Meiger akhirnya merubah ekspresi datarnya menjadi lebih lembut. Dia tersenyum simpul menanggapi Clara.
"Selamat jalan. Dan sampai jumpa lagi di bulan depan."
TBC
Tuh yang minta crazy up! Saya hanya mampu sampai 5 chapter saja. Dan yah... lagi - lagi Clara Scoleths menjelajah, lama - lama akan kubuat dia mengelilingi Benua Herbras -_-
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1