The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 50 - Ruangan Dalam Ruangan


__ADS_3

"Aku ingin tahu apa yang akan terjadi setelah ini... masalahnya aku dan Allen sudah baikan. Dan dalam ceritanya di novel, konflik bermula karena mereka cekcok. Jadi, apakah perubahan statusku menjadi buronan di Ranunculus adalah akibat dari berubahnya alur?"


Clara berbicara pada dirinya sendiri, saat ini ia malas untuk sarapan diluar karena Meiger belum kembali dari Vinca. Karena itu Clara meminta Jean membawakan sarapannya ke kamar saja.


"Antagonis tetaplah antagonis. Bahkan sekarang aku menjadi buruk di mata banyak orang sebelum konflik mencapai puncaknya. Malangnya diriku..."


KREK


"Nona, ini sarapannya."


"Woah! Terima kasih, Jean."


"Tidak masalah, Nona."


Jean meletakkan nampan berisi sarapan Clara di meja besar tersebut.


"Terima kasih atas makanannya! Ha...am!"


Tanpa basa - basi Clara memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Masakan Nero memang yang terbaik, Clara langsung merasa bahwa kenikmatan dunia bisa didapat lewat makanan buatan Nero.


"Seperti biasa, rasanya tak mengecewakan. Jean, kau tidak sarapan?" Clara yang fokus pada makanan kini beralih pada Jean.


"Hng? Saya sudah sarapan Nona, bersama Nero di dapur istana. Soalnya kalau mau bekerja yang penting sudah punya energi, bukan?"


"Harusnya kau tidur lebih lama dan sarapan makanan yang lebih bergizi, jangan hanya roti!"


"Nona tidak perlu mengkhawatirkan saya-"


"Tentu saja aku khawatir!"


"Eh?"


Hanya satu kalimat dari Clara membuat Jean terdiam seribu bahasa.


Oke, sejak lama dirinya sudah mengabdikan diri pada Kaisar Hortensia. Terlebih lagi Jean tidak mau bermimpi terlalu tinggi sebab saat ini saja keberadaan Avrim adalah palsu. Kakaknya sudah meninggal.


"Yang penting! Saat ini kalau kau bersamaku atau tidak kau perlu menjaga kesehatanmu!"


"....."


"Jean, paham tidak?!"


"Ah! Iya Nona!"


"Bagus - bagus." Clara mengangguk - angguk, berusaha bersikap keren di depan Jean.


"Tetapi Nona, saya masih tidak mengerti. Mengapa Nona khawatir dengan keadaan kesehatan saya? Saya bukan siapa - siapa selain pelayan Nona, bukan?"


Senyum lembut terpatri di bibir Clara. Matanya yang penuh dengan kasih sayang membuat Jean tidak bisa berpaling. Ia agak sedikit merasa nostalgia disini karena perilaku Clara.


"Jean adalah orang yang berharga bagiku, tentunya setelah Avrim."


"Heh? La...lalu bagaimana dengan Nona Wayne?"


"Hem? Dia sahabat terbaikku."


"Tuan Duke Muda?"


"Dia atasanku yang cerewet dan bermulut pedas."


Jean sedikit tergelak saat mendengar Clara menjelek - jelekkan Hendrick. Padahal kalau Hendrick mendengarnya maka tamatlah riwayat Clara.


"Nona bisa terkena karma kalau melakukannya."


"Melakukan apa?"


"Menggunjing Duke Muda. Ah, sebentar lagi beliau akan menjadi Duke di awal musim dingin. Hanya tinggal menghitung hari saja..."


"Kalau tanpaku... apa dia akan baik - baik saja?"


"Benar juga. Yang saya dengar dari Bibi Avrim. Sebelumnya Nona lumayan dekat dengan Duke Muda bukan?"


"Yeah..."


Sepertinya aku akan mengirim pesan kepada Allen untuk menanyakan keadaannya, Hendrick serta Duke tua itu juga Duchess...


"Hei Jean, apakah kau mengetahui siapa nama Duchess Wayne sebelum beliau menikah dengan Duke Wayne?"


"Eh? Sejujurnya saya kurang tahu tentang itu Nona. Yang saya ketahui hanyalah nama depan Duchess Wayne yang adalah Eleanor."

__ADS_1


"Begitu... aku jadi penasaran."


"Kalau Nona penasaran, Nona bisa bertanya pada Yang Mulia. Kemungkinan dijawab sangatlah besar."


"Hah! Itu pun kalau Yang Mulia mau! Dia selalu menyembunyikan banyak hal dariku. Bahkan mengenai Lavoisiér sekalipun... aku belum mendapatkan jawaban pastinya."


Clara merenung, jauh di dalam pikirannya dia begitu penasaran. Tapi apalah daya, Meiger sangat tidak bisa diajak kerja sama saat itu. Bahkan hanya dengan sedikit gertakan saja Clara langsung merasa gentar.


"Memang seorang penguasa huh..."


"Jean, aku akan pergi ke pepustakaan, kau tidak perlu ikut denganku karena aku tidak akan tersesat lagi. Untuk saat ini kau hanya perlu berdiam diri sambil bermalas - malasan." Setelah menyelesaikan sarapan Clara berdiri dan merapikan gaunnya yang kusut.


"Hee? Tugas saya adalah mengawal Nona-"


"Jika kau keluar dari kamarku selangkah saja. Maka akan kulaporkan pada Yang Mulia bahwa kau telah melanggar kode etik-mu sebagai seorang pengawal."


"Baik Nona..."


Jean pasrah saja dan memilih mengikuti saran Clara untuk berdiam diri dan bermalas - malasan. Kalau dia tetap ikut, maka aduan panjang lebar akan dilakukan Clara demi bisa mengkambing hitamkan Jean disini.


"Nona." Panggil Jean sebelum Clara keluar dari kamarnya.


"Iya?"


"...Tidak ada apa - apa." Kata Jean.


Hng? Aneh sekali...


Clara kemudian keluar dari kamarnya.


DEG


"Eh? Perasaan tak enak ini...! Ugh!"


BUG


Tubuh Clara terhuyung dan terjatuh ke lantai. Dia berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan kesadarannya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong istana kekaisaran. Mencengkeram bagian dadanya dengan kuat.


Terakhir kali dia merasakan ini adalah ketika Clara berada di aula istana Kerajaan Ranunculus. Saat pertemuannya dengan Raja dan Grand Duke Harold ditemani oleh Duke Wayne. Dan tiba - tiba saja ada hawa dingin nan kelam yang merasuki tubuhnya.


Keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya, Clara menggertakkan giginya dengan harapan mengurangi rasa tak enak dalam dirinya. Setelah beberapa lama berdiam diri, untungnya hawa dingin itu berhenti merasukinya.


"Ini mimpi buruk. Aku tak mau mengalaminya lagi..."


...❀...


Saat ini Clara sudah merasa bahwa tubuhnya kembali segar. Dia mulai menjelajahi seisi perpustakaan, mungkin Clara lupa kalau dia telah menyimpan banyak buku menarik di laci meja. Yah, ini adalah efek ketidakhadiran Jean di dekatnya.


"Hm... hm... la la la! Oh yeah!!! Na na na..."


Walaupun suaranya sumbang, Clara tetap melanjutkan nyanyiannya hingga habis. Beruntung tidak ada penjaga di perpustakaan ini, kalau tidak maka Clara pasti sudah didepak keluar dari sini.


"Yah... memangnya yang penting dibaca hanya sejarah 'kah?"


SREK


"Aduh!"


Tak sengaja Clara menyenggol salah satu rak, dia otomatis menahan rak buku tersebut supaya tidak jatuh. Masalahnya kalau sampai jatuh maka posisi Clara sebagai 'manusia nolep' akan terancam karenanya.


GREK


"Heh? 'GREK' tadi itu apa???"


Tidak disangka, rak perpustakaan berputar 180° searah jarum jam. Memperlihatkan sebuah ruangan misterius yang tidak dijajah cahaya di dalamnya. Padahal Clara mengira kalau di belakang rak hanya ada dinding, ternyata ada sebuah ruangan tersembunyi di baliknya.


"Apakah tidak masalah jika aku memasukinya? Bagaimana jika endingnya malah sama seperti saat aku mencoba berkeliling istana kekaisaran? Aku merinding jika diingatkan kembali..."


Setelah semua kebimbangan itu, akhirnya keputusan Clara jatuh pada 'menghilangkan rasa penasaran'. Atau bisa dikatakan kalau Clara mengambil langkah masuk ke dalam ruang gelap misterius tersebut.


"Permisi..."


Dibekali dengan sebuah lilinー yang ia curi dari dinding perpustakaanー Clara melangkah masuk ke dalam sana. Dia membaca berbagai jenis jampi - jampi berharap kalau perlindungan ghaib itu bisa membuatnya aman dari segala marabahaya.


"Aku tidak akan mati bukan kalau masuk ke dalamnya???"


TAP CIT


"Heh? Mengapa suara lantainya begitu menyeramkan?!" Clara menjerit tertahan saat lantai yang ia pijak berdecit.

__ADS_1


DUK


Karena sedikit ketakutan, Clara hanya bergeser satu centi saja. Sayangnya dia malah menabrak dinding di belakngnya, Clara merasa ada sesuatu yang bergoyang di posisi yang ia tabrak.


Dan ternyata benda tersebut berfungsi sama seperti saklar lampu. Saat ini ruang misterius yang gelap telah menjadi terang sepenuhnya. Clara merasa lilin di tangannya tidak memiliki fungsi lagi jadi dia meniup bara api di pucuknya dan meletakkannya di dekat meja.


Sekarang ruangan itu telah terang, menyebabkan Clara bisa dengan leluasa melihat dari sudut ke sudut.


Dan Clara merasa sedikit kecewa sebab ruangan ini hanya dipenuhi oleh buku. Dan mungkin karena tidak ada yang mengurusnya sehingga tempat ini menjadi terbengkalai. Hanya ada debu dan sarang laba - laba disini.


"Lalu apa bedanya dengan perpustakaan istana? Ini menjadi tidak lebih dari perpustakaan di dalam perpustakaan. AH! Lidahku mati rasa karena terlalu banyak menyebut tempat penuh buku itu..."


"Hng?"


Tatapan Clara terpaku pada satu - satunya buku yang ada di atas meja di tengah ruangan. Sama seperti ruangan ini, kondisi dari buku itu juga penuh debu. Hanya saja laba - laba belum membuat rumah disana.


Clara yang penasaran pun menghampiri buku itu dan memerincinya. "Buku ini tak memiliki judul, tidak biasa sekali."


Clara membuka lembar pertama di buku itu dan melihat apa yang pertama kali tertulis disana. "Hortensia...?" Lalu ia membaca tulisan di bawahnya. "Scoleths ialah dirimu dan diriku."


Eh? Scoleths?! Kalau Yang Mulia membenci Scoleths mengapa ada buku tentang mereka? Situasinya sama seperti buku Lavoisiér itu...


"Hm... buku ini tampaknya mencurigakan. Aku akan membawanya ke kamarku kalau begitu."


Setelah itu, menggeser benda aneh di dinding yang otomatis mematikan semua penerangan yang ada. Clara juga bersusah payah menempatkan kembali rak buku seperti semula.


"Yosh! Sudah siap! Saatnya kembali nge-gabut di kamar!"


Clara bersenandung riang sambil membalikkan badannya. "La la la hm! Guhー aduh...!"


"Clara, apa yang sedang kau lakukan?"


DEG


Hee...? Suara ini 'kan... ini sepertinya masih pagi. Aku benar bukan?


Clara mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang ia tabrak sekaligus sumber dari suara rendah yang tidak memiliki emosi itu.


"Ya..Yang Mulia... hamba hanya sedang membaca..."


Dengan keringat dingin Clara menjawabnya.


Ini sangatlah berbeda dari Meiger yang diketahui Clara saat di luar istana kekaisaran. Ya, mungkin disebabkan karena perpustakaan adalah bagian dari istana maka Meiger di depan Clara adalah yang versi datarnya, bukan versi 'peduli rakyat'.


Otomatis karena perbedaan versi ini membuat Clara menjadi gugup setengah mati. Padahal ketika mereka berada di luar saat mengunjungi rumah Nielsen, Meiger cukup murah senyum. Meskipun hanya sebatas senyum tipis saja, itu sudah cukup membuat Clara lebih mudah bersikap santai.


Clara sangat berharap jika Meiger tidak dalam versi 'diamnya'.


"Benarkah? Sepertinya kau baru saja keluar dari sini."


TAP


Meiger menyentuh rak buku di belakang Clara. Membuat tubuh Clara terpojokkan dan menyentuh pada rak yang sama. Alhasil di posisi ini jadi terlihat seperti Meiger sedang melakukan kabedon pada Clara.


Apa yang sebenarnya terjadi disini?! Siapa saja beritahu aku!


Walaupun dalam keadaan terpojokkan, Clara masih menyembunyikan buku yang ia ambil dari ruangan misterius itu. Dia terlihat ketakutan karena wajah Meiger yang tampan bisa terlihat seram juga. Terlebih posisi ini agak ambigu.


Keadaan memang tidak pernah berpihak pada Clara.


GREP


"...!"


Mengapa takdir tidak pernah membiarkanku merasa tenang? Bahkan hanya sekedar menghela nafas saja tidak bisakah?!


Tubuh Clara merespon, terkejut dengan tindakan mendadak Meiger selanjutnya. Meiger menyentuh buku yang disembunyikan Clara di dekat rak dengan tangannya yang satunya.


Clara semakin mengeratkan cengkeramannya pada buku itu. Padahal dia belum membacanya, sangat tidak lucu jika itu langsung diambil darinya begitu saja.


"Hee... buku macam apa yang sampai membuatmu tidak mau melepaskannya..."


Meiger mengambil langkah maju, mendekatkan tubuhnya pada Clara. Alhasil Clara semakin dan semakin terpojokkan saja. Dia tidak bisa mengambil langkah mundur apalagi maju karena dua - duanya sudah mentok. Bahkan sekedar bergeser ke kanan dan kiri saja tidak bisa karena ada tangan Meiger yang menghalanginya.


Bagaimana caraku untuk kabur saat ini?!


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2