The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 113 - Kisah Kasih Tak Sampai


__ADS_3

Bisa dilihat Clara jika Valentina memancarkan kilat kekecewaan. Perasaan sakit yang amat sangat. Dia telah kehilangan cinta pertamanya, dan ketika Valentina mulai melabuhkan hatinya pada pria lain. Orang itu sekarang berada di pihak oposisi.


"Valentina, Kak Rara. Akan berbahaya kalau kita tetap bersembunyi di balik sini. Tidak ada kemungkinan mereka tidak akan memeriksa setiap tempat. Lagipula hutan ini memang menyeramkan dari luar, mudah menimbulkan kecurigaan." Bisik James.


Clara mengangguk menyetujui. Hal yang sulit sekarang adalah bagaimana caranya mereka membawa Valentina, gadis ini nampak dalam kondisi terpuruk. Sebenarnya Clara juga sama, namun dia lebih tahu diri untuk mengetahui bahwa sekarang bukan saat dan di tempat yang tepat untuk bermelankolis ria.


"Ayo, Valen."


Valentina tidak bergeming, tetapi dia membiarkan tangannya ditarik pergi oleh Clara dan James. Sikap Clara harus dia tiru saat ini, bukan waktunya memikirkan kesedihannya. Secara sejak awal, mereka berpihak pada wilayah yang saling bertentangan.


Andaikan aku penduduk Hortensia... maka kami takkan terhalang oleh wilayah. Pikir Valentina.


"Menurut Kak Rara, mereka akan kemana?"


"Kemungkinan besar Istana Kerajaan. Sebab disana para orang - orang berpengaruh sedang berkumpul. Harusnya juga Count Cheltics sudah tiba disana setelah perpisahan kami. Karena sekarang tidak ada lagi Master Pedang, tombak Ranunculus berkurang satu."


"Bicara tentang pedang. Pedang yang Kak Rara gunakan kelihatannya nyaris tidak bisa dipakai lagi." Cetus James, tatapannya tertuju pada sebilah pedang yang tersampir di pinggang Clara.


Clara memandangi pedangnya yang terlihat mengalami pengaratan. Karena pedang ini terbuat dari besi, maka hal ini adalah umum. Tidak seperti pedang istimewa miliknya yang terbuat dari bongkahan es abadi dari puncak gunung musim dingin di Hortensia.


"Ah, seharusnya aku tidak melupakan pedang mawarku." Clara menghela napasnya.


"Pedang mawar?" James mengangkat alisnya heran.


"Yap. Pedang yang sudah bersamaku sejak bertahun - tahun lamanya. Namun aku malah meninggalkan pedang itu, antara di Hortensia atau Vinca."


"Tapi, Kak Rara. Sepertinya aku melihat pedang itu belum lama ini."


"Benarkah? Dimana itu?"


"Ada bersama Kaisar Hortensia." Ujar James, raut wajahnya seketika berubah serius.


Clara menelan salivanya dengan susah payah. Kebenaran mengenai dirinya yang adalah reinkarnasi Gadis Mawar Putih sudah diketahui beberapa orang. Namun kebenaran dari pedang mawar biru itu, hanya sedikit orang di Istana Kekaisaran yang mengetahuinya. Dan bukanlah hal mengejutkan kalau Kaisar adalah yang sadar pertama.


Kemampuan pedang itu untuk membantunya menopang sihir hitam yang diserapnya adalah rahasia besar. Clara yakin, selain Kaisar ada Jean dan Avrim yang masuk jajaran beberapa orang yang tahu kelebihan pedang tersebut.


Lalu Grein...


Sampai saat ini aku belum bisa bertemu kembali dengannya. Bagaimana caraku untuk pergi ke dunia mimpi Yang Mulia? Apakah langsung kutanyakan saja pada Yang Mulia?


"Apakah pedang itu sangat penting untukmu, Kak Rara?" Tanya James lagi.


James melihat dari belakang bahwa gadis itu menganggukkan kepalanya perlahan. Dia tidak tahu kalau Clara sekarang benar - benar merasa kesakitan. Efek dari luka yang dia dapatkan baru sekarang terasa sakitnya. Apalagi luka besar di mata kirinya, seperti isi kepalanya terkoyak.


Dari arah kanannya, Clara terkejut saat sebilah pedang nan cantik terulur. Matanya yang tajam seolah baru diasah membuat siapapun ngeri jika pedang itu tersorot tiba - tiba kearah mereka.


Namun tidak untuk Clara, gadis itu merasa senang bukan kepalang. Clara segera berbalik dan mengambil pedang miliknya dari genggaman James. Pedang itu tampak mulus serta baru.


Woah! Bagaimana bisa James membawa ini kesini? Dia tadi bilang'kan kalau pedangku ada pada Yang Mulia?

__ADS_1


Cahaya di mata gadis bersurai putih itu meredup seketika. Pandangannya mengarah pada belakang James yang kosong. Tidak ada siapa - siapa disana.


"Kemana Valen?"


James menoleh ke belakangnya dan tidak mendapati siapapun disana. Padahal sejak tadi Valentina terus mengekorinya meski tak mengatakan sepatah kata pun. Dan sekarang, kemana dia pergi?


"Mustahil dia tersesat 'kan?"


"Tidak, Kak Rara. Melainkan kemungkinan yang terburuk. Apa Valentina menghampiri Edmond Southbayern hanya untuk menanyakan sesuatu?"


Mata Clara memicing, kembali melihat ke hutan yang baru saja mereka lewati. Kalau memang apa yang dikatakan James benar, situasi Valentina sama sekali tidak bagus. Dan sekarang Valentina secara tidak sadar sedang menyeret Clara dan James ikut serta ke mulut buaya bersamanya.


"Huft... inilah kenapa Kak Raģe enggan membawa Valentina. Dia terlalu perasa seperti wanita kebanyakan." Keluh James.


"Tapi, aku yakin dia tidak sebodoh itu untuk menemui Edmond hanya demi mempertanyakan satu hal saja. Pasti ada alasan lain 'kan?"


"Dia itu Nona Cinta, Kak Rara!"


Clara tertegun sejenak, sementara James mulai melangkahkan kakinya untuk berlari kembali ke tempat mereka semula. Berharap dapat menemukan Valentina dengan cepat dan menyeretnya menuju Istana atau kediaman Wayne.


"Apakah Nona Cinta bukan sekedar julukan yang diberikan Edmond padanya?" Clara bermonolog.


...❀...


James terus berlari menembus kegelapan malam. Entah kenapa rasanya malam ini begitu panjang, langit hitam itu tidak ada habisnya. Atau ada sesuatu yang lain penyebab kejanggalan ini.


Hanya satu hal yang dipikirkannya sekarang.


Di saat James terpuruk, sepupunya itu akan merangkulnya dan memberikan kalimat motivasi yang mampu membuat James bangkit kembali. Hingga James bisa pura - pura tak mendengar para bangsawan yang mencemooh dirinya dari belakang.


"Jadi kalian berdua keturunan bangsawan murni? Bahkan anak lelaki pengecut di belakangmu adalah anggota kerajaan? Jadi namamu Valentina, yah...? Kau gadis yang tumbuh dengan cinta dan kasih sayang berlimpah dari orang disekitarmu. Nona Cinta adalah julukan yang pas untukmu."


Jantung James mendadak berdetak tidak beraturan. Karena tidak fokus, James jatuh tersungkur ke genangan air. Dia merasa ada yang tidak beres. Nona Cinta adalah julukan pemberian seseorang kepada Valentina, tetapi James sendiri tidak tahu apa hubungannya Nona Cinta sehingga bisa melekat erat dengan Valentina.


Karena itu sudah lama, James sudah lupa siapa orang yang memberikan Valentina julukan itu. Tapi yang pasti, dia seusia Valentina. Seorang kecantikan yang menggenggam pedang penuh darah dengan erat.


"Sial! Apa yang kupikirkan?! Sekarang bukan waktunya berfikir seperti itu! Aku harus mencari Valentina dengan segera."


James bangkit berdiri, dia tidak peduli seberapa kotor dirinya dan pakaiannya saat ini. Dia hanya terus menggumamkan harapan agar Valentina bisa bertahan sampai dia datang menjemputnya.


"Valentina... bertahanlah untuk sepupumu ini!"


...❀...


Sosok seorang gadis dengan kecantikan menyamai lavender, berdiri bersembunyi di balik pohong beringin. Matanya menelusuri setiap rinci sudut lokasi demi menemukan sesuatu yang dia cari.


Sebenarnya dia kehilangan bros berbentuk lavender yang dibuat khusus oleh James untuk dirinya tanpa dikenakan biaya apapun. Bros itu sangat indah dan Valentina tidak ingin kehilangan benda itu. Sayangnya dia ceroboh saat kabur dan menjatuhkannya.


Untungnya dia dengan segera menemukannya. Di semak belukar tempat mereka bertiga bersembunyi. Karena bros miliknya mengait dengan sesuatu makanya saat Valentina ditarik Clara, itu tersangkut diantara semak - semak.

__ADS_1


Tangan Valentina terjulur untuk mengambil bros lavendernya.


"Aku tahu itu kau."


Sebuah suara mengejutkannya. Dia tahu suara siapa itu. Namun Valentina tidak ambil pusing. Dia segera mengambil bros miliknya kemudian menyisipkannya kembali pada gaunnya.


Saat Valentina berdiri dan hendak berjalan menuju tempat ia meninggalkan James dan Clara, tangannya ditarik si pemilik suara. Valentina yang enggan menatapnya langsung memilih terus menundukkan kepalanya.


"Valentina, maafkan aku."


Setelah lama hening, suara itu terdengar lagi. Terdapat nada penyesalan yang bisa didengar oleh Valentina. Valentina terperanjat, akan tetapi dia tetap hanya diam dan mendengarkan. Memangnya hal apa lagi yang bisa dilakukannya?


"Maaf karena tidak bisa menepati janjiku untuk terus berada di sampingmu. Aku tahu, kau marah padaku, mungkin kau juga sudah benci padaku yang ingkar ini. Saat di Agapanthus dan bersamamu, mendadak aku lupa kenegaraanku yang sebenarnya."


Valentina tidak merespon, dia membiarkan pria itu tetap mencurahkan segala sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


"Bukankah aku hanya seonggok manusia bodoh yang masih mengharapkan cinta dan kepercayaanmu?"


"Kau tidak bodoh..."


Edmond terperanjat. Valentina mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, memberanikan diri menatap manik mata Edmond. Matanya tampak berkaca - kaca menahan air mata yang terus merembes keluar tanpa seizinnya.


"...kau hanya idiot."


Edmond tertawa getir, tersenyum bagaikan disayat sembilu. "Begitukah?"


Valentina mengangguk samar.


"Mengapa aku bisa mempercayakan hatiku kepadamu setelah merasakan sakitnya patah hati. Ternyata mengulang hal sakit yang sama rasa sakitnya tidak separah sebelumnya."


"Kau ini bodoh apa? Tidak mengenakkan terus menjadi orang yang menerima rasa sakit."


"Kaulah yang bodoh! Harusnya kau sadar diri jika kita tidak bisa bersama!" Hardik Valentina.


Kini Valentina tidak malu - malu lagi untuk menangis dan merengek seperti anak kecil. Valentina memang seorang perasa. Dia lebih membiarkan emosinya berjalan dan loginya terus merangkak. Hal memalukan dan tidak perlu dibanggakan. Tapi ingatlah kalian? Cinta bisa merubah banyak hal.


Setelah selesai memaki dan saling mengeluarkan keluh kesah masing - masing. Valentina dan Edmond malah tertawa meski dengan air mata yang terus menetes. Sebuah memori yang hanya bisa dikenang diciptakan mereka.


Sementara jauh di belakang mereka, James mengerutkan keningnya. Merasa bersalah atas apa yang menimpa sepasang kekasih terhalang wilayah itu. Tangannya mengepal erat hingga setetes darah mengalir disela - sela jarinya.


"Apakah tidak masalah membiarkan mereka mengenang itu semua?" Tanya James.


Di sampingnya, Clara hanya menatap pilu sepasang kekasih itu. Dia membuang wajahnya ke sembarang arah, merasa tidak mampu meneruskan memandangi momen haru biru mereka.


"Biarkan saja untuk saat ini."


"Setidaknya sebelum mereka benar - benar tak bisa bertemu lagi..." Sambung Clara, berbisik.


TBC

__ADS_1


LIKE + KOMEN


__ADS_2