The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 124 - Sejarah Singkat Lavoisiér


__ADS_3

Di tanah Hortensia. Tepatnya di perbatasan antara wilayah Barat dan Utara. Terdapat kelompok keluarga bangsawan besar yang hidup disana. Mereka mempunyai kastil yang besar dimana hampir menyamai besarnya Istana Kekaisaran.


Nama keluarga bangsawan tersebut adalah Lavoisiér.


Dimana setiap anggota keluarga mereka memiliki satu ciri khas yang mencolok, yaitu mata ruby yang tidak pernah dimiliki siapapun di tanah Herbras ini.


Banyak rumor tentang mereka tersebar dimana - mana. Mengenai betapa mengerikannya keluarga gila ini. Atau ternyata mereka adalah keluarga pembunuh dan masih banyak lagi.


Tetapi rumor yang paling terkenal adalah kebohongan dimana dinyatakan bahwa mereka semua mempunyai kemampuan memanipulasi pikiran seseorang hanya dengan melihat mata mereka.


Tentu saja rumor itu tercipta bukan tanpa berdasar. Seorang pria paruh baya pernah memergoki salah satu dari Lavoisiér melakukannya. Dalam ceritanya, dia menambahkan bahwa kedua mata mereka seolah menyala saat mereka sedang melakukan manipulasi pikiran pada target.


Tentang kebenarannya? Tidak ada yang tahu apakah itu fakta atau berita bohong yang telah ditaburi bumbu penyedap supaya lebih banyak yang mengonsumsi rumor ini.


Rumor ini sendiri telah sampai pada kepala keluarga bangsawan Lavoisiér. Namun tampak jelas bahwa mereka tak ingin ikut campur dan malas meladeni orang - orang yang berfikiran negatif tentang mereka.


"Ayah, kenapa aku dan Kakak tidak boleh keluar? Kami hanya ingin bermain - main."


Seorang anak lelaki berusia 16 tahun duduk menghadap punggung ayahnya. Dia sangat mencolok dengan surai berwarna emas serta ciri khas Lavoisiér yaitu mata ruby. Pakaiannya yang hitam sangat kontras dengan fisiknya.


"Crater. Lebih baik kau tidak menjelajahi dunia luar. Tempat itu hanya akan membuat merasa paling tidak berguna di dunia ini. Tak ada yang bagus bila berurusan dengan manusia."


Crater terperanjat. Matanya terbuka lebar. Kalimat gila macam apa yang ayahnya katakan? Mengapa ia berkata seolah Lavoisiér bukanlah bagian dari makhluk bernama manusia? Apa mereka memang berbeda?


"Tapi ayahー"


"Crater!"


Crater menggigit bibir bawahnya menahan amarah. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa melawan kehendak ayahnya yang adalah seorang kepala keluarga. Pria ini dihormati oleh orang - orang yang tersemat gelar Lavoisiér dalam nama mereka.


Sambil mengepalkan erat kedua tangannya. Crater pamit undur diri dari ruangan ayahnya. Diluar sana, ada seorang pria yang kira - kira lebih tua darinya dengan surai putihnya.


"Bukankah sudah kubilang jangan meminta macam - macam?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir.


"Tapi Kak! Kenapa kita tidak boleh keluar?"


Zavius memalingkan wajahnya ke sisi lain.


"Itu... kau tahu sendiri bahwa Lavoisiér takkan pernah diterima oleh orang - orang diluar sana. Bahkan sebuah keajaiban Kaisar Hortensia tidak mengusir kita dari sini."


"Memangnya kita hama?!"


"Mereka menganggap kita jelmaan iblis. Ayolah Crater, kau harus mengerti semua ucapanku. Ikuti saja perintah Ayah. Mengapa kau menjadi pembangkang sekarang?"


Zavius menghela napasnya gusar. Punya adik yang sedang pubertas bukanlah hal bagus untuknya. Zavius juga pernah melakukan hal yang sama dan malah lebih parah dengan sengaja keluar dari area perbatasan yang ditetapkan.


Alhasil, Zavius mendapatkan banyak luka dan hinaan diluar sana. Sementara ia juga masih harus mendengar ceramah ayahnya yang selalu menyelipkan kalimat 'itulah akibatnya' setelah sampai di Kastil Lavoisiér.


Mimpi terburuk bagi Zavius. Maka dari itu dia takkan membiarkan Crater melakukan kebodohan yang serupa dengannya, pasti.


"Lupakan tentang dunia luar. Mengapa kita tidak berburu saja di wilayah putih?"


Crater sedikit melunak. Dia mengangguk pelan karena masih tak terima atas peringatan dari ayahnya. Setidaknya, dia harus tahu alasan kenapa Lavoisiér begitu dibenci orang - orang.


...****...


"Kenapa kita melakukan ini? Biasanya para pelayan yang akan melakukannya 'kan?"


Baru sebentar berburu di wilayah putih. Tetapi Crater merasa lelah karena belum bisa menemukan hewan apapun. Zavius hanya bisa berasumsi bahwa pagi - pagi begini mungkin hewan masih meringkuk di sarangnya.

__ADS_1


Crater menoleh pada tanah perbatasan Freesia, lalu Hortensia. Tidak ada yang berbeda, selain fakta bahwa kelima wilayah besar ini masih terlibat dalam perang dingin. Dan belum ada yang bisa menghentikannya.


Selain perang dingin, beberapa wilayah yang mudah tersulut akan kembali berperang dengan wilayah lain. Sebenarnya di masa ini semuanya sangat sensitif dan bukan pilihan bagus keluar dari wilayah masing - masing. Kecuali jika orang itu memang punya niatan bunuh diri.


Tidak ada siapapun yang bisa benar - benar menghentikan perang yang panas dingin ini.


Crater hanya pernah mendengar jika Kaisar Hortensia berniat untuk menyatukan atau paling tidak mendamaikan kelima wilayah agar situasi yang lebih baik mampu tercipta.


Dalam keheningan itu, Crater dan Zavius dikejutkan oleh suara semak belukar. Segera mengambil mengambil busur dan anak panah. Berjaga - jaga jika yang ada di balik sana adalah rusa.


SREK


Dari semak tersebut, terlihat surai yang begitu halus seperti sutra berwarna emas. Crater dan Zavius terkejut, itu seorang manusia. Untung mereka belum melesatkan anak panah. Tapi, ini bukan sesuatu yang baik jika mengingat peringatan ayahnya.


"Kak, ayo pergi. Sebelum Ayah mengetahuinya." Bisik Crater.


"Sebentar. Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik." Zavius memicingkan matanya.


"Apanya yang menarik?! Ayo pergi dan jangan biarkan Ayah benar - benar melarang kita bahkan untuk ke wilayah putih sekarang juga!"


"Tapi, dia Lavoisiér juga seperti kita." Ujar Zavius menunjuk orang tadi dengan telunjuknya.


Bukan tanpa sebab Zavius menebaknya begitu. Karena mata ruby Lavoisiér memang sespesial penampakannya. Tidak tahu apa yang dilihatnya sekarang. Tetapi ia tahu bahwa gadis itu adalah bagian dari mereka.


"Bagaimana Kakak bisa mengatakannya begitu?"


"Pokoknya aku tahu."


"Tapi dia berada diluar wilayah Lavoisiér. Dia benar - benar menginjakkan kakinya di wilayah Hortensia. Kak sadarlah. Wanita itu bukanlah bagian dari kita. Bangunlah dari halusinasimu."


Zavius mendengus kesal. Memang sulit berbicara dengan orang yang keras kepala. Padahal Zavius bisa membuktikannya sendiri. Jika saja mata ruby adiknya bisa berfungsi lebih baik lagi.


"Perang bisa pecah lagi?"


"Perjanjian perdamaian memang sudah dicetuskan Hortensia. Tetapi mereka belum mendapatkan persetujuan dari wilayah lain."


Crater menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku tidak paham bagaimana dunia bekerja."


"Biarkan dunia berjalan semaunya."


Untuk terakhir kalinya, Crater menoleh pada wanita aneh yang mereka perdebatkan sebagai Lavoisiér atau bukan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati wajahnya sekarang terlihat dengan jelas.


Surai keemasan ditambah netra safir yang begitu jernih dipandang. Senyuman yang dia tampilkan begitu lembut dan manis, seolah kesenagannya bukanlah sandiwara semata.


Crater terkesan dengan gadis itu. Sungguh, ini pertama kalinya dia menatap lawan jenisnya begitu lama dengan tatapan kagum. Kali ini Crater dibuat bungkam oleh kecantikannya.


Di saat itulah, kedua mata ruby miliknya bekerja dengan baik.


Lavoisiér sungguhan diluar wilayah bagian? Mataku tidak salah, bukan?


...****...


"Bagaimana caraku bisa bertemu dengannya lagi, ya?" Crater bermonolog. "Jika aku menyelinap keluar, kurasa tidak akan ada yang tahu. Aku akan keluar nanti malam saja."


Di malam harinya. Setelah semua orang terlelap tidur. Crater mengendap - endap keluar dari wilayah Lavoisiér. Dia ingin sekali bertemu dengan gadis cantik itu meski hanya sekali lagi. Dan menanyakan alasan bagaimana dia bisa diterima diluar sedangkan jelas terlihat jika dia seorang Lavoisiér.


Sebelumnya Crater sudah mengantisipasi kalau Zavius memergokinya. Kakaknya itu tidak akan mengatakan apapun yang mencelakakan dirinya. Zavius malah akan berusaha keras untuk menutupi kesalahan dan kecerobohannya.


Keluar dari wilayah Lavoisiér dengan mudahnya karena tidak ada yang berjaga. Sementara di sisi Hortensia, mereka memang enggan berkontak langsung dengan darah terkutuk Lavoisiér.

__ADS_1


Saat kakinya melangkah ke sisi Hortensia, dia dikejutkan dengan siluet seseorang yang berdiri tepat menghadapnya. Dilihat dari figurnya, orang itu tampak seperti wanita dewasa.


Sial! Baru juga selangkah, masa sudah kepergok.


"Kamu... Lavoisiér?"


DEG


Uwah... aku benar - benar membenci situasi ini.


"Kamu keluar dari wilayah bagianmu dengan berani. Apakah ada sesuatu yang penting hingga kamu senekat ini?"


Ada apa dengannya?


Crater menelan salivanya dengan berat. Selama enam belas tahun usianya, baru sekarang dirinya merasa tertekan dan ketakutan. Tapi dia nekat karena situasinya yang genting.


"Apa maumu? Katakan!" Tegas Crater.


Lawan bicaranya hanya seorang wanita. Tidak ada yang perlu ia takuti. Memang kenyataannya lumayan gampang melewati seluruh penjagaan Lavoisiér yang tidak ada sama sekali. Ayahnya berfikir bahwa Lavoisiér tak mau berkontak dengan orang luar karena selalu dihina.


"Aku hanya merasa senang bisa bertemu dengan kalian lagi. Sudah sejak lama aku ingin bertemu dengan keluargaku. Tapi, mungkin mereka sudah terlanjur membenciku." Wanita itu berucap dengan nada sedih.


"Ah... jangan bilang kau adalah..."


"Um. Aku Ivory de'Lavoisiér."


Dia wanita Lavoisiér yang mau kutemui!


"Ivory de'Lavoisiér, bisakah kita berbicara sebentar saja?"


Ivory dengan senyuman lembutnya mengangguk menyanggupi. Sudah lama dia ingin berbincang dengan bagian dari keluarganya bangsawan ini.


...****...


"Kemana anak itu pergi?"


Zavius yang terbangun karena haus dan iseng keluar mengintip kamar adiknya. Tapi sayang, dia malah menemukan kenyataan jika adiknya kabur. Hanya sekali lihat saja Zavius tahu kalau Crater pergi keluar wilayah bagian.


Yah, seperti biasanya dia akan memikirkan seribu satu alasan saat ayahnya mulai curiga.


"Sigh..."


Bulu kuduk Zavius mendadak meremang. Dia menoleh ke sekitarnya dan hanya menemukan kesunyian malam. Tapi Zavius bukanlah orang bodoh yang langsung menepis keganjilan ini. Ada sesuatu yang sedang terjadi.


Haruskah aku melaporkannya pada ayah?


Zavius mengambil pedang yang kebetulan tergantung di dinding kastil. Dia kemudian melepaskan pedangnya dari dari sarung. Mengarahkannya ke depan.


"Keluarlah kalian semua, aku tahu kalian ada sejak tadi mengawasiku."


Tak lama setelah kata terakhirnya. Beberapa orang yang dibalut oleh jubah hitam hampir seluruh tubuhnya datang entah darimana. Masing - masing membawa senjata yang telah dikotori bercak darah.


Mereka pasti sudah melakukan sesuatu.


"Kalian benar - benar ingin melenyapkan kami, heh." Zavius tersenyum sinis.


TBC


So, see you in the next chapter ~

__ADS_1


__ADS_2