
"Avrim! Senangnya kau kembali...!"
Clara memeluk Avrim, menangis haru karena orang yang ia tunggu akhirnya pulang juga. Jean hanya menyaksikan mereka berdua melepas rindu. Diam - diam dia merasakan kehangatan dari pelukan Clara pada Avrim.
"Ya ampun, Nona. Nona nampaknya tidak berubah sama sekali. Tapi syukurlah kalau Nona baik - baik saja, saya sangat khawatir karena meninggalkan Nona sendirian disini."
"Itu benar... untung saja ada Jean!"
Clara tertawa renyah, membiarkan Avrim balik memeluknya. Entah kenapa Clara menjadi sedikit hangat setelah ia mengalami pingsan selama beberapa hari. Sebelumnya Clara sangat dingin, dari segi ekspresi maupun suhu tubuhnya.
SRET
"He? Avrim?"
Clara terkejut ketika Avrim melepaskan pelukannya secara mendadak. Suasana canggung pun tercipta karenanya.
"Nona, bisakah saya izin keluar?" Ucap Jean, memecah keheningan.
Clara mengintip Jean yang terhalang oleh Avrim. Meski begitu, Clara tetap tak bisa melihat ekspresi Jean dengan jelas. Dia sepertinya agak pasif akhir - akhir ini.
Clara mengangguk mantap, "Ada Avrim bersamaku. Kau bisa beristirahat mulai dari sekarang."
"Terima kasih, Nona."
Jean berjalan keluar kamar Clara, dan menutup pintunya rapat - rapat. Dia masih diam bersandar di depan pintu sambil memegangi daun pintu. Jean memegang pucuk kepalanya yang dingin, sepertinya musim dingin sudah dekat.
Tapi pelukan Clara pada Avrim barusan, memberi dia kehangatan yang ia butuhkan. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Jean merasa tentram kembali.
"Perasaan hangat ini, seperti Kakak..."
...❀...
"Nona, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Nona." Avrim yang tengah menyisir rambut Clara, bertanya pada gadis itu.
"Apakah itu?"
"Saat Nona bersama Yang Mulia tempo hari, apa yang ingin Nona katakan kepada beliau?"
"..."
Clara menjadi diam seribu bahasa, menengok menghadap Avrim yang otomatis menghentikan pergerakan sisir di rambutnya.
"Memangnya aku mau mengatakan apa pada Yang Mulia?"
Bukannya menjawab, Clara malah bertanya balik. Membuat Avrim tercengang mendengarnya. Padahal saat Clara pingsan, Avrim yakin kepala Nona-nya tidak membentur tanah karena langsung ditahan oleh kaisar. Tetapi tidak disangka - sangka, Clara lupa begitu mudahnya.
"Nona melupakannya?"
"Apa yang aku lupakan? Yang kuingat, aku hanya bertanya kepada Yang Mulia mengenai mengapa dia membenci nama Scoleths dan kenapa mau menampungku disini, itu saja. Memangnya ada yang lain?"
Seingatku juga, aku hanya bertemu makhluk aneh itu, Grein de Lavoisiér dalam dunia mimpi yang diciptakan Yang Mulia.
Clara menatap Avrim dengan polosnya, membuat pelayan tua itu menambah lipatan di keningnya. Clara saat ini tidak berbohong, Avrim jelas tahu itu.
"Jadi Nona lupa ya... tidak masalah. Kalau Nona mengingatnya lagi nanti Nona harus segera mengatakannya agar tidak lupa." Saran Avrim.
Meski Clara merasa bingung dengan apa yang dibicarakan Avrim. Namun dia mengangguk saja, mengikuti Avrim. "Baiklah..."
Setelah itu, Clara terpaku pada pemandangan diluar saat ini. Ia ingat kalau ini sudah pagi menjelang siang. Ada kemungkinan kalau Avrim akan pergi ke swalayan hanya untuk sekedar berjalan - jalan saja. Atau kalau dia ada keperluan disana seperti membeli sesuatu.
Clara juga diingatkan kembali tentang pembicaraannya dengan Grein. Mengenai pengabulan permintaan, dan Clara meminta agar kulitnya mampu bertahan di bawah teriknya sinar mentari. Jika hal itu memang benar, Clara akan mencobanya. Dia sudah muak hanya duduk berada di dalam kamar. Bahkan dia tidak bisa mengacau ruang kerja Meiger seperti hal nya Hendrick.
__ADS_1
Clara mencoba bangkit dari kasurnya dibantu oleh Avrim. Ia berjalan mendekati jendela yang tertutup rapat oleh gorden. Avrim mendadak panik saat Clara mendekatkan tangannya pada celah gorden yang ditembus cahaya matahari.
"Nona...! Eh-?"
Avrim terkejut saat Clara tidak guling - guling di lantai karena kepanasan. Justru Clara malah bersikap normal dan kelewat santai sampai gorden dibuka selebar mungkin oleh Clara. Gadis muda itu nampak baik - baik saja.
"Ap-apa ini? Penipuan macam apa ini? Apakah Nona bisa menipu mata saya atau apa?"
Astaga, bisakah kau bertanya satu persatu?
GREK
Clara membuka serta kedua jendela besar di kamarnya. Cahaya masuk ke dalam kamarnya yang sebelumnya tidak pernah disinggahi oleh cahaya selain dari lilin.
Semilir angin berhembus menerbangkan helai rambut Clara. Clara membalikkan tubuhnya menghadap Avrim yang masih diam membeku, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Senyum menawan terbit di wajah pucat Clara.
"Mulai hari ini, aku berteman baik dengan matahari loh, Avrim."
...❀...
Jean datang kembali ke kamar Clara sambil membawakan lukisan yang belum sempat diselesaikan oleh gadis itu. Jean melihat kalau ada secercah cahaya melewati celah pintu.
Jean sontak jadi panik, mengingat jika Clara sangat tidak boleh disentuh oleh sinar mentari. Jean buru - buru mendobrak pintu dari luar, masuk dengan kecamuk dalam hatinya.
"Nona!"
Saat Jean masuk ke dalam, dia merasa heran ketika melihat Clara dan Avrim berdiri di dekat jendela. Bukan itu masalahnya, namun gorden telah diikat dan jendela nya terbuka lebar.
Yang lebih membuatnya heran lagi adalah Clara tampak baik - baik saja terpapar sinar matahari yang seharusnya itu membuat Clara menggeliat kepanasan.
"Heh? Nona? Apa Nona bisa menyingkir dari sana? Itu berbahaya bagi Nona untuk tetap disana." Ujar Jean, di wajahnya tercetak jelas raut terkejutnya.
Dia menjulurkan tangannya keluar jendela, Avrim dan Jean jadi semakin panik dan khawatir. Tapi Clara merekahkan senyumnya, bersikap seolah dia tidak kenapa - napa.
Dia merenggangkan kedua tangannya. Berdiri dengan latar belakang siang hari, "Lihatlah! Aku sehat - sehat saja. Sinar matahari kini bukanlah musuhku, Avrim, Jean. Ayo kita ke swalayan!"
"Huh?"
"Eh?"
...❀...
Clara dan Avrim benar - benar ke swalayan meski sudah terlalu kesiangan. Jean tidak ikut serta sebab dirinya masih ada urusan. Mungkin karena Hortensia sering hujan, para penduduk terbiasa membawa payung untuk berjaga - jaga.
"Avrim." Panggil Clara.
"Ada apa Nona?"
"Menurutmu kemana Yang Mulia pergi? Saat aku berniat merusuh di ruang kerjanya. Yang Mulia sudah tak berada disana." Ucap Clara, memegang dagunya dengan ekspresi berfikir.
"Yang Mulia keluar pagi ini sesaat setelah Nona bangun. Saya tidak mengetahui kemana perginya Yang Mulia. Tapi sepertinya ada tugas yang perlu beliau selesaikan."
"Begitu."
Entah kenapa firasatku buruk tentang ini...
Clara menepis segala pemikiran buruknya tentang Meiger. Dia memilih meminta Avrim membelikannya bermacam - macam makanan sebagai pemuas rasa laparnya, setidaknya ini adalah kudapan kecil sebelum makan siang. Begitu menurut Clara.
Avrim sendiri seperti bank berjalan. Karena ketika Clara minta dijajani makanan lainnya, Avrim dengan mudahnya mengeluarkan uang untuknya. Seolah uang yang dibawa Avrim takkan terkuras dengan mudahnya.
__ADS_1
Mungkin saja memang benar perkataan Meiger tempo hari. Kalau semuanya saat Clara berada disini, kebutuhannya akan dipenuhi oleh Jean ataupun Avrim. Mereka benar - benar orang setia Hortensia.
"Avrim, kau tidak mau belanja apa - apa?"
Avrim menggelengkan kepalanya perlahan.
"Heh? Lalu untuk apa kau membawaku kemari selain hanya sebagai kantung uang berjalan?"
Avrim tersenyum tipis. "Saya merasa senang ketika Nona sudah bisa berjalan diluar tanpa memikirkan tentang sinar matahari. Jadi saya berinisiatif menunjukkan penampakan Hortensia di siang hari."
Clara mengangguk paham. Kemudian melahap kembang gula di tangan kanannya. Ia diingatkan kembali dengan festival penyambutan musim gugur di Ranunculus. Dimana dirinya dan Hendrick pergi bersama ke festival dan mengalami hal luar biasa.
Pandangan Clara menuju pada langit yang luas.
Ini sudah berlalu begitu lama, kapan balasannya akan datang? Atau, apakah sebenarnya suratku belum sampai padanya?
Musim gugur akan berakhir dan diganti oleh musim dingin. Dimana diawal musim bersalju itu ada pergantian periode kedudukan Duke. Clara merasa sedih karena tidak bisa berada disana bahkan hanya sekedar untuk memberikan ucapan selamat.
Padahal saat dirinya masih diperbudak oleh dokumen pemberian Duke Wayne. Clara cukup jarang membantunya menyelesaikan TTS, karena sangat sulit untuk dicapai oleh otaknya. Seolah selama ini Clara hanya menjadi beban saja di kediaman Wayne.
Di Hortensia pun aku sama saja, hanya menjadi beban untuk mereka...
"Nee, Avrim. Jikalau kau merasa lelah karena mengurusku. Kau bisa beristirahat dalam waktu yang lama, aku akan mengizinkanmu untuk mengambil hari libur di musim dingin."
Avrim yang memegang beberapa barang di tangannya nyaris menjatuhkannya setelah mendengar Clara mengatakan hal aneh tersebut. Tidak biasa bagi Clara untuk merasa sedih dan muram begini.
"Apakah Nona masih sakit? Kalau Nona masih sakit, seharusnya tidak meminta saya untuk-"
"Tidak kok Avrim, aku hanya tidak senang saja." Clara memotong ucapan Avrim dan tersenyum manis, berkata bahwa 'semua baik - baik saja'.
"Nona jangan sedih begitu, saya lebih suka Nona yang ceria dan rusuh sana - sini. Meskipun yang dirusuhi adalah tempat kerja Yang Mulia, asalkan Nona senang maka saya tidak ada masalah."
Uwah! Itu mengerikan kalau permata ruby itu melihatnya!
Clara menyipitkan matanya, mempertajam penglihatannya karena ada sebuah pemandangan familiar yang ditangkap dan direkam dalam ingatannya yang sempit penyimpanan itu.
"Mustahil! Itu bukan mereka 'kan?" Clara mendesis tak percaya.
Avrim pun melihat apa yang Clara lihat sampai - sampai gadis itu meringis kesal. Dalam ujung penglihatannya, yang dilihat Avrim hanyalah sepasang kekasih yang mungkin sedang jalan - jalan di swalayan-
"Eh? Bukankah itu..."
Avrim melirik takut - takut kearah Clara yang diam membeku. Jelas sekali kalau gadis muda di sebelahnya nampak begitu terbakar api cemburu. Avrim jadi takut salah bertindak disini.
Avrim merasa ada yang menarik tangannya, dan ternyata itu Clara. Clara nampak tak baik - baik saja, ekspresi wajahnya semakin muram. Dia tidak mengatakan apapun sampai...
"Ayo pulang Avrim, tidak baik 'menggandakan' kekasih yang sedang berkencan."
"No..Nona...!"
"Jadi itu tugas yang dia ingin lakukan yah..."
Suara dingin Clara kembali terdengar, ini bukan sekedar kebohongan belaka. Tapi Avrim nyaris menyamakan suhu tangan Clara dengan salju pertama di musim dingin.
Avrim pasrah mengikuti kemana arah Clara menariknya pergi. Kemudian sebelum benar - benar hilang dari pandangannya. Avrim melirik lagi dua orang berbeda gender berjalan diantara kerumunan.
Itu adalah seorang pria dengan jubah kekaisaran miliknya. Tidak biasa baginya menggunakan itu saat berada diluar area penugasan. Di samping pria tersebut ada gadis muda yang dipenuhi oleh pesona kedewasaan. Begitu anggun dan penuh tata krama, tidak seperti Clara yang bersikap layaknya pria yang menuju ke medan perang.
Itu adalah Meiger Westhley dan Cattleya Nielsen.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~