The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 44 - Jangan Lupakan Aku


__ADS_3

"Ada sesuatu yang ingin Hamba tanyakan kepada Yang Mulia."


Dengan tegas Clara berbicara, dia menghadap pada Meiger yang masih berada di meja makan. Melihat itu, Meiger menghela napas panjang dan menatap Clara.


"Tanyakan saja, tapi tidak akan kujawab jika aku tak mau."


Clara menggenggam tangannya dengan erat, supaya bisa menghilangkan ras gelisah dalam dirinya. "Ini tentang Lavoisiér."


Tubuh Meiger menegang, tatapannya menjadi tajam. Dia menatap pada Clara dengan kebencian serta kemarahan. Namun Meiger sebisa mungkin menahannya supaya tidak meledak.


"Oh? Baru sebentar kau disini dan sudah berani menanyakan tentang mereka? Jangan sebut kata itu lagi terutama nama seseorang yang sedang tergambar jelas di otakmu sekarang. Sekali kau menyebutnya dan aku akan membuat mulutmu tak bisa mengatakan apapun lagi."


Meiger, dengan suara berat dan nada dingin memperingatkan Clara. Dia hanya tidak terlalu suka untuk mendengar nama itu dari siapapun.


Sebenarnya apa masalah orang ini dengan Lavoisiér? Tidak! Seharusnya adalah apa masalah Yang Mulia dengan Grein de Lavoisiér?


Karena ancaman Meiger, Clara seketika bungkam. Ini kurang dari 2 hari dia tinggal disini. Clara tidak mau membuat masalah dan mengacau sana sini. Tanpa sadar Clara mencengkeram ujung bajunya sangat kuat.


Memang lebih baik bagiku untuk menunggu Avrim pulang.


Clara membalikkan badannya, bukan kearah perpustakaan melainkan kamarnya. Lalu Clara berseru pelan, "Jean ayo pergi."


"Ah! Baiklah Nona."


...꧁꧂...


Di dalam kamar gelapnya, Clara memangku dagunya dengan malas. Ia masih memikirkan bagaimana bisa seorang yang bermata ruby menjadi kesal setelah mendengar Lavoisiér. Padahal mereka adalah satu, terikat, dan tak bisa dipisahkan.


Clara juga kembali diingatkan dengan beberapa lukisan di dinding istana, disana tergambar jelas wajah para kaisar terdahulu. Mereka bermata safir, sedangkan hanya Meiger Westhley yang punya iris ruby. Penyimpangan yang terlihat jelas.


Itu berarti hanya ada satu kemungkinan.


Yang Mulia dan Lavoisiér saling terhubung. Nampaknya ia masih ada hubungan dengan golongan tersebut.


Clara menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mendongak menatap langit - langit. "Dulunya mereka adalah bangsawan 'kah...?"


"Nona, yang saya dengar dari Bibi Avrim. Nona sangat suka dan pandai dalam seni lukis. Apa Nona tidak mau mencobanya juga disini?"


Sontak Clara memegang kalung di lehernya. Menyentuh permata safir yang menjadi pusat keindahan dari kalung tersebut.


"Ya, aku mau mencobanya."


"Baiklah Nona, saya akan menyiapkan peralatan lukis terlebih dahulu."


"Yeah."


Selama Jean keluar mengambil alat - alat melukis. Clara lebih memilih untuk merenungkan berbagai macam hal random. Alasan terbesarnya adalah karena Meiger sendiri yang melarang Clara berurusan dengan Lavoisiér.


"Aku masih penasaran sih... tapi aku juga harus menghargai Yang Mulia. Aku ini sudah diberikan tempat tinggal dan makanan. Mustahil bagiku untuk melupakannya dan tetap mencampuri urusannya. Meski aku benar - benar ingin tahu dimana Grein de Lavoisiér berada."


Tak lama kemudian, Jean datang membawa semua peralatan yang dibutuhkan dan menatanya sesuai kemauan Clara. Di tengah - tengah penataan, Jean pun bertanya pada Clara.


"Nona, apa Nona akan melukis wajah seseorang?"


"Eh? Wajah seseorang?" Clara tersentak.


"Huh? Memangnya ada apa Nona?"


"Masalahnya aku tidak pernah melukis wajah manusia. Kalau hewan dan serangga aku bisa, tapi jika itu adalah manusia... hm... aku tak yakin."


"Jadi flora dan fauna ya?"


"Iya, aku hanya bisa melukis itu."


Clara duduk di kursi yang disediakan Jean. Dia mulai mencelupkan kuas pada cairan cat warna putih.

__ADS_1


"Nona."


"Hm?"


"Tentang Yang Mulia barusan, Nona tidak perlu terlalu memikirkannya. Karena bagaimanapun Nona juga baru saja sampai, saya harap Nona tak terlalu membebani pikiran karena itu."


"Yah..." Clara berhenti menggores diatas kanvas. "Sebenarnya aku tak begitu memikirkannya, tapi sedikit rasa penasaran itu masih ada. Bohong jika aku mengatakan tidak penasaran sama sekali."


Saat lukisan Clara sebentar lagi selesai, Jean meneliti apa yang Clara lukis. "Bunga apa itu Nona?"


"Hehe, ini namanya bunga forget me not!"


"Forget me not?" Beo Jean.


"Yaps! Arti nama bunga ini adalah 'jangan lupakan aku' sama persis seperti maknanya."


"Dan dalam bahasa bunga, forget me not juga berarti 'yang mencintai takkan melupakan', bukan?"


Ketika sedang mendiskusikan tentang lukisan Clara. Tiba - tiba Meiger datang, berdiri di ambang pintu dan ikut diskusi antara Clara dan Jean.


"Ah! Yang Mulia!" Jean merespon lebih cepat.


Sementara Clara malah terdiam, dia masih medasa canggung dan kaku serta ketakutan karena diancam Meiger pagi ini.


"Ikut denganku, aku mau bicara empat mata dengamu, Clara."


Tanpa menunggu persetujuan Clara, Meiger langsung meninggalkan tempat. Karena itu Clara hanya punya waktu sedikit untuk menyiapkan diri. Dari belakang, dengan sedikit tertatih dia mengikuti langkah lebar Meiger.


Sungguh, bagaimana kalau dia akan mengusirku yang padahal baru disini tak lebih dari 2 hari?


...꧁꧂...


Di sebuah ruangan besar, dengan 2 kursi saling berhadapan dan dipisahkan satu meja berukuran besar. Mendadak Clara merasa dirinya sedang konseling saat ini.


Semoga bukan pengusiran. Semoga bukan pengusiran.


"Ini bukan persoalan pagi ini, jadi kau tak perlu ketakutan."


Tch! Tapi tatapanmu sangat mengintimidasiku! Beruntung kau adalah seorang ikemen*. (AN: Pria keren)


"Aku tahu kau sedang menggerutu dalam hati. Tapi dengarkan aku, karena kau sudah menumpang di rumahku. Aku membutuhkan kompensasi yang pas untuk balasannya."


Ek?! Dia rupanya ada udang dibalik bakwan!


"Maaf Yang Mulia, kompensasi macam apa yang Yang Mulia inginkan...?" Masih dengan kepala menunduk, Clara bertanya.


"Ganti nama belakangmu."


"Itu permintaan yang mustahil." Jawab Clara cepat, hal itu memang mustahil baginya.


"Padahal itu permintaan yang ringan kalau dibandingkan dengan apa yang aku berikan."


Kalau begitu carilah yang lebih besar lagi! Jangan membuatku harus mengganti ingatan karena nama baruku!!!


"Lalu? Kau ingin aku meminta apa jika yang itu mustahil?" Meiger menghembuskan nafas panjang.


"Hamba bisa menjadi pelayan disini."


"Jean sudah mengerjakan semuanya, tidak ada untungnya kalau kau menjadi pelayan disini."


"Jadi Jean itu serba bisa ya?" Clara bergumam.


"Kalau begitu, bagaimana jika minggu ini kau menemaniku ke keluarga bangsawan di dekat perbatasan?"


"Apa? Apa itu kompensasi-nya?"

__ADS_1


"Bukan. Aku mengajakmu karena mau."


Apa?! Jika kau lelah menjadi kaisar maka kau tak perlu tetap duduk di singgasana itu!!!


Meiger memandang kearah jendela, ada cahaya yang masuk lewat celah kecil. Dia kemudian memperlihatkan ekspresi rumit pada wajahnya.


"Menjadi pemimpin itu sulit, namun rakyatku membutuhkanku."


Clara tertegun, lagi, ia diingatkan pada pengabdian penduduk Hortensia untuk Meiger. Itu juga dipicu karena kinerja Meiger yang mengagumkan. Dan bisa dikatakan bahwa rakyat Hortensia itu sudah sejahtera secara merata. Tidak ada yang melarat.


Walaupun sebenarnya itu dimulai saat ayah dari Meiger masih menjabat sebagai kaisar. Dia mulai memukul perekonomian di Hortensia agar merata dan tidak ada penduduk miskin dirugikan. Karena negeri ini yang kaya dan pemimpinnya mampu mengolah semua itu menjadi 'kesejahteraan'.


Dan Meiger sebagai kaisar selanjutnya hanya meneruskan perjuangan ayahnya. Dengan kebijaksanaannya, dia mampu melanjutkan apa yang tidak bisa diselesaikan ayahnya. Hingga rakyat Hortensia mulai menganggap kalau masa kekaisaran ke-20 ini akan berada di puncak kejayaan atau masa emas Hortensia.


"Namun Yang Mulia, ada saatnya untuk Yang Mulia beristirahat. Nanti setelah sampai disana dan tugasnya sudah selesai. Saya berjanji akan menemani Yang Mulia rekreasi. Mungkin kita bisa pergi ke tempat sejuk seperti taman bunga?"


Meiger langsung terpaku pada sosok Clara. Selama dia menjabat sebagai kaisar sejak 5 tahun lalu. Dia selalu merasa membutuhkan orang lain untuk dirinya bersandar.


Mungkin sekarang akan ada seseorang.


"Aku sudah lelah, jadi aku akan dengan senang hati menerima tawaranmu. Khusus di hari itu aku akan melepaskan status 'kaisar' ini."


Pandangan Meiger melembut, Clara jadi lupa kalau orang yang mengancamnya pagi ini ialah Meiger.


"Benar sekali Yang Mulia! Saat itu Yang Mulia hanya perlu istirahat dan bersantai saja. Biarkan Jean yang mengurus semua dokumen itu."


"Kau harus meminta maaf pada Jean, kau tahu?"


"Eh? Hehehe~" Clara tertawa aneh dan tersenyum ceria setelahnya.


...꧁꧂...


Jean yang masih berada di kamar Clara, melihat secara detail dari sudut ke sudut lukisan buatan Clara. Jean pernah melihat bunga itu, namun ini adalah pertama kalinya ia mendengar nama bunga tersebut.


"Meskipun Nona selalu mengurung diri, tapi Nona berwawasan tinggi. Apa alasannya...? Dan bagaimana hal itu bisa terjadi?"


Jean mengawasi kamar Clara, setelah memastikan tidak ada siapapun dan Clara masih berbincang dengan Meiger. Dia melipat lengan pakaiannya.


"Sakit sekali..."


Disana ada lebam kebiruan yang menghiasi kulitnya. Tapi segera, lebam itu berangsur - angsur menghilang dan warnanya kembali menyerupai kulitnya.


Dia duduk di kasur milik Clara, mungkin karena Clara terlalu banyak rebahan sehingga terasa hangat ketika disentuh olehnya.


"Bibi Avrim belum pulang, Nona masih terlibat perbincangan dengan Yang Mulia. Setelah aku kembali dari Ranunculus, semuanya berjalan seperti yang diprediksikan."


Tatapan Jean melunak, cahaya di matanya meredup. Tanpa sadar tubuhnya terjatuh pada kasur dengan posisi menyamping. Ia merasa kalau matanya terlalu berat untuk tetap terbuka.


"Jika di hari itu kami tidak bertemu... apakah akan ada hari ini...?"


Karena sudah tak kuasa menahan rasa kantuk, Jean membiarkan dirinya terlelap diatas kasur Clara. Dan tanpa disadari, Clara sudah kembali masuk ke kamarnya.


Awalnya dia mau mengajak Jean mengobrol, tak disangka dalam penglihatannya Jean tiba - tiba jatuh tertidur di kasurnya.


Clara tersenyum simpul melihat itu, dia membenarkan posisi Jean yang tertidur dan menyelimuti tubuh Jean dengan selimut miliknya.


"Kau pasti lelah karena mengurus semua hal, Jean." Bisik Clara.


TBC


Sebenarnya bahasa bunga asli untuk forget me not sendiri adalah 'jangan lupakan aku' seperti namanya. Tapi author sendiri merasa kalau artinya kurang relate dengan chapter ini jadi author menggantinya dengan 'yang mencintai takkan melupakan'.


Bagi kalian semua para pembaca, jangan lupa letakkan LIKE, KOMEN, dan FAVORIT kan novel ini jika kalian suka atau mungkin kalian bisa memberikan VOTE. Kalian juga bisa memberikan kritik dan saran. Agar cerita ini semakin berkembang dan author bisa lebih semangat untuk meneruskan ceritanya.


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2