
Meskipun aku mengatakan tidak mau, tapi pada akhirnya karena kegabutan menyerangku, lebih baik kuterima saja tawaran Jean pagi ini.
Clara berjalan menyusuri lorong gelap istana, padahal ini pagi hari, tapi kekaisaran Hortensia memang menyeramkan. Mereka bahkan tidak memberikan penerangan di kediaman mereka.
Lorong yang dilewati oleh Clara juga sangatlah tertutup, hanya ada sedikit celah agar ada udara yang masuk begitulah menurut Clara.
"Pintu apa ini?"
Sebuah pintu besar yang tidak memiliki corak sedikitpun berada di depan Clara. Baru kali ini ia menjelajah istana kekaisaran dan langsung menemukan ruangan misterius di dalamnya.
"Umu, apakah boleh kubuka saja? Kalau ketahuan itu urusan nanti..." Clara berbisik licik.
KREK
Clara mendorong pintu ke arah dalam, namun suara seseorang membuatnya ingin kembali menutup pintu tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini, Clara?"
DEG
Gyaha! Lagi - lagi orang itu memanggilku Clara?! Apakah dia tidak tahu kalau aku ini ketakutan karenanya!
"Masuklah, jika kau menutup pintunya kembali maka sepertinya kau sudah siap untuk menemui malaikat pencabut nyawa."
Pada akhirnya, dengan keterpaksaan yang amat sangat membuat Clara tidak bisa mundur lagi. Dia berakhir dengan duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kaisar.
"Kudengar kau menolak ajakan Jean pagi ini, lalu mengapa kau sekarang ada disini?"
Gulp...!
"Itu... tiba - tiba hamba merasa bosan setengah mati Yang Mulia. Hamba berfikir untuk menjelajah istana kekaisaran ini sebagai gantinya dengan harapan bisa menemukan ruangan Kaisar." Dengan nada canggung dan rasa takut dalam dirinya, Clara memaksa untuk berbicara walaupun suaranya gemetaran.
"Nah, dan kau langsung menemukannya dalam beberapa menit setelah jalan - jalanmu dimulai?"
"Iya, Yang Mulia."
Hiks... padahal aku ingin jalan - jalan lebih lama lagi dan menemukan ruangan ini di akhir aksiku. Mengapa harus ditemukan dalam sekejap? Aku ini pasti diberikan keberuntungan yang melimpah.
"Yah, sebenarnya kau tidak perlu membantuku juga. Duduk diam saja disana sudah cukup."
Heh? Kaisar ternyata orang yang pengertian! Aku benar - benar berterima kasih padanya dari lubuk hatiku yang terdalam!
"Yang Mulia, sebenarnya ada yang ingin Hamba tanyakan sejak Avrim mengajak Hamba kabur ke Hortensia ini."
"Apa itu?" Meiger masih sibuk dengan tugasnya tapi telinganya juga fokus mendengarkan Clara.
"Mengapa Yang Mulia mau menyediakan tempat untuk menampung Hamba? Padahal kita tidak pernah mengenal selama ini, terlebih lagi Avrim sudah bekerja di kediaman Wayne selama enam tahun terakhir. Bukankah itu berarti Yang Mulia..."
Meiger terdiam sejenak. "Jangan berlebihan, aku melakukan ini sebagai bentuk permintaan maaf saja."
"Meminta maaf...?"
...❀...
Clara keluar dari ruangan kaisar dengan ekspresi rumit. Baru kali ini dirinya mendengar kalau Hortensia punya salah padanya. Padahal dalam novel sekalipunー
"Tidak, aku sudah tidak bisa menjadikan novel itu sebagai acuan untuk mencapai hidup damaiku. Membaca novel online terlalu serius memang tidak baik untuk tubuh."
Ngomong - ngomong tentang merasa bersalah. Aku pikir jika aku memang mempunyai sedikit hubungan dengan Hortensia. Bukankah aku memberikan Hellen penanda buku bunga hortensia yang sudah dikeringkan? Di dunia ini, keberadaan bunga sesuai nama kerajaannya. Seperti Ranunculus yang dipenuhi bunga ranunculus dan Hortensia yang adalah rumah asli bunga hortensia. Jikapun ada yang nyasar seperti mawar, melati dan anggrek. Itu pasti dibawa oleh para pedagang ataupun pengembara.
Clara kembali masuk menuju kamarnya, tak terduga ternyata ada Jean yang sudah menunggu di sana. Clara mendadak menyadari kalau Jean dan Avrim memang benar sangatlah dekat seperti ibu dan anaknya.
Mereka sangat mirip.
"Nona sebenarnya dari mana saja? Saya panik karena Nona tiba - tiba menghilang dari kamar." Tanya Jean dengan ekspresi panik dan ketakutan.
"Tenang saja Jean, aku hanya menjelajah istana kekaisaran ini dan..."
"Dan...?"
__ADS_1
"Dan aku mendapatkan kejutan besar yang entah sepertinya menghisap seluruh keberuntungan yang kumiliki seumur hidupku." Suara Clara terdengar berat dan mengandung kekecewaan.
"Eh? Sebenarnya Nona tertimpa keberuntungan atau kesialan? Nona terdengar sangat kecewa..."
"Menurutmu? Apakah hal itu masih perlu ditanyakan lagi...?"
"Maaf Nona."
Clara ingat jika sebelum kepergiannya, Hellen memberikan sebuah kotak bercorak indah pada dirinya. Kemudian Clara mencari - cari kotak itu di barang bawaan yang belum ia rapikan semalam.
SWOSH
Angin berhembus kencang melewati celah kecil di dalam kamarnya. Membuat Clara kedinginan, melihat itu Jean segera menutup akses masuknya angin.
"Terima kasih, Jean."
"Tidak masalah Nona, tapi sebenarnya apa yang sedang Nona cari?"
"Sebuah kotakー ah! Ini dia!"
Clara memperlihatkan pada Jean kotak yang ia dapatkan dari Hellen. "Ini pemberian sahabatku, dia mengatakan untuk membukanya ketika aku sudah sampai di Hortensia. Aku ingin tahu apa isinya..."
"Sahabat? Saya dengar kalau Nona tidak pernah keluar dari kediaman Wayne. Bagaimana bisa Nona mempunyai sahabat?"
"Ini dari Hellen Wayne, aku kan bersahabat dengannya." Jawab Clara, kemudian dia bergumam. "Meskipun hubungan kami merenggang tiga tahun terakhir."
"Ouh... 'bunga' Kerajaan Ranunculus ya... saya tidak menyadarinya. Namun menurut saya Nona juga tidak kalah cantiknya."
"Astaga Jean, kau sangat pandai merayu seorang gadis. Di masa depan aku harap kau menjaga pasanganmu, jangan biarkan dirimu merayu lebih banyak gadis."
"Ah iya Nona..."
Clara membuka kotak itu, isinya sangatlah tidak terduga. Padahal Hendrick pernah mengatakan kalau benda ini sudah diberikan Hellen kepadanya.
Itu adalah kalung perak yang dihiasi oleh batu permata safir, sesuai warna mata Clara.
Dengan luapan rasa bahagia yang besar Clara memakaikan kalung itu ke lehernya. Kalungnya terlihat serasi dengan dirinya. Bahkan Jean berdecak kagum dengan penampilan Clara yang padahal hanya ditambah kalung saja.
"Nona sangatlah cantik, saya tidak menyangka bahwa gadis secantik Nona adalah buronan."
Clara mengerutkan alisnya, "Sebenarnya kau mau memujiku atau mengejekku?"
"Saya tidak bermaksud Nona, sama sekali tidak."
"Tapi... ini benar - benar hadiah yang sangat indah." Clara tersenyum lembut, memandang jeli permata safir yang menjadi pusat keindahan dari kalungnya.
"Nona terlihat senang, tapi apa Nona menyadarinya kalau pengukirnya berasal dari Agapanthus?"
"Eh? Benarkah? Aku tidak sadar sama sekali. Darimana kau mengetahuinya?"
Jean memasang senyum simpul. "Lihatlah Nona, jika Nona melihatnya lebih jeli lagi ke dalam permata. Maka Nona akan menemukan ukiran menyerupai bunga agapanthus disana. Memang tidak terlalu jelas tapi bisa dipastikan itu kelopak agapanthus."
"Tapi Jean, bukankah pengrajin permata Ranunculus juga bisa mengukir bunga agapanthus di atas sana? Mengapa kau berfikir jika yang membuatnya adalah langsung oleh pengrajin Agapanthus."
"Yah, sebenarnya itu adalah hal mudah Nona. Walaupun ini adalah permata safir, tapi mereka sedikit menyelipkan amethyst disana. Jika Nona adalah penggila perhiasan sama seperti gadis - gadis bangsawan. Maka Nona akan menemukan perbedaannya."
"Woah benar! Apakah batu amethyst hanya bisa ditemukan di Agapanthus, Jean?"
"Iya Nona, batu amethyst adalah ciri khas paling menonjol dari Agapanthus."
"Begitu yah... memang benar kalau dilihat lebih dekat lagi ada warna amethyst disini. Tapi kenapa mereka harus melakukannya? Menyelipkan amethyst dalam kerajinan permata yang mereka buat."
"Hanya untuk memberikan sentuhan berbeda. Karena keberadaan amethyst itulah yang menjadi perbedaan dari perhiasan permata buatan Agapanthus."
Jadi hanya sebatas corak yah... kalau begitu beban biaya pembeli jadi bertambah bukan?
"Jean, kapan Avrim akan kembali?"
"Bibi Avrim belum memberikan kabar apapun. Jadi sepertinya masih lama untuk Bibi pulang."
__ADS_1
"Begitu..."
Untuk saat ini mungkin aku akan merasa kesepian.
...❀...
Di Ranunculus, Hellen sedang kedatangan Rovers. Karena semalam Rovers baru saja membantu Clara dalam pelariannya sehingga Hellen meminta detail ceritanya.
"Jadi, apakah kau sudah puas dengan cerita itu?"
Hellen berdecak kesal. "Aku akan memenggal kepala Raģe Cheltics sebagai ganti karena telah membahayakan sahabatku."
"Mm... sebenarnya pada akhirnya Raģe juga membiarkan Nona Scoleths kabur. Jadi Hellen tak perlu mengancam ataupun memenggal kepalanya." Rovers menengahi, dia tak mau kalau ancaman Hellen benar - benar terjadi. Karena bagaimanapun Raģe adalah calon penasihat kerajaan.
"Baiklah, karena orang itu tak menyentuh Rara sedikitnya. Maka kumaafkan kesalahmu."
Hellen menatap tajam orang yang berada di sebelah Rovers, Raģe Cheltics. Dia datang kemari karena paksaan dari Hellen yang mendengar kabar bahwa Raģe membantu pihak kerajaan untuk membuat Clara dieksekusi.
Raģe sendiri tidak begitu peduli dengan ancaman Hellen. Karena dia punya kesibukannya sendiri, Raģe harus siap secara mental untuk keberangkatannya ke Agapanthus di awal musim semi tahun depan.
Karena dia perlu mencapai titik tertentu untuk bisa diakui sebagai penasihat kerajaan yang sah.
"Oi, Raģe Cheltics. Kau akan berangkat di musim semi. Mengapa di pertengahan musim gugur ini kau sudah mulai bersiap - siap?" Tanya Hellen, dia menyingkirkan bahasa formal sebab masih kesal dengan kejahatan Raģe pada Clara.
"Jabatan yang akan kudapat ini bukan main - main. Tanggung jawabnya besar, intinya di awal musim gugur tahun depan aku sudah harus menyelesaikannya dan pulang kembali ke Ranunculus."
"Pasti berat yah, dituntut ini dan itu." Rovers berkomentar.
"Ah ya, aku harap kesusahanmu lebih banyak lagi saat penobatanmu sebagai Raja semakin dekat." Ucap Raģe dengan nada datar.
"Apa kita ini teman?"
"Oh ya Hellen, bagaimana dengan Kakakmu? Bukankah pergantian posisi Duke ada di musim dingin tahun ini?" Tanya Rovers pada Hellen.
"Hng... Kakak yah... meskipun dari luar terlihat santai. Sebenarnya dia cukup gelisah dengan kenyataan ini. Ditambah Rara sudah pindah..."
"Heh? Apa hubungannya dengan Nona Scoleths?" Rovers terkejut.
"Ah...! Itu... bagaimana menjelaskannya ya? Pokoknya Kakakku menyukai Rara dalam artian romantis. Namun Rara entah tidak peka atau mengabaikannya. Dia pergi tanpa menjawab perasaan Kakak... atau mungkin Kakak yang memang tidak mengatakan apapun tentang perasaannya, yah?"
Raģe tersentak mendengarnya. Dia baru tahu orang seketus dan sekejam (mulutnya) Hendrick bisa mencintai seseorang seperti Clara. Tapi mungkin karena Raģe baru sekali bertemu Clara jadi dia tidak tahu apapun mengenai gadis itu.
"Ah, sepertinya ini karena sifat dan sikap Nona Scoleths yang agak 'unik' membuatnya ingin menjaga Nona Scoleths. Aku paham akan hal itu." Rovers mengelus dagunya sambil berfikir.
"Umu!" Hellen membenarkannya. Namun dalam sekejap ia menyadari kalau ada yang aneh kalimat Rovers barusan.
"Apa maksudmu dengan 'paham' itu?" Tanya Hellen dengan nada dingin.
"Eh?"
Astaga mereka mulai lagi, seharusnya aku kabur duluan agar aku tak menjadi nyamuk disini.
...❀...
"Hng? Apakah dia tidak akan datang? Padahal aku sudah menunggu cukup lama disini."
Seorang pria muda dengan mata layaknya permata berwarna perak. Bersandar pada runtuhan dinding untuk menunggu seseorang.
Kemudian ia menatap telapak tangannya dan menggenggamnya erat - erat. "Apakah usahaku akan sia - sia saja? Sudah sejauh ini... tidak mungkin aku harus mundur 'kan?"
Ia mendongakkan kepalanya menatap pada langit berwarna jingga serta awan kemerahan. Angin berhembus pelan menyapu dedaunan merah di jalan setapak.
"Sekali, hanya sekali saja, aku berharap kali ini akan berhasil..."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1