The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 55 - Grein de'Lavoisiér


__ADS_3

Di sebuah tempat dengan padang rumput sebagai latarnya. Langit biru terbentang luas disana, anehnya disana terang meskipun tidak ada matahari.


Di tengah - tengah padang rumput tersebut, ada meja, dua kursi dan dilengkapi seperangkat alat minum teh. Seperti teko berisi teh, dua cangkir dan sepiring kue kering.


Di salah satu kursinya, ada seorang pria sedang meminum teh dengan gaya sempurna. Dilihat dari segi fisik, mungkin usianya sekitar 18 hingga 22 tahun.


Clara menatap tak percaya pada pemandangan yang ia lihat setelah adegan pingsan tak elitnya. Namun sesuatu membuatnya berpikir lebih keras, kilatan ruby menyapa pandangannya.


Dengan kedutan di wajahnya, Clara menunjuk kesal kearah orang tersebut.


"KAU...!!!"


Orang itu menengok dimana tempat Clara berdiri.


"Ternyata kau ada disini! Grein de 'Lavoisiér! Kau yang mengganggu hidupku selama ini dengan membuatku penasaran bukan?!"


Pria itu, Grein tersenyum simpul menatap Clara. "Selamat datang Clara Scoleths, tidak kusangka kali ini aku menang darinya. Apa aku perlu melakukan selebrasi saat ini?" Kemudian ia berbicara pada dirinya sendiri.


"Hey, kau sudah tidak waras, ya?" Sambil melangkah menuju Grein, tanpa meminta izin Clara menarik kursi di hadapannya dan duduk.


"Siapa yang sudah tidak waras? Aku atau kau?"


"Tch!" Clara berdecak pelan. "Oy, Aku pikir kau sudah mati, karena aku tidak mendengar kabar apa - apa tentangmu. Saat aku bertanya pada Yang Mulia, dia cukup tidak senang mendengar itu. Apa kau punya masalah dengannya?"


"Perkiraanmu itu tak salah, tentang aku yang sudah mati. Soal aku punya masalah dengan dia, seharusnya kau sudah tahu."


"Kau mati dibunuh?"


Grein mengangguk pelan.


"Kami para Lavoisier harus punya kemampuan bertahan hidup melebihi kalian. Lagipula kematian kami begitu diidam - idamkan oleh kalian."


"Huh? Apa maksudmu dengan masalah itu?" Clara menyambar kue kering di piring dan memakannya dengan suasana hati yang campur aduk.


"Kau tahu 'kan kalau kami mempunyai kesamaan?" Grein menyangga dagunya.


"Yah, mata ruby pertanda bahwa kalian bukanlah sepenuhnya manusia."


"Kau tahu tidak? Sebenarnya kami punya hubungan selain itu. Sumber sebenarnya mengapa ia mempunyai mata ruby sepertiku."


Setelah kuenya habis, Clara mengambil potongan kue lain. "Apa itu?"


Grein menipiskan senyumnya. "Lavoisier."


Tubuh Clara menegang, dia berhenti mengunyah kue coklat di tangannya yang mulai gemetar. "Aku masih tak mengerti. Tolong jelaskan lebih detail."


"Huh..." Grein mendengus pelan. "Kau percaya tidak bahwa reinkarnasi itu ada?"


Reinkarnasi? Aku saja bisa masuk ke dalam dunia novel ini. Tidak mungkin tidak ada kemungkinan kalau reinkarnasi juga bisa ada.


"Setengah percaya setengah tidak. Aku butuh pembuktian untuk itu."


"Hey, kau menanyakan bukti sekarang? Bukankah sedari tadi kita memang membahas bukti itu."


"Eh? Ma..maksudmu, mata ruby itu bukan sekedar kebetulan, begitu."


Grein mengangguk samar.


"Sebenarnya mata ruby hanya dimiliki oleh kami para Lavoisier. Dan jujur saja, dari jiwa pria itu menunjukkan secara jelas bahwa dulunya dia adalah Lavoisier."


"Kukira itu sebabnya adalah diwariskan." Clara menatap Grein penuh keraguan.


"Hng? Itu tidak benar. Lagipula, kau pun melihat sendiri dan bisa membuktikannya lewat lukisan - lukisan itu. Tidak ada keturunan Westhley yang bermata ruby seperti Lavoisier, melainkan safir. Jadi, sampai sini kau paham?"


"Lalu, mata safirku bagaimana bisa tercipta?" Clara mengusap pelan mata kirinya.


"Yeah... itu beda teori lagi. Intinya, meski matamu safir. Kau tidak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan Westhley. Jadi jangan kira kalau kau dan Meiger punya hubungan darah."


Hening.


Clara menengok kanan kiri ke sekelilingnya dan melihat tempat yang sangat indah. "Apa tempat ini ada di dunia ini?"


"Ini hanya dunia mimpi yang terbentuk karena harapan seseorang."


"Siapa?" Perlahan Clara menyesap tehnya.


"Meiger Westhley."


"Bruhhh...!"


Hanya sekali tegukan dan Clara kembali menyemburkan cairan tehnya keluar. Beruntung Grein yang bisa mengantisipasi ini segera membuat pelindung.


"Apa?!" Teriak Clara.


"Kau punya pendengaran yang lemah? Kubilang kalau dunia ini terbentuk karena harapan Meiger Westhley."


"Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas! Yang kutanyakan adalah, mengapa bisa orang seperti Yang Mulia memiliki harapan?!"


"Eh? Dia akan sakit hati kalau kau meneriakkan kalimat itu padanya."


"Tapi Yang Mulia bilang sendiri kepadaku bahwa dia merasa tidak ada gunanya berharap pada sesuatu yang tak terlihat. Yang dilihat saja tidak berguna, apalagi yang tidak." Clara mendesah.


Grein diam saja mendengarkan setiap keluh kesah Clara. Sekarang ia tahu bagaimana menderitanya Hendrick selama ini. Bahkan Kaisar seperti Meiger pun pernah menjadi tempat curhat gadis ini.


"Lalu, kau. Bukankah kau sudah mati, mengapa bisa muncul di depanku seperti ini?"


"Pertanyaan bagus. Aku terbunuh dengan brutal dan jiwaku terpecah hingga berkeping - keping. Sebagian kepingan itulah yang menciptakan diriku yang ini."


"Aku tahu masih ada hal lain yang kau sembunyikan dariku. Kau selalu menyelipkan fakta di setiap kalimatmu." Tatapan Clara menajam mengarah pada Grein.


"Gadis yang cerdik. Aku suka spesies macam dirimu, tapi aku juga membencinya karena alasan yang sama."


"...?"


"Selain karena dia adalah reinkarnasi dari Lavoisier. Jiwa Meiger juga dihiasi oleh kepingan jiwaku yang pecah itu."


Segera Clara menuangkan cairan teh lain ke dalam cangkirnya.


"Mungkin kedengarannya seperti aku berlebihan menangkap kata - katamu atau semacam itu. Namun, pasti ada alasan dibalik semuanya. Entah itu harapan Yang Mulia yang menciptakan dunia mimpi ini. Kepingan jiwa milikmu yang ada padanya. Ataupun terciptanya dirimu yang ini."


"Kebetulan sekali Aku jadi tambah benci tipe gadis sepertimu. Terlalu banyak tahu terkadang akan mengakibatkan hal buruk dalam hidupmu. Sudahlah, lebih baik kau hidup bahagia bersama Meiger. Sesulit itukah?"


"Tidak juga. Aku bahkan sudah merasa senang walau hanya di samping orang yang kucintai."


"Hee..., Kau aneh sekali Clara Scoleths. Padahal kau tahu kalau Ayahnya yang membuatmu melahirkan pribadi dalammu, tapi kau masih dengan tulus mencintainya dan tidak peduli terhadap balas dendam. Seharusnya kau benci padanya, bukan?"


"Aku tidak bisa membencinya." Lirih Clara.


"Mengapa memangnya?"


Senyuman indah terbit di wajah dingin Clara. "Karena aku mencintainya!"


Grein sempat tertegun mendengarnya, sebelum ia mendapatkan kembali kesadarannya. "Aku paham sekarang." Lalu ia bergumam. "Aku paham mengapa para pria senang berada di dekatmu."


"Apa? Hey! Tolong jangan berbisik! Aku tidak dengar."


"Bukan hal penting juga. Jadi, apa kau mau bertemu dengannya? Ataukah tidak? Jarang sekali Aku bisa bertemu denganmu. Soalnya tidak banyak waktu aku bisa menang."


Menang? Mengapa dari tadi pria ini berbicara seolah dia sedang berada di dalam kompetisi saja. Lebih dari itu...


"Dengannya?"


"Yah, pribadi dalammu."


BRUK


Clara memukul meja dengan keras. "Memangnya bisa?"


"Belum coba belum tahu. Kau sendiri tahu 'kan kalau 'dia' punya peran penting terkait kondisi khususmu itu. Dia mungkin akan memberikanmu informasi penting, mungkin."


...❀...


"Kau sudah siap?" Tanya Grein.


Clara mengangguk.


Saat ini mereka sedang mencoba menciptakan pribadi dalam Clara lewat tubuh yang lain, semacam hologram kalau Clara mau bilang.


"Lihatlah mataku."


Huh? Aku tidak akan dihipnotis atau semacamnya 'kan?


Clara mengikuti perintah Grein dan fokus menatap mata ruby miliknya.


Sampai beberapa menit kemudian, Clara merasa letih dan hampir kehilangan fokusnya. Saat matanya memejam sedikit demi sedikit. Pemandangan di depannya berubah dengan cepat.


"Apa?!"


Bukan Grein lagi di hadapannya melainkan seseorang yang mirip dengannya. Clara seperti sedang memandang kembarannya saja. Perbedaan mereka hanya pada iris mereka, mungkin Grein tidak sepenuhnya menghilang dari hadapannya.


"Mengapa kau begitu kaget melihatku, Master?"


"Master?" Beo Clara.

__ADS_1


Gadis yang mirip Clara itu memandang Clara aneh. "Aku adalah pribadi dalam yang diciptakan Master 10 tahun lalu. Tidak mungkin Master melupakanku begitu saja."


Jadi suara gadis ini yang selalu muncul dalam pikiranku. Kaisar tidak berbohong mengenai Ayahnya.


"A..aku sudah tidak ingat..."


Lebih tepatnya aku bukanlah Master-mu.


Clara mencoba menenangkan dirinya dan menatap orang asing di depannya. Grein sudah lenyap entah kemana, sekarang hanya ada dia dan gadis ini disini.


"Siapa namamu?" Clara mencoba mengingat lagi kalau di buku milik Clara Scoleths dan pribadi dalamnya tidak ada nama. Kalau pribadi dalam nya tidak memiliki nama, dia mungkin akan memberikannya sebuah nama.


"Nama? Master tidak pernah memberikanku nama. Karena Master selalu memanggilku dengan 'hey' atau 'kamu'. Jadi, bagaimana bisa Master juga lupa dengan itu?"


"Maaf." Clara menunduk sedih.


"..."


"Bagaimana jika aku memberikanmu sebuah nama?"


"Master bisa membuatnya sesuka hati. Aku tidak terlalu peduli dengan itu karena tidak ada yang tahu keberadaanku di dunia ini."


"Namun, Aku ingin bisa memanggilmu tanpa menggunakan 'hey' atau 'kamu'."


"..."


"Claire."


"Huh?"


"Claire! Kita bisa memiliki nama yang hampir mirip. Kau tahu 'kan kalau aku suka melupakan banyak hal kecuali namaku. Jadi, kalau namamu dan namaku hampir mirip, aku tidak akan pernah melupakannya."


Senyum tipis terbit dari bibir Claire. "Terserah Master saja. Master harus berjanji untuk tidak memanggilku 'hey' dan 'kamu' lagi."


"Aku berjanji!"


"Claire, mengapa Kaisar Siegward membuatku melahirkan dirimu?"


"Bukankah Master sendiri juga sudah tahu?"


"..."


"Sihir hitam itu semakin menelan Master, sihir hitam sangat mencintai daya hidup yang Master miliki. Jadi, Kaisar Siegward membuat Master mencipatkan pribadi lain adalah untuk membantu Master menopang sihir hitam yang sudah diserap oleh Master. Kaisar Siegward tidak ingin Master kehilangan kesadaran karena kelainan khusus ini dan akhirnya Master menciptakan eksistensiku."


"Kelainan khusus...?"


Claire mengangguk.


"Benar. Kelainan khusus. Sejak lahir Master memiliki kemampuan untuk menyerap sihir hitam bahkan tanpa dikehendaki oleh Master sekalipun."


"Apa sihir hitam benar - benar sudah merajalela di dunia ini?" Tanya Clara dengan nada khawatir.


"Setidaknya benua Herbras ini adalah tempat dengan sihir hitam paling banyak dari seluruh dunia. Aku juga sampai saat ini belum tahu sumber dari sihir hitam tersebut. Sehingga Aku belum bisa menghentikan sihir hitam untuk terus berkembang."


"Eh? Jadi mereka juga bisa berkembang?"


"Benar, Master. Namun tentu saja ada batasnya, penyebarnya juga sudah tewas, pasti. Karena aku merasa kalau sihir hitam ini ada ratusan tahun sebelum Master dan Aku lahir."


Ratusan tahun? Apa masalah sihir hitam ini ada hubungannya dengan perang ratusan tahun lalu di benua Herbras ini?


"Master, kemampuan ini tidak lain adalah misi yang diemban oleh Master. Jadi, seharusnya Master tetap menyerap sihir hitam tersebut."


"Bagaimana jika Aku tertelan?" Clara bertanya cemas.


"Master hanya perlu bunuh diri saja."


Eh? Kau mengatakannya tanpa hati sekali.


"Tapi, Aku ingin hidup."


"Master..."


"..."


"...Aku minta maaf padamu tentang sesuatu..."


Clara fokus menunggu apa yang akan dikatakan Claire selanjutnya.


"Waktunya habis."


"Huh?"


Ketika Clara sedang fokus - fokusnya, Grein kembali lagi. Claire juga sudah menghilang entah kemana.


"Eits, santai. Ini juga salahmu, mengapa mengobrol lama sekali? Aku juga punya batas waktu untuk membiarkan kesadaran Claire bersemayam di tubuhku."


Clara duduk kembali dengan perasaan kecewa. Dia begitu ingin mendengar perkataan Claire selanjutnya. Namun ternyata ada tenggat waktu untuk semua itu.


"Itu tandanya sihirmu perlu diperbaharui."


Grein asyik meneguk tehnya. "Memangnya sihirku itu Whatsapp yang harus diperbaharui setiap beberapa periode sekali."


Clara terdiam.


Lamat - lamat Clara menatap Grein dan tehnya. "Dari mana Kau tahu Whatsapp perlu diperbaharui?"


"Eh..."


"Dan dari mana Kau tahu tentang semua itu? Ini adalah dunia yang bersetting di abad pertengahan eropa. Tidak mungkin aplikasi dari masa depan tersesat disini? Aplikasi itu bukan aku!"


SRET


Clara menarik kerah Grein dengan kuat. Hanya lewat tatapannya, Grein tahu kalau Clara akan memaksanya untuk bicara.


"Baiklah, Clara Scoleths. Aku akan bicara jika kau duduk dengan manis."


"Bagaimana jika kau menipuku? Dan aku berakhir dikembalikan lagi ke dunia nyata?"


"Haa... kalau kau belum bangun di dunia nyata juga percuma. Aku masih bisa menculikmu sesukaku."


"Apa maksudmu?"


"Apa aku belum mengatakannya kepadamu?"


"Mengatakan apa?"


"Haduh...! Pasti belum. Begini Clara Scoleths, yang berada di sini bukan tubuhmu, melainkan hanya kesadaranmu saja. Aku yakin kalau tubuh aslimu sedang berada di kamarmu. Mungkin Meiger menemanimu sepanjang waktu sampai kau bangun."


"Serius? Yang Mulia tidak terlihat seperti pria romantis bagiku." Clara jadi antusias.


"Memang tidak, kok. Jangan berharap ada adegan romantis kalau kau menikah dengannya. Aku jamin 1000% dia takkan memperlakukanmu layaknya wanita."


"Hey! Apa Yang Mulia memang separah itu?!"


"Tidak. Kau sendiri yang bersikap seperti pria yang mau berperang. Jangan salahkan dirinya, salahkan lah dirimu sendiri."


"Huh! Ya sudah. Lanjutkan saja yang sebelumnya."


"Baiklah. Clara Scoleths, sebenarnya Kau itu bukan berasal dari dunia ini 'kan?"


Heh?


Lagi - lagi Clara mengalami syok mendadak. Ini sudah berapa kalinya untuk hari ini. Dia kesal sekali, padahal yang membaca novel adalah dirinya. Tapi yang tahu segalanya malah Grein.


"Kau bercanda, bukan?"


"Kau tidak mengelak saat aku mengatakan itu. Justru harusnya aku yang bertanya padamu, mengapa kau bisa berada di dunia ini?"


"Aku tidak tahu."


"Biar kuberitahu."


"Hm?"


"Akulah yang menarikmu ke tempat ini."


BRUG


SRET


Clara menendang meja di depannya dan menyeret Grein dengan kuat. Ternyata tenaga Clara bisa sangat hebat kalau dia sudah marah begini.


"Kenapa kau membuatku terdampar disini?! Aku suka cerita isekai, walaupun rasa sukaku akan berkurang ketika MC berujung menciptakan harem. Tapi, bukan berarti aku mau di isekai juga olehmu...!"


"Tenang, tenang. Aku juga punya alasan untuk perbuatanku yang ini." Grein mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan Clara.


"Katakan alasanmu!" Clara malah menjadi semakin garang.


"Huft... Kau ingat apa yang baru saja kita diskusikan soal Meiger?"


"Mata ruby?"


"Bukan yang itu."

__ADS_1


"Harapan yang menjadi dunia?"


"Yang selanjutnya."


"Pecahan jiwamu ada pada Yang Mulia?"


"Nah! Yang itu!"


"Lalu, apa hubungannya dengan alasanmu menarikku ke dunia novel ini???"


"Begini. Saat dirimu punya jiwa yang sama dengan orang lain. Apa yang kau pikirkan pertama kali?"


Clara memegang dagunya, berpikir. "Cocok."


"Benar sekali. Aku memilihmu karena jiwamu punya asal jiwa yang sama dengan Clara Scoleths yang asli. Jadi, kuputuskan untuk memanggilmu ke dunia ini."


"Lalu, kemana Clara Scoleths yang asli?"


"Dia sudah mati."


Clara terdiam.


Heh? Apa?


"Tidak mungkin 'kan." Tangan Clara gemetar hebat begitu kalimat Grein selesai. "Tapi, kenapa?"


"Sebenarnya itu karena dia menyadari kalau dia sudah tidak bisa menampung semua sihir hitam itu di dalam dirinya sendiri. Jadi dia hanya mencari jalur aman saja."


Clara mengingat kembali percakapannya dengan Claire barusan. Tentang apa yang akan terjadi jika kesadaran Clara hampir lenyap.


"Master hanya perlu bunuh diri saja."


Dengan takut Clara menelan salivanya.


"Bunuh diri?"


Grein mengangguk samar.


"Memangnya untuk apa racun yang kau temukan di kamarmu itu? Kau menemukannya saat isinya sudah berkurang setengahnya. Itu berarti sudah ada yang meminumnya."


Maksudnya racun itu? Yang kutemukan di laci perkakas milik Clara.


"Kenapa pribadi dalamku tidak bisa mengenali yang mana Master-nya? Aku ini bukan Clara Scoleths asli." Clara berusaha mengorek kebenaran sedikit demi sedikit.


"Dia justru tahu persis."


"...Apa yang coba kau katakan?"


Grein mengambil cangkir teh yang sudah ia tuangi isinya. "Justru Claire yang menyebabkan tindakan itu terjadi. Di malam sebelum 'Clara' kembali mendominasi kesadaran di raga nya lagi. Claire mencegahnya dengan membunuh Clara. Dia melakukan itu agar Master-nya tidak perlu menanggung beban itu lagi. Dan usaha itu ternyata tidak berhasil... sebab aku memanggil jiwamu untuk mengisi raga Clara Scoleths."


Apakah karena itu dia meminta maaf sebelum waktu pertemuan kami habis? Dia berusaha membunuh Master-nya... ironis sekali...


Perlahan Grein mulai menyesap teh nya lagi.


"Dimana jiwanya sekarang?"


"Mungkin sudah disucikan kembali. Aku tak tahu, lagipula aku bukanlah sang pencipta."


"Tentu saja."


"...'Rara' yah..." Grein sedikit mencuri lihat wajah Clara. "Entah di dunia ini maupun di dunia sebelumnya. Kau memang dipanggil begitu bukan?"


"....." Clara tak menjawab.


"Ngomong  - ngomong, mengapa kau memanggilku ke dunia ini? Apa alasanmu?"


"Aku disini hanya untuk menagih janji yang sudah kau buat."


"Huh? Aku bahkan tidak pernah berjanji padamu, selama ini aku hanya berjanji pada pak tua dari Ranunculus itu?! Meski pada akhirnya itu tidak bisa ditepati karena situasi disana semakin rumit."


"Begitu, yah... wajar saja kau melupakannya. Karena hal itu sudah terjadi cukup lama."


"Kalau begitu mengapa tidak kau lupakan saja?" Clara bertanya ketus.


"Janji adalah janji. Apa yang kau harapkan ketika seseorang berjanji? Menepati janji itu bukan?"


"Percakapan itu semakin berbelit. Lebih baik aku keluar saja dari sini."


"Silahkan. Tidak ada yang memaksamu untuk tetap disini."


"Cih, meskipun aku bertanya padamu tentang alasanmu memanggilku kesini, kau pasti tidak akan menjawabnya. Lebih baik aku pergi daripada capek mental!"


"Apa kau yakin mau kembali begitu saja tanpa meminta apapun kepadaku?"


"Apa aku boleh pulang?" Jawab Clara dengan cepat.


"Tch, kalau yang itu sampai kau menunduk memohon sambil menangis pun kau takkan pernah bisa mendapatkannya."


"Kan."


Dengan malas Clara menanggapi itu. Dia sendiri sejak pertama bertemu Grein beberapa waktu lalu sudah tahu kalau pada akhirnya dia takkan bisa pulang.


"Oh ayolah, pasti ada sesuatu yang bisa kau minta dariku. Seperti yogurt untuk seumur hidup atau apalah yang penting jangan meminta 'pulang' padaku."


"Mengapa kau memaksa?"


"Katakan saja!"


"Baiklah - baiklah, bisakah kau membuat kulitku jadi tahan akan sinar matahari? Aku sudah muak dengan kegelapan, aku juga mau keluar di siang hari untuk ke pasar bersama Jean dan Avrim."


"Ah, yang itu tentu saja bisa."


"Heh? Yang benar?"


KLIK


Grein menjentikkan jarinya kemudian menghisap udara segar dengan elegannya. Clara yang tidak merasakan perubahan apapun langsung protes.


"Mengapa aku tak bisa merasakan apa - apa?!"


"Tunggu saja sampai kau bangun dan keluar dari 'kastil malam' itu. Saat itu kau pasti akan bisa keluar lagi di siang hari tanpa perlu mengkhawatirkan sesuatu."


"Kupegang kata - katamu pak tua."


"Oi, aku tidak setua itu, dasar bodoh."


"Huft... sejujurnya aku sudah sangat lelah dengan semua masalah yang menimpaku." Keluh Clara.


"Begitukah? Diantara semua manusia, mereka juga tidak mungkin bisa selalu bahagia tanpa diselingi masalah."


"....."


"Anggap saja jika masalahmu adalah air mendidih. Lalu telur, kentang, dan biji kopi dimasukkan ke dalamnya. Jika itu kau, kau akan jadi yang mana?"


"Huh?"


"Saat kau ditimpa masalah. Apa kau akan menjadi seperti kentang yang lemah, telur yang kuat atau menjadi sesuatu yang baru seperti biji kopi?"


Berbicara tidak semudah melakukan.


...❀...


Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim. Seorang gadis bersurai putih berusaha untuk membuka matanya. Di sebelahnya, pria yang orang - orang menyebutnya 'kaisar' duduk disana.


"Apa aku tertidur terlalu lama...?"


Masih dengan kepala yang berat Clara mencoba duduk. Tapi sang Kaisar langsung memeluknya dari samping. Membuat Clara jadi kaget dan tersipu.


"Kau sangatlah merepotkan, dasar senjata rusak."


"Maaf, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud untuk merepotkan Yang Mulia." Ujar Clara setengah tertawa.


Meiger melepaskan pelukannya, menatap Clara dengan tajam. Dia sudah menunggu cukup lama untuk senjata ini bangun. Sayang sekali senjata absurd ini sangat suka tidur dan mengkhawatirkan banyak orang.


"Jika kau melakukannya sekali lagi, maka habis sudah dirimu."


Setelah memberikan ancaman pada Clara, Meiger bangkit berdiri dan meninggalkan kamar Clara. Dia telah membuang banyak waktu serta mengabaikan banyak tugas hanya untuk menunggu sang 'putri' terbangun dari tidurnya.


"Baik Yang Mulia!"


Meskipun diancam, entah kenapa suasana hati Clara malah membaik setelah percakapan yang membuatnya naik darah bersama Grein. Mungkin karena Meiger khawatir padanya walau dengan cara yang tidak romantis sama sekali.


Apa yang aku pikirkan sebenarnya?! Mengapa aku jadi terlihat seperti masokis sekarang?!


PLAK


Clara memukul kedua pipinya dengan sangat kencang. Membuat fantasi-nya menghilang dan digantikan dengan realita yang kejam.


"Sebelum aku pingsan, aku merasa ada sesuatu yang harus kusampaikan kepada Yang Mulia, tapi apa?"


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2