The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 63 - Hari Besar


__ADS_3

"Kakak, menurutku kau lumayan keren ketika memakai pakaian kebesaran Ayah."


"Kukira kau memujiku hanya agar aku pasrah menerima jabatan sebagai Duke."


Itu tidak sepenuhnya salah. Hellen berniat memuji kakaknya tulus, namun dilubuk hatinya terselip sedikit kelicikan. Ini semua karena pengaruh ayah mereka, Hendrick tahu itu.


Hari ini adalah hari besar bagi keluarga Duke Wayne, karena mereka akan melengserkan Frederick Wayne dari jabatan sebelumnya dan digantikan oleh Hendrick. Acara ini dihadiri oleh banyak orang penting, sepertinya memang hanya kaum bangsawan saja.


Dari Count Cheltics, Baron Llamante, Grand Duke Harold sampai sang raja sekalipun hadir. Sayangnya, tidak ada gadis rusuh itu di samping Hendrick. Padahal anak antah berantah itu setidaknya sudah mengatakan akan kembali. Mungkin hari dia kembali masihlah terhitung lama.


Yang Hendrick perlu lakukan hanyalah menunggu.


Jika dia nekat menerobos perbatasan Hortensia, maka hubungan antara Ranunculus dan Hortensia akan semakin pudar. Walaupun nyatanya wilayah Barat itu adalah pihak netral.


Hendrick menatap pantulan dirinya di permukaan cermin. Dahulu Clara sering mengejeknya sebagai lidah berbisa ataupun sejenisnya yang terkesan dia adalah 'penyindir handal'. Yah, namun kenyataan itu tak bisa terelakkan, Hendrick memang pandai menyindir.


Hellen sejak tadi hanya mengelilinginya sebagai upaya mencari kekurangan dari penampilan kakaknya agar bisa disempurnakan. Menurut Hendrick, itu adalah hal yang sia - sia untuk dilakukan.


Tapi Hendrick masih punya hati untuk tidak menyindir adiknya.


"Apakah kau sudah selesai? Lama - kelamaan aku merasa pegal karena terus berdiri tegak. Aku butuh istirahat." Ujar Hendrick, kemudian menghela napasnya.


"Kakak! Kau terlalu letoy! Kau seharusnya segagah Ayah!"


"Bukannya apa, tapi semalaman aku perlu mempersiapkan untuk hari ini. Daripada kacau, aku memilih begadang. Namun aku langsung terkena imbasnya, sekarang aku butuh tidur." Keluh Hendrick.


"Tapi kan Kak! Acaranya sebentar lagi-"


"Itu masih beberapa jam lagi..."


Hendrick mengacuhkan ocehan adiknya, dia keluar kamar ayah dan ibunya dan melangkah menuju kamarnya. Tetapi di perjalanan, seseorang dengan ketampanan luar biasa menghadang bersama kacung nya.


"Apa yang anda inginkan, Yang Mulia Pangeran?" Dengan senyuma yang dibuat - buat, Hendrick menyapa Rovers. Dia memang penyindir handal, tapi Hendrick masih ingat tata krama juga kalau di hadapan anak ini. Serta kacung sejatinya...


"Tidak kusangka Vester akan ikut." Celetuk Hellen, yang ternyata sudah berdiri di belakang Hendrick. "Apakah ada sesuatu...?"


Rovers menggeleng pelan.


"Bukannya begitu, aku hanya terbiasa membawa Vester kemana - mana. Jadi untuk kesini pun aku datang bersamanya."


Anak manja.


Hendrick berusaha menahan rasa muaknya pada pangeran yang satu ini. Mungkin sejak ulang tahun raja, pandangan Hendrick tentang makhluk ini berubah menjadi buruk. Semuanya berubah karena satu wanita.


"Ngomong - ngomong, kau berjalan kearah yang salah. Atau apakah kau berniat kembali ke kamarmu untuk menghindari hari besar ini?" Tanya Rovers.


Kali ini ekspresi wajahnya cukup ganjil, Hendrick dan Vester mengetahui perubahan dari si 'dua wajah' ini. Sedangkan Hellen yang naif hanya bisa memperhatikan. Dia mengangguk - anggukkan kepalanya sebab pernyataan Rovers seratus persen benar.


"Tentu tidak, kau salah paham."


Hendrick terlihat acuh, dia membalikkan badannya dan berjalan menuju aula kediaman Wayne. Rovers berjalan di sebelahnya, sedangkan Hellen tampak mengobrol santai dengan Vester.


Kuharap waktuku untuk menunggu tidak akan lama...

__ADS_1


...❀...


Di pagi ini, salju pertama mulai turun. Padahal dinginnya sudah ada sejak semalam, tapi tenyata salju mampirnya di pagi harinya. Hari ini adalah hari besar bagi seluruh penduduk Ranunculus, sebab akan ada pergantian Duke.


Di aula sudah berkumpul berbagai keluarga bangsawan. Terlihat Frederick dan Eleanor menyapa para tamu. Di ujung pandangannya, Frederick menangkap sosok Raģe dan kedua adiknya.


Sudah lama sejak mereka masih berstatus guru dan murid.


Frederick menghampiri Raģe, "Sudah lama tak berjumpa. Kau sepertinya sudah memutuskan arah hidupmu, apa aku salah?"


Raģe terdiam sejenak, "...Seharusnya Grand Duke Harold tidak membebankan masalah ini kepadaku. Aku pikir masih banyak bangsawan yang mampu menggantikan posisi itu."


"Hanya kau yang mampu, karena itulah kau yang terpilih. Apa kau masih tak paham?"


"....."


"Aku bertanya - tanya, siapakah yang membuat dirimu memantapkan pilihan untuk menjadi seorang penasihat kerajaan?" Frederick tersenyum simpul, menatap intens pada Raģe.


Raģe mengalihkan perhatiannya pada pintu besar aula. Dia menunggu acara ini mulai agar bisa pulang dengan cepat. Frederick masih mempertahankan senyum di wajahnya, agaknya mantan muridnya ini jadi sedikit kurang ajar.


"Kau tahu? Pangeran memang tidak menjelaskannya melalui lisan, namun mata menjelaskan banyak hal." Frederick mendekat pada Raģe, memelankan suaranya. "Warna apa yang kau lihat dari 'dia'?"


Raģe bungkam.


"Meskipun dia sering singgah di tempat - tempat gelap. Namun warna yang ia miliki sangatlah cerah dan indah, biar kutebak saja."


Raģe sedikir melirik pada Frederick.


"Padahal aku sempat mengira itu akan 'kotor' dan 'kusam'." Gumam Raģe.


"Jujur sajalah Raģe, kau melespaskannya saat itu karena 'warnanya' begitu cerah bukan?"


"....."


"Yah, sampai saat ini dia tak bisa terbaca. Kebodohan yang luar biasa, dia tidaklah naif dan tidak pula licik."


Raģe tersenyum sinis, "Dia hanyalah orang normal yang hidup bukan sesuai keinginannya. Melainkan sesuai kebutuhan orang di sekitarnya, sungguh menyedihkan."


"Sama seperti dirimu, Raģe. Pada dasarnya kalian tidaklah berbeda jauh."


Setelah beberapa waktu, Hendrick datang diikuti Hellen, Rovers dan Vester. Frederick mendekat pada anaknya, wajah Hendrick berubah menjadi masam ketika ayahnya datang.


"Rupanya kau masih dendam padaku."


"Heh! Pikirkan saja sendiri, aku tak mau tahu."


...❀...


"Kapan kau akan pulang ke rumahmu? Jangankan aku, bahkan pelayan dan pengawal disini saja sudah muak melihat wujudmu yang selalu berkeliaran." Dengan kejamnya, Meiger bertanya.


Pria itu melambaikan tangannya dengan santai, "Baiklah - baiklah. Aku akan pulang hari ini, meskipun sebenarnya aku ingin sekali menunggu mereka berdua kembali dari Freesia."


"Untuk apa kau tahu? Tidak ada pentingnya juga untukmu."

__ADS_1


"Yah... gadis itu dari Ranunculus 'kan? Aku hanya ingin bertanya kepadanya apakah dia pernah menemukan suratku atau bahkan bertemu dengan nona cinta dalam surat itu."


"Hal yang bodoh."


"Hm?"


"Suratmu tidak mungkin sampai salah arah separah itu. Terima sajalah bahwa sebenarnya kau sudah tertolak. Pesanku hanyalah, jangan kau menggila gara - gara ditolak seorang wanita."


Pria itu terhenyak sejenak, namun setelahnya dia malah tertawa terbahak - bahak. Hingga titik dimana Meiger juga merasa jengkel dan telah kehabisan kesabarannya. Dia benar - benar ingin melempar pria ini ke lapangan pelatihan dan memusnahkannya dalam sekali tebasan.


Sayangnya pria itu sulit untuk dilenyapkan.


"Kudengar sebelum Clara dilempar ke tempat ini dia mempunyai rumor buruk di Ranunculus yah?" Pria itu kini bertanya.


Meiger menatap pria itu dengan tajam, "Berani sekali kau menyebutnya dengan akrab."


"Astaga... hanya karena dia pernah dan sedang tinggal di Hortensia, kau menjadi mengklaim dia juga milikmu. Oh ayolah, kaisar macam apa kau ini?"


"Itu karena terdengar menyebalkan di telingaku."


"Bilang saja kalau kau cemburu."


"Bukannya begit-"


DONG!


Meiger gagal menyelesaikan kalimatnya, dia memandang lonceng kuil yang terjatuh. Usia bangunan itu memang lebih tua dari kelihatannya, padahal Meiger mengira kalau kuil itu bisa bertahan lebih lama lagi.


Sepertinya sudah saatnya untuk merenovasi ulang kuil kuno itu.


Pria itu juga memandangi kuil sama seperti Meiger, "Hee... tidak kusangka kau masih melestarikan bangunan itu. Apa kau tidak ada rencana untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang berbeda? Masalahnya kuil itu tak lagi terpakai semenjak kau berhenti mengunjunginya."


"Itu takkan kulakukan, mungkin aku hanya akan memperbaikinya saja atau sesuatu sejenisnya." Meiger berdiri dari kursinya, dan berjalan keluar ruangan.


Pria itu mengerutkan keningnya, merasa penasaran. "Kenapa begitu?"


"Karena masih ada beberapa orang yang berdoa disana."


"Oh."


Pria itu melirik sekali lagi pada kuil, sebelum dia mengikuti Meiger untuk keluar ruangan.


Kuil itu memang dibangun sudah sejak lama. Bahkan di masa kekaisaran pertama, kuil itu sudah berdiri disana. Sudah banyak yang berdoa dan bangunan itu tak pernah berubah sejak awal. Mungkin ini adalah alasan mengapa Meiger tak pernah mengubah bentuknya apalagi menghancurkannya.


Meiger juga punya banyak kenangan dengan mendiang ibunya di kuil itu. Yah, keputusan terburuk jikalau Meiger memilih menghancurkannya.


Dia hanya ingin mengabadikan kenangan indah itu.


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2