
Saat ini Clara dan Jean berada di lapangan bertarung. Clara dengan pedang kesayangannya dan Jean yang memakai pedang yang tersedia di tempat pelatihan.
Avrim sendiri berada di pinggir lapangan, mengawasi. Mendadak dia merasa de javu apabila mengingat jika Clara pernah bertarung sekali di kediaman Wayne dengan sang Duke Muda. Meski Avrim tak begitu tahu sebab dia tidak ada di lokasi kejadiannya, Avrim hanya mendengar gosip itu dari para pelayan.
SRING
Clara dan Jean mengambil posisi siap menyerang.
"Baiklah, ketika batu ini menyentuh tanah. Maka pertarungannya dimulai."
Nero kini menjadi pengadil bagi mereka berdua. Dia juga agak kaget karena diminta oleh Clara Scoleths, yang notabene adalah 'barang antik' di istana kekaisaran ini. Jika saja gadis itu tergores saat berduel dengan Jean, dirinya tidak mau memikirkan akibatnya, itu terlalu mengerikan bahkan untuk sekedar diimajinasikan.
Sebelumnya Nero sempat memperingatkan Jean untuk berhati - hati. Masalahnya adalah ketika kaisar pulang nanti, kalau Clara nampak punya goresan maka habislah semua makhluk hidup penghuni istana kekaisaran.
Nero melempar batu yang dia pegang tinggi - tinggi. Clara dan Jean makin sigap mengambil posisi masing - masing.
Sepertinya Clara selain ingin melampiaskan kekesalannya, dia juga sekalian mau mengasah kemampuan bertarungnya. Seorang senjata harus bisa menusukkan pedangnya pada lawan.
Batu yang dilempar Nero melambung tinggi keatas. Namun karena gaya gravitasi, batu itu mulai kembali turun menuju permukaan tanah. Nero sebisa mungkin melangkah mundur.
TUK, SRET
Sepersekian detik setelah batu tersebut melesat kembali ke tanah. Jean dengan kecepatan tinggi menghampiri Clara, dia menendang gadis tersebut dengan sekuat tenaga karena dia masih menyarungkan pedangnya sama seperti Clara.
BUGH
Clara membuat tangan kirinya sebagai perisai pertahanan dari tendangan Jean. Jean mundur sedikit dan segera mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang, melihat itu Clara melakukan hal yang sama.
Jean berlari kearah Clara sambil menghadapkan mata pedangnya pada gadis itu. Clara pun menghadangnya dengan pedang juga. Clara memaksa membuat Jean mundur dengan mendorong pedang Jean ke belakang menggunakan pedangnya.
Lalu Jean terpaksa terpukul mundur, dengan kecepatan yang dia miliki Jean memberikan Clara serangan beruntun dengan jumlah serangan yang sangat banyak. Clara nyaris kewalahan dibuatnya, rupanya level Jean ada diatas Hendrick. Atau mungkin saat bertarung dengan Hendrick, Clara sedang hoki?
Entahlah, siapa yang tahu.
Serangan demi serangan, tangkisan demi tangkisan. Berbagai jenis serangan telah dikeluarkan oleh Jean. Clara sudah merasa lelah, namun harga dirinya sebagai seorang senjata yang pernah menghuni Hortensia membuat dirinya tak gentar.
Aku tak boleh kalah disini! Aku bahkan belum bertarung dengan pak tua itu! Jangan sampai aku kalah!!!
Tekad Clara untuk memenangkan pertarungan ini semakin kuat. Dia mengeratkan pegangannya pada gagang pedang.
Setelah itu, Jean jadi berkeringat dingin. Apa yang dilihatnya saat ini membuat kekuatannya seakan melemah.
Tiba - tiba saja pedang Clara diselimuti oleh hawa gelap. Hawa gelap itu berusaha menyelimuti pedang Jean dan juga dirinya. Karena tak mau ambil resiko, Jean melangkah menjauh dari Clara.
Avrim yang juga melihat itu matanya membelalak, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Nero pun sama, namun dia berpikiran seperti Jean 'tidak mau mengambil resiko'. Apapun itu, saat ini kalau Clara tidak dihentikan maka dia akan semakin menjadi - jadi.
"Jika saja Yang Mulia berada disini." Gumam Avrim yang didengar oleh Nero.
Di sisi Clara, dia melihat hawa gelap itu juga. Jujur, dia merasa takut. Akan tetapi Clara merasa berat untuk melepaskan pegangannya pada pedang. Seolah pedang tersebut sudah menempel lekat.
Apa sebenarnya ini? Padahal aku hanya mau serius bertarung, kenapa semuanya selalu menjadi runyam begini. Ah! Apakah ini seperti yang dikatakan Yang Mulia padaku?
Sihir hitam itu diserap ke dalam tubuhku...
"Ah!"
Tanpa dikehendaki oleh Clara, tubuhnya tiba - tiba bergerak kearah Jean. Clara berasumsi jika pelakunya adalah pedangnya ini, benda mati itu rupanya bisa mengontrol pergerakannya sendiri dan tidak terkendali.
Mendadak Clara menjadi semakin panik, hal ini belum pernah terjadi padanya. Bahkan saat dia berduel dengan Hendrick waktu itu, tidak ada kejanggalan semacam ini. Seolah tempat inilah yang memicu segalanya terjadi.
Jean menangkap Clara dengan mudah dan mengambil pedang mawar dari pegangan Clara. Jean melemparnya sejauh mungkin dan tertancap ke dalam tanah, lokasi tertancapnya masih di arena pelatihan pedang.
Dan kejadian selanjutnya lebih membuat Clara shok.
Dari seluruh tempat, keluarlah semacam aura hitam dan kelam yang barusan menyelubungi pedangnya. Namun Clara yakin asalnya bukan dari pedangnya tapi memang diluar itu semua. Jean mendecak kesal, menggendong Clara tanpa aba - aba membawanya pergi sejauh mungkin dari pedang miliknya.
Semua asap hitam dari berbagai tempat itu tampak mendekati satu objek, pedang milik Clara. Ini kelihatan seperti pedangnya menyerap semua asap hitam itu.
"Eh? Jean? Ada apa ini sebenarnya? Pedangku bagaimana bisa menyerap semua asap hitam itu...?" Clara bertanya - tanya, namun Jean tak bisa menjawab satu pun dari semua pertanyaan itu.
"Saya juga tidak tahu, Nona."
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Jean, Jean memberi kode kepada Avrim supaya menjauh juga dari lokasi pedang itu tertancap.
TAP
Jean menurunkan Clara dari gendongannya, membiarkan pedang mawar itu terus dan terus menyerap asap hitam yang misterius, Jean tak bisa menghentikannya. Di sebelahnya juga sudah ada Avrim yang langsung memeriksa kondisi Clara.
__ADS_1
"Nampaknya itu bukanlah asap hitam biasa." Nero berkomentar, ini memang bukan saatnya bernostalgia. Namun Nero tahu jika ada yang tak betul dengan asap ini, dan hal itu sudah dibuktikan di masa lampau.
Jean diam saja, dia memikirkan bagaimana cara agar pedang mawar berhenti menyerap asap hitam. Avrim sendiri masih sibuk memutar tubuh Clara untuk memeriksa apakah Clara lecet atau tidak. Clara membenarkan pernyataan Nero dalam hati.
Apakah asap itu adalah... sihir hitam?
Perlahan - lahan langit diatas mereka yang awalnya terang bernderang menjadi gelap. Seolah terdapat kabut di sekitar mereka yang memburamkan pandangan mata. Clara mencengkeram pakaian Jean untuk menenangkan dirinya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Clara nyaris menangis saat ini, mana lagi tidak ada Meiger yang membuat Clara semakin panik. Hal ini belum pernah terjadi sekalipun dalam hidupnya. Bahkan dalam novel, tidak pernah diceritakan kalau pedang Clara Scoleths dapat menyerap sihir hitam.
Aku pikir itu adalah aku...
Suasana semakin menegang, Jean nyaris kehabisan waktu untuk menemukan ide yang tepat demi bisa menghentikan semua ini. Avrim dan Nero bahkan lebih tak bisa memikirkan apapun lagi di situasi mencekam begini.
"Apakah tidak ada yang tahu bagaimana cara menghentikan itu?!" Di tengah kecemasannya, Jean bertanya.
Namun sejak awal mereka tidak tahu apa - apa mengenai pedang itu. Clara, Avrim serta Nero hanya menggelengkan kepala mereka samar - samar.
"Kalau begitu aku akan maju dan menghentikannya sendiri." Sambung Jean lagi.
Apa?
"Apa?"
"Kau gila ya, Jean?" Tanya Nero.
Jean mengacuhkan pertanyaan Nero, dia dengan cepat melesat menuju tempat dimana pedang itu tertancap. Clara memeluk Avrim sebagai pereda rasa cemasnya, Nero meneguk salivanya dengan risau.
Mereka tak bisa melakukan apapun dan hanya mengharapkan Jean saja.
Kecepatan Jean semakin berkurang ketika dia makin dekat dengan tujuannya. Jean memegangi lehernya, dia tampaknya kehabisan oksigen untuk bernafas. Asap hitam itu mempunyai tekanan yang besar, itu membuat Jean lebih kesulitan lagi.
Berjuanglah, Jean!
Jean terus maju, tekannya semakin besar. Tangannya hampir mencapai gagang pedang mawar, namun dirinya masih terlihat begitu kesusahan menggapainya. Ditambah angin di sekitar juga mendadak kencang.
TEP
Bagaimana bisa dia...?
Clara menatap tak percaya pada orang itu, dia baru saja ditemui oleh Clara di swalayan barusan. Dan tidak terduga dia bisa kembali begitu cepat. Bahkan menghentikan semua kekacauan ini agar tak semakin parah.
"Yang Mulia...?" Jean mengerang pelan.
Meiger memegang pedang mawar dan menariknya keluar dari tanah. Tatapannya begitu rumit, dia tahu kalau pemilik pedang inilah yang membuat semuanya jadi kacau. Jean, Avrim dan Nero juga lumayan terlihat kacau.
"Clara? Bisa bicara sebentar?"
DEG
Clara terkejut, hampir saja jantungnya copot. Suara dingin itu lagi - lagi memanggilnya dengan nama depan, itu berakibat buruk bagi jantungnya. Reflek Clara mengeratkan pelukannya pada Avrim, berharap Avrim bisa membantunya kabur dari manusia mengerikan yang satu ini.
"Nona..." Avrim berkata dengan suara lembut, berusaha membujuk Clara agar mau ikut dengan kaisar.
Usaha Clara menjadi sia - sia saja, dia melepaskan pelukannya dari Avrim. "Doakan aku agar kembali dengan selamat ya, Avrim."
"Hah?"
Clara berjalan dengan langkah gontai mengikuti Meiger yang sepertinya akan ke ruang kerja miliknya, Clara makin pasrah. Avrim sendiri menghampiri Jean yang terjatuh dan meninggalkan Nero dalam renungannya.
"Apa kau baik - baik saja?" Tanya Avrim pada Jean.
"Aku baik kok." Jawab Jean.
Jean mencuri lihat kearah Nero, dia harap bahwa Nero tidak merasa janggal terhadap mereka berdua. Sejujurnya, Jean merasa kalau Nero agak berbeda dari juru masak lain di istana kekaisaran. Matanya begitu 'mengamati'.
"Kuharap dia tidak curiga terhadapku dan Kak Avrim."
...❀...
Clara masih mengikuti Meiger, semakin terlihat pintu ruang kerja kaisar semakin pasrah juga dirinya. Meskipun begitu, pandangan Clara tertuju pada pedang miliknya yang berada di genggaman Meiger.
Clara makin penasaran dengan kemampuan 'iblis' Meiger ini dimana batasnya. Jean saja yang Clara kira mempunyai sihir ternyata levelnya masih jauh di bawah orang ini.
Dia terlihat lebih mencurigakan dari sebelumnya.
__ADS_1
Walaupun Clara mampu berkata terang - terangan mengenai isi hatinya terhadap Meiger. Clara tak sanggup dengan konsekuensi yang akan dia dapatkan ketika sudah melakukannya.
Ditambah, ingatan Meiger tentang Clara yang mendadak pingsan tempo hari masih tercetak jelas di ingatannya. Nampaknya bahkan sebelum seminggu sejak hari itu, Clara telah berulah kembali.
Berdoa saja semoga Clara masih bisa hidup hingga esok hari.
KREK
Pintu ruang kerja terbuka, Clara merasa merinding melihat betapa gelapnya tempat ini. Maklum saja, Clara agak sombong pada tempat yang tidak disinggahi sinar matahari setelah kulitnya tahan terhadap sinar matahari.
Meiger duduk di tempatnya yang biasa, sementara Clara masih berdiri. Dia tidak begitu lancang untuk duduk bersamaan dengan seorang kaisar sebelum diizinkan atau kalau dia sudah bosan hidup.
"Duduklah."
Setelah mendengar izin dari Meiger, Clara langsung menempatkan pantatnya pada sofa yang lembut.
"Kau seharusnya tahu kenapa aku memanggilmu datang kemari."
Clara menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap langsung Meiger. Pria itu bisa saja menghipnotis nya dengan mata ruby sama seperti yang Grein lakukan. Ada kemungkinan Clara didepak dari keanggotannya sebagai penghuni istana kekaisaran.
Gawat sekali! Hidupku hanya sampai sini sajakah?!
Tubuh Clara menegang, dia memegang pakaiannya erat - erat. Keringat dingin sudah bercucuran tak terbendung lagi. Ketakutan akan kemarahan Meiger sudah tercetak jelas di imajinasinya.
"Ini belum satu minggu sejak hari itu, dan kau sudah berulah lagi."
GLUP!
Dengan berat Clara menelan salivanya. Meiger meletakkan pedang mawar yang indah itu di sebelahnya. Dia menyangga dagunya, pandangannya berfokus pada gadis antik yang seringkali nyaris punah ini.
"Kau suka sekali bermain - main ya?"
"..."
"Oh? Ataukah kau memang sudah bosan hidup?"
Kali ini Clara menggelengkan kepalanya cepat - cepat.
"Kalau begitu, apa yang membuatmu suka sekali membuat masalah? Itu sama sekali bukan permainan untuk anak - anak. Apa kau mau kuajari cara yang benar dalam bermain permainan menyenangkan itu?"
Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! GAWAT!!!!
Dalam hatinya Clara berteriak tak karuan, dalam imajinasinya ia bahkan sudah menggerogoti segala macam benda karena saking kesalnya dia. Bimbingan konseling ini takkan pernah ada kalau kaisar tidak 'baper', begitulah pikiran Clara.
"Aku melihatmu di swalayan tadi siang, nampaknya kau sudah mulai beradaptasi dengan sinar matahari ya?"
Apa?! Yang Mulia menyadari keberadaanku disana! Habislah aku...
"Iya... Yang Mulia..." Jawab Clara sedikit bergetar.
"Hee... senang sekali bukan, bisa berdiri di bawah matahari itu?"
"Mungkin..."
Meiger mengambil kembali pedang Clara dan melemparnya kepada pemiliknya. Memang sedikit meleset, namun untungnya Clara bisa menangkap pedangnya.
Hup! Untung saja bisa kutangkap, kalau tidak aku bisa mati tertusuk!
"Anu... apakah Yang Mulia sudah memaafkan hamba untuk yang tadi?"
"Mungkin aku akan melupakannya."
Ekspresi Clara begitu bersinar, tapi itu hanya sementara karena kalimat Meiger yang selanjutnya begitu membebani.
"Kau ingat bukan dengan bayaran karena kau tinggal disini? Aku akan melupakannya jika kau memenuhi permintaanku ini."
"Baiklah. Jadi apa permintaan Yang Mulia?"
"Besok temani aku ke Kota, tentu saja kali ini aku akan mencopot gelarku."
Are? Lalu, apa bedanya dengan yang waktu itu? Sepertinya tidak ada bukan?
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1