
Raģe mengalihkan perhatiannya pada hujan badai di luar gua. Pandangannya begitu kosong dan hampa. Pemikirannya mulai menggerogoti dirinya luar dalam.
"Apakah ada yang sesuatu membebani anda?"
"Itu bukan urusanmu."
"Ck! Saya hanya bertanya."
Raģe melirik ke arah Clara, "Apa yang akan kau pilih jika dihadapkan pada dua pilihan. Sesuatu yang kau inginkan atau yang mereka butuhkan?"
"Hum?"
Clara mengunyah lobaknya, dan setelah ditelan dia menjawab pertanyaan Raģe.
"Jawabannya tentu saja adalah 'tergantung'. Pada dasarnya pertanyaan seperti itu tidak memiliki jawaban pasti. Setidaknya anda harus melihat pilihan itu sendiri dari kedua sisi yang berbeda, maka anda bisa menjawabnya dengan tegas setelah itu."
Raģe tertegun setelah kalimat panjang Clara, "Aku pikir kau hanyalah pembunuh orang penting dan buronan semata."
"Itu menyakitkan bagi saya difitnah seperti itu."
"Jadi, setelah hujan badai ini mereda, apakah anda akan menangkap saya?" Sambung Clara.
"Entah, kau telah menyelamatkan hidupku sekali ini. Meski dari luar aku terlihat kejam tapi aku juga masih punya hati untuk berbalas budi."
"Menyelamatkan hidup anda? Saya hanya melakukan apa yang Avrim katakan dan menghangatkan anda."
"Bisakah kau tidak mengulang kata 'hangat' berkali - kali?! Itu memalukan untuk didengar." Ketus Raģe, dia mendecak pelan setelah protes barusan.
"Ah, baiklah... intinya anda akan membiarkan saya pergi begitu?"
"Yeah, tapi hanya sekali ini saja. Ingatlah bahwa di lain hari kau tidak akan seberuntung ini."
"Oke."
"Dan apakah kau masih menyimpan dendam karena aku melukai Avrim?"
"Hng? Tidak juga. Lagipula setelah mendengar fakta bahwa Avrim bisa menyembuhkan dirinya dengan amat sangat cepat. Saya tidak begitu marah lagi kepada anda..."
"Oh..."
Dan sekitar 30 menit berlalu, hujan badai berhenti. Clara membangunkan Avrim untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Hortensia.
"Apa yang akan anda lakukan setelah ini?"
Clara seperti biasa menunggangi kuda bersama Avrim. Dan dia masih belum menghabiskan lobak bakarnya yang berukuran sangat besar itu.
"Mungkin pergi ke Agapanthus."
"Untuk apa...?"
__ADS_1
"Bukan urusanmu, sampai jumpa lagi."
"Ya, sampai jumpa lagi dan terima kasih sudah membiarkan saya kabur. Mungkin anda akan mendapatkan masalah setelah ini jadi saya juga akan meminta maaf."
"Sudahlah, aku mau pergi saja mengunjungi manusia itu dan meminta penjelasannya. Oh ya, aku memang telat menanyakannya tapi... siapa namamu?"
"Clara Scoleths, bagaimana dengan anda?"
"Raģe Cheltics."
Kuda mereka masing - masing sudah berjalan dan berlawanan arah. Tapi Clara masih memikirkan tentang nama dari pria bangsawan itu.
"Bukankah Cheltics adalan keluarga Count di Ranunculus ini...?"
...****...
Raģe terus memacu kudanya hingga melewati wilayah putih. Ketika dia sudah sampai di perbatasan utama, seseorang yang terduga olehnya ada disana.
"Aku pikir kau akan membawanya pulang, bagaimana bisa kau datang sendirian kemari? Dimana Clara Scoleths?"
"Rovers 'kah? Berapa lama kau menungguku?"
"Sangat lama, sepertinya akibat dari hujan badai perjalananmu agak terhambat... jadi, kau memutuskan untuk tidak menangkapnya...?"
Raģe menggeleng samar.
"Ada apa?"
"Penyakitmu kambuh?"
"Yah... juga, apa - apaan itu? Kau membantunya kabur kan? Kau lebih parah dariku, aku yakin kau tak bisa menyelamatkan dirimu sendiri setelah pulang ke istana."
"Bukankah kau agak berlebihan? Aku tidak masalah dengan itu, dia adalah satu - satunya teman dari tunanganku. Apa salahnya membantunya kabur? Dia belum tentu adalah pelakunya."
"Ini jadi terlihat aneh ketika seorang cucu membantu pembunuh kakeknya melarikan diri."
"Namun kau tidak sepenuhnya percaya bukan?" Celetuk Rovers, dia menatap Raģe lebih intens.
"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu...?"
"Kau melepaskannya dengan mudah, padahal kau tahu jika penyakitmu tidak separah itu hingga bisa membuatmu mati. Tapi kau begitu mudahnya melepaskan target awalmu. Aku akui awalnya kau menargetkan Clara Scoleths, itu membuatku khawatir kalau usahaku akan gagal. Tapi keadaan berubah drastis setelah hujan badai reda atau lebih tepatnya setelah kau menghabiskan waktu bersamanya."
Rovers tersenyum penuh arti pada Raģe. "Apa kau sudah menemukan jawaban hidupmu? Ada seseorang yang berhasil menjawabnya, dan apakah itu Clara Scoleths?"
Raģe terdiam membisu.
"Jadi, apakah kau sudah memutuskannya?"
Raģe bergumam, "Seperti yang kau perkirakan. Aku berfikir untuk menerima takdirku dan menjadi penasihat kerajaan Rajunculus di masa depan."
__ADS_1
Rovers tersenyum simpul.
"Itu berarti kau memang perlu melakukan kunjungan ke Agapanthus."
...****...
"Avrim, sepertinya luka di tangan dan bahuku berangsur - angsur membaik. Apakah itu adalah karenamu?"
Clara menyentuh bahu kanannya serta tangan kirinya yang sudah bisa digerakkan lebih leluasa. Padahal ini baru kurang dari dua jam dia mendapatkan lukanya.
"Iya Nona, itu sebagai bentuk permintaan maaf saya karena tidak membantu Nona serta Duke Wayne saat itu."
"Astaga Avrim, lagipula itu aku yang menyuruhmu pergi. Kau tidak perlu merasa bersalah, itu adalah hal biasa jika mendapatkan luka setelah pertarungan."
"Nona..."
Avrim menghentikan laju kudanya dan menurunkan Clara di perbatasan antara wilayah barat dan kota mati. Lalu Avrim memanggil seorang kusir kuda yang Clara pikir sudah dipersiapkan dari awal untuk menjemput Clara.
"Nona, masuklah."
"Ah, baiklah."
Sesuai arahan Avrim, Clara segera memasuki kereta kuda tersebut. Namun saat dirinya mengulurkan tangan kepada Avrim. Avrim tidak menerimanya.
"Avrim, ada apa?"
"Ada satu tugas lagi yang harus saya selesaikan, Nona. Itu harus diselesaikan sekarang juga. Tenang saja Nona, saya akan kembali secepat mungkin setelah tugasnya selesai."
"Baiklah, aku akan menunggumu."
"Satu lagi Nona. Nona akan bertemu dengan Kaisar Hortensia saat sudah sampai wilayah Barat. Jadi, mohon jaga sikap Nona, kalau sampai Kaisar tahu Nona punya kelakuan seperti ini. Sudah pasti akan..."
Avrim melanjutkan kalimatnya dengan membisikkannya pada Clara. Mendadak seluruh tubuh Clara bergidik ngeri setelah mendengar apa yang Avrim katakan.
"Jangan khawatir, Avrim. Hal seperti itu takkan pernah terjadi dalam hidupku."
Meski Clara mengatakannya dengan tegas, ekspresi Clara saat ini membuat pernyataan barusan jadi tidak meyakinkan.
"Kalau begitu, tunggu saya kembali ya, Nona."
"Tentu saja!"
Kemudian, kereta kuda bergerak maju memasuki wilayah barat. Clara hanya bisa melambaikan tangannya tinggi - tinggi pada Avrim dan berteriak di antara keheningan malam.
"Aku pasti akan menunggumu pulang, Avrim!"
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~