
"Kau tidak mengunjungi pernikahan sahabat masa kecilmu itu?"
"Aku akan melakukannya nanti saja. Lagipula manusia itu akan lebih mementingkan cara melewati malam pertamanya dibandingkan kehadiranku dalam pernikahannya."
Di dunia mimpi. Meiger dan Grein mengadakan pesta teh, hanya mereka berdua saja. Ini sudah sekian lama sejak Crater dieksekusi oleh para manusia normal yang egois itu. Sekarang yang berada di depan Grein bukan lagi adik kecilnya Crater. Melainkan Kaisar Hortensia XX, Meiger Westhley.
Kedatangan Meiger ke dalam dunia mimpinya sendiri juga atas paksaannya pada Grein. Dia mengancam Grein akan menghancurkan dunia mimpi dari luar jika tak membiarkan dirinya masuk. Lagipula dia mempunyai hal penting untuk dibicarakan, kalau tidak ada mana mau dia datang kemari dan menemui kakaknya di masa lalu.
"Kau tidak mati?" Tanya Meiger.
Grein lalu tersenyum penuh kemenangan, "Aku ini sebenarnya sudah mati. Hanya kelihatannya saja masih hidup. Sudahlah, kau tidak akan paham bagaimana kehidupanku ini."
"Yeah... aku tidak mengerti apa - apa, bahkan kau yang menjadi gila semenjak Lyz meninggal."
"Apa?!"
"Kau sedikit berubah. Tidak bijaksana dan berwibawa seperti dirimu yang dulu. Sekarang kau malah terlihat licik dan menyesatkan. Kembalilah ke jalan yang benar, kak."
Wajah Grein berkedut kesal, ternyata sekarang sifat mereka bertukar drastis. Karena dahulu yang licik adalah Crater bukan dirinya. Grein enggan memikirkan bagaimana bisa sifat mereka menjadi tertukar begini. Tapi Grein sedikit terkejut kala Meiger memanggilnya kakak.
Meiger sudah bereinkarnasi, dia bukanlah Crater lagi. Melainkan kembali terlahir sebagai seseorang yang baru, Meiger Schubert von Westhley adalah namanya. Seharusnya anak ini segera meninggalkan nama Crater de'Lavoisiér supaya makin tidak tersesat.
Tapi, ini ulah mata ruby nya. Meiger tidak bisa benar - benar melepaskan identitasnya sebagai Crater de Lavoisiér yang menyimpan dendam pada dunia ini. Nyatanya, sulit bagi Meiger untuk hidup normal layaknya ayahnya atau anggota keluarganya yang lain.
Meski ia menyadari jika warna ruby di matanya berangsur - angsur menghilang digantikan dengan safir seperti milik seluruh anggota keluarganya. Suatu saat nanti, dia akan menggunakan nama Meiger Westhley dengan bangga tanpa perlu dibayang - bayangi oleh masa lalu.
Apakah jauh disana Clara hidup bahagia? Ini tidak seperti aku berharap kami direinkarnasikan kembali di waktu yang sama. Akan tetapi...
Grein memandang wajah termenung Meiger lamat - lamat. Dan itu membuat Meiger risih.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin tahu apakah kau kena mental atau tidak setelah kehilangan Clara. Gadis itu 'kan sangat berharga bagimu, melebihi dirimu sendiri." Grein berhenti menatap Meiger, dia mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
"Seperti kau saat kehilangan Lyz?"
"Oy. Jika kau membicarakan itu sekali lagi akan kuusir kau dari dunia mimpi ini." Ancam Grein.
"Kau tak bisa melakukannya semudah itu, soalnya ini mimpiku."
Grein berdecak. Meiger memang benar. Jika dia menghancurkan dunia mimpinya sendiri, ada kemungkinan Grein harus mencari rumah baru. Sebenarnya kalau tanpa dunia mimpi ini, Grein sudah mati. Jadi kalau Meiger menghancurkan harapannya sendiri, Grein akan musnah tanpa menyisakan apapun.
"Jadi, apa yang mau kau tanyakan kepadaku? Kau kesini untuk itu 'kan?"
Grein yang sudah malas berbasa - basi, menatap Meiger yang kembali terlarut dalam renungannya. Ini membuat Grein kesal, anak ini menjadi lebih sering galau setelah bertemu dengan Clara. Menyebalkan.
Meiger memainkan jari - jari tangannya. Menatap vas bunga yang berada di tengah - tengah meja. Bunga yang ada disana adalah mawar merah, sangat cantik karena sedang mekar.
"Bukankah kau sudah sekali direinkarnasikan? Apakah itu masih belum cukup?" Grein menautkan alisnya.
"Heh! Bahkan Lyz kesayanganmu sudah tiga kali reinkarnasi." Lalu Meiger bergumam. "Kuharap ada kesempatan kelima untuknya..."
"Begitu."
Grein menyandarkan tubuhnya pada badan kursi. Menggigit potongan kue yang tergeletak di atas piring tanpa disentuh. Meiger memang tak suka makanan manis, jadinya kue itu masih utuh. Kalau di depannya adalah Clara, isi piring pasti ludes dilahapnya.
Ah? Kenapa malah memikirkan anak payah itu lagi sih?! Batin Grein kesal.
"Sebenarnya bukan tidak mungkin kau bertemu lagi dengannya di kehidupan lain. Tapi kalau kau reinkarnasi bersamaan dengannya, agak sulit... Ah. Tapi aku tidak mengatakan itu mustahil, oke?"
__ADS_1
"Aku dengar kok, aku tidak tuli." Desis Meiger.
"Kemungkinannya itu 1:100.000.000 jadi bersabarlah. Lagipula aku sama sekali belum pernah punya kehidupan lain selain menjadi Grein de Lavoisiér. Mungkin aku duluan yang akan dikabulkan keinginan reinkarnasi nya."
"Diamlah. Kau menyebalkan, jadi itu tidak mungkin."
"Itu tak ada hubungannya."
Grein mendecak kesal, melirik mantan adiknya yang mendadak jadi kaisar ini. Dendam dalam dirinya menghilang begitu saja karena cinta. Ini adalah satu fenomena besar yang terjadi abad ini. Karena cinta. Sepele memang, tapi dapat mengubah banyak hal.
Katanya, cinta itu bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan seseorang. Contohnya? Yah... kaisar ini dan gadis penyerap sihir hitam itu.
"Hey, Meiger."
"Hng?"
"Kenapa kau begitu ingin bertemu dengan Clara lagi? Ini tidak seperti kau akan menjomblo tanpa kehadirannya dalam hidupmu. Sebab masih banyak gadis yang mengantri untuk menjadi permaisuri Hortensia."
Cattleya Nielsen contoh nyatanya. Dia yang paling dekat denganmu jika mengesampingkan Clara. Mengapa kau tidak menikah dengan dia saja? Nah! Clara denganku.
Meiger tak menjawab pertanyaan Grein langsung. Dia malah menyentuh keningnya perlahan - lahan. Merasakan kehangatan yang tak pernah dia dapatkan dari orang lain.
Hanya dia saja.
"Karena dia berharga."
..._END_...
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~