
Keesokkan harinya. Di perbatasan wilayah Wayne. Clara, Duke Wayne dan Avrim sedang berpamitan dengan Hellen, Hendrick serta Duchess Wayne.
"Kembalilah dengan selamat kalian bertiga." Duchess Wayne memberikan salam terakhir.
Hellen melambaikan tangannya tinggi - tinggi untuk Clara. Serta Hendrick yang tidak berbuat apapun selain memperhatikan ketiga orang yang sudah menaiki kuda.
Duke Wayne naik kuda sendirian, sementara Clara dan Avrim berdua. Tentu saja dengan Avrim sebagai pengendara, Clara mana punya pengalaman naik kuda sebelumnya.
"Avrim, aku harap kau tidak memacu kuda terlalu cepat. Kau sayang aku dan nyawaku bukan?"
"Tenang saja Nona, di Hortensia saya mempelajari banyak hal termasuk cara mengendarai kuda. Hal seperti ini hanya masalah kecil."
Heh? Apakah ada yang mau memberi seorang perempuan pelajaran berkuda? Tidak biasa sekali ya...
HIAT!
Duke Wayne serta Avrim mulai memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Masalahnya jika mereka terlambat sedikit saja, maka mereka akan sampai di perbatasan utama ketika sudah menjelang tengah malam.
Hal itu justru lebih membahayakan lagi bagi Clara.
"Avrim, bagaimana bisa kau punya koneksi khusus dengan wilayah barat?"
"Nona, saya sejak awal memang diperintahkan Tuan untuk mengawasi Nona serta tingkah laku Nona."
"Tuan?"
"Ya. Nanti juga Nona pasti akan bertemu dengan Tuan ketika sudah sampai di perbatasan utama wilayah barat."
"Begitukah... aku masih penasaran. Siapa Tuan yang Avrim bicarakan?"
Mendadak laju kuda berhenti, untung saja Clara memeluk Avrim kuat - kuat sehingga dirinya tak terjatuh dari atas kuda.
"Avrim, mengapa berhenti?"
"Duke Wayne yang mengomandokan saya untuk berhenti, Nona."
Entah mengapa tapi aku mencium bau - bau masalah disini?! Astaga, berapa banyak masalah yang mau Tuhan kirimkan kepadaku?! Aku mulai capek didatangi oleh semua masalah itu, padahal kalau sekedar didatangi cogan sih aku mau...!
Clara jadi lelah sendiri, dia bersiaga dengan memegang gagang pedang miliknya. Jaga - jaga kalau Duke Wayne membangunkan musuh.
Di sisi lain Avrim mengeratkan pegangannya pada tali kuda. Kalau musuh datang, dia akan memacu kuda secepat mungkin.
SREK SREK
Duke Wayne mengangkat tangannya tinggi, dia memberi kode kepada Avrim untuk menurunkan Clara atau kalau mau lebih aman mengambil langkah mundur secara perlahan.
"Aku akan turun Avrim. Kalau mereka dibiarkan begitu saja maka perjalanan kita untuk sampai Hortensia akan terhambat. Habisi musuh atau dihabisi musuh? Intinya aku tak mau mati!"
"Avrim, kau bawa sekalian kuda milikku dan pergilah sejauh mungkin sampai mereka tak menyadari keberadaanmu. Aku akan membantu anak payah ini bertarung." Ujar Duke Wayne.
Duke Wayne menyerahkan tali kekang kudanya pada Avrim. Dan sesuai perintah, Avrim memacu kedua itu agar pergi secepat dan sejauh mungkin darisana.
Dia sendiri percaya akan kemampuan kedua orang itu. Duke Wayne yang memang adalah 'Master Pedang' sementara di sampingnya ada seorang gadis berstatus 'senjata' lawan.
Lebih baik saya menunggu mereka di perbatasan utama. Hortensia akan sulit dijangkau Nona jika tanpa adanya saya.
Jauh di belakang, Clara serta Duke Wayne yang sudah bersiap dengan pedang masing - masing menunggu musuh keluar dari sangkarnya.
SREK
__ADS_1
SRING TRANG
Satu orang keluar dari tempat persembunyian, dan dalam sekali tebasan Clara mampu memenggal kepala orang itu dengan mudah. Mata safirnya yang indah mulai memancarkan hasrat untuk membunuh.
"Hei, tahan dirimu. Jika kau kehilangan akal disini, mereka akan semakin membenarkan rumor yang ada." Pesan Duke Wayne.
"Saya tahu..."
Setelah pertukaran singkat barusan, muncul prajurit dengan senjata lengkap. Mereka, yang berjumlah sekitar 20 orang mengepung Clara serta Duke Wayne.
SRING
Duke Wayne mengacungkan senjatanya kearah para prajurit tersebut, "Sudah lama rasanya aku tidak memegang senjata tajam. Mungkin terakhir kali ketika enam tahun yang lalu."
Apa tua bangka ini membicarakan tentang pembantaian hari itu? Huh! Aku sudah tidak peduli lagi.
Satu prajurit berlari kearah Duke Wayne sambil mengarahkan pedangnya. Ketika sudah dekat, Duke Wayne menepis serangan itu dengan mudah menggunakan pedangnya.
"Rasanya aku memang sudah terlalu tua untuk memegang pedang." Duke Wayne meringis pelan, dia menyadari kalau badannya agak kaku setelah gerakan dadak barusan.
Tak jauh dari sana, Clara disibukkan dengan sepuluh prajurit sisanya. Dia dengan sangat fokus memberikan mereka serangan demi serangan. Beberapa kali ia juga harus bertahan, dia masih mempunyai celah.
STAB
"Guh...!"
Salah satu prajurit berhasil menusuk bahu kanan Clara dengan pedangnya, dan itu tertancap cukup dalam disana. Alhasil Clara merunduk kesakitan sambil mencengkeram bagian lukanya dengan kuat.
Untung saja kalau dalam pertarungan, Clara Scoleths ini seorang kidal!
Clara kini memegang pedang berukir mawar itu di tangan kirinya. Mengabaikan rasa sakit di bahunya ia menyerang dan membantai satu demi satu pasukan lawan.
"AKHH!!!"
Dengan arah lurus, Clara berhasil menusukkan pedangnya ke mata kanan seorang prajurit. Mengambil kesempatan itu, Clara menendang bagian perut lawannya dengan kencang sampai prajurit itu terseret lima meter dari posisi awalnya.
BUAGH
Guh...! Meskipun bisa bertarung menggunakan tangan kiri. Namun rasa sakit yang ingin kuabaikan ini malah semakin menjadi. Rasanya ingin membuang lukaku saja biar sekalian!
KRAS
"Ng...!"
Clara mengambil kembali pedang yang masih menusuk di bahu kanannya barusan. Memang tidak bisa meredakan sakit, tapi setidaknya itu tak menjadi penghambat Clara saat bertarung.
Duke Wayne baru melumpuhkan lima dari sepuluh prajurit yang dihadapinya. Ternyata, Duke Wayne sendiri dibuat kewalahan oleh mereka.
"Mereka sangat serius membunuh gadis itu. Bahkan para bangsawan mengirimkan prajurit terbaik mereka." Lirih Duke Wayne.
SRAK
Ketika Duke Wayne melihat kebawah kakinya, ada sebuah kepala tak berbadan lagi disana. Lalu ia menghadap ke arah Clara sekejap mata dan melanjutkan pertarungannya.
Heh... nampaknya senjata Freesia sangatlah berbahaya. Jika saja gadis ini terus diasah di tempat itu maka... 'Guru', prediksimu benar tentang senjata itu!
...****...
TES TES
__ADS_1
Pedang Clara yang awalnya putih sudah dilumuri oleh merahnya darah. Tangan kanannya yang sudah kehilangan fungsi ia balut dengan kain dari robekan pakaiannya.
"Mau sampai kapan kau mengurus luka itu? Kita sudah membuang 30 detik dengan sia - sia."
Duke Wayneー yang hanya mendapatkan sedikit lecet sajaー mencemooh Clara yang punya luka besar di bahu kanannya. Duke Wayne berasumsi jika selain luka tusuk, itu juga adalah luka robek.
"Sabarlah! Saya hanya sudah lama tidak memegang pedang ini, jadi... mungkin saya masih kaku ketika menggunakannya lagi."
Clara masih membalut lukanya, ia mengikatnya dengan kuat agar tidak mengeluarkan banyak darah. Ini juga berupaya untuk menghilangkan sedikit dari rasa sakitnya.
"Bukankah kau pernah berduel dengan Hendrick? Apakah itu belum cukup?"
"Kalau hanya sekali ya.. mana bisa."
SRAK
Ahー!
SRING STAB
Seseorang keluar dari semak - semak dengan cepat dan tiba - tiba. Duke Wayne bahkan telat bereaksi, Clara juga agak lambat dan tidak sempat mengambil pedangnya.
Orang itu menusukkan pisau dengan cepat dan menggunakan seluruh tenaganya. Clara hanya menggunakan telapak tangan kirinya sebagai perisai. Akhirnya, telapak tangan Clara ditembus dengan mudah oleh pisau tajam tersebut.
"Argh..." Clara meringis secara tertahan, dia hampir tidak bisa merasakan tangannya sama sekali.
Saat ia mengambil langkah mundur berpura - pura merasa kesakitan. Itu adalah kesempatan yang diberikan Clara untuk membiarkan Duke Wayne menyerang.
JLEB
Langsung saja, setelah Clara mundur ke belakang. Duke Wayne menusuk tepat di jantung orang itu, dan tanpa ampun mengoyaknya agar ia segera kehilangan banyak darah dan mati.
"G..guh...!"
BRUK
Duke Wayne mencabut pedangnya kembali, tubuh orang itu terjatuh ke tanah dengan keras. Clara langsung mendekati Duke Wayne dan memintanya mengambil pisau yang tertancap pada telapak tangan kirinya.
Setelah dibuang, Duke Wayne membalut luka Claraー tentu saja pembalut luka dari pakaian milik Clara sendiri. "Hei, bagaimana bisa kau melupakan satu orang?! Inilah yang terjadi jika kau bersikap lengah."
"Maaf."
"Huft, sudahlah..."
"Kita akan menyusul Avrim bukan, sekarang?"
"Bukan, tapi tahun depan! Ya sekaranglah! Cepat bangun dan pergi sebelum tengah malam datang padamu."
"Saya tahu Duke."
"Perbatasan utama sudah tidak jauh dari sini. Berjalan kaki juga sampai setengah jam disana."
"Hmm... iya."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1