
"Dia akan kembali. Pasti." Tegas Hendrick.
Pria dengan jubah putih itu hanya mengulum senyumnya. Kepercayaan adalah sesuatu yang langka. Apalagi itu keluar dari mulut seorang Hendrick yang pada dasarnya menganggap Frederick adalah orang yang payah.
"Oh? Apakah kau percaya pada Ayahmu sedemikian rupa?"
"Tentu saja. Dia ayahku."
Sekali lagi Hendrick mengatakannya. Kali ini dengan nada yang begitu tegas. Mungkin jika pak tua itu mendengarnya berkata begini, Hendrick akan merasa malu seumur hidupnya.
"Bukankah kau selalu berfikir dia orang yang buruk?" Pria itu kembali bertanya.
Hendrick tersenyum miring, "Aku bilang dia orang yang payah dan menyebalkan. Tapi tak pernah sekalipun aku bilang dia orang tua yang buruk."
Pria itu tertegun. Begitu juga dengan tiga orang lainnya yang berada di dalam aula. Mendengar Hendrick membela ayahnya, ini adalah satu fenomena besar.
Count mengernyit. Hubungannya dengan Raģe tidak pernah seburuk Frederick dan Hendrick. Walaupun tentu saja, mereka pernah debat karena berselisih paham. Namun keluarga Wayne punya latar belakang cukup rumit hingga berpengaruh pada kedekatan setiap anggotanya.
Baru kali ini Hendrick berkata secara terang - terangan mengenai apa yang ia rasakan terhadap ayahnya itu.
Hening menyelimuti ruangan besar itu. Tatapan Hendrick menangkap sehelai benda kecil yang seolah turun dari atas, mendarat tepat di pundak kirinya. Hendrick mengambil benda itu dan terkejut saat melihatnya.
"Apakah krisan yang ini bisa digunakan sebagai pertanda kematian?"
Hendrick menatap datar ayahnya yang sedang memegang bunga krisan berwarna putih.
"Jika itu krisan merah muda atau ungu maka kau bisa menggunakannya. Tapi kalau krisan putih... kau sedang melawak padaku? Bahasa bunga keduanya sangatlah berbeda."
"Memangnya apa arti krisan putih?"
"Kejujuran dan kesetian." Jawab Hendrick seadanya. "Tetapi... ada satu arti lain lagi selain jujur dan setia."
"Apa itu?"
"Ck! Apakah kau tidak pernah memelajarinya dari gurumu dahulu?" Tanya Hendrick kesal. Namun Frederick tetap setia menunggu jawaban anaknya. Hendrick mendengus, "Bunga itu adalah lambang kesedihan..."
Iris Hendrick membulat sempurna, dia melangkah mundur tanpa disadarinya. Namun Rovers dan yang lainnya sadar akan hal itu. Hendrick mundur perlahan, membalikkan badannya dan mendadak berlari keluar aula. Rovers terkejut, kakinya mengikuti langkah Hendrick dengan segera.
"Woi... ada apa dengan mereka berdua?" Tanya Count Cheltics pada dirinya sendiri.
Pria berjubah putih semakin melebarkan senyumannya. "Mungkin, seseorang telah menyadari sesuatu."
PRANK
__ADS_1
Tatapan Count Cheltics menjadi berang ketika melihat jendela besar di aula dipecahkan begitu saja dan hancur berkeping - keping. Diantaranya melesat sebuah tombak dengan mata runcing yang mendekat kearahnya. Count Cheltics menarik pedangnya dan memotong gagang tombak hanya dalam sekali tebasan.
"Kita lengah. Bala bantuan mereka telah tiba. Pasti yang sekarang mereka lakukan bukanlah sekedar memblokir jalan keluar masuk wilayah Ranunculus." Kata Raja dengan tajam.
Raja menatap Count Cheltics yang masih memegang pedangnya. "Count Cheltics, segera temui Grand Duke Harold dan katakan padanya untuk membentuk formasi A pada para prajurit. Ulur waktu selama mungkin."
Count Cheltics mengangguk dan segera berlari meninggalkan aula. Kini hanya tersisa Raja dan si pria misterius berjubah putih di dalam sana. Raja menghembuskan napas lelah, di tahun jabatannya dia tidak mengira hal ini akan terjadi.
Raja memandang pria berjubah putih itu. "Dan untukmu Tuan, apa yang akan kau lakukan? Jangan terlalu lama berada disini karena aku tak tahu kapan istana ini bisa dirubuhkan. Jadi, segeralah keluar dari sini."
Tanpa memedulikannya lagi, Raja berlari menuju ruang pelatihan. Dia bersyukur bisa mengirim istrinya ke kediaman Wayne dan berlindung disana. Setidaknya, Raja harap kalau Freesia dan Vinca hanya mengepung istana saja.
Pria dengan jubah putih itu masih tidak bergeming. Dia tidak peduli pada serpihan kaca yang berserakan serta lantai putih yang sekarang sudah dipenuhi tanah akibat beberapa guncangan kecil dari musuh, mereka benar - benar serius untuk meratakan negeri ini.
"Padahal ini bukan salah kalian, bukan juga siapapun yang sedang terlibat. Namun kenapa perlu memertaruhkan nyawa demi apa yang bukan perbuatan mereka? Miris sekali."
...❀...
"Hei, apa kau tuli? Kubilang berhenti!" Rovers berteriak seperti orang gila pada Hendrick yang terus berlari menuju keluar istana.
Langkah Rovers juga melambat ketika Hendrick mendadak berhenti berlari dan menatap kosong keluar sana. Rovers menatap keluar istana untuk menemukan apa yang membuyarkan fokus Hendrick.
Betapa mengejutkannya bagi Rovers saat melihat sejumlah besar prajurit dengan perisai memiliki lambang bunga vinca di zirah mereka. Sebagian kecilnya adalah prajurit bersenjata dengan lambang freesia di zirah mereka. Mereka semua bersikap waspada pada sekecil apapun pergerakan.
"Sepertinya penguasa Freesia tidak berhasil dibunuh oleh mereka berdua..." Lirih Hendrick.
Rovers melirik kecil padanya, bisa tertangkap raut wajah rumit Hendrick sekarang ini. Meski Rovers adalah orang yang pandai membaca suasana hati seseorang hanya dengan melihat wajahnya, tapi entah kenapa kelebihannya itu agak tidak mempan bila dihadapkan Hendrick.
"Mereka tidak mati, bukan...?" Suara Hendrick melemah, bibirnya gemetar hebat.
Saat Hendrick mengancam ayahnya sebelum mereka berdua pergi, sejujurnya yang dibicarakan Hendrick bukan hanya untuk Clara tapi ayahnya juga. Tetaplah hidup, itu adalah pesan yang ingin dia sampaikan kepada dua orang itu. Tetapi bagi Hendrick yang membenci suasan melankolis, dia hanya bisa terus memendam segalanya.
Aku benci diriku yang ini.
"Mereka akan hidup. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya dengan tegas pada pria aneh itu?" Kata Rovers sedikit menenangkan. Namun tak ayal, dia sedang merasa sangat gelisah sekarang.
Ketika dirinya berada di Agapanthus, Rovers bertemu seseorang yang murni berdarah Vinca. Mereka bisa mengobrol dengan santai seolah bukanlah musuh. Rovers berfikir jika orang itu sekarang berada di pihak yang mana, kawan atau lawan?
Rovers membisu. Begitu juga dengan Hendrick, pria itu memeras bunga krisan putih yang ada di tangannya. Mungkin benar apa katanya, hanya waktu yang bisa menjawab segala sesuatu itu.
...❀...
"Heh? Valentina?"
__ADS_1
James terkejut melihat sosok Valentina yang sedang berlari kearah dirinya dan Clara. Gadis itu tampak tidak baik - baik saja, gaunnya lusuh dan bahkan bagian bawahnya telah robek akibat ranting kayu.
"Kenapa disini? Bukankah kau bersama Pangeran Mahkota? Kau akan terluka kalau kemari!" Kesal James.
Sebagai orang yang membawa Valentina kesini tanpa izin dari siapapun, James agak was - was kalau Valentina mendapat lecet. Dia malas jika diminta pertanggungjawaban, karena yang memaksanya membawanya adalah Valentina sendiri.
Valentina tampak tak menggubris pertanyaan - pertanyaan yang dilontarkan James. Tatapannya langsung terkunci pada Clara, gadis itu sekarang tampil sangat mengenaskan. Bercak darah dan luka dimana - mana, bahkan wajah cantiknya tampak rusak karena matanya terkoyak.
Valentina menutup mulutnya yang setengah terperangah. Itu menakutkan bagi Valentina yang jika jarinya tertusuk jarum saja berteriak ketakutan, beruntung dia tidak pingsan.
"Clara, kau baik - baik saja?" Tanya Valentina dengan nada hati - hati.
Clara tersenyum lembut, mata kanannya yang masih utuh tampak menyipit. Dia mengangguk demi menjawab pertanyaan Valentina. Entahlah, suaranya terasa tersendat sehingga ia tidak mampu mengatakan apapun.
"Dia itu terluka parah, kau tahu! Pokoknya jangan sampai kau merepotkanku karena aku bukannya pendekar pedang hebat yang mempunyai fokus bercabang." Ancam James, padahal tadinya dia sudah merasa lega karena Valentina bersama Rovers.
Valentina melirik James dengan tajam. Awalnya Valentina juga enggan untuk ikut bersama James sebab dia tahu itu berbahaya dan sangat berisiko kehilangan nyawa. Namun saat dibawa Rovers menuju istana, Valentina yang melihat James ke dalam hutan juga malah tanpa sadar mengikutinya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kalau begitu, aku yang akan melindungi kalian berdua." Ujar Clara menjadi penengah.
James dan Valentina menatap kearahnya. Clara yang sejak tadi hanya diam kini mengangkat suaranya, suara gadis itu tidak terlalu terdengar. Malah seolah seperti sedang berbisik.
"Tidak perlu. Kak Rara jaga saja Valentina."
Valentina mendengus, dia membalikkan badannya dan berjalan memimpin. Namun James merasa heran karena Valentina mendadak menghentikan langkahnya ketika mereka sudah keluar dari hutan itu.
Di kegelapan malam, James dan Clara bisa menangkap siluet seseorang yang menunggangi kuda bersama sejumlah besar pasukan dengan berbagai senjata.
Bunga vinca tercetak jelas di zirah mereka.
James tercekat, dia menarik pergelangan tangan Valentina untuk bersembunyi di balik semak - semak.
"Bala bantuan musuh..."
Valentina nampak shok akan sesuatu, Clara tahu kenapa dia bisa seperti itu. Sosok yang sangat dikenali mereka berada disana, memimpin pasukan Vinca untuk mengepung Ranunculus.
Dialah Edmond Southbayern.
TBC
LIKE + KOMEN
__ADS_1