
Keesokkan harinya, di pagi yang cerah. Clara sudah duduk di ruang makan untuk sarapan, hari ini dia akan sarapan bersama dengan Meiger seperti biasa. Tentunya kali ini agak sedikit berbeda mengingat Avrim sudah pulang.
"Avrim, mana jeruknya?"
"Ini Nona."
Clara menerima jeruk dari tangan Avrim dan segera melahapnya. Hari ini dia akan pergi bersama Kaisar ke Kota, ini tidak bisa disebut kencan. Dan lagi Clara mengatur supaya suasana hatinya tidak melonjak karena kegembiraan. Dia takut akan kecewa lagi seperti yang terakhir kali.
"Clara percepat makanmu, nanti kita kesiangan bagaimana?"
"Baik Yang Mulia!"
...❀...
Di kota, Clara seperti cacing kepanasan. Dia berlari kesana kemari tanpa memikirkan image nya sebagai seorang perempuan yang seharusnya bersikap kalem.
"Yang Mulia, hamba mau makanan hangat!"
"Beli sesukamu."
"Terima kasih banyak!"
Clara segera berlari menuju pedagang yang menjual roti hangat. Melihat bahwa Clara mengambil banyak, Kaisar merogoh sakunya dan memberikan sang penjual roti sekantong uang berisi koin perak.
Penjual itu tentu saja terkejut, bukan hanya kenyataan kalau ada seorang kaisar mampir ke tempat jualannya. Tapi keberadaan gadis muda nan cantik yang berkeliaran di sekitar Kaisar. Ditambah lagi Kaisar membayar 6 roti yang diambil gadis itu dengan sekantung koin perak, itu benar - benar gila. Orang kaya suka sekali membuang - buang uangnya.
Namun sang penjual roti juga tak bisa menolaknya, ini sudah menjadi keuntungannya.
Kemudian Clara lagi - lagi mengunjungi tempat lain. Disana ada makanan manis, tapi belum sampai Clara di depan pedagang itu. Clara merasa jika perutnya sudah dipenuhi makanan sehingga memutuska berhenti menguras kantong Kaisar.
"Yang Mulia, disini apakah ada taman bunga? Kalau mau bersantai, tempat itu adalah yang terbaik."
Meiger mengerutkan keningnya.
"Setiap hari kita melihat taman bunga di halaman istana kekaisaran, tapi aku tak bisa bersantai."
"Tentu saja Yang Mulia! Itu karena saat Yang Mulia masih berada di dalam istana kekaisaran. Mungkin Yang Mulia merasa terbebani dengan tugas - tugas disana. Berbeda lagi kalau di luar, Yang Mulia akan lupa kalau Yang Mulia adalah seorang Kaisar."
"Terdengar seperti bencana bagiku."
Clara mengacuhkan protes Meiger, dia langsung menarik pria itu menuju taman bunga di lapangan dekat sini. Hortensia memang tidak seperti Ranunculus yang di setiap rumahnya wajib memajang bunga, namun tanah Hortensia juga tidak pernah luput dari bunga - bunga yang indah.
Clara berfikir jika penulis novel ini adalah seseorang yang begitu mencintai bunga sehingga nama - nama wilayahnya menggunakan nama bunga. Dalam dunia novel ini juga diisi oleh berbagai macam bunga yang belum pernah Clara jumpai sebelum ia ter-isekai.
"Mawar biru...?"
Clara menghentikan langkahnya ketika mereka berada di depan taman bunga tersebut. Lagi, kali ini Clara menjumpai ribuan mawar biru yang terhampar luas di taman ini. Sejauh mata memandang itu hanya berwarna biru.
"Bagaimana bisa sebanyak ini?"
Meski Clara memang heran dengan jumlah luar biasa mawar biru ini. Namun, pertanyaan terbesar di benaknya sendiri adalah...
__ADS_1
"Yang Mulia, sebentar lagi akan memasuki musim dingin bukan?"
Benar sekali, musim dingin. Itu adalah hal yang mengherankan untuk para bunga mekar, seharusnya mereka sudah layu. Bahkan bunga - bunga di halaman istana kekaisaran saja sudah mulai gugur satu demi satu kelopak hingga batangnya. Tetapi bunga disini?
Seharusnya Clara tidak mengajak Meiger ke tempat ini kalau dia tidak mau merasa terkejut. Bodohnya, Clara malah terpikirkan untuk mengaja Meiger ke taman bunga.
Mendadak aku merasa seperti orang terbodoh sedunia. Semoga saja Yang Mulia tidak menertawakanku...
"Mawar biru di Hortensia sedikit istimewa. Mereka tak akan mati meskipun musim dingin tiba, dan bukan hanya bunga itu saja yang tidak layu dimakan musim. Karena itulah di Hortensia seakan tidak ada musim gugur."
"Hamba paham sih, tetapi tetap saja 'kan kalau ini terasa aneh?" Tanya Clara.
"Menurutku tidak, ini adalah 'biasa' di Hortensia. Penduduk Hortensia justru akan terkejut ketika melihat tanaman yang layu dan gugur ketika musim ini, sebab mereka tidak pernah merasakannya."
Tentu saja, ketika seseorang dari sini pergi keluar dan melihat fenomena dari daun - daun yang menguning kemudian gugur. Kemungkinan besar reaksi mereka adalah terkejut dan keheran. Semua orang dari sini tanpa terkecuali...
Clara memandang Meiger dengan seksama.
"Mungkinkah Yang Mulia pernah keluar dari wilayah Hortensia dan menemukan fakta bahwa wilayah ini punya kondisi khusus dibandingkan wilayah lain?"
"Tentu saja, kalau aku tidak keluar maka aku tidak akan mengetahui dunia luar. Pikiranku akan menjadi sempit dan Hortensia tak akan semakmur sekarang."
Itu tidaklah salah, terlihat sekali bahwa dia begitu adil dan bijaksana. Bahkan dalam novel sekalipun... beginilah Meiger Westhley itu.
CHIRP CHIRP
"...?"
Clara mendongakkan kepalanya memandang keatas pohon rindang, dimana seekor burung kecil bertengger di salah satu batangnya. Tatapan Clara terpaku pada surat yang dilipat dan disematkan di kaki burung tersebut.
"Ah, surat yang kau tunggu - tunggu." Celetuk Meiger.
Burung kecil itu kemudian terbang menuju kearah Clara dan Meiger dan hinggap di bahu Meiger. Karena yang paling dekat dan Clara terlalu pendek, Meiger lah yang mengambil surat di kaki burung kecil itu.
Ia melepaskan talinya dan membuka surat.
...~❁~...
...Clara, apakah kau tidak rindu kepadaku? Kapan kau mau pulang kembali ke Ranunculus? Jangan membuatku menunggu terlalu lama....
...Dan soal diriku yang akan menjadi Duke, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik - baik saja disini karena adik dan kedua orang tuaku akan selalu bersamaku....
...Yang kutunggu hanya satu, kepulanganmu....
^^^Hendrick Wayne.^^^
...~❁~...
Setelah membaca isi suratnya, Meiger menautkan kedua alisnya. Merasa heran sekali karena tulisannya yang terkesan seperti penggoda handal. Meiger tak mau tahu, dia segera memberikan surat tersebut pada Clara.
Apa ini memang benar tulisan dari calon Duke itu?
__ADS_1
Clara menerimanya dan segera membacanya, selesai dia membaca. Clara jadi cekikikan sendiri, dia menggulung surat tersebut dan menyimpannya di sakunya. Melihat tawa dan senyuman itu raut wajah Meiger agak memburuk.
"Yang Mulia, apakah Yang Mulia baik - baik saja? Kalau merasa tidak enak badan lebih baik untuk kita pulang saja."
Clara berjalan memimpin untuk pulang kembali ke istana kekaisaran.
SRET
Sayangnya, bukan itu yang dikehendaki Meiger. Dia menarik pergelangan tangan Clara, mengisyaratkan jika dia belum mau untuk kembali. Dia menggeleng samar dan menarik Clara menuju keluar taman bunga.
"Apa Yang Mulia sudah sehat? Padahal kalau sakit juga bukan masalah besar kok. Kita bisa pulang, hamba sudah merasa puas dengan perjalanan ini."
"Tapi aku belum." Ujar Meiger sesingkat mungkin.
Ini adalah perjalanan dimana Clara lah yang seharusnya menemani Meiger jalan - jalan di kota. Bukannya Meiger yang menemani Clara. Karena Meiger belum puas pada perjalanannya, maka dia akan menyeret kemana pun dirinya ingin pergi.
Mereka pergi dari taman, tak menyadari keberadaan seseorang dengan gaun ungu- nya. Dia mencengkeram gaunnya dengan erat, menahan rasa perih dalam hatinya. Bahkan dia sudah menangis setelah melihat pemandangan kedua sejoli yang tampak begitu bahagia.
Kemudian dia terisak pelan.
"Jadi, aku harus mundur bahkan sebelum melakukan apa - apa? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Ini terlampau kejam bagiku..."
...❀...
"Aku ingin berbicara denganmu mengenai duel mu dan Jean kemarin. Seharusnya kau sekarang paham mengapa kau bisa menang saat berduel dengan Hendrick Wayne."
Di perjalanan pulang, Meiger membuka topik pembicaraan diantara dia dan senjata kacau itu. Clara yang sadar tersentak pelan dan mengerutkan keningnya, berfikir keras.
"Apakah pada awalnya hamba melemahkan Tuan Hendrick dengan sihir hitam. Lalu setelah lawan benar - benar lemah, hamba menyerangnya? Kasusnya memang sama seperti saat hamba berduel dengan Jean."
Meiger melipat kedua tangannya di depan dada, menengok ke sampingnya dan mendengus pelan. "Jujur saja, kalau mau dikatakan itu salahmu memang benar. Apalagi di duel mu yang satu ini pedang itu agak tak terkendali."
"Yang Mulia, benarkah yang diserap oleh pedang hamba tidak lain tidak bukan ialah sihir hitam?"
Inilah yang sejak lama dipikirkan oleh Clara. Jika memang tugasnya adalah menyerap sihir hitam, dan saat itu pedang miliknya melakukan sama persis seperti tugasnya. Lantas mengapa Meiger yang tahu tentang kondisi sihir hitam dan tugas Clara ini malah menghentikannya?
"Itu benar."
Apa?! Kalau begitu tidak perlu dihentikan bukan?
Terdengar ******* pelan keluar dari mulut Meiger.
"Apakah kau tahu seberapa besar kapasitas sihir hitam yang bisa kau tampung? Jika kau ceroboh dan menyerap sihir hitam tanpa tahu batasanmu maka akhir hidupmu akan sama seperti dia."
Dia? Ah! Lyserith... 'kan? Dan ini juga yang menjadi alasan Claire membunuh Clara Scoleths asli. Sekarang semuanya menjadi masuk akal. Bahkan tentang Kaisar Siegward yang menciptakan Claire dalam diriku. Dia ingin aku bisa menyimpan lebih banyak sihir hitam dari yang seharusnya.
Clara terdiam cukup lama, tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua. Clara mengintip keluar dimana hari sudah semakin petang, mereka terlalu lama bermain - main. Meski hari ini menyenangkan, namun ada satu hal yang mengganjal dalam hati Clara.
Setelah aku diculik Duke Wayne, apa benar kalau Freesia tidak membuat senjata baru? Aku ragu mereka tidak membuatnya...
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~