The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 61 - Pergi Ke Wilayah Utara


__ADS_3

"Hellen, kau pasti menulis yang aneh - aneh."


Hendrick menegur adiknya, padahal dia tahu kalau kemungkinan terburuk itu bisa saja terjadi. Akan tetapi Hendrick malah membiarkan adiknya yang menulis surat. Dan saat Hendrick mengetahui bahwa surat tersebut telah sampai pada Clara. Ia baru merasa ragu akan apa yang tertulis disana.


Hellen membuang muka, "Kakak sendiri yang mengizinkanku menulis suratnya atas nama Kakak. Jadi tidak ada masalah~"


PLAK


Hendrick menepuk dahinya. Dia sudah dilanda kelelahan dan sekarang malah dipusingkan dengan masalah adiknya. Hendrick sangat pusing, bahkan sebelum dirinya dingkat menjadi Duke. Mungkin Hendrick akan mengajukan laporan pada ayahnya bahwa hari dimana ia diangkat menjadi Duke perlu dimundurkan.


"Tamatlah riwayatku..."


Hellen menatap risau kakaknya, dia hanya bisa berharap agar tidak mengacaukan keadaan. Dia kemudian menepuk pundak kakaknya perlahan, memberikan semangat kepadanya.


"Tapi tenang saja Kakak, cintamu padanya tersampaikan lewat diriku ini." Ujar Hellen dengan bangganya.


"Eh? Maksud- APA?!"


...❀...


"Hatsyuu!"


Clara menggosok - gosok hidungnya yang gatal, lalu menggerutu.


"Siapa sih orang yang suka membicarakanku?! Benar - benar menyebalkan, jadinya aku bersin terus kan!"


Clara menjadi percaya diri kalau ada orang yang membicarakannya. Jean dan Avrim yang sudah khatam akan perilaku nyeleneh Clara hanya mengabaikannya saja. Kalau diladeni maka akan semakin menjadi.


Mereka saat ini sedang beristirahat di tengah hutan, semua ini bisa terjadi karena Clara yang kerjanya hanya menumpang saja mengeluh akan kelelahan. Ditambah dengan rengekan jika cacing di perutnya sudah meronta - ronta, maka Avrim memutuskan menghentikan perjalanan dan istirahat.


Dia mengupas buah apel kesukaan Clara yang sempat dia bawa dari istana kekaisaran. Jean yang gabut memilih menatap api unggun buatannya, jaga - jaga apabila angin memadamkannya.


"Nee... Avrim."


"Iya? Kenapa Nona?"


"Aku hanya ingin bertanya, apakah Raja Freesia tidak memiliki anak?"


"Dia punya Nona, dua orang putri."

__ADS_1


"Ouh... jadi dia tidak mempunyai anak lelaki?"


"Dia tak memilikinya Nona."


"Lalu, bagaimana dengan pewaris tahta? Apakah itu ditentukan melalui kemapaman menantunya dan akan menjadikan salah satu dari mereka sebagai penguasa."


"Entahlah Nona, siapa yang tahu."


Tapi kalau tidak salah ML dari Freesia itu seorang pangeran... apa aku salah ingat? Atau memang sudah melupakan sesuatu lagi? Haduh... ada - ada saja.


Clara menggerutu dalam hatinya, merutuki kebiasaan buruknya yang selalu saja melupakan hal - hal penting. Bahkan Avrim saja sudah bisa menebak kalau nona mudanya ini punya penyakit pikun yang akut. Padahal dirinya masih muda, bagaimana bisa Clara melupakan begitu cepat?


Mereka menghabiskan makanan sesegera mungkin dan melanjutkan perjalan kembali. Jean juga telah mematikan api unggun. Anehnya, Clara merasa Jean sedikit banyak diam daripada biasanya. Seperti bukan Jean saja. Clara ingat jika terakhir kali Jean begini adalah ketika mereka menonton teater.


Mungkinkah ada sesuatu yang mengganggunya?


Clara tidak melakukan apapun agar Jean kembali seperti semula, Jean mungkin membutuhkan waktu sendiri nya. Karena hari sudah semakin larut, Avrim dan Jean memacu kedua kuda mereka masing - masing dengan lebih cepat. Akibatnya, Clara memeluk Avrim kuat - kuat dari belakang supaya tidak jatuh.


"Mengapa mereka sangat terburu - buru?" Ucap Clara dengan nada lirih.


"Kau harus bisa kembali paling lambat sebulan setelahnya."


Sebenarnya cukup sulit untuk menemukan tempat bagi mereka disana. Sebab Freesia sendiri sedang dalam masa - masa sulitnya, Ranunculus adalah musuh tidak peduli apa kata orang lain. Freesia sudah mengetatkan pertahanan di wilayahnya, dan itu bukanlah perkara main - main. Raja Freesia selalu serius dalam ucapannya.


Clara sedang berfikir bagaimana cara mereka bisa masuk ke dalam sedangkan pertahanan Freesia sedang ketat - ketatnya. Ini sama saja masuk ke kandang buaya kemudian kau terjebak di dalamnya jika kau ketahuan menyusup ke dalam wilayah mereka.


Wilayah Utara semakin lama semakin tertutup akses masuknya. Yang kudengar dari Duke Wayne, awalnya Freesia tidak semenyebalkan ini. Lantas apa yang membuat mereka menjadi begini? Villain utama saja tidak sekejam mereka- jujur saja Clara Scoleths di ending novel sangatlah mengerikan.


Jadi... aku ini dari Hortensia lalu baru ke Freesia? Jadi pertanyaanku adalah... bagaimana bisa Freesia mengambilku dari tangan Hortensia?


SYUT!


"Huh?"


Nyatanya Clara sudah melamun sangat lama, dia baru sadar ketika anak panah dilesatkan menuju seekor binatang buas. Tentu saja asal anak panah itu ialah Jean. Matanya sudah lebih 'hidup' dari pada yang barusan.


Pantas saja Clara merasa jika kuda yang ia tunggangi agak melambat kecepatannya. Ternyata mereka menghadapi binatang buas toh. Yah, memang hanya ada satu, tapi tetap saja buas adalah buas.


"Apakah serigala nya sudah menjadi mayat?" Clara bertanya pada Avrim.

__ADS_1


"Iya Nona. Kita sudah bisa melanjutkan perjalanan lagi."


Aku melamun dan tidak sadar telah banyak melewatkan adegan seru.


Tatapan Clara begitu intens pada Jean.


Aku ingin tahu, sekeren apa dia saat bertarung? Apakah dia takkan terlihat seperti kacung nya Yang Mulia lagi?


Lagi - lagi pemikiran Clara begitu luar biasa. Dia masih bisa bersantai dan membuat lelucon di kala mereka tengah menuju ke sarang musuh. Pastinya Clara akan mati gaya ketika sudah dihadapkan dengan senjata kedua, penggantinya itu.


Clara mengeratkan pelukannya ketika kecepatan kuda semakin bertambah. Jujur saja, ada dua hal yang begitu ditakuti Clara di dunia ini. Satu ketinggian, dan satunya lagi adalah kecepatan.


Reaksi alami yang bisa Clara dapatkan setelah melalui salah satu atau kedua diantara mereka adalah muntah. Entahlah, mungkin karena keduanya selalu bisa mengoyak - oyak isi perut Clara.


Mendadak Clara mengeluh karena dia malah makan saat istirahat barusan.


Segera, Clara akan menjadi tumbal di perjalana kali ini.


"Avrim, menurutmu apa makanan favoritku?" Clara bertanya asal supaya bisa mengurangi kesunyian malam ini.


"Semua makanan manis."


"Woah! Kau benar - benar hebat, bisa tahu bahkan sampai sejauh itu!"


"Saya telah bersama Nona selama lebih dari 6 tahun. Apakan Nona sedang melawak sekarang?"


"Ehehehe..." Clara malah tertawa dengan cara yang aneh, lebih ke menjijikkan?


Jean memperhatikan perbincangan antara Clara dan Avrim. Jean menjadi makin takut sekarang, bagaimana caranya memberi tahukan Clara mengenai kondisi Avrim yang sebenarnya?


Bisakah semuanya menjadi baik - baik saja?


Sunggu ironis.


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2