
Bagaimana caraku untuk kabur saat ini?!
"Clara, menurutmu apa alasanku membenci Scoleths?" Tanya Meiger.
Saat ini mata ruby miliknya memandang mata safir Clara yang begitu indah. Sebuah warna yang biasanya dilahirkan dari darah murni Westhley.
Tapi kali ini kondisinya terbalik, Meiger yang darah murni malah bermata ruby. Sedangkan Clara yang tidak ada sangkut pautnya dengan Westhley punya iris safir.
"Hamba tidak tahu menahu tentang itu, Yang Mulia..."
Clara sebisa mungkin menghindari mata ruby Meiger. Ia ingat kalau mata itulah yang menjadi senjata pamungkas milik Grein dalam novel. Mengendalikan semua pasukan hanya dengan kata - katanya, kekuatan mata ruby sangatlah mengerikan.
"Begitu..."
Glek! Mampus kau Clara! Kalau begini maka habis sudah dirimu! Hiks... rasanya mau pergi saja dan kembali pulang ke duniaku...
Clara diam - diam mempererat cengkeramannya pada buku itu. Sementara Meiger hanya sekedar menyentuhnya saja. Mungkin saat ini Meiger masih dalam tahap pengancaman.
Karena pandangan Clara menatap ke arah lain. Dia tidak sadar ketika wajah Meiger semakin lama semakin dekat. Sekalinya mencuri lihat, mata safir miliknya bertemu dengan mata ruby milik Meiger.
Clara rasanya ingin berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokannya hingga ia hanya mampu terdiam di tempatnya saja. Clara juga tanpa sadar melonggarkan pegangannya pada buku itu.
TAP
Karena gerakan mendekat itu, kening Meiger dan Clara saat ini sudah bersentuhan. Hal ini membuat Clara jadi lebih gugup dibandingkan sebelumnya.
Masalahnya adalah... aku bahkan belum pernah mesra - mesraan dengan pacarku di duniaku! Bahkan sampai kami putus sekalipun tidak ada adegan sentuh menyentuh selain pegangan tangan.
Dengan jantung yang berdegup kencang serta wajahnya yang sudah semerah tomat. Merasa tak kuasa lagi dengan semua pesona Meiger. Clara memutuskan menutup matanya supaya pandangan mereka tak bertemu
"Hee... sangat tidak seru jika kau menutup matamu..." Meiger berkomentar dengan suara pelan. Dan karena Meiger bicara barusan, Clara tahu pasti bahwa mereka sudah tak memiliki jarak bahkan tanpa dia melihatnya sekalipun.
Gawatnya! Mengapa tubuhku beku begini sih?!
Di detik berikutnya, sebuah jari menyentuh bibir Clara dan mengusapnya dengan lembut. Dan tak lama ada tekanan lainnya diatas jari tersebut. Tapi sialnya Clara, Meiger menyingkirkan jarinya untuk menangkup wajah Clara dengan keseluruhan jarinya.
Alhasil karena tak ada halangan lagi, Meiger memilih menyentuh bibir Clara langsung dengan bibirnya. Yah, mungkin dia memang benci yang namanya basa - basi.
Sementara saat ini Clara benar - benar sudah menggila dan hanya bisa pasrah saja. Pegangan pada bukunya juga sudah melonggar lagi. Clara tidak tahu harus melakukan apa di saat krusial begini. Pikirannya mendadak kosong dan hanya fokus pada sesuatu yang menyentuh bibirnya saja.
[Master.]
Huh? Suara ini-
[Cepat lepaskan diri darinya!!!]
Terdorong karena kata - kata tersebut, Clara menjauhkan Meiger darinya dan melepaskan tautan bibir mereka. Dia kembali mengeratkan pegangannya pada buku tersebut.
Clara yang kehabisan napas terlihat terengah - engah. Wajahnya penuh keringat dingin disertai rona merah di pipinya. Dia menutup bibirnya sendiri karena terlalu malu.
Di depannya, Meiger mengerutkan keningnya tidak senang.
KREK
Pintu perpustakaan yang sebelumnya tertutup rapat kini terbuka. Mengindikasikan bahwa ada seseorang yang membukanya.
__ADS_1
DUK
Clara terduduk lemas, masih dengan menutup setengah bagian wajahnya. Ia merasa lega tanpa sebuah alasan ketika seseorang mendatangi perpustakaan juga. Namun dia khawatir dengan alasan yang sama juga.
"Apakah Nona disini?"
I..itu Jean!
...❀...
Jean duduk bersandar pada sofa, dia masih berada di kamar Clara. Sebab ia agak malas untuk berjalan kembali ke kamarnya. Terlebih lagi, Clara tidak ada masalah jika Jean berada disini lebih lama.
Tabiat aneh Clara memang sudah diketahui betul oleh Jean dan mungkin juga Nero.
Juga, hidup Jean menjadi lebih 'ramai' karena kehadiran Clara. Sekalinya Clara pergi, Jean akan langsung merasa kesepian. Sebab itu dia memutuskan untuk menyusul Clara ke perpustakaan. Dia terlalu gatal untuk tetap diam.
Setibanya di depan pintu perpustakaan, Jean membuka pintu besar itu perlahan agar tidak mengganggu Clara apabila nonanya sedang membaca.
DUK
"Hm... sepertinya ada yang jatuh, suaranya dari dalam." Gumam Jean.
"Apakah Nona disini?" Jean bertanya dengan suara nyaring setelah mendengar bunyi keras tersebut.
Setelah Jean memasuki perpustakaan, dia sangat terkejut dan berharap waktu bisa diputar kembali agar ia membiarkan dirinya terus merasa kesepian.
Jean tidak begitu berani untuk menginterupsi kegiatan 'tak diketahui' dari kedua orang di dalam perpustakaan. Jean juga masih ingin hidup dibandingkan bertanya 'apa yang terjadi disini'.
Saat ini Jean merasa canggung untuk bergerak meski hanya sedikit. Dia pikir akan gawat nasib nya nanti kalau Jean memilih mendekati mereka ataupun mundur seolah tak ada apa - apa.
Simalakama. Apapun yang Jean lakukan saat ini maka nyawanya bisa melayang kapan saja.
Meiger yang fokus pada kedatangan Jean tidak sadar kalau Clara sedikit melirik padanya. Dengan mata yang bergetar serta hatinya yang nyaris mengalami ledakan.
Kenapa dia menciumku? Tanpa alasan juga...
NYUT
Kepalaku sakit lagi, hari ini bukanlah hari keberuntunganku.
"Jean, antarkan Clara kembali ke kamarnya. Nampaknya dia tidak enak badan."
Meiger akhirnya buka suara, namun dia tidak menyinggung apa yang baru saja ia lakukan. Baginya, tetap diam adalah pilihan terbagus sekarang ini. Meski ia menyadari kalau Jean mungkin menduga - duga tentang mereka.
"Baiklah, Yang Mulia."
Setelah lama diam, akhirnya Jean memberanikan diri untuk mendekati mereka walaupun harus diinstruksikan terlebih dulu oleh Meiger. Jean mendekati Clara yang terduduk di lantai perpustakaan.
"Nona, seharusnya Nona tidak duduk disini. Ayo bangun dan kembali ke kamar."
"Hm..." Clara mendengung pelan untuk mengiyakan. Rasa sakit di kepalanya tidak bisa diabaikan sama sekali.
Karena Clara yang tak kunjung berdiri, Jean memutuskan untuk menggendong Clara di punggungnya. Tangan Clara dibiarkan melingkar di leher Jean sambil memegang sebuah buku.
"Maaf merepotkanmu Jean." Ucap Clara dengan suara lirih.
__ADS_1
"Tidak masalah Nona, ini memang sudah menjadi tugas saya."
Di ujung penglihatannya, Clara bisa melihat bahwa Meiger sudah tidak berada di samping dia dan Jean. Melainkan memasuki sebuah pintu yang langsung menembus ke ruang kerja miliknya. Sekarang Clara tidak merasa aneh lagi kalau Meiger sering datang tiba - tiba dan pergi secara spontan juga.
"Jean, mengapa Yang Mulia memutuskan membuat pintu ajaib itu?"
"Hng? Ahaha... itu sama sekali bukan pintu ajaib Nona. Sejak awal Yang Mulia sengaja untuk menjadikan ruang kosong itu menjadi ruang kerja miliknya."
"Begitu. Jadi, awalnya sebelum menjadi ruang kerja itu hanya ruangan kosong. Apa fungsi ruangan itu sebelum Yang Mulia memutuskan mengosongkannya...?"
"Saya juga kurang tahu Nona. Lagipula saya baru berada disini selama sembilan tahun lebih. Itu masih terhitung baru jika dibandingkan dengan penghuni istana kekaisaran lainnya."
"Mungkin aku bisa bertanya pada Avrim."
"Eh? No..nona, Bibi Avrim juga pasti tidak tahu..."
"Begitukah..."
TUK
"Nn? Nona?"
Jean merasakan ada sesuatu yang membebani pundaknya. Dan itu ternyata adalah kepala Clara. Jean hanya menatap wajah Clara yang nampak begitu sejuk saat tidur. Dan merasa aneh ketika buku yang dipegang Clara tidak jatuh walaupun si pemegang sudah terlelap.
Jean menautkan alisnya bingung, saat wajah teduh Clara menyiratkan kesakitan. Bahkan keringat dingin sudah menjalar di tubuh mungil gadis itu.
"Nona...."
"...Maafkan saya karena sudah berbohong."
...❀...
"Dasar anak tidak tahu diri! Untuk apa kau dekat - dekat bahkan sampai berteman dengan bocah terkutuk itu! Apa kau meninggalkan Ibu demi dia?!"
"Pekerjaan ini bukan hal yang mudah. Aku sudah memperingatkan dirimu tentang ini."
"Nampaknya kau terlalu baik kepadaku Nona Muda. Kau tahu? Orang - orang akan memanfaatkan kebaikanmu ini loh~"
"Maafkan aku karena melibatkan dirimu dalam masalah ini, L****."
DEG
"Apakah itu adalah namaku? Gawat sekali, karena terlalu lama berperan sebagai Clara Scoleths. Aku nyaris melupakan jadi diriku sebenarnya."
Clara terduduk di kasurnya dengan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Kemudian memandang ke kirinya dimana ada sebuah meja disana. Dan diatas meja itu ada jepit giok yang indah, yang telah diberikan seseorang kepadanya.
"....."
Clara mengambil jepit giok itu, menatapnya dalam - dalam. Mengelusnya perlahan kemudian memeluknya erat. Melampiaskan seluruh perasaan campur aduk ini. Mata Clara terpejam, ia berkata dengan sendu.
"Haruskah aku menulis surat kepadanya?"
TBC
Yah, maafkan author kalau ceritanya menjadi semakin rumit dan mungkin bagi beberapa dari kalian ini membosankan. Tapi percayalah, bukan tanpa alasan author membuatnya begini. Jadi jangan bosan untuk menunggu >_<
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~