TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Aku memutuskan tetap pergi ke butik setiap pagi setelah kunjungan makan malam ke rumah tuan Arga kemarin, aku selalu pulang lebih awal agar menjaga tubuhku tidak terlalu lelah, aku harus menjaga stamina dan menghemat energi setiap harinya.


Tadi siang tuan Joe mengirimkan sebuah pesan padaku melalui aplikasi hijau, dia memberitahuku kalau nanti malam tuan Arga akan datang berkunjung ke rumah, membahas pernikahan yang akan segera kami langsungkan.


Aku memberitahukan kabar ini pada orang rumah, tentu saja ayah dan ibu sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini, kami semua menyiapkan makan malam seperti yang pernah kami lakukan sebelumnya, tapi sepertinya Safira tidak pernah menerima keputusan ini, dia berpikir dia lebih pantas untuk bersanding dengan tuan Arga di pelaminan.


Hampir setiap hari Safira merengek kepada ayah dan ibu, membandingkan kecantikannya denganku, dia memang lebih segalanya dibandingkan diriku, lebih cantik, menarik, cerdas, berpendidikan tinggi, dan dia juga lihai berhias diri dengan memakai baju-baju modern, mewarnai rambutnya sesuai keinginannya.


"Saa, apakah tuan Joe sudah memberi kabar jam berapa dia akan datang? Ayah sudah menunggunya diruang tamu bersama Safira." Suara ibu saat memasuki kamarku.


"Tidak bu, dia hanya berkata akan datang malam ini."


"Baiklah, ayo turun, mungkin mereka sebentar lagi akan sampai."


"Baik, Bu."


Aku bergegas turun dari tempat tidur dan mengekori langkah ibu menuju ruang tamu, menunggu tamu kebesaran yang akan datang.


Saat aku dan ibu menuruni anak tangga terakhir, ternyata aku sudah melihat mereka duduk di sofa ruang tamu bersama ayah dan Safira, sepertinya obrolan hangat sudah terjadi.


Safira berdandan sangat cantik malam ini, dia memakai dress mini dengan panjang yang hanya diatas lutut sampai terlihat kulit putih mulusnya, wajahnya full make up tipis tapi terlihat mempesona, rambutnya digerai lurus sepinggang dengan jepit bunga kecil di letakkan dibagian atas rambutnya.


Aku menyadari, bahwa dia sedang berusaha menarik perhatian tuan Arga. sedangkan aku hanya berdandan alakadarnya, sesuai kemampuanku saja, aku tidak terlalu suka tampil berlebihan.


"Tuan sudah datang rupanya, mari kita makan malam terlebih dahulu." Ibu mempersilahkan kami semua berpindah ke ruang makan keluarga.


"Terimakasih banyak," sahut tuan Joe dengan senyuman khasnya.


Kami duduk melingkari meja makan, seharusnya ibu memberikanku tempat duduk tepat di sebelah tuan Arga, tapi Safira merebutnya, aku mengalah.


"Safira, tidak baik seperti itu, Nak!" ucap ayah sambil menatap tajam Safira.


"Memangnya kenapa yah? Safira pengen duduk disini," jawab Safira tidak peduli.


"Biarkan kakakmu duduk sebelah sana." Ayah mengucap dengan nada lembut.


"Tidak mau! Fira mau disini."


"Tidak apa-apa, Yah, Sabrina disini saja." Aku duduk di sebelah ibu.

__ADS_1


Ayah sepertinya agak kesal, mungkin ada rasa takut atau tidak enak terhadap tuan Arga atas sikap Safira kali ini.


Makan malam dilakukan dengan tenang tanpa obrolan basa-basi, hanya suara sendok garpu yang beradu dengan piring yang terdengar, aku sempat beberapa kali tidak sengaja memergoki tuan Arga memperhatikanku dengan tatapan mencurigakan.


Apa ada yang salah dengan penampilanku, apa rambutku kurang rapi ya, kenapa dia lihatnya begitu sih, aku kan malu.


...


Usai acara makan selesai, kami semua berpindah duduk di ruang tamu, hanya bi Ijah yang sibuk membersihkan piring kotor dan meja ruang makan sendirian.


"Nona Sabrina, pernikahan akan dilangsungkan lusa, di gedung XXX di tengah kota." Tuan Joe memulai percakapan.


"Secepat itukah?" aku bertanya lirih.


"Tentu saja, lebih cepat lebih baik." Tuan Arga menimpali.


"Bagaimana bisa kalian menikah tanpa cinta?" tiba-tiba Safira bertanya dengan suara lantang.


"Safira!" suara ayah tidak kalah tinggi.


"Kenapa ayah? bukankah Safira lebih cantik dari kak Sabrina? kenapa dia yang dijodohkan?" Safira mulai hilang kendali.


"Cukup, Bu, kalian memang selalu menomersatukan kakak, kalian seperti menganggap Safira ini anak tiri!"


"Safira, hentikan!" ayah berdiri dan menatap dengan mata yang sudah memerah karena amarah.


Safira bangkit dari duduknya dan berlari menaiki anak tangga, ibu hanya menangis tersedu-sedu melihat tingkah putri bungsunya. Aku yang duduk di sebelah ayah terus mengusap pundak ayah berusaha menenangkannya.


"Maaf paman, apakah yang tadi itu putri paman?" Tuan Arga bertanya dengan raut wajah penasaran.


"Iya tuan, maafkan putri saya, dia adik Sabrina yang kuliah diluar kota, dia bersikeras ingin menggantikan Sabrina menikah dengan tuan." Ayah menjelaskan dengan mata yang sudah berubah layu.


"Dia? ingin menggantikan Sabrina?"


"Kami tidak menyetujuinya, Tuan, biarkan dia melanjutkan sekolahnya terlebih dahulu."


"Saya tidak mau jika dia menggantikan Sabrina menjadi calon istri saya," tegas tuan Arga.


"Baik tuan."

__ADS_1


"Besok pagi-pagi sekali akan ada teman saya datang kesini untuk mengukur design gaun pengantin, dan lusa pagi akan ada perias yang akan datang, Joe akan menjemput kalian semua jam 9 pagi, pernikahan akan dilaksanakan pukul 10, saya harap semuanya sudah siap," lanjut tuan Arga.


"Baik tuan, terimakasih banyak sudah repot mempersiapka pernikahan ini sendiri." Aku berterimakasih tulus padanya.


"Sama-sama, persiapkan dirimu dengan baik, jaga kesehatan, kami harus pergi sekarang."


"Baiklah." Aku mengangguk pelan sambil mengantarkan mereka sampai ke depan pintu.


...


Aku kembali ke kamar, ingin sekali mandi malam-malam untuk menyegarkan pikiran dan hati yang lelah telah bekerja keras melewati hari-hari penuh perjuangan ini, ibu dan ayah menuju kamar Safira untuk menenangkan putrinya, aku sendiri bingung harus berbuat apa agar Safira mau menerima, bahkan tuan Arga sudah terang-terangan menolak Safira menggantikanku untuk menikah dengannya, dia lebih memilihku, entah apa alasannya, aku tidak peduli, sepertinya kehidupan baruku akan segera dimulai.


Aku memasuki kamar mandi dan menyalakan kran untuk mengisi bath up dengan air hangat, menanggalkan pakaianku untuk berendam sejenak, melepaskan segala penat dan gelisah yang menyeruak didada, memejamkan mata menikmati air yang terus mengalir menenggelamkan hampir seluruh badanku, menyisakan kepala yang menatap nanar langit-langit kamar mandi, memikirkan bagaimana hari esok akan aku mulai, sungguh ingin rasanya berteriak meluapkan segala rasa dihati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih banyak sudah membaca, jangan lupa Like dan berikan komentar yang membangun ya ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2