TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Tentang Joe


__ADS_3

Satu bulan setelah melahirkan Chamomile, semua orang-orang butik baru bisa menyempatkan diri untuk datang ke rumah menjenguk anggota keluarga baru kami, mereka datang rombongan di hari libur kerja.


Meskipun pekerjaan yang menumpuk dan berbagai pesanan di butik yang membeludak, aku tidak terlalu ambil pusing sampai menyuruh mereka bekerja 7 hari dalam seminggu, mereka manusia, bukan robot.


Aku sudah menyuruh Salimah dan semua pelayan mempersiapkan apapun yang terbaik untuk menyambut para tamu, tidak hanya tamu dari kalangan konglomerat saja yang perlu di sambut secara mewah, tamu-tamu istimewaku pun juga perlu mendapatkannya.


Berbagai hidangan menu makan siang yang mewah dengan segala jenis cemilan unik sudah di persiapkan, beberapa pilihan minuman juga di sediakan untuk mengantisipasi kesukaan yang berbeda.


"Apa semuanya sudah siap, Salimah?" tanyaku menemui Salimah di dekat dapur.


"Sudah, Nona. Apa teman-teman nona sudah datang?"


"Belum, mereka masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi."


Karena ini adalah hari minggu, jadi suamiku lebih senang menghabiskan waktu di kamar ataupun di taman samping sambil menggendong Chamomile, dia sangat suka menikmati hari liburnya tanpa bepergian kemanapun.


"Honey, sebentar lagi teman-temanku akan datang," kataku sambil melihatnya mengayun Chamomile di dalam gendongannya.


"Sudah mau sampai?"


"Sebentar lagi."


"Aku akan menemanimu sebentar, tapi setelah itu aku harus menyelesaikan pekerjaanku bersama Joe, besok ada rapat penting."


"Apakah Joe akan datang?"


"Ya, dia sudah hampir sampai, Sayang."


Aku merapikan tempat tidur dan box bayi tempat Chamomile biasa tertidur, Chamomile bukan bayi yang rewel dan mudah menangis, hanya di saat- saat tertentu saja dia biasa menangis, misal saat popoknya basah, haus, dan terbangun sendirian tanpa ada aku ataupun ayahnya di sampingnya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Aku menoleh.


"Nona, tamunya sudah sampai," ujar Salimah.


"Aku akan segera turun, Salimah."


Suamiku berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendahuluiku. Semenjak kehamilanku sampai sekarang, dia menjadi laki-laki yang ramah terhadap siapa saja, dia tidak sedingin dan sekaku dulu, bahkan pada teman-temanku di butik, perubahan besar telah terjadi.

__ADS_1


"Selamat datang, semuanya," sapa suamiku pada semua orang yang kini duduk di ruang tamu.


"Terimakasih sudah mengizinkan kami semua bertamu hari ini, Tuan," jawab Riani.


"Ah, tentu saja. Apapun asal istriku senang."


"Perkenalkan, ini adalah anggota baru keluarga besar kami, Chamomile Arsyana Briella, bisa di panggil Chamomile," lanjut suamiku, ia tampak begitu bangga menunjukkan wajah gadis kecil dalam gendongannya ke semua orang.


"Cantik sekali, nama dan paras yang sesuai," ujar salah seorang karyawanku.


"Tentu saja, istriku juga cantik, maka putri kami tidak boleh kalah cantik," gurau suamiku memecah ketegangan diantara semua orang.


Mereka memang pernah datang kesini saat aku mengadakan acara makan-makan dulu, namun saat itu suamiku sedang tidak ada di rumah. Namun kali ini mereka semua terlihat canggung karena keberadaan sang tuan rumah, apalagi pertemuan pertama kali suamiku dengan mereka di butik setahun yang lalu meninggalkan kesan bahwa suamiku orang yang tidak ramah.


Aku lalu mengajak mereka semua pergi ke taman dekat kolam, disana sudah di tata rapi berbagai makanan dan hidangan menggugah selera sebagai teman bercengkrama.


Suasana taman yang nyaman dengan pepohonan rindang membuat tempat ini terasa sejuk, pelayan sudah menyiapkan tempat lesehan dengan tikar yang di gelar diatas rerumputan nan hijau, beberapa kursi dengan meja bundar juga sudah di sediakan.


"Mari, semuanya. Jangan sungkan," ujar suamiku.


Semua orang yang datang berjumlah 17 orang, termasuk 5 orang karyawan yang di tugaskan di rumah jahit, mereka kini sudah membaur dan membiasakan diri dengan gurauan suamiku.


"Hai, Joe. Kemarilah," seru suamiku.


"Sedang bersenang-senang rupanya."


"Kemarikan, aku ingin menggendong keponakanku," lanjut Joe sambil meraih Chamomile dari gendongannya.


Dengan luwes tangan Joe menggendong Chamomile, ia bahkan tidak terlihat kaku saat bayi kecilku itu menggeliat di gendongannya.


"Kau bahkan sudah pantas menggendong anak, Joe," godaku.


"Benarkah? apa wajah-wajah imut sepertiku sudah terlihat pantas menimang bayi?"


"Ingat umur, Bro!" timpal suamiku.


"Hahaha, lagipula siapa yang bisa ku ajak membuat bayi," ujar Joe sambil tertawa terbahak.


"Nih, jomblo nih," hampir semua orang yang berada di taman menunjuk ke arah Riani yang sedang asik mengunyah keripik kentang pedas di tangannya.

__ADS_1


"Eh, apa sih." Riani terbelalak, ia nampaknya tidak paham dengan gurauan yang kami lontarkan, karena sedari tadi ia sibuk mengisi perutnya.


"Aku akan ke ruang kerjaku sebentar, Sayang. Kau bawa Chamomile atau ku serahkan pada pengasuh di depan?" tanya suamiku.


"Letakkan disini saja, dia tidak akan rewel. Lagipula dia baru saja terbangun, jadi sebentar lagi akan haus dan mencari susu," jawabku.


"Baiklah, Sayang." Suamiku mengecup pelan keningku, lalu beralih ke pipi Chamomile.


Saat dua laki-laki itu kembali ke dalam rumah, suasana taman kembali riuh dengan candaan dan saling goda, apalagi kini Riani tampak malu di ledek oleh semua orang.


"Sa, lama-lama si sopir itu makin terlihat tampan, ya," ujar Riani setengan berbisik.


"Memang tampan dari dulu, apa kau tidak lihat?" jawabku.


Biasanya Joe selalu terlihat rapi dengan setelan jas hitam dan celana kain yang di setrika licin, namun kali ini dia terlihat datang dengan pakaian santai, celana pendek selutut berbahan jeans dengan kaos pendek putih berkerah, membuatnya terlihat jauh lebih muda dari umur yang tertera di KTP.


"Apa dia sudah punya pacar?" selidik Riani.


"Belum."


"Cocok nih, cocok. Sama-sama jomblo!" seru seseorang di samping Riani yang mendengar pembicaraan kami.


"Ah, sepertinya kami tak pantas bersanding, dia jutawan, sukses, banyak uang, sedangkan aku, hanya upil kering, huhuhu." Riani beradegan menangis.


Aku hanya tersenyum kecut menatap Riani yang kini mulai beralih topik dengan membahas perihal Chamomile. Entahlah, aku sudah tidak memiliki minat untuk mencampuri urusan pribadi Joe apalagi sampai memperkenalkan wanita padanya. Toh, laki-laki itu keras kepala, keras hati, sulit di takhlukkan, wanita sekelas Claire saja harus berjuang bertahun-tahun, apalagi ... ah, sudahlah.


Teringat beberapa hari lalu saat aku menanyakan perihal hubungannya dengan Claire, langkah apa yang akan dia ambil setelah mengetahui bahwa Claire sudah memiliki laki-laki lain di hatinya.


"Aku bukan orang yang mudah menyerah, sebelum aku memastikan dia benar-benar bahagia, aku tidak akan melakukan apapun, termasuk memaksanya menerimaku," jawaban Joe saat itu.


Dia bersikeras akan menunggu sampai Claire benar-benar bahagia, seperti yang ia lakukan padaku, lalu dia baru akan mengambil langkah mencari wanita dambaan lain untuk mengisi kekosongan jiwanya.


Sungguh keras kepala, salah siapa dia jual mahal sampai membiarkan Claire mengemis cinta, seharusnya dia sadar dari dulu. Andai saja dia sudah menerima Claire dari dulu, mungkin kini mereka sudah bahagia bersama.


Sekarang? rasakan!


Kau akan tersenyum kecut melihat wanita yang bertahun-tahun mendambamu kini beralih ke lain hati.


Sakit bukan, rasanya tersingkir berulang kali?

__ADS_1


Seharusnya itu sudah cukup menjadi pelajaran berharga untuknya.


__ADS_2