TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Resto Dan Taman


__ADS_3

Tubuh sudah kembali bersih dan wangi, aku dan Claire segera kembali ke mobil, tuan Arga pasti sudah bosan menunggu.


Setelah kami sudah siap untuk meninggalkan tempat parkir, seseorang datang menggedor-gedor kaca mobil, tuan Joe.


"Joe, kau datang?" tanya tuan Arga membuka kaca mobil.


"Apa aku terlambat?" kata tuan Joe.


Kami bertiga yang sudah siap pergi kini kembali turun dari mobil untuk menemui tuan Joe. Terlihat dengan jelas rona merah di wajah Claire, dia begitu bersemangat melihat kedatangan laki-laki pujaan hatinya.


"Apakah kalian akan langsung pulang?" tanya tuan Joe lagi.


"Tidak, kita akan cari makanan enak sebentar, lalu jalan-jalan di taman kota," timpal tuan Arga.


"Baiklah, aku ikut."


"Claire, kau ikut di mobil milik Joe, biarkan aku dan Sabrina berduaan," ujar tuan Arga tersenyum miring.


"Ya, ikutlah denganku," seru tuan Joe, dia juga terlihat senang dengan ide yang di berikan tuan Arga. Claire hanya tersenyum tipis, tapi aku tau jelas bahwa hatinya saat ini sedang bersorak gembira.


...


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, cuaca terik membuat kerongkongan semakin kering karena kehausan, mobil tuan Arga memasuki parkiran sebuah mall yang pernah aku kunjungi bersama Salimah, sedangkan mobil tuan Joe membuntuti di belakang.


Usai sampai di parkiran, kami berempat berjalan memasuki mall, perut yang sudah keroncongan dan tenggorokan yang mengering membuatku tidak betah menahan godaan setiap harum masakan yang tercium di area food court lantai tiga mall ini.


"Aku sangat lapar, bisakah kita makan dulu sebelum berkeliling," ujarku sambil bergelayut manja di lengan tuan Arga.


"Tentu saja, kita akan segera sampai di restoran paling enak di tempat ini," ujar tuan Arga mengacak pelan rambutku.


Tidak berapa lama, kami memasuki sebuah restoran cukup besar dengan tampilan yang mewah, terdapat sebuah patung kepiting raksasa terpampang nyata di samping kanan dan kiri pintu utama.


Sesaat setelah kami melangkahkan kaki memasuki pintu utama, seorang pelayan tiba-tiba terkejut dan langsung masuk ke dalan ruangan, beberapa detik kemudian seorang laki-laki berperawakan tinggi gagah berambut pirang datang dengan senyum yang sangat ramah, dia mengangguk hormat pada tuan Arga.


"Saya sangat terhormat karena tuan sudah bersedia berkunjung ke restoran ini," ujar laki-laki itu menunduk.


"Siapkan menu andalanmu, aku ingin tempat ini hanya untukku," kata tuan Arga. Laki-laki itu mengangguk, lalu berbisik pada seorang pelayan wanita di belakangnya.


Kami semua di persilahkan duduk di meja yang berada di tengah-tengah ruangan ini, di depan pintu utama kini sudah di tempel dengan papan bertuliskan "Close", semua pengunjung yang tadinya duduk manis di mejanya masing-masing kini berangsur pergi, tinggal kami berempat yang duduk menanti makanan segera tersaji.


"Kenapa yang lain pergi?" tanyaku bingung.


"Karena kita istimewa," jawab tuan Arga enteng.


"Apa kau tau, Nona. Tempat ini milik boss, jadi dia bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya," ujar tuan Joe menjelaskan.


"Kau hebat, Ga," puji Claire.


"Kau mengenalku, Claire. Aku akan mencoba semua jenis bisnis yang sedang berkembang pesat di setiap wilayah, aku tidak akan pernah membuat keahlianku sia-sia."


"Apakah ada bisnis yang belum kau coba, Honey?" tanyaku.


"Hampir semua sudah, kuliner, peternakan, pertanian, investasi, dan masih banyak lagi. Sebentar lagi perusahaan akan mengembangkan bisnis pariwisata," jelasnya.

__ADS_1


Ah, laki-laki di hadapanku ini memang sangat hebat, aku sadar, bahwa menikah dengannya bukanlah sebuah kesialan, namun keberuntungan yang tertunda.


Beberapa saat kemudian, beberapa pelayan resto datang silih berganti membawa berbagai macam olahan seafood, dari kepiting asam manis berukuran jumbo sampai udan bakar dan udang lobster yang nangkring di atas nampan, mereka semua berjejer rapi menghasilkan aroma yang benar-benar menggugah selera.


"Kau mau coba yang mana dulu, Claire?" tanyaku pada Claire, wanita itu sudah menelan ludah sambil memegang garpu dan sebuah pisau.


"Kelihatannya semua nikmat, aku akan coba semuanya, Sa."


"Berhati-hatilah wahai kaum hawa, semua makanan ini mengandung lemak jahat yang akan dengan mudah membuat tubuh kalian melar," ujar tuan Joe mengingatkan, bukan, sebenarnya bukan mengingatkan, tapi lebih ke sebuah peringatan keras.


"Setelah ini aku akan berdiet, Joe. Kau tenang saja," timpal Claire meliriknya.


"Apa kau keberatan dengan wanita gemuk, tuan Joe?" tanyaku penuh selidik.


"Ah, sebenarnya tidak. Wanita itu kecantikannya di ukur dari hati dan perilakunya, penampilan hanya sebuah penunjang," jawab tuan Joe ringan, tangannya sibuk mengupas udang bakar saos pedas di hadapannya.


"Benar, tapi bagaiman dengan orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama?"


"Cinta pada pandangan pertama itu tidak pernah ada, Nona."


Aku mengangguk, memahami cara berpikir laki-laki itu, sekilas aku menatap Claire yang menyimak dengan seksama setiap pendapat yang di lontarkan oleh tuan Joe, sedangkan tuan Arga terus sibuk dengan makanan di hadapannya.


Setelah acara makan selesai, Claire pamit ke kamar mandi sebentar, sedangkan tuan Arga pergi ke belakang untuk sekedar mengecek keadaan restoran ini. Tinggal aku dan tuan Joe yang duduk saling berhadapan, laki-laki itu kini sibuk dengan ponselnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Claire, Tuan. Membaik?"


"Hubunganku dengannya sudah sangat baik dari sebelum nona datang," ujarnya.


"Bolehkah aku memberi saran?"


"Bukalah hatimu untuk orang yang sedang benar-benar berjuang untukmu, Tuan. Karena tidak ada orang yang mampu berjuang sendiri selamanya, waktu akan membuatnya sadar bahwa semua itu hanya sia-sia."


"Jadi, sebelum semuanya terlambat, sebaiknya kau mulai membuka lembaran baru, jangan biarkan cinta terlarang yang kau tanam di hatimu membuatmu hancur perlahan," lanjutku.


"Begitukah? apa kau tau sesuatu yang tidak aku tau, Nona?" Mata laki-laki itu beralih menatapku tajam.


"Aku tau semuanya," jawabku enteng, padahal jantungku sudah hampir lompat karena takut akan tatapan laki-laki itu.


Percakapan kami terhenti saat tuan Arga datang dan duduk tepat di sampingku. Laki-laki itu datang dengan membawa secangkir coklat hangat yang dia ambil sendiri dari dapur resto ini.


"Kau suka makanan disini?" tanya tuan Arga.


"Suka, aku suka kepiting asam manisnya," jawabku tersenyum, lalu mengaduk coklat di hadapanku.


"Apakah koki di rumah tidak masak seenak ini?"


"Enak, tapi yang ini berbeda."


"Aku bisa menyuruh beberapa koki datang ke rumah untuk masak makanan kesukaanmu," lanjutnya.


"Itu tidak perlu, Honey. Kau bisa mengajakku datang kesini jika aku sedang ingin makan kepiting asam manis ini," ujarku memeluk lengannya. Pelayan wanita yang berdiri tidak jauh dari kami menampakkan wajah yang sedikit di tekuk mendengar ucapanku.


Sekalinya datang kesini, kau sudah merepotkan seluruh pelayan dan mengusir seluruh pengunjung retoran, Tuan. Bagaimana jika kita sering datang, mereka akan frustasi karena mu.

__ADS_1


"Kau bisa mengatakannya kapanpun, aku akan dengan senang hati menemanimu." Tuan Arga mencium keningku hangat, sedangkan tuan Joe bermain ponsel pura-pura tuli dan tidak peduli.


Beberapa saat kemudian Claire kembali, dia membersihkan lengan bajunya yang kotor karena terkena saos dari kepiting yang dia makan.


"Setelah ini kita kemana?" tanya Claire.


"Ke taman kota, kita menikmati suasana sore disana," jawab tuan Joe menatap Claire sambil tersenyum.


Lalu kami berempat berdiri, aku merapikan baju dan rambutku, kemudian menggandeng lengan tuan Arga dan berjalan lebih dulu bersamanya.


...


Suasana sore taman kota yang tidak begitu ramai membuat banyak bangku kosong yang bisa kami tempati untuk menikmati cuaca yang cerah ini.


Di depan kami, hamparan tanah kosong dengan rerumputan hijau di pakai oleh beberapa anak kecil bermain bola. Tuan Joe dan tuan Arga ikut bergabung bersama mereka.


Tinggal aku dan Claire yang duduk berdua menikmati berbagai cemilan ringan yang kami beli di minimarket.


"Kau sudah mengatakannya, Claire?"


"Mengatakan apa?"


"Perasaanmu pada tuan Joe."


"Ya begitulah, aku mengikuti saranmu, Sa."


"Bagaimana jawabannya?"


"Dia akan berusaha, berusaha membuka hati untukku, dia akan memusnahkan cinta yang tidak seharusnya," ujar Claire tersenyum menatapku.


"Sudah ku bilang, usahamu tidak akan sia-sia."


Aku ikut bahagia dengan kabar baik ini, setidaknya kedatangan Claire disini membuahkan hasil, tidak sia-sia dia meninggalkan pekerjaanya demi mendekati tuan Joe.


Kebahagiaan akan datang kepada kita yang tidak pernah berhenti berusaha, begitupun aku, aku tidak akan pernah berhenti untuk mencintainya, sekalipun itu akan menyakitkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2