
Hari ini Claire bersiap-siap merapikan barang-barangnya untuk kembali pulang ke Paris, aku tidak ikut mengantarnya ke bandara, karena tuan Arga melarang, hanya tuan Joe yang boleh mengantarnya.
Dari pagi sampai siang, aku hanya manyun di kamar, enggan berbicara dengannya. Aku bosan di rumah, tidak di perbolehkan ke butik ataupun mengantar Claire. Padahal Claire sudah berbaik hati mengantarku pulang, tapi di saat dia kembali, laki-laki ini melarangku mengantarnya.
Sekali menyebalkan, tetap menyebalkan. Kau bahkan tidak kurang menyebalkan dari sebelum kau mengatakan cintamu padaku, Tuan.
"Mukanya jangan di tekuk terus, Sayang." Tuan Arga merayuku, dia bermanja-manja mencium pundakku.
"Salah sendiri, aku kan hanya ingin mengantarkan Claire ke bandara, kenapa tidak boleh?" Aku menggeser tempat dudukku.
"Kalau kau ikut, Claire dan Joe tidak bisa melakukan salam perpisahan," lanjutnya.
"Salam perpisahan?" Aku meliriknya sebal.
"Seharusnya kau mengerti, Sayang. Claire juga membutuhkan waktu hanya berdua dengan Joe, begitupun dengan Joe, dia butuh waktu untuk memastikan kesungguhan hatinya."
"Tapi kan---," kata-kataku terhenti, tuan Arga langsung mencium bibirku sehingga membuatku diam seribu bahasa. Laki-laki ini memang selalu mengandalkan jurus jitunya jika aku sudah mengomel.
"Kapan-kapan kita akan mengunjunginya di paris," ujar tuan Arga melepaskan ciumannya.
"Janji?" Aku mengacungkan jari kelingking.
"Aku berjanji." tuan Arga menautkan kedua jari kelingking kami. Kemudian aku memeluk pinggangnya dengan erat.
"Kau tau, kenapa aku menikahimu?" tanya tuan Arga, kini dia memegang kedua bahuku dan menatap dalam kedua bola mataku.
"Karena kau ingin menjadikan aku pelayan pribadimu yang bekerja 24 jam di kamar?" jawabku menggoda.
"Hahaha, kau pikir begitu?"
"Lalu kenapa? bukankah kau senang sekali menyiksaku saat awal-awal kita menikah?"
"Aku tidak bermaksud menyiksamu, aku hanya mengujimu," ujarnya mencium tanganku.
"Baiklah, katakan alasan kenapa kau menikahiku, Honey."
"Karena Joe mencintaimu," ucap tuan Arga, kini dia mengalihkan pandangannya nanar ke arah kaca.
Seketika aku terkejut, ada perasaan aneh menjalar di tubuhku mendengar jawabannya, bagaimana bisa dia dengan sengaja menikahi wanita yang di cintai oleh temannya, sahabatnya, juga rekan kerjanya sendiri.
"Kau terkejut? ya, sikap yang aku ambil memang salah, tapi aku melakukan ini demi sahabatku, Claire."
__ADS_1
"Bertahun-tahun Claire berusaha merebut perhatian Joe, melakukan apapun demi menakhlukkan hati laki-laki itu, namun sekalipun Joe tidak pernah melirik dan menganggap keberadaannya."
"Pertama kalinya dia bertemu denganmu di caffe depan butik milikmu, dia tertarik padamu, mengikuti kegiatanmu, mencari tau rumah dan kebiasaanmu, kau menggerakkan hatinya," lanjut tuan Arga.
"Lalu, bagaimana reaksinya saat tau kau akan menikahi ku?"
"Awalnya dia terpuruk, aku pura-pura tidak tau tentang perasaannya padamu, aku mengabaikannya. Aku tidak mau hati Claire sakit karena orang yang selama ini dia perjuangkan malah memperjuangkan yang lain."
"Aku tetap bertekad menikahi mu, sebuah keberuntungan karena ayahmu benar-benar membutuhkan bantuan ku," lanjutnya.
Bolehkah aku berpendapat, bahwa kau ini sangat jahat dan tidak berperasaan. Bagaimana bisa kau merelakan dirimu menikah denganku agar sahabatmu bisa bersatu dengan orang yang dia cintai. Entah pengorbanan macam apa ini.
"Kau harus tau, Honey. Kau tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, kau tidak bisa membuat tuan Joe mencintai Claire dengan cara ini," ujarku menatapnya sendu.
"Aku tau, aku salah. Aku pernah menyesalinya, tapi aku berharap Claire juga mendapatkan kebahagiaannya," lanjut tuan Arga, kali ini dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Yang lalu biarlah berlalu, saat ini hanya Claire dan tuan Joe sendiri yang bisa memperbaiki hubungan mereka, kita tidak harus ikut campur soal urusan hati, karena itu berpengaruh besar pada masa depan mereka, biarkan berjalan sesuai takdir Tuhan. Percayalah, semua akan baik-baik saja," jelasku, kali ini tuan Arga mengangguk lalu memelukku erat.
Ku balas pelukan laki-laki itu dengan hangat, aku tau tindakannya salah, tapi pengorbanannya demi Claire tentu saja membuatku iri. Ku elus lembut punggung laki-laki itu, kini dia semakin mengeratkan pelukannya.
Hari ini Claire sudah kembali ke Paris, artinya dia tidak lagi bisa berusaha melalui kontak fisik, dia hanya bisa berdoa dan saling bertukar kabar dengan tuan Joe lewat ponsel, aku harap semuanya akan baik-baik saja, bahkan lebih baik.
"Bolehkan aku bertanya?" Tuan Arga kembali bersuara, dia melepaskan tubuhku lalu menatap kedua mataku seolah mencari kejujuran di dalamnya.
"Apakah kau menyesal menikah denganku?"
"Tidak, tentu saja tidak!" seruku.
Apapun yang terjadi saat ini dan yang sudah terjadi di masa lalu, aku tidak akan pernah menyesal menikah denganmu, tidak percayakah kau?
Tuan Arga diam, dia menerawang dengan seksama ke dalam mata dan memperhatikanku, entah apa yang membuat hatinya ragu saat ini.
"Joe jauh lebih baik dariku dalam segala hal, apakah kau tidak menyesal karena perbuatanku membuat kalian tidak bisa bersatu?"
"Apa yang kau bicarakan, Honey. Saat ini sudah jelas, aku mencintaimu, dan hanya mencintaimu. Jika saja aku tau perasaan tuan Joe dari awal, aku belum tentu mencintainya dan menginginkan hal yang sama dengannya." Aku mendesah, resah dengan percakapan yang membuat tuan Arga ragu pada diriku.
"Tidakkah semua ini sudah menjelaskan tentang perasaanku? kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas-jelas kau ketahui jawabannya?" lanjutku.
"Apakah Joe akan membenciku dan pergi meninggalkanku jika dia mengetahui kenyataan ini?" tanyanya kembali.
"Aku tidak tau, tapi aku akan menyimpan hal ini baik-baik. Biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya," ujarku menenangkan.
__ADS_1
Tanpa menjawabnya lagi, tuan Arga kembali melayangkan pelukannya padaku, kini mata laki-laki itu sudah mengembun, dia mencium pucuk kepalaku berkali-kali lalu membelai lembut rambutku.
...
Sore ini kami duduk berdua menikmati senja dengan di temani secangkir coklat hangat di meja, di taman samping. Bunga-bunga mawar yang mulai menguncup karena hari hampir gelap, menambah kesah syahdu dalam keromantisan kami kali ini.
Setiap saat setiap waktu, tuan Arga selalu menggenggam erat tanganku, dia tidak pernah melepaskannya, kadang telapak tangan hampir basah keringat, tapi dia tetap enggan melepaskan.
Jika boleh, di saat-saat seperti ini aku ingin waktu berhenti berputar, aku ingin lebih lama menikmati kemesraan dan cinta yang begitu melimpah ruah padaku.
Sebelumnya, aku kecewa pada ayah dan ibuku karena menumbalkan diriku sebagai alat balas budi atas kebaikan laki-laki ini. Namun saat ini, aku berterimakasih telah menjadikanku istri seorang Argadiansyah Wijaya, laki-laki yang di kenal angkuh dan tidak berperasaan oleh banyak wanita, kini bisa mencintaiku dengan sepenuh hatinya.
"Aku mencintaimu, Sa. Aku benar-benar mencintaimu." Kata yang setiap saat dia bisikkan di telingaku, entah sudah berapa ratus kali aku mendengarnya, namun kata-kata itu seolah menjadi pengisi daya kehidupanku.
Usai menikmati senja yang hampir usai di gantikan gelap dan angin dingin yang membelai kulit, kini aku dan tuan Arga menikmati makan malam spesial yang di lakukan di dalam kamar.
Lilin-lilin temaran menghiasi setiap sudut kamar dengan cahaya redup nan indah, menambah kesan romantis di dalamnya
Meja dan kursi di susun sedemikian rupa bak makan malam romantis di restoran bintang lima, hiasan-hiasan lampu kelap kelip terpasang di atas gorden yang terbuka, menampakkan pemandangan taman depan dengan lampu yang menyala kekuningan.
Alunan musik romantis menyempurnakan suasana istimewa ini. Aku tidak pernah menyangka jika laki-laki berhati es itu kini hatinya telah mencair, dan melelehkan diriku yang di mabuk asmara.
Usai acara makan yang begitu mengesankan, kini kami melanjutkannya dengan aktifitas yang lebih menyenangkan.
Belaian demi belaian yang tuan Arga hadiahkan untukku semakin intens, kini kami saling menautkan jemari, mendekatkan tubuh hingga meniadakan jarak di antara kami, nafas kami semakin dekat dan kian memburu, sejurus kemudian hal yang diinginkan terlaksana, saling merengkuh dengan cinta dan berbagi peluh bersama.
Lenguhan panjang terdengar diantara kami, menandakan puncak telah tercapai, hingga kami menjatuhkan diri di keheningan malam dalam selimut tanpa selembar pakaian.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...