
Hampir tiga puluh menit aku duduk, punggung rasanya sudah lelah dan mata juga sudah ngantuk, aku terbiasa menjalani hari-hariku dengan rebahan, jadi saat tiba-tiba di ajak jalan-jalan, aku mudah sekali mengantuk.
Ya Tuhan, dia membeli apa saja?
Ku lihat suamiku yang tampan nan gagah itu mendorong satu troli yang sudah di penuhi dengan berbagai macam barang sampai menggunung, di belakangnya seorang pelayan toko juga mendorong satu troli yang sama dengan tumpukan batang.
"Kenapa banyak sekali, Honey?" tanyaku bingung.
"Ini untuk keperluanmu selama hamil, Sayang. Ada susu hamil, biskuit hamil, sandal, selimut, bantal, guling, dan lain-lain."
"Apa tidak kurang? kenapa kau tidak membeli saja toko ini, Honey." ujarku.
"Apa ini kurang? jika kurang aku akan membeli toko ini sekalian," jawabnya serius, ia terlihat tidak main-main dengan ucapannya, padahal aku hanya bermaksud untuk mengejeknya.
"Hmm, ini sudah terlalu banyak, Honey. Untuk apa membeli barang-barang yang hanya akan di pakai sementara."
"Memangnya kenapa? aku punya banyak uang, untuk apa lagi aku memaki uangku jika bukan untuk menyenangkan istriku."
"Baiklah, terserah kau saja, Honey."
Suamiku pergi menuju meja kasir dan membayar empat kantong besar belanjaan dengan total harga berjuta-juta.
Sultan mah bebas beli apa aja, nggak pernah sayang sama uangnya. Apalah dayaku yang hanya remahan peyek.
Setelah selesai dengan pembayaran, dia segera memanggil bang Bimo yang berdiri mematung di depan pintu untuk membawa semua barang ini.
Melihat bang Bimo yang begitu kesulitan membawa empat kantong kresek besar sekaligus, akhirnya suamiku membayar beberapa orang untuk membantunya membawa semua belanjaan ke dalam mobil.
"Kau mau makan apa, Sayang?" tanyanya, aku bahkan lupa jika ini sudah waktunya makan siang.
"Aku ingin makan ... apa ya ...."
"Apa? sekalian kita mampir makan dulu."
"Makan gurame asam manis, enak paling, ya?"
"Siap, meluncur, Sayang."
Kami pun segera menuju parkiran, lalu menyuruh bang Bimo untuk mengantarkan kami ke sebuah rumah makan besar di tengah kota yang terkenal dengan seafood-nya.
Akhirnya, setelah sekian lama aku kembali bisa merasakan makanan-makanan lezat yang menggoyangkan lidah. Biasanya hanya rasa tawar dan pahit yang ku rasa, kali ini lidahku kembali normal. Sungguh nikmat yang tak terkalahkan.
"Mau nambah?" tanya suamiku saat melihat nasi di atas piringku telah habis.
"Tidak, Honey. Kalau terlalu banyak, malah jadinya mual," jawabku. Padahal aku juga sudah makan sangat banyak, ini sudah melebihi porsi makanku saat aku tubuhku masih tertimbun lemak dulu.
...
__ADS_1
Hari demi hari berganti, aku semakin merasa tubuhku lebih mengembang, selain perut yang membuncit karena si kecil kian membesar, namun aku juga sudah menimbun banyak lemak di dalam tubuhku.
"Honey," panggilku lirih, saat laki-laki itu sedang sibuk memakai kemejanya bersiap untuk kerja.
"Ada apa, Sayang? Apa kau tidak ingin ku tinggal kerja?"
"Bukan begitu, aku pengen ...."
"Kamu pengen? pagi-pagi seperti ini sudah pengen lagi, bukannya semalam sudah? Apa masih kurang?" ujarnya mengarahkan pandangannya padaku.
"Maksudku, bukan pengen itu."
"Pengen apa, Sayang? kalau masih kurang, aku akan ambil libur sehari lagi, kita akan bermain-main seharian," ujarnya mulai mendekatkan tubuhnya padaku, dengan gemas ku cubit pinggang laki-laki itu sampai ia meringis.
"Aww, sakit, Sayang," teriaknya.
"Aku bukannya pengen yang iya-iya, aku lagi pengen makan mie ongklok sama garang asem," ujarku sambil bergelayut manja di lengannya.
"Makanan apa itu?" Dia mengerutkan kening sambil mencoba berpikir
"Itu makanan khas jawa tengah, bi Ijah dulu suka sekali memasak makanan seperti itu untukku saat di rumah."
"Dimana ada rumah makan yang menjualnya, aku akan membelinya untukmu, Sayang."
"Aku tidak tau," jawabku. Memang, selama di kota ini aku belum pernah menemukan rumah makan yang menyediakan menu seperti ini.
"Boleh saja, tapi rasanya harus mirip dengan buatan bi Ijah, ya." Dia pun setuju, lalu kami menuju meja makan untuk sarapan terlebih dahulu.
Sudah berbulan-bulan aku tidak pernah datang ke butik, selama ini hanya Riani yang sibuk bolak balik dari butik, rumah jahit dan ke rumahku untuk selalu memberikan laporan kemajuan butik itu.
Beberapa kali aku meminta izin untuk berkunjung ke butik, namun nihil, dia tidak pernah mengizinkanku pergi.
Sebelum si tampan itu berangkat ke kantor, ia selalu menyempatkan diri untuk mengajak si kecil yang masih anteng di dalam perutku untuk sekedar mengobrol, ia tidak pernah lupa mengelus perutku yang sudah terlihat sedikit membuncit.
"Jangan nakal, Baby, jaga mommy dengan baik, daddy akan pulang lima jam lagi," ujarnya pelan, sambil menempelkan telinganya di perutku.
Aku selalu bahagia tatkala dia selalu menyempatkan waktu-waktu sibuknya untuk memberi perhatian kepada si kecil di dalam perut, itu membuatku semakin bersemangat menjalani hari-hariku yang semakin melelahkan.
"Pelayan akan menyiapkan makanan yang kau pesan nanti siang, Sayang. Aku sudah mengatakannya pada mereka," ujarnya sebelum beranjak pergi.
"Jangan lupa vitamin dan obat di minum, jangan terlalu banyak tingkah, habiskan buah-buahan yang di antarkan pelayan, dan jangan lupa tidur siang. Satu lagi, jangan sampai lupa membalas pesanku," ujarnya tanpa jeda, setiap pagi dan setiap hari saat ia pergi berangkat bekerja, ia selalu mengucapkan mantranya seperti itu.
"Siap, Boss. Hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu sore." Ku peluk tubuh gagah laki-laki itu sebelum ia pergi, lalu ia mencium kedua sisi pipiku dan keningku.
Setelah mengantarnya dan memastikan ia sudah berangkat, aku langsung kembali ke kamar. Setiap dia meninggalkanku pergi bekerja, aku selalu menghabiskan waktuku untuk membaca novel, menggambar design baru, atau hanya sekedar menonton tv.
Kegiatan yang hanya itu-itu saja selalu membuatku bosan.
__ADS_1
...
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu begitu mengejutkan saat aku masih duduk bersantai di sofa panjang sambil membaca novel.
"Masuk," ucapku sedikit berteriak agar si pengetuk mendengarnya.
"Makan siang sudah siap, Nona. Sesuai pesanan, mau makan di sini atau di meja makan?" tanya Salimah.
"Aku ke meja makan saja, Salimah. Sebentar lagi, ya."
Dengan hati senang, aku segera mengikuti Salimah menuju meja makan. Sebelum suamiku berangkat bekerja, dia sudah mengatakan pada pelayan jika aku ingin makan mie ongklok dan garang asam saat makan siang.
"Bagaimana, Nona?" tanya Salimah terlihat was-was, ia memperhatikan aku yang sedang menyendok makanan di depanku.
"Ini enak, tapi ...."
"Tapi apa, Nona?"
"Rasanya beda dengan buatan bibi di rumah ibuku, Salimah. Aku ingin makan buatan bi Ijah," ujarku hati-hati, takut jika Salimah tersinggung.
"Apakah ada resep rahasianya?" tanya Salimah.
"Aku tidak tau, tapi rasanya berbeda."
"Bagaimana kalau koki kembali membuatnya dengan rasa yang berbeda, apakah nona mau mencobanya?"
"Ah, tidak perlu, Salimah. Aku sudah cukup kenyang, terimakasih sudah mau berusaha memasaknya," ujarku. Padahal aku belum sampai menghabiskan separuh porsi mie itu dan hanya mencicipi garang asamnya sedikit, namun kali ini rasanya tidak cocok di lidahku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1