
"Akui dulu kalau kau cemburu, baru aku akan mengatakannya," ucap tuan Arga seraya berdiri melepas kemejanya.
"Apa yang harus diakui? saya memang tidak cemburu!" Aku menaikkan nada suaraku.
"Lalu kenapa kau sekarang marah?"
"Siapa yang marah?"
"Kau cemburu, tidak ngaku, sekarang sudah jelas-jelas kalau kau marah, masih mengelak, sebenarnya maumu ini apa?" Tuan Arga menatapku dengan tatapan membunuh.
"Sudahlah, jika memang tuan mempunyai wanita lain yang jauh lebih cantik dan lebih baik dari saya, sebaiknya ceraikan saja saya, tinggalkan saya, jangan membuat saya ada tapi tak dianggap keberadaannya." Air mataku mengalir seiring kata yang aku ucapkan.
Seketika raut wajah tuan Arga berubah, dia mendekatiku lalu duduk menatap kedua mataku yang sudah basah mercucuran air mata.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengabaikanmu," ucapnya sambil mengusap lembut pipiku.
"Aku tadi terlalu asik berbicara dengan Claire, dia sahabatku, kami lama tidak bertemu," lanjutnya.
"Sahabat?" tanyaku menautkan kedua alis, bagaimana bisa aku percaya pada laki-laki di hadapanku ini, jika memang mereka hanya bersahabat, kenapa wanita itu tanpa malunya bergelayut manja di lehernya.
"Kalian sangat mesra." Aku menundukkan kepala.
"Itu hanya perasaanmu saja yang berlebihan, dia memang sangat manja padaku, di dunia ini, hanya dia wanita yang bisa mengerti keadaanku," ucapnya terdengar lemah lembut.
Hah, kau terus saja memujinya, Tuan.
"Apakah hanya wanita itu yang bisa mengerti keadaan tuan?"
"Kau juga bisa, sedikit."
"Hmm." Aku memalingkan muka, kembali menjatuhkan tubuhku diatas kasur.
"Sudahlah, jangan marah, dia adalah sahabatku, besok pagi aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucapnya lalu berdiri menuju kamar mandi.
"Terseah." Aku menjawab kesal, lalu menutup tubuhku dengan selimut tebal.
...
Pagi ini aku berdandan dengan cantik, aku tidak mau diabaikan oleh tuan Arga ketika ada wanita yang lebih menarik perhatiannya dariku. Sungguh, rasanya tidaklah enak, meskipun sampai detik ini, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, namun menjadi istri yang tidak di anggap itu menyesakkan dada.
Aku tidak tau kemana tuan Arga akan mengajakku pagi ini, dia hanya mengatakan kalau akan mengunjungi sebuah pameran seni dan peragaan busana di tengah kota.
Sebenarnya aku sangat senang kalau benar dia mengajakku ke sebuah ajang peragaan busana di negara ini, alih-alih aku bisa mendapatkan konsep dan ide baru untuk design gaun atau busana baruku untuk di pajang di butik.
Namun perasaan kesal masih tersisa dihati, rasanya aku belum ikhlas atas perlakuan dia padaku semalam.
"Kau sudah siap?" tanyanya saat melihatku kesusahan memasang kancing di bagian punggungku.
__ADS_1
"Sebentar lagi," jawabku cuek.
"Kau masih marah padaku?"
"Tidak."
"Baiklah, aku akan menunggu. Kau butuh bantuan?"
"Tidak."
"Ya sudah." Dia pergi meninggalkanku lalu duduk di sofa panjang dekat jendela.
Sudah hampir 15 menit aku berusaha meraih kancing di punggungku, namun tanganku tidak cukup panjang untuk menjangkaunya.
Aku melirik tuan Arga yang duduk bersandar memainkan ponselnya, namun saat itu juga dia membalas lirikanku.
"Kau butuh bantuan?" Dia kembali bertanya.
"Ya," ucapku menyerah, karena mustahil bagiku memasang kancing baju ini tanpa bantuannya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi, aku sudah menunggumu meminta bantuanku," ucapnya sambil menciumi setiap inci punggung sampai pundakku.
Karena aku tidak ingin kau melakukan ini.
"Sudah selesai, mari kita berangkat." Dia lalu menggandeng tanganku.
...
Di depan hotel, seorang sopir berambut pirang sudah menunggu kami di depan mobil mewah berwarna putih, dia kemudian membukakan pintu mobil mempersilahkan kami masuk.
Jalanan di kota ini nampak ramai, meskipun banyak kendaraan berlalu lalang, namun pengemudinya patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas, jadi tidak ada kemacetan yang terjadi.
Kami berhenti di sebuah gedung besar dengan banyak lantai, gedung ini terlihat sangat mewah, banyak pengunjung yang datang beramai-ramai bersama pasangan, saudara, ada pula yang serta merta membawa anak-anak mereka.
Namun sangat terlihat bahwa seluruh pengunjung gedung ini bukanlah orang biasa, terlihat dari penampilan mereka yang begitu memukau. Dari sini aku tau, bahwa pergaulan tuan Arga memang melewati batas standarku.
Di lantai dasar, kami di suguhi dengan pameran seni lukis yang berasal dari berbagai manca negara.
"Lukisan apa ini? harganya mahal sekali," ucapku saat melihat lukisan yang hanya berisi coretan tinta hitam yang tidak teratur, sepertinya sang pelukis hanya mencoret-coret saja tanpa niat.
"Penghasilanmu di butik selama setahun tidak akan cukup untuk membeli lukisan itu," jawabnya meledek.
"Lagipula siapa yang mau membeli lukisan seperti itu, seperti hanya coret-coret saja."
"Orang yang tidak mengerti seni tidak akan pernah tau keistimewaannya," jawabnya lalu menarik tanganku pergi.
"Saya juga bisa kalau hanya mencoret-coret seperti itu," ucapku lagi, namun tuan Arga tidak menjawab apapun, dia fokus menarik tanganku menaiki sebuah lift.
__ADS_1
Angka 10 pada tombol lift sudah menyala, artinya kami sudah sampai di lantai 10 gedung ini.
Dari kejauhan sudah terdengar sorak ramai dan tepuk tangan banyak orang, kami memasuki ruangan megah yang sudah sesak pengunjung. Namun seorang laki-laki gagah dengan pakaian serba hitam memberikan jalan kepada kami untuk sampai di pusat tontonan orang-orang ini.
Ternyata ini adalah sebuah peragaan busana terbesar dinegara ini, para perancang ternama sudah berdiri diatas panggung menebar pesona dan senyuman yang paling menawan. Kami duduk di kursi kosong yang berhadapan tepat di depan panggung.
Pandangan mataku tertuju pada satu sosok wanita cantik bergaun merah cerah dengan riasan minimalis yang sedang berdiri diatas panggung sambil melambaikan tangan ke arah kami.
Bukankah dia wanita yang bersama tuan Arga semalam, jadi tuan Arga mengajakku kesini untuk bertemu dengan wanita itu. Hah, menyebalkan!
"Dia wanita yang kau maksud?" Tuan Arga bertanya sambil menyenggol pundakku.
"Ya," jawabku datar.
"Dia perancang busana terkenal di negara ini, kau harus berkenalan dengannya," ucap tuan Arga tersenyum bangga, sedangkan aku hanya menghela nafas panjang, enggan menanggapi perkataan tuan Arga.
Beberapa saat kemudian, wanita yang di maksud tuan Arga turun dan mendekat ke arah kami, Benar saja, wanita ini jauh lebih cantik jika di lihat dari dekat, wajahnya putih mulus dan glowing, lalat saja akan terpeleset jika tidak sengaja hinggap dikulitnya.
Dia langsung mendekati tuan Arga dan memeluk laki-laki itu di hadapanku, sedangkan tuan Arga dengan rela membalas pelukannya tanpa peduli perasaanku. Menyadari ada diriku yang duduk kaku dengan tatapan geram kepada mereka, wanita itu langsung melepaskan pelukannya.
"Hallo, are you Sabrina?" tanya wanita itu sambil mengulurkan tangan.
"Emm, Ya," jawabku kikuk sambil menerima jabatan tangannya.
"Aku Claire, senang bertemu denganmu, Sabrina," ucapnya sambil tersenyum tulus.
"Ya," jawabku sambil membalas senyumnya.
"Nikmatilah peragaan busananya dulu, setelah ini aku akan mengajak kalian mengobrol," ujarnya sambil melambaikan tangan menjauhi kami.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1