TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Bulan madu part 2


__ADS_3

Hotel ini terlihat seperti bangunan prasejarah yang begitu megah. Di depan pintu masuk utama terdapat serambi yang tinggi dengan design piala dan lambang kerajaan Arms, membuatku semakin takjub memandang.


Sampai di lobi hotel, kami di suguhkan dengan ruangan yang begitu luas dan mewah, semua fasilitasnya sangat wow, sulit untuk menggambarkannya.


Setelah tuan Arga melakukan reservasi ulang, kami diantarkan oleh pegawai hotel menuju kamar tempat kami menginap.


Ah, seperti mimpi di siang bolong aku bisa menginap di hotel bak istana seperti ini.


Aku mencubit lenganku sendiri saat sudah memasuki kamar.


"Aww." Aku berteriak kecil.


"Apa kau tidak waras? kenapa kau mencubit tanganmu sendiri?" Tuan Arga melotot ke arahku.


"Hehehe, saya cuma memastikan kalau ini bukan mimpi, Tuan," ucapku sedikit malu.


"Dengarkan baik-baik, istri seorang Argadiansyah wijaya tidak boleh kampungan dan norak, jadi cobalah menjadi wanita yang sedikit berkelas, jangan membuatku malu!" Dia menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.


"Baiklah," ucapku melangkah mundur.


Bukannya aku ini kampungan, tapi kalau saja bukan karena dirimu, rasanya mustahil aku bisa datang ke tempat seperti ini. Mungkin aku harus sedikit berterimakasih padamu tentang ini.


Aku menyingkap sebuah gorden besar berwarna keemasan, ada sebuah kolam renang luas dan panjang yang membentang di luar jendela kaca ini, bahkan dari sini bisa di lihat singapore river, sebuah sungai kecil kebanggaan warga Singapura, salah satu tempat wisata favorit yang sering dikunjungi para wisatawan, tidak jauh dari sini juga terlihat Bay marina, salah satu icon negara ini.


"Kau suka?" Tuan Arga bertanya sambil memelukku dari belakang.


"Disini sangat indah, semuanya mewah," ucapku.


"Tentu saja, aku memesan kamar terbaik untuk kita."


"Terimakasih, sudah memberi kesempatan pada saya menikmati semua ini, Tuan."


"Hmm." Dia mulai menciumi rambutku, mengibaskannya ke samping dan menelusuri leher jenjangku.


"Kau mau aku ajari berenang?"


"Ti, tidak. Saya takut, saya trauma."


"Di depanmu itu adalah infinity pool, kolam renang dengan panjang 25 meter," ujarnya sambil menempelkan dagunya dipundakku.


"Benarkah, panjang sekali," ucapku kagum.


"Ya, ini hotel favoritku, selain arsitekturnya yang aku suka, tempat ini juga seperti sejarah bagiku."


"Sejarah? apa kau pernah datang kesini bersama kekasihmu?" tanyaku.


Berani sekali aku bertanya seperti itu, Hahaha.

__ADS_1


"Tidak, pertama kalinya aku datang sewaktu umurku masih sepuluh tahun, saat mama dan papaku merayakan hari jadi pernikahan mereka."


Dia melepaskan pelukannya, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur, air mukanya berubah seketika, terlihat sekali ada rasa rindu dan kekecewaan yang tergambar disana, entah apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga laki-laki di hadapanku ini, tapi aku belum cukup berani untuk bertanya lebih banyak.


"Benarkah? Tuan rindu datang kesini?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


"Aku tidak rindu tempat ini, aku merindukan kenangannya," ucapnya sambil memejamkan kedua matanya.


Hari sudah semakin senja, malam akan segera menyapa, manusia-manusia akan segera di istirahatkan dari berbagai macam kesibukannya.


...


Saat hari sudah semakin gelap, keindahan kota ini semakin mengagumkan, lampu-lampu dengan bermacam warna menghiasi setiap sudut kota, gedung-gedung tinggi di kejauhan terlihat semakin indah memancarkan berbagai sinar dari setiap bangunannya. Di dukung dengan langit yang begitu cerah menampakkan bintang-bintang yang terlihat begitu jelas, berbeda dengan di tempat kami berasal, sudah banyak polusi yang memenuhi langit, sedangkan disini udara masih bersih.


"Ayo kita turun, aku sudah lapar," ajak tuan Arga.


"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku." Aku bergegas membuka koper dan mencari gaun malam yang sudah aku persiapkan.


"Kau cantik jika memakai gaun hitam seperti itu," ucapnya sambil tersenyum hangat.


"Terimakasih."


Kau mengatakan aku cantik karena memakai gaun hitam ini kan? karena ini warna favoritmu? kalau aku memakai yang lain, tentu saja aku tidak cantik lagi.


Di dalam hotel ini sudah tersedia beberapa restoran kelas atas dengan banyak pilihan menu, jadi kami tidak perlu jauh-jauh keluar mencari tempat untuk mengisi perut.


"Kau mau makan apa?"


"Disini tidak ada makanan terserah."


"Saya makan sesuai yang tuan pesankan saja."


"Baiklah,"


Beberapa menit kemudian datang beberapa pelayan membawa berbagai macam makanan, sampai-sampai meja di hadapan kami penuh dan hampir tidak cukup tempat untuk menampung semua makanan ini.


Ya Tuhan, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini, bisa-bisa aku gagal diet kalau tuan Arga terus menerus menyogokku dengan banyak makanan enak.


Aku menelan ludah melihat pemandangan penggugah selera di hadapanku.


"Kau bisa makan sepuasnya," ucap tuan Arga.


"Ini terlalu banyak, Tuan. Perutku tidak cukup besar menampung makanan sebanyak ini." Aku tersenyum kecut, melihatnya saja perutku sudah terasa penuh, apalagi kalau dia memintaku menghabiskannya.


"Mulailah dari sekarang, kau harus mencicipi semuanya," ujarnya sambil menyomot capit seekor lobster besar yang terhidang di piring.


"Apakah semua ini gratis?" Aku bertanya sebelum terlambat, masih teringat dengan jelas kejadian saat dia menyuruhku membayar makan malam beberapa minggu lalu dengan bayaran versinya.

__ADS_1


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, kau harus membayarnya." Dia tersenyum.


Apa? dugaanku benarkan?


Dengan apa aku harus membayar makanan sebanyak ini, apalagi di dalam restoran mewah seperti ini, bisa-bisa menguras semua tabunganku.


"Kalau begitu saya tidak akan makan, saya sedang diet!" ucapku ketus.


"Hahaha, karena kau telah menolak pemberianku, maka aku akan menghukummu."


Apa lagi sih maunya laki-laki gila ini, di rumah, di butik, disini, dia selalu saja seenak jidatnya!


"Ya Tuah, salah saya apa, Tuan?" Aku mengadu kesal.


"Sudahlah, cepat makan, atau aku yang akan memakanmu!"


Dia mulai terlihat emosi, lebih baik aku menuruti saja ucapannya, karena saat ini aku begitu jauh dari rumah, kalau sampai dia marah dan tiba-tiba meninggalkanku di tempat ini, bisa-bisa aku jadi gelandangan dan tidak tau arah jalan pulang.


Usai menghabiskan beberapa piring makanan, dia meninggalkanku membayar menuju kasir. Aku begitu penasaran jumlah uang yang dia keluarkan untuk membayar semua makanan itu, mungkin saja penghasilanku di butik selama satu bulan tidak akan cukup membayar setengah harganya.


"Untukmu," ucapnya sambil menyodorkan cake coklat berbentuk hati.


"Wah, terimakasih, Tuan, kelihatannya enak." Aku meraihnya lalu membawanya dengan kedua tanganku.


Kami kembali ke kamar dengan perut yang sudah membuncit karena terlalu rakus, tapi perutku masih saja tersisa tempat untuk menyantap cake yang terlihat begitu lucu dan enak ini.


Aku duduk di sofa sambil menikmati pemandangan lampu kelap-lelip diluar jendela kaca, sedangkan tuan Arga sudah mulai sibuk memangku laptopnya.


Meskipun sedang berlibur, tapi laki-laki itu sepertinya tidak pernah bisa jauh dari pekerjaanya, seperti pekerjaan itu bukan sebuah beban, melainkan hobby yang menghasilkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2