TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Vitamin Rahasia


__ADS_3

Menyenangkan sekali, makan malam kali ini sudah terlihat perubahan pada sikap Claire yang biasanya malu-malu dan canggung saat berbicara dengan tuan Joe. Kali ini mereka lebih akrab dan banyak mengobrol di sela-sela acara makan.


Entah kenapa, aku juga ikut bahagia atas perubahan ini, karena dengan begitu, aku juga tidak akan terbayang-bayang dengan perasaan terlarang tuan Joe padaku, aku tidak mau karena diriku, tuan Joe dan tuan Arga berselisih paham suatu saat nanti. Aku tau hubungan mereka bukan hanya antara boss dan seorang anak buah, tapi lebih dari itu.


"Lusa, aku harus kembali bekerja, Sa. Aku akan kembali ke Paris," ujar Claire tiba-tiba.


"Kenapa terburu-buru sekali, Claire. Menginaplah seminggu lagi," ujarku.


"Ya, seminggu lagi," anjur tuan Joe menambahi.


"Tapi, pekerjaanku sangat banyak, Sa. Bulan depan aku berjanji akan datang lagi kesini."


"Janji?"


"Ya, aku berjanji, aku juga akan sangat rindu dirimu, Sa."


"Apakah kau juga tidak merindukanku?" keluh tuan Joe .


"Ciyeee, ada yang diam-diam ingin di rindukan," ledek tuan Arga menimpali.


Aku tertawa mendengar percakapan ini, akhirnya ada harapan yang tumbuh di hati mereka, semoga saja apa yang di inginkan Claire segera terwujud.


Usai acara makan malam yang begitu riuh, aku dan tuan Arga memutuskan kembali ke kamar lebih cepat, laki-laki itu sudah tidak mampu lagi menahan pertahanannya yang hampir jebol.


Sesaat setelah pintu kamar tertutup, tuan Arga bergegas menggendong tubuhku di depan dadanya, perut yang penuh karena kenyang tidak membuat nafsunya berkurang sama sekali, malah seperti memiliki tenaga tambahan untuk berperang lebih lama.


"Aku akan mengambilkanmu sesuatu dulu," ujarku turun dari gendongannya.


"Apa?"


"Minum ini," ucapku menyerahkan sebutir obat kapsul berwarna merah menyala.


"Obat apa?"


"Ini obat kuat, Honey. Ini akan membuatmu semakin kuat dan tahan lama."


"Benarkah? jadi kau meragukan kejantananku?"


"Tidak, Honey, bukan begitu. Aku hanya ingin membuat tubuhmu semakin fit," ucapku gelagapan.


"Benarkah? aku bisa bertahan selama yang kau mau tanpa obat itu, Sayang. Kau mau berapa lama?"


"Tapi, ini bisa memulihkan staminamu dengan cepat setelah kita melakukan itu."


"Aku tidak membutuhkan obat semacam itu, Sayang. Akan aku buktikan bahwa aku bisa bertahan lebih lama, akan ku buat kau menangis memohon ampun," ujarnya tersenyum licik.


Hah, gawat, laki-laki ini akan semakin menjadi-jadi sekarang, aku akan mati di atas kasur di buatnya. Bagaimana lagi caraku agar dia mau meminum obat ini. Hmm.


"Minumlah, aku akan lebih senang jika kau meminumnya," pintaku memohon.


"Kenapa kau memaksa sekali?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin mencoba, apakah obat ini mempan atau tidak."


"Hah, kau mau berapa lama, katakan. Satu jam? dua jam? atau tiga jam? atau kau mau aku menegang semalaman, itu tidak masalah," sergahnya, dia mendorong tubuhku di atas tempat tidur dengan cepat, sampai obat yang aku genggam terlepas begitu saja, entah jatuh dimana.


"Honey," ucapku di sela-sela ciuman panas yang mendarat bertubi-tubi di bibirku.


"Apa? jangan memaksaku meminun obat itu, kau seperti meremehkan kekuatanku."


"Tapi---," ucapanku tak lagi di hiraukan, dia terus menghujaniku dengan ciuman dan gigitan nakal di bibir.


"Aku akan membuatmu sampai memohon ampun, jangan khawatir," lanjutnya.


Laki-laki ini membuktikan ucapannya, dia melakukan semuanya tanpa jeda dan tanpa ampun. Aku sudah lelah, tenagaku hampir habis, bahkan tubuhku sudah terasa sangat lemas dibuatnya, tapi dia tetap bertahan tanpa memperdulikan diriku yang hampir kehabisan nafas. Aku benar-benar terkapar olehnya.


"Aku sudah tidak kuat, Honey," ujarku memelas, ku remas rambutnya dengan tenaga yang masih tersisa.


"Kau puas?"


"Baiklah, aku mengakuinya, tolong selesaikan semua ini, aku benar-benar tidak tahan lagi."


"Jangan sekali-kali meremehkan kejantananku, aku bisa melakukannya lebih dari ini."


Hah, kau memang gila tuan, kau benar-benar gila. Wanita mana yang akan sanggup jika bertempur lebih dari tiga jam lamanya, tanpa istirahat meskipun hanya sekedar melemaskan otot.


"Baiklah, maafkan aku, Honey."


Setelah desahan panjang yang mulai terdengar dengan tangan yang meremas kuat selimut, akhirnya tuan Arga menyudahi aksinya. Dia langsung bergegas membersihkan diri, sedangkan aku terkapar tidak berdaya di atas kasur.


"Kakimu kenapa?" tanya tuan Arga saat melihatku keluar dari kamar mandi.


"Sakit."


"Sakit? yang mana?" Laki-laki itu lari ke arahku lalu menggendong tubuhku di depannya dan merebahkan ku kembali di atas kasur.


"Yang ini," ujarku menunjuk ke bagian yang sakit.


"Kenapa bisa sakit? apa aku terlalu kasar?"


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Mungkin besok akan membaik," ujarku memeluknya.


"Salimah sedang membuatkan coklat hangat untukmu, mungkin sebentar lagi dia akan datang," kata tuan Arga membelai rambutku.


Bahkan tengah malam pun kau masih merepotkan orang lain, huh.


"Seharusnya tidak perlu, kasihan Salimah sudah bekerja seharian, tengah malam pun kau masih mengganggunya."


"Tugasnya 24 jam, aku membayarnya seperti membayar sepuluh pelayan biasa," tukas tuan Arga.


Baiklah, baiklah. Kau memang rajanya, semua orang-orang itu hanya pelayanmu saja. Semua keinginanmu adalah keharusan yang tidak boleh terbantahkan.


Tidak berapa lama, pintu di ketuk, Salimah datang membawa nampan berisi dua cangkir coklat hangat sesuai pesanan, tuan Arga dengan senyum mengembang menerima nampan itu di tangannya, sedangkan aku masih merebahkan diri di kasur merasakan tubuh yang sudah remuk tak bertenaga.

__ADS_1


Dia menyodorkan secangkir coklat itu di depanku, aku pun duduk dan menikmatinya bersama.


"Setelah ini tidurlah, aku akan ke ruang kerjaku sebentar, banyak berkas yang harus aku tanda tangani," ujar tuan Arga mencium keningku.


"Temani aku dulu, aku tidak bisa tidur jika kau tak disini," rengekku.


"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau tertidur."


Akhirnya aku berbaring dalam pelukannya, memejamkan mata dan merasakan hangat tubuh laki-laki yang mendekap erat tubuhku. Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk bisa menjadi orang yang dia cintai. Mungkin inilah takdir Tuhan, inilah kehendaknya, aku beruntung tidak menyerah semudah itu, sehingga aku bisa berada di titik ini sekarang.


...


Sinar matahari pagi membangunkan ku dari mimpi indahku, aku masih berada di pelukan laki-laki itu, tidak beranjak sejengkal pun dari tubuhnya.


"Selamat pagi, Honey," ucapku mencium kedua pipinya, keningnya, lalu bibirnya.


"Selamat pagi, Sayang. Apa masih sakit?"


"Sedikit, tapi sudah lebih baik daripada semalam."


"Baiklah, maafkan aku, aku tidak berniat membuatmu sakit, aku hanya tidak suka kau meremehkanku," ujar tuan Arga membalas ciumanku.


"Tidak apa-apa, obat yang aku berikan semalam hanya vitamin, bukan obat kuat seperti yang aku katakan."


"Kenapa kau tidak bilang?"


"Aku hanya menggodamu, Honey." ujarku tersenyum, dia mencebik, bibirnya manyun dengan wajah sok marah.


"Jika kau tak melakukan hal itu, aku pasti tidak akan membuatmu sampai seperti ini, Sayang. Maafkan aku," lanjutnya, dia menciumi pucuk kepalaku berkali-kali.


Setelah perdebatan pagi di atas ranjang telah usai, akhirnya kami memutuskan mandi bersama, aku merasa seperti pengantin baru sungguhan, laki-laki itu bahkan seperti remaja pubertas yang baru pertama kali jatuh cinta, dia seperti sedang kasmaran. Ah, lucunya.


Ku nikmati setiap moment kebersamaan kami, aku tidak akan pernah menjadikan setiap cinta yang menetes itu sia-sia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2