TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Permintaan papa


__ADS_3

"Hmm," ucap lembut tuan Arga seraya merapatkan tubuhnya padaku. Sedangkan aku hanya diam, menikmati lengan kekarnya yang menerobos masuk di bawah selimut memelukku.


"Kau sudah bangun?" dia berbisik lembut di telingaku.


"Ya, saya sudah bangun dari tadi," jawabku tanpa menoleh.


"Kau menungguku?"


"Menunggu untuk apa?" aku mulai merasa dia sedang ada maunya.


"Menungguku bangun." Dia semakin merapatkan pelukannya.


"Tidak, saya hanya belum ingin meninggalkan kasur empuk ini," jawabku asal, sebenarnya aku masih ingin menatap wajah tampannya saat pagi hari seperti ini.


Aku menggerakkan tubuhku, pura-pura menggeliat agar laki-laki itu sedikit merenggangkan pelukannya.


"Kau membangunkan sesuatu, Sabrina," ucap tuan Arga membalikkan tubuhku menghadapnya.


"Apa?" Aku terkejut, melihat mata laki-laki itu yang sudah dipenuhi keinginan nakalnya.


"Tentu saja membangunkan senjataku yang sedang tertidur pulas."


"Hah, saya tidak mengerti, maksud tuan apa?"


"Baiklah, aku akan membuatmu mengerti," ucapnya langsung merengkuh tubuhku di dalam pelukannya, bibirnya mulai menelusuri leherku, sesekali dia menggigit nakal telingaku.


"Ini masih pagi, Tuan," ucapku meronta, mencoba melepaskan lengan kekar laki-laki ini.


"Memang, kita akan sarapan diatas tempat tidur ini dulu." Dia terus menelusuri tubuhku dengan bibir nakalnya, menciumi setiap inci kulit yang ia lihat.


"Kita harus bersiap-siap untuk--- ," ucapanku terhenti, dia dengan ganas menggigit bibir bawahku dengan lembut, lalu menyesapnya mesra.


Aku meronta, meletakkan tanganku di dadanya, lalu berusaha mendorongnya agar menjauh. Namun usahaku selalu saja sia-sia, kekuatanku hilang begitu saja saat laki-laki ini memulai aksi nakalnya.


Akhirnya aku hanya bisa pasrah, menikmati setiap sentuhan dan kecupan lembut yang dia berikan. Pagi ini, kami menikmati sarapan istimewa yang tidak mengenyangkan perut, namun mengenyangkan hasrat.


Usai melakukan olahraga diatas tempat tidur yang melelahkan, aku memutuskan segera membersihkan diri dari apa yang patut di bersihkan.


Hari sudah semakin siang, kami kembali berkemas, mempersiapkan diri untuk kembali pulang. Semua barang yang akan di bawa sudah di angkut oleh seorang pelayan hotel, aku hanya tinggal duduk manis menunggu semuanya siap di mobil.


Dengan kencang, sopir memacu kendaraan menuju tempat dimana kami kemarin pertama kali menginjakkan kaki di negara ini.

__ADS_1


Saat turun dari mobil, beberapa pelayan dan pramugari sudah berjejer rapi menyambut keberangkatan kami, semuanya menunduk hormat saat kami berjalan melewati mereka.


Aku kembali menaiki sebuah pesawat jet pribadi milik tuan Arga yang begitu mewah ini.


Ah, senangnya bisa kembali pulang. Akhirnya aku akan segera berkunjung ke rumah orang tuaku.


Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku, sepanjang perjalanan aku terus saja menahan senyum membayangkan wajah bahagia ayah dan ibuku saat kami bertemu nanti.


Mungkin kami baru saja berpisah selama beberapa minggu, namun rasa rindu ini bahkan sudah melewati kadar normalnya.


"Papa sudah menunggu kita di rumah," ucapan tuan Arga membangunkanku dari lamunan.


"Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Tentu saja menyambut kepulangan kita."


"Ah, papa mertuaku itu memang baik," ujarku seraya tersenyum.


"Ya, dia selalu menjadi orang tua terbaik bagiku," ucap tuan Arga sendu, tiba-tiba ia memejamkan kedua matanya lalu bersender di kursi penumpang.


Aku meliriknya sekilas, meskipun aku tidak tau kebenaran apa yang sedang dia sembunyikan dibalik hati kerasnya, tapi aku tau pasti jika masalah yang pernah dia hadapi begitu berat dan sulit, seakan menjadi mimpi buruk di setiap malam yang dia lalui.


Entahlah, aku tidak mau menebak-nebak apapun itu, lagipula dia juga tidak akan mau berbagi cerita denganku. Aku tau kalau pernikahan ini tidak ada artinya apa-apa bagi laki-laki di sampingku, sekuat tenaga aku akan menutup hatiku rapat-rapat agar tidak sampai jatuh ke dalam jurang cinta yang bisa membunuh diriku sendiri secara perlahan.


"Jangan melamun, kita akan segera sampai," ucap tuan Arga lembut. Aku hanya mengangguk sambil mempersiapkan diri.


Saat pesawat sudah menapakkan rodanya di atas tanah dengan sempurna, aku bersama tuan Arga menuruni anak tangga kecil beriringan. Di bawah sana bang Bimo sudah berdiri dengan gagah, tampang wajahnya memang menyeramkan, kaku, tapi siapa sangka kalau sopir itu unik, lucu bahkan setiap kata yang terlontar dari mulutnya seakan menggelitik.


Kami memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh bang Bimo, sedangkan yang bertugas sebagai sopir itu masih sibuk menata barang-barang bawaan kami di bagasi mobil.


"Sudah siap, Tuan, Nona?" tanya bang Bimo saat duduk di kursi pengemudi. Sedangkan aku dan tuan Arga duduk di deretan kursi tengah.


"Sudah, Bang," jawabku saat bang Bimo mengintip dari spion di atas kepalanya.


Mendengar kata-kataku, seketika tuan Arga memutar kepalanya sembilan puluh derajat menatap wajahku penuh keheranan.


"Kenapa tuan melihat saya seperti itu?" tanyaku tidak kalah heran, karena raut wajah laki-laki itu seperti orang yang terkena serangan jantung dadakan.


Dia tidak menjawab, memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela mobil.


Apa ada yang salah dengan ucapanku? kenapa laki-laki ini seperti terkejut saat aku memanggil bang Bimo. Ah, sudahlah. Dia memang selalu susah di tebak.

__ADS_1


Aku ikut memalingkan wajahku ke arah jendela sebelahku, memandang jalanan kota yang ramai dan sesak, para pengemudi yang ugal-ugalan dan tidak mentaati peraturan lalu lintas, membuat kemacetan di penjuru ibu kota menumpuk, aku sudah terbiasa melihat pemandangan ini.


Memang, keadaan kotaku sangat jauh dari negara yang baru saja aku tinggalkan, bahkan belum sehari aku kembali pulang, rasanya sudah rindu ingin kembali liburan.


...


Setelah sampai di rumah, kami sudah di sambut papa mertuaku dengan sangat antusias, laki-laki paruh baya itu memelukku lebih dulu dari pada anaknya sendiri.


"Selamat pulang kembali, Nak," ucap papa mertua sambil tersenyum hangat ke arahku, rasanya seperti dia adalah ayah kandungku. Sikap lembutnya dan caranya memperlakukanku sebagai menantu sangat baik, aku seperti di anggap anak kandungnya sendiri.


Aku tersenyum lalu mencium punggung tangan laki-laki itu dengan hormat, dia dengan lembut mengusap pucuk kepalaku dengan tangan kirinya.


"Papa akan menginap malam ini?" tanya tuan Arga.


"Tentu saja, papa sangat rindu anak dan menantu papa, jadi papa memutuskan akan menginap disini beberapa hari," ujar papa mertua.


"Baiklah, Pa. Arga mau istirahat sebentar, kita akan bertemu saat makan malam nanti," pamit tuan Arga seraya menaiki anak tangga menuju kamar.


"Kau juga harus istirahat, Sabrina. Jaga kesehatanmu baik-baik, agar lekas bisa memberikan cucu pada papamu ini."


Tuan Arga yang belum sampai di ujung tangga seketika terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya saat mendengar papanya mengatakan hal itu padaku.


"Baiklah, Pa. Sabrina mau istirahat dulu," ucapku pamit, aku tidak ingin menanggapi soal hadirnya seorang cucu di keluarga ini, karena itu tidak akan pernah terjadi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2