TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Dunia ini sempit


__ADS_3

Hari ini suamiku sudah mulai bekerja dengan rutin, tapi hanya tiga sampai empat jam di kantor, karena banyak pekerjaan penting yang tidak bisa di wakilkan, dan dia juga tidak ingin berpisah terlalu lama dari Chamomile.


Claire memutuskan untuk menginap selama beberapa hari di rumah, dia juga ikut membantuku mengurus Chamomile, dia bilang ingin belajar cara merawat bayi.


"Aku suka Mile, Sa. Ah, dia lucu sekali," ujar Claire sambil mengayun Chamomile di dalam gendongannya.


"Apa kau sudah terburu-buru ingin memiliki bayi sepertiku, Claire?" tanyaku memancing.


"Jika ditanya seperti itu, tentu saja aku ingin segera punya baby sendiri, aku suka anak kecil," jawabnya.


"Yang jadi masalah, dengan siapa kau akan menyicil masa depanmu itu, Claire?" tanyaku sambil di bumbui tawa renyah.


"Hahaha, kau ini bisa saja. Aku sedang mengusahakannya, Sa. Lagipula umurku juga sudah matang untuk menikah, kita berbeda 2 tahun, dan kau lebih dulu menikah dan memiliki si kecil ini."


"Baiklah, sekarang katakan padaku, siapa laki-laki beruntung yang sedang kita bicarakan ini," selidikku sambil mengambil alih Chamomile dari gendongannya, ku letakkan putri kecilku itu kembali ke dalam box bayinya.


"Duhan, Duhan Morgan," jawab lirih wanita cantik dengan rambut berwarna kombinasi coklat gelap dan biru muda itu.


"Duhan? Duhan Morgan? Cepat katakan jika ada yang ada di pikiranku ini sama dengan laki-laki yang kau maksud, apa kita membicarakan orang yang sama?" tanyaku sedikit terkejut, nama itu adalah nama yang tidak asing lagi bagiku, jika yang di maksud Claire adalah orang yang ada dalam tebakanku.


"Kau mengenalnya?"


"Kau ingat seseorang yang menolongku kabur dari rumah sakit sesaat setelah aku keguguran? aku di tolong oleh teman sekolahku dulu, namanya Duhan, Duhan Morgan."


"Apa kita membicarakan laki-laki yang sama?" Dia balik bertanya, lalu menunjukkan foto yang terpampang di layar ponselnya padaku.


Benar, aku hampir saja pingsan karena terkejut. Bukankah dunia ini sempit sekali, bahkan seorang Claire yang kesehariannya keliling dunia kini bisa bersama dengan seorang Duhan. Sulit di percaya.

__ADS_1


"Menurutmu, apa Duhan laki-laki yang baik?" tanya Claire membuyarkan lamunanku.


"Tentu saja, dia baik, sangat baik. Aku sudah lama mengenalnya."


"Kami sudah menjalin hubungan sekitar hampir lima bulan, Sa. Dan, aku merasa nyaman meskipun hatiku belum sepenuhnya bisa menerimanya."


"Lagipula, mau sampai kapan aku menjadi wanita pengemis cinta laki-laki yang hanya menggantung perasaanku, aku ini wanita, dan aku butuh kepastian," lanjutnya.


Tentu saja aku sangat paham dengan apa yang Claire rasakan, tidak ada di dunia ini wanita yang benar-benar mampu bertahan sambil mengemis kepingan hati laki-laki lain yang sudah menjatuhkan cintanya pada wanita lain.


Entah apa yang di pikirkan Joe, dia akan menyesal telah kehilangan permata berharga seperti Claire, tentu saja ini semua salahnya.


"Jika memang itu yang terbaik, kau juga harus berusaha membuka hatimu untuknya, Claire. Kau tau rasanya patah harapan, jangan buat orang lain merasakan hal yang sama," ungkapku menasehatinya.


"Apakah Joe akan marah jika aku menolak lamarannya?" tanya Claire.


"Setiap kali aku menanyakan kejelasan hubunganku dengan Joe, dia selalu saja berkata nanti, nanti saat dia sudah memastikan kau benar-benar bahagia, Sa."


"Dia bahkan mengatakan itu dengan penuh penegasan, sama sekali tidak menjaga perasaanku, kenapa harus kau yang selalu jadi alasannya?"


"Bukankah kau sudah sangat bahagia dengan pernikahanmu, setiap hari dia menyaksikan kebahagiaan kalian dengan rasa sakit dan kecemburuan, namun dia masih tidak menyadari keberadaannya, seharusnya dia paham bahwa cintanya adalah cinta yang salah, cinta terlarang," lanjut Claire, kini netra abu-abu wanita itu tampak berkaca-kaca.


Begitulah manusia, ketika ia sudah menjatuhkan hatinya pada manusia lain, maka matanya seakan buta, telinganya seakan tuli, ia tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


"Aku juga sudah pernah memberanikan diri untuk membuatnya melupakan perasaan cintanya padaku, namun dia tidak peduli, Claire. Maaf."


"Ini bukan salahmu, Sa. Sama sekali bukan, aku harap keputusanku untuk menerima Duhan adalah sesuatu yang benar, aku tidak mau jika bersama Joe, maka hubungan kami akan terus di hantui perasaanya padamu, aku tidak ingin ada hati yang terbagi."

__ADS_1


Benar apa yang dikatakan Claire, mungkin jika dia menerima Joe, maka belum tentu Joe bisa lepas dari bayang-bayang perasaannya padaku, itu semua pasti sangat berpengaruh pada hubungan mereka.


Wanita mana yang mau di jadikan sebagai cadangan saat seorang laki-laki sudah benar-benar menyerah mendapatkan cintanya, seperti halnya Joe, dia hanya menjadikan Claire sebagai wanita cadangan saat dia sudah benar-benar menyerah melepaskanku.


Entah sebesar apa perasaannya padaku, namun itu bukan seharusnya, dia tidak perlu menungguku bahagia untuk bisa memikirkan dirinya sendiri.


"Aku mendukung apapun keputusanmu, Claire. Berbahagialah, kau patut bahagia mulai saat ini," ujarku lirih, lalu mengusap pipi basah sahabatku itu.


Claire memelukku, dia sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, kapan kau bertemu Duhan, Claire?"


"Di bandara Paris, saat aku mengunjungi pameran busana salah satu rekanku disana, saat itu aku tidak sengaja bertemu dengannya di dekat toilet, moment yang lucu sekaligus mendebarkan," jawab Claire dengan wajah yang merah merona, dia seperti sedang membayangkan saat-saat itu.


"Mungkin setahun yang lalu, dia masih bekerja di sebuah perusahaan bank nasional di kota ini, bagaimana bisa dia sampai disana?"


"Dia sudah hampir setahun juga bolak-balik Indonesia-Paris untuk mengurus bisnis keluarganya, karirnya disini sudah terancam, dia memilih pindah haluan," terang Claire.


Setelah aku kembali pulang ke rumah ini, aku memang sudah tidak pernah lagi menghubunginya ataupun melihatnya, aku takut jika masih berhubungan dengannya akan membuat suamiku cemburu buta, jadi aku memilih menutup akses hubungan kami.


Dunia memang tak selebar daun kelor, aku tidak menyangka bahwa perjuangan Claire bertahun-tahun demi merebut hati Joe, kini sudah berlabuh ke lain hati dalam waktu singkat, sungguh ajaib.


"Nanti malam, aku akan memberikan jawabanku pada Joe, aku harus mulai memantapkan hati untuk menolaknya, aku sudah terlalu lelah berharap, Sa," ujar Claire.


"Tentu saja, Claire. Kau wanita cantik, karirmu bagus, kau punya segalanya, tidak ada laki-laki yang bisa menolakmu, kau harus bahagia dengan caramu."


"Terimakasih, Sa. Terimakasih sudah menjadi sahabatku, jika tidak ada dirimu, entah pada siapa aku menumpahkan kegelisahan ini." Kami saling berpelukan, bak Lala dan Poo dalam animasi teletubies.

__ADS_1


Setelah dia puas mencurahkan isi hatinya, kini dia kembali menggoda Chamomile yang sedang tertidur pulas, dia memang sangat usil, namun aku tidak pernah keberatan soal itu.


__ADS_2