
Pagi ini adalah pagi yang sudah ku nantikan sejak lama, akhirnya aku bisa kembali ke rumah bersama putri kecilku yang kini sudah terlahir melihat indahnya dunia.
Selama perjalanan pulang ke rumah, aku duduk di kursi belakang sambil menyusui Chamomile, sedangkan suamiku masih sibuk dengan ponselnya, entah siapa yang sedang ia hubungi.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Ah, tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memastikan semua urusan kantor aman saat aku tidak ada," jawabnya lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Kemana Joe?"
"Dia ada di rumah, ada kejutan untukmu," jawabnya lagi sambil tersenyum genit, ia mencubit pipiku dengan gemas.
"Ih, sekarang genit ya," ujarku tidak mau kalah dengan mencubit pinggangnya.
"Aw, sakit, Sayang."
"Ssssttt, jangan teriak, nanti Mile bangun," kataku sambil menempelkan jari telunjuk di depan bibir.
Setelah sampai di depan rumah, semua pelayan beserta tukang kebun dan para koki sudah berjejer rapi di dekat pintu utama seperti sedang menyambut kedatangan seorang putri kerajaan, setiap orang membawa setangkai mawar putih dengan senyum mengembang.
"Honey, ini kejutan untukku?" tanyaku tidak percaya, sedangkan yang di tanya hanya mengangguk dan tersenyum.
Halaman depan dan taman di hiasi dengan berbagai ornamen lucu bernuansa merah muda, rangkaian bunga mawar menghiasi seluruh area taman.
Saat kaki ini mulai melangkah, Salimah mendorong kereta bayi dan memintaku meletakkan Chamomile disana, Salimah mendorongnya di depanku, sedangkan aku berjalan di belakangnya sambil menerima setiap hadiah yang di berikan para pelayan rumah ini.
Di ruang tamu, papa sudah menyambutku bersama Claire dan Joe.
"Claire, kau datang?" ucapku sambil setengah berlari menghampirinya.
"Hei, hei, pelan-pelan saja, mama muda. Aku tidak akan kabur," ujarnya tersenyum cantik lalu memelukku.
"Kau bilang sedang sibuk," ucapku sedikit mengerucutkan bibir, karena saat aku menghubunginya semalam, ia bilang sedang banyak urusan penting, kecewa rasanya.
"Memang, aku sibuk mempersiapkan hadiah untuk keponakan baruku dan mamanya," jawabnya.
Aku bahagia dengan kedatangan dan kejutan semua orang, bahkan semua ini rasanya terlalu berlebihan.
"Kau harus istirahat, Sa. Mari, ku antar ke kamar." Claire menawarkan diri.
"Ya, sebaiknya kau istirahat dulu, Nak. Jangan terlalu banyak bergerak, ingat pesan donter," sahut papa mertuaku.
"Baiklah, Pa. Sabrina ke kamar dulu," jawabku sambil tersenyum.
"Bolehkan aku menggendongnya?"
__ADS_1
"Aku sudah cuci tangan, ganti baju dan pakai handsanitizer, aku sengaja tidak pakai parfum berbau menyengat," lanjutnya.
"Tentu saja boleh, Claire," jawabku sambil mengambil Chamomile dari kereta bayinya, lalu ku serahkan pada Claire.
"Uluh-uluh, cantik sekali, mirip denganku, ya," seloroh Claire sambil tertawa.
Anak tangga yang jumlahnya cukup banyak ini membuat jahitan di area sensitifku terasa nyeri karena memang belum mengering, setiap melangkahkan kaki menaiki satu anak tangga rasanya ... uhh, ngilu.
Setelah sampai di kamar, Chamomile menggeliat dan sedikit berontak dalam gendongan Claire, sepertinya dia haus.
"Sa, apa dia ingin menangis?" tanya Claire panik.
"Sepertinya begitu, Claire."
"Kenapa? apa cara menggendongku salah?"
"Tidak, mungkin dia haus."
"Oh, aku pikir dia tidak nyaman bersamaku," jawab Claire menghela nafas, lalu menyerahkan Chamomile dalam gendonganku.
Setelah cukup lama dia menyusu, akhirnya ia kembali terlelap dengan nyenyak, ku letakkan ia dalam box bayi yang sudah kami persiapkan jauh-jauh hari.
Meskipun kami sudah menyiapkan kamar bayi khusus untuk Chamomile, namun untuk sementara aku tetap membawanya tidur bersamaku dalam satu ruangan, mungkin sampai beberapa bulan kedepan, aku tidak ingin lepas pengawasan terhadapnya.
"Sebenarnya, aku sudah sampai di kota ini sejak semalam," ujar Claire sambil meneguk jus jeruk yang di bawakan oleh Salimah.
"Aku ...."
"Kenapa, Claire?" Melihat pipi wanita cantik itu merona membuatku semakin penasaran
"Aku, makan malam bersama Joe," ujarnya malu-malu.
"Wah, sebuah kemajuan." Aku tersenyum melihatnya nampak malu, namun ada sedikit kejanggalan dari ekspresinya yang mungkin tidak bisa ku artikan.
"Dia melamarku, Sa."
"Hah, melamarmu? kau .... serius?" ujarku sedikit teriak, sampai-sampai Chamomile terusik dan hampir terbangun, sebelum ia benar-benar menangis, aku dengan sigap mengayunkan box bayi itu untuk membuatnya kembali terlelap.
"Wah, selamat, Claire. Selamat, akhirnya ...."
"Tapi, semuanya sudah terlambat, Sa. Semuanya terlambat," ujar Claire sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya sedikit berguncang, menandakan ia sedang menahan sesak dalam dada dan tangisan yang tertahan.
"Kenapa menangis? aku tidak mengerti, apa yang kau maksud terlambat, apanya yang terlambat?" tanyaku menghujaninya.
Dia bergeming, masih menutup wajahnya yang berderai air mata, aku segera memeluknya, mencoba menenangkan hatinya yang mungkin sedang gundah.
__ADS_1
"Menangislah, keluarkan semuanya jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik," lanjutku.
Sesaat kemudian, terlihat suamiku berdiri di depan pintu kamar sambil membawa segelas susu untukku, namun aku memberinya kode untuk meninggalkan kami sendiri, akhirnya dia memilih pergi.
Hampir setengah jam di kamar, Claire menghabiskan waktunya hanya untuk menangis, entah apa yang sedang dia pikirkan, namun wanita itu tampak begitu susah.
Aku tidak memaksanya untuk bercerita, ku biarkan dia tenang terlebih dahulu, jika sudah membaik, dia akan menceritakan semuanya tanpa ku minta.
...
Jam makan siang sudah tiba, aku dan suamiku memilih untuk makan di kamar karena tidak ingin meninggalkan Chamomile yang masih tertidur pulas.
Sedangkan Claire, papa dan Joe makan bersama di ruang makan.
"Honey, apa kau tau sesuatu tentang Claire dan Joe?" tanyaku.
"Tidak, bukankah Claire sedari pagi menangis di kamar ini, apa dia tidak menceritakan sesuatu?" Dia balik bertanya.
"Tidak, aku tidak tega jika bertanya macam-macam, mungkin dia belum siap untuk bercerita," jawabku sambil memasukkan makanan ke dalam mulutku.
Oeekk ... Oeekk ...
Tiba-tiba saja suara tangisan Chamomile di dalam box bayi terdengar nyaring, mungkin ia sudah terbangun sejak tadi namun aku tidak menyadarinya karena terlalu fokus memikirkan Claire.
"Lanjutkan saja makannya, akan ku gendong dia," ujar suamiku menahanku untuk berdiri. Dia segera mencuci tangan dan menggendong Chamomile di pundaknya, tangan kekar itu dengan lembut menepuk bokong si kecil sampai ia kembali tenang dan tertidur pulas.
Setelah aku selesai makan, aku bergantian menggendong Chamomile dan menyuruhnya untuk melanjutkan makan. Entah dari mana dia belajar cara menggendong bayi dan menenangkan bayi yang sedang menangis, namun aku bangga padanya.
Memiliki anak pertama tanpa pengalaman sedikitpun, membuat kami harus banyak belajar dan ekstra sabar demi merawat Chamomile.
Meskipun suamiku membayar dua baby sitter untuk menjaga Chamomile, namun aku tidak menyerahkan kebutuhan bayiku sepenuhnya pada mereka, aku harus bisa mengurus Chamomile sendiri, mereka hanya membantu sedikit-sedikit saat aku perlu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...