
Hari semakin gelap, Aku dan tuan Arga memutuskan untuk mengakhiri percakapan membosankan ini dengan segera menuju ruang makan untuk makan malam. Perutku sudah keroncongan rasanya.
Saat makan malam kami baru berlangsung beberapa menit, tuan Joe tiba-tiba datang mengejutkan.
"Ayo kita makan malam bersama, Joe," ajak tuan Arga saat melihat kedatangan tuan Joe.
"Aku sudah makan, Boss."
"Tidak apa-apa, makan dua kali tidak akan membuatku seperti sumo, tenanglah." Tuan Arga tertawa kecil.
"Baiklah kalau kau memaksa," ujar tuan Joe seraya mendekat. Dia lalu memilih duduk di kursi yang berhadapan denganku, di sisi kiri tuan Arga.
"Bagaimana liburan bulan madumu, Nona," tanya tuan Joe menyapaku.
"Menyenangkan," jawabku singkat.
"Wah, aku pasti rugi tidak ikut dengan kalian, Ya." Tuan Joe tertawa.
Selama aku pulang dari singapura, tuan Joe sama sekali tidak pernah mengajakku bicara atau hanya sekedar menyapa, dia hanya memilih memandang sekilas lalu pura-pura tidak melihat kehadiranku. Ini adalah pertama kalinya dia mengajakku mengobrol sejak saat itu.
"Lain kali, kita akan berlibur bersama," sela tuan Arga.
"Baiklah, tapi tunggu aku cari pasangan dulu, hehehe." Tuan Joe tertawa.
"Oh ya, terimakasih sudah menanam banyak tanaman mawar di taman samping, Tuan. Saya suka sekali melihatnya," ucapku sambil tersenyum menatapnya.
"Benarkah? kau suka, Nona?"
"Ya, aku menyukainya."
"Padahal awalnya aku membeli semua tanaman itu, karena si pemilik ruko sedang bangkrut, saat aku lewat depan toko miliknya, aku melihat ada beberapa rentenir menagih sambil memukulnya sampai babak belur, aku menolongnya saat itu, lalu membeli beberapa tanaman mawar itu sebagai ganti aku melunasi hutang-hutang si pemilik ruko," jelas tuan Joe.
"Benarkah?" Aku sedikit terkejut mendengarnya, ku pikir dia membelinya karena dia tau aku menyukai tanaman mawar. Sepertinya aku terlalu percaya diri.
"Ya, aku kasian melihatnya," lanjutnya.
Aku hanya mengangguk, lalu kemudian melanjutkan melahap makanan yang tersisa di piringku.
"Joe, apakah semua berkas untuk meeting besok sudah beres" tanya tuan Arga sambil mengelap mulutnya dengan tisu, dia sudah selesai makan.
"Sudah, Boss. Sepertinya kita ada masalah dengan pemilik saham yang tadi pagi kita temui, dia menolak menaruh saham di perusahaan baru kita."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Dia sepertinya sedang di pengaruhi oleh orang lain untuk membatalkan semua perjanjiannya dengan kita, sepertinya kita punya musuh di dalam selimut."
"Kau urus dia, kita akan cari tau siapa dalangnya."
"Beres, Boss. Lagipula untuk bisnis parfum baru kita, hampir semua kolega ikut berpartisipasi, jadi meskipun kehilangan satu orang, itu tidak akan jadi masalah besar," lanjut tuan Joe.
"Aku tidak suka dengan orang yang bermain kotor, jika kau temukan orang yang mencurigakan, cepat tangkap, atau jika perlu, lenyapkan saja dia." Tuan Arga berbicara sangat serius.
Aku menelan ludah mendengar percakapan dua orang di hadapanku, sekejam itukah dunia bisnis orang-orang elit di luaran sana, sepertinya banyak manusia yang suka bermain api dalam hal-hal seperti itu.
"Saya sudah selesai makan, Tuan. Saya ingin menonton televisi di ruang tengah sebentar," pamitku pada tuan Arga.
"Ya, aku ada urusan dengan Joe. Jika kau mengantuk, tidurlah lebih dulu," ujar tuan Arga.
Aku langsung berdiri dan meninggalkan mereka yang masih duduk santai di depan meja makan, sudah lama rasanya tidak menonton televisi, karena di rumah ini, televisi hanya ada di ruang tengah.
Beberapa menit saat aku sudah menyalakan tv, aku melihat tuan Arga dan tuan Joe berjalan menuju ruang kerja, mereka melewatiku tanpa menyapa. Karena ruang kerja milik tuan Arga letaknya di ruangan paling ujung, aku tidak pernah tau bentuk dalamnya, hanya pernah di beri tau Salimah kalau itu adalah ruangan kerja khusus tuan Arga.
Aku bosan, sudah beberapa chanel tv yang bolak-balik ku ganti, tapi tidak ada satupun acara yang seru. Aku tidak suka menonton sinetron-sinetron jaman sekarang, drama-drama percintaan anak muda yang membosankan. Aku lebih suka menonton film kartun dan anak-anak, setidaknya itu lebih menghibur dari pada tontonan remaja yang alaynya kebangetan.
Saat masih SMA, aku suka menonton drama Korea, selain pemainnya yang tampan paripurna, kecantikan pemeran wanitanya juga membuatku iri. Aku sering terheran-heran, mengapa para wanita di film korea itu tubuhnya begitu langsing, berbeda sekali dengan tubuhku yang berisi ini, meskipun aku tidak di bilang gemuk, tapi aku tidak selangsing Safira, apalagi wanita-wanita Korea, aku jauh dari itu.
Ah, saat aku melihat wajah tuan Joe, aku seperti melihat Lee Min Ho, ketampanan tuan Joe mirip seperti oppa-oppa Korea, wajahnya yang putih mulus tanpa bulu sehelaipun, hidung mancung juga bibir seksinya, mirip sekali dengan pemain film drama Korea yang pernah aku tonton. Tuan Joe juga memiliki wajah yang baby face, aku bahkan tidak bisa menebak umurnya.
Berbeda sekali dengan tuan Arga, ketampanan maskulin milik tuan Arga lebih menonjol, dia lebih cool, keren, macho. Dia tidak hanya tampan namun juga begitu menawan. Badannya besar dan berotot, namun aku belum pernah menemukan ada tatto yang menghiasi di bagian tubuh manapun, kalau di kira-kira mirip seperti aktor bersaudara Chris Hemsworth atau Liam Hemswort, namun tuan Arga lebih keren pastinya.
Usai bingung membolak-balik acara tv dari channel satu sampai seratus, aku memutuskan untuk kembali ke kamar.
....
Aku mengganti bajuku dengan lingerie berwarna merah maroon yang begitu lucu, sepertinya aku mulai suka memakai pakaian-pakaian seperti ini, mungkin ini karena aku mulai terbiasa.
Beberapa jam berbaring di atas tempat tidur, namun mataku masih enggan terpejam, semakin aku berusaha tidur, rasa kantuk semakin menjauh.
Aku memiringkan badan menghadap tempat biasa tuan Arga tertidur.
Apa mungkin aku tidak bisa tidur karena tuan Arga tidak ada di sampingku?
Ah, tidak mungkin, lagipula, sebelum ada laki-laki itu juga aku sudah terbiasa tidur sendirian.
Aku memutar tubuhku, kembali miring menghadap jendela kaca, sesekali gorden itu tersingkap terkena hembusan angin, terlihat titik-titik gerimis di luar sana, aku merasakan udara dingin masuk menerobos melalui celah jendela, menyentuh kulitku yang hanya berkain tipis seadanya.
Aku melamun, entah apa yang sedang berputar-putar di kepalaku, aku bingung mengungkapkannya.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, aku melirik jam dinding yang bertengger di atas sana, sudah pukul sebelas, namun tuan Arga belum juga kembali dari ruang kerjanya.
Apakah harus sampai selarut ini dia bekerja?
Tidak bisakah jika melanjutkannya esok pagi, aku benar-benar tidak bisa tidur.
Aku bergumam sendiri, tiba-tiba ada tangan yang begitu hangat menyentuh kulit bahuku. Seketika aku menoleh terkejut.
"Kau belum tidur?" tanya tuan Arga.
"Belum, kapan tuan masuk?" tanyaku heran, karena aku sama sekali tidak mendengar seseorang membuka pintu, apalagi mendengar langkahnya.
"Baru saja," jawabnya. Bahkan tuan Arga sudah mengganti bajunya, aku benar-benar terbuai dalam lamunanku sampai tidak mendengar apapun.
"Apa kau menungguku?" lanjutnya.
"Ya, eh tidak!"
"Yang benar yang mana?"
"Tidak, Tuan. Saya tidak sedang menunggu tuan."
"Aku bisa mencium aroma kebohongan," ujarnya sambil tersenyum menggoda.
"Saya tidak sedang berbohong."
"Mengakulah, atau aku akan berbuat yang iya-iya padamu." Dia menyeringai tipis.
"Berbuat yang iya-iya? apa maksudnya?" Aku tidak mengerti.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...