TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Jadwal iya-iya


__ADS_3

Malam hari, aku dan suamiku masih menginap di rumah ayah dan ibu, mereka bilang besok malam sudah bisa kembali pulang, jadi ini adalah malam terakhir aku menginap.


Aku tau, ada rasa kurang nyaman saat suamiku tinggal disini, bukan karena rumah ini tidak sebesar rumahnya, atau karena makanan di sini tidak selezat masakan koki andalannya, namun ketidaknyamanannya adalah karena Safira. Ya, adikku itu memang tidak pernah bersikap manis padaku, itulah yang membuat suamiku jengkel luar biasa.


Yang bisa ku lakukan, hanya mengelus dadanya sambil tersenyum cerah, mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.


Memang, meskipun kami tumbuh besar bersama, di didik oleh orang tua yang sama, namun sepertinya Sifat Safira bertolak belakang denganku. Dia sulit di nasehati, dan pandai membantah.


Makan malam kali ini, ku lihat ia lebih dulu duduk di kursi makan sambil mengisi piringnya dengan berbagai menu, aku tersenyum lega, ku pikir malam ini dia tidak akan pulang.


"Dari mana, Ra?" tanyaku halus.


"Main," jawabnya datar, ia sama sekali tidak menoleh, lalu melanjutkan makannya.


"Oh, ya sudah." Aku diam, tidak ingin terjadi perdebatan di antara kami, itu hanya akan membuat suamiku murka lagi, dia sudah berusaha untuk tidak meluapkan amarahnya pada Safira.


Setelah Safira usai dengan makannya, dia mengembalikan kartu ATM yang kemarin ku berikan. Seperti biasa, dia bahkan tidak mengucapkan kata terimakasih atau menceritakan apa-apa yang ia beli.


Tidak apa, aku sudah biasa.


...


Di kamar, aku dan suamiku menikmati makanan ringan yang tadi kami beli saat sepulang kerja. Aku menceritakan tentang rumah yang akan segera ku sewa, aku setuju dengan rekomendasi yang di berikan oleh tuan Joe. Entah mengapa, laki-laki itu selalu bisa mencocokkan pikiranku dengan pemikirannya.


"Kapan akan mulai di renovasi?" tanyanya.


"Besok, dan lusa semua mesin jahit yang ku beli akan di kirim, Honey."


"Semoga usahamu semakin maju, Sayang. Aku tidak peduli sebanyak apa uang yang kau hasilkan, asalkan kau bahagia dengan aktifitas mu, aku akan selalu mendukung," ujarnya, ia menyuapkan sepotong wafer ke mulutku.


"Terimakasih, Honey." Aku memeluk laki-laki itu, meskipun dia bisa memberikan aku uang yang lebih banyak, tapi aku memilih meniti karirku sendiri, aku ingin menjadi wanita mandiri.


Hanya dengan menjentikkan jari, tentu saja laki-laki di pelukanku ini mampu menghasilkan ratusan lembar dollar. Dia pandai berbisnis, mengelola keuangan, dia pandai segalanya, termasuk meluluhkan hatiku.


"Untuk acara makan-makan bersama karyawanmu, aku tidak ikut menemani, kebetulan ada jadwal pertemuan dengan dewan direksi yang akan mengelola perusahaan parfum di Prancis."


"Tidak apa-apa, Honey. Aku sudah memesan seratus kotak brownis milik istri bang Bimo, semoga ia bersedia," kataku.


"Kenapa tidak bilang? aku punya gerai kue besar, aku bisa minta mereka membuatnya."


Gerai kue?


Ah, laki-laki ini selalu saja memiliki kejutan untukku, entah bisnis apa saja yang sudah dia geluti, aku bahkan tidak bisa menghitung jumlah aset miliknya.

__ADS_1


"Tidak, Honey. Dengan membeli brownis buatan istri bang Bimo, setidaknya aku juga menambah penghasilannya, itu adalah cara lain untuk membantu seseorang," kataku sambil tersenyum.


Dari cerita yang ku dengar, bang Bimo memiliki keluarga sederhana, mereka hidup tidak neko-neko, meskipun serba pas-pasan, penghasilan bang Bimo yang di terima dari jasa menjadi sopir, pengawal dan satpamku, ia lebih banyak sumbangkan ke panti asuhan. Sungguh pelajaran yang berharga bagiku.


"Kau ingat penjual es krim yang kita temui di pantai? saat kita pergi bersama Claire?" tanya suamiku, ingatanku langsung tertuju pada saat itu.


"Ingat, ada apa?" tanyaku penasaran Meski kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu, tapi aku masih ingat betul pemandangan miris yang ku lihat kala itu.


"Aku membangun rumah sederhana untuk mereka di dekat pantai itu, membiayai kedua cucunya sekolah, dan memberi modal untuk kakek itu berjualan dengan sepeda. Joe sudah mengaturnya sejak satu bulan yang lalu."


"Karena anak-anak itu tidak pernah sekolah, aku memberikan guru pembimbing lebih dulu yang akan datang ke rumah mereka setiap hari untuk sekedar mengajarkan baca tulis."


"Beberapa bulan lagi tahun ajaran baru, mereka bisa mulai sekolah ke tingkat dasar. Aku sudah memilih sekolah untuk mereka, dan biayanya akan di lunasi untuk 6 tahun kedepan," lanjutnya.


Lihat, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada laki-laki ini, kejutan-kejutan indah selalu ia hadirkan untukku setiap hari. Jangan tanya, sebangga apa kali ini aku mendengar ucapannya.


Bukan melulu soal bisnis yang semakin meroket keuntungannya, namun karena sifat ringan tangannya yang juga semakin kentara. Semoga kehadiranku di hidupnya juga bisa membawa perubahan lebih baik ke depannya.


"Aku mencintaimu, Honey. Sungguh, aku berharap kau selalu menjadi orang yang di butuhkan orang lain. Sebanyak apapun harta yang kita miliki, ada hak orang lain di dalamnya." Aku tersenyum, mengeratkan pelukanku di pinggangnya.


Sejujurnya, aku juga punya cita-cita mulia yang sedang ku usahakan, membangun sekolah gratis untuk yatim piatu dan fakir miskin, semoga setelah usahaku berjalan lancar, aku segera mampu mewujudkannya.


Pillow talk malam ini sudah cukup, aku memejamkan mata sambil memeluk tubuh gagah suamiku. Dia merelakan lengannya sebagai bantal, sedangkan tangan yang lain mengusap pelan pucuk rambutku, membuat mata ini semakin berat dan tenggelam dalam mimpi.


...


Jika di rumah besar suamiku, semua pekerjaan tidak ada yang terlewatkan, setiap pelayan punya tugas masing-masing, mereka tidak pernah membiarkan ku membantu, bahkan hanya untuk memegang sapu sekalipun aku tidak di izinkan.


Sudah seperti yang mulia ratu rasanya. Terkadang aku malu, setiap hari mereka membawa sekeranjang baju kotor dari kamar, dan itu bukan hanya berisi baju kerja biasa, lingerie dan berbagai macam baju dalam ikut nimbrung di dalamnya, mereka mencucinya setiap hari.


Pagi ini aku masak sayur sop, dan menggoreng ayam saja. Persediaan lauk pauk di kulkas tinggal sedikit, lagipula makanan seperti ini juga sudah lezat menurutku. Bi Ijah ku biarkan membereskan pekerjaannya untuk menjemur baju di halaman samping.


Saat sedang berdiri di depan wajan penggorengan, ku rasakan lengan kekar menerobos memeluk pinggangku, hembusan nafas hangat itu menempel di leherku.


"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata disini," ujarnya, tubuhnya yang menjulang lebih tinggi dariku, membuatnya sedikit membungkuk jika memelukku dari belakang.


"Aku memasak untukmu."


"Benarkah? aku suka masakanmu, lebih lezat dari masakan koki ahli," rayunya, aku hanya tersenyum.


"Emmm, apakah kau sudah selesai datang bulan?" Dia bertanya, seketika rasa hangat dalam pelukannya berubah menjadi lebih menakutkan.


Sebenarnya, kemarin adalah hari terakhir aku datang bulan, dan seharusnya semalam kami sudah bisa melakukan yang iya-iya, namun aku berpura-pura dan tidak memberitahunya.

__ADS_1


"Kalau sudah, bolehkan aku minta jatah sarapan pagiku?" ujarnya mencium tengkuk leherku, aku merinding.


"Kita bicarakan di kamar, Honey. Jangan disini." Aku berbalik, mematikan kompor lalu menggandengnya ke kamar.


Di kamar, ku tunjukkan satu lembar kertas yang di berikan oleh dokter Daren, itu adalah jadwal yang harus kami jalani untuk program hamil, jadwal untuk ber iya-iya maksudnya.


Masa subur atau masa ovulasi pada wanita terjadi di hari ke 12 sampai hari ke 14 sebelum hari pertama datang bulan berikutnya. Artinya, sekitar 18 atau 19 hari lagi.


"Jadi, apakah hari ini kita ada jadwal?" tanyanya dengan penuh harap.


"Ada, tapi nanti malam, Honey. Jangan sekarang, ini sudah siang."


"Sudah menunggu tujuh hari, sekarang aku harus menunggunya lagi selama 12 jam. Menyebalkan," gumamnya. Aku hanya tersenyum, membiarkan dia merajuk seperti anak kecil yang minta di belikan permen.


"Siap-siap dulu, setelah ini kita sarapan, Honey."


Dengan wajah cemberut, laki-laki tampan itu masuk ke dalam kamar mandi sambil melirikku tidak enak. Aku segera menyiapkan kemeja dan jas untuknya.


...


Hari ini kegiatanku di butik sangat sibuk, harus bolak balik ke rumah jahit untuk memastikan semuanya berjalan lancar sesuai keinginanku.


Ku putuskan untuk merubah warna cat dinding menjadi biru muda dengan putih, namun biru lebih mendominasi, karena aku memang menyukai warna ini.


Tuan Joe mengirim lima orang suruhan untuk melakukan pengecatan dan pembersihan, maka semua pekerjaan hanya membutuhkan waktu singkat, siang hari sudah beres.


Semua mesin jahit yang ku pesan sudah tiba, barang-barang dan alat jahit dari butik langsung di pindahkan. Mulai besok, semua karyawan jahit pindah kesini bersama lima penjahit baru.


Semoga, ini adalah awal yang baik untuk karirku. Tentu saja dengan dukungan orang tua dan suamiku, aku sampai bisa berada di titik sejauh ini.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2