TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Kata-kata Safira


__ADS_3

Saat semua masakan sudah siap, ku lihat Safira pulang di antar oleh sebuah mobil hitam bersama beberapa anak laki-laki.


"Safira, kau pergi bersama teman laki-laki?" tanyaku lembut, berusaha sebaik mungkin agar dia tidak tersinggung.


"Bukan urusan kakak," jawabnya sinis. Aku menghela nafas panjang, belum sehari ayah dan ibuku pergi, kelakuan Safira sudah aneh-aneh.


"Bersihkan dirimu, setelah ini kita makan malam," ujarku.


Dia pergi tanpa menjawab, berlalu meninggalkanku yang tengah sibuk menata piring di meja makan.


Entah mengapa, semakin kesini Safira semakin berubah, dari dulu, kami anak-anak ayah selalu di ajarkan sopan santun dan etika yang baik, namun sepertinya Safira sudah jauh melampaui hal itu. Bahkan hari ini dia sudah berani satu mobil dengan beberapa anak laki-laki.


Aku segera menepis pikiran burukku mengenai Safira, lalu bergegas menuju kamar setelah semua makanan dan piring tertata rapi di atas meja.


"Honey, kau sudah lapar?" tanyaku, ku lihat ia sedang duduk di tepi kasur sambil membaca buku catatan milikku.


"Sedikit, kau ada masalah di butik, Sayang?" tanyanya sambil meletakkan buku itu di atas meja.


"Tidak, hanya butuh sedikit bantuan. Aku butuh rumah jahit khusus sebagai tempat menjahit dan gudang kain yang harus segera ku dapatkan, dan aku bingung harus mencari tempatnya," ujarku.


"Kau ingin mendapatkan tempat dimana dan butuh berapa luas?" tanya suamiku serius.


"Kalau bisa dekat dengan butik, untuk mempermudah pengecekan dan kirim-kirim barang. Tidak terlalu luas, asal cukup untuk menampung sekitar lima belas penjahit dan barang-barangnya."


"Aku akan suruh Joe mengaturnya."


"Tapi, kalau bisa yang harga sewa tempatnya sedikit murah, Honey. Karena uang kas butik sedang di pakai untuk banyak keperluan, sedangkan tabunganku untuk modal pesanan yang sedang di kerjakan."


"Aku membelinya untukmu, tidak perlu sewa."


"Jangan, aku sudah sangat senang dengan hadiah butik baru darimu, kali ini aku akan berusaha sendiri. Aku hanya butuh rekomendasi tempat saja," ujarku.


"Baiklah kalau itu maumu, aku akan mengatur semuanya."


Setelah itu, aku mengajak suamiku menuju meja makan, tempat misteri dimana pertama kalinya ia datang kesini saat itu, dengan wajah angkuh dan tatapan tajamnya, sukses membuatku bergidik ngeri kala itu.


Di meja makan, aku duduk berdampingan dengannya, ia enggan ku suruh duduk di kursi utama, tempat biasa di pakai ayahku, ia memilih untuk berada tepat di sisi kananku.


"Bi, Safira mana?" tanyaku pada bi Ijah yang lewat di depan kami.


"Sebentar, saya panggilkan, Non."


Tanpa menunggu Safira, aku segera meraih piring dan mengisinya dengan nasi dan sepotong daging rendang beserta sayur mayur, lalu menyerahkannya pada suamiku. Di rumah miliknya, kami lebih sering di hadapkan pada olahan seafood, namun di rumah ini jarang sekali menyimpan makanan jenis itu, paling sering olahan daging sapi dan ayam.


"Kau suka?" tanyaku saat ia mulai mengunyah.


"Suka, ini enak."

__ADS_1


"Aku yang masak, loh."


"Masakanmu? Wah, istriku tidak hanya pandai urusan ranjang, ia juga pandai urusan dapur. Aku beruntung memilikimu, Sayang." Dia menggombal dengan mulut penuh makanan.


"Ehem." Suara Safira berdehem tidak jauh dari kami.


"Makan, Ra. Kakak sudah masak untukmu," ujarku, sayur asam yang ku masak ini juga termasuk favorit Safira dari kecil.


Safira mendekat, memperlihatkan kemolekan tubuhnya di depan kami. Dia memakai hot pant levis warna biru muda dengan atasan tang top berwarna hitam, bahkan belahan dadanya tampak terpampang melambai siapapun yang melihat.


Dia yang memiliki tinggi badan lebih lima centimeter dariku menampakkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus, rambutnya di gerai begitu saja. Di memilih duduk tepat berhadapan dengan suamiku.


Aku berusaha bersikap tenang dan biasa saja, padahal gejolak batin sedang membara, menafsirkan maksud yang tersembunyi di balik penampilan Safira yang terkesan 'Berani' di hadapan suamiku.


Secara normal, mata lelaki akan sangat suka melihat pemandangan seperti itu. Namun tidak dengan suamiku, ia bahkan tidak ingin menoleh atau melirik Safira di hadapannya.


Adikku itu kini sudah dewasa, dia pasti paham apa-apa yang seharusnya dia lakukan. Tapi entahlah, mungkin dia tidak bermaksud menggoda laki-laki yang bersebelahan denganku ini.


"Aku mau itu dong, Kak." Safira sedikit berdiri dari kursinya dan membungkuk, menunjuk semangkok daging rendang di dekatku. Buah dada besarnya kini tampak terlihat jelas oleh mata, kedua gunung kembar itu nampak ingin loncat dari tempatnya.


Dengan cepat, aku menyerahkan semangkok daging itu agar suamiku tidak sampai melihat sikap tidak sopan Safira. Sungguh, aku benar-benar tidak tau jalan pikiran gadis itu, seberani itu kah dia dengan penampilannya. Seharusnya dia paham, disini ada suamiku, yang termasuk kakak iparnya. Sangat tidak pantas dia berusaha menampakkan kemolekan tubuhnya dengan sengaja.


"Kalian menginap berapa lama?" tanya Safira kembali duduk di kursinya.


"Sampai ayah dan ibu kembali," jawabku cuek, aku mulai tidak suka caranya bersikap.


"Aku, ke kamar duluan, Sayang," ujar suamiku, terlihat piringnya sudah kosong melompong, entah karena ia lapar atau doyan. Padahal aku belum menghabiskan setengah isi piringku.


"Ya," jawabku singkat. Sebelum beranjak pergi, ia menyempatkan mengusap pelan rambutku dan mencium pipi kananku sekilas.


"Terimakasih, masakmu enak, Sayang," katanya lagi, aku hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum. Lalu memperhatikan sosok laki-laki itu menaiki anak tangga dan kembali ke kamar.


Namun, wajah Safira kini tampak masam, ia seperti kecewa karena suamiku memilih masuk ke kamar lebih dulu.


"Kenapa tidak di habiskan, Ra?" tanyaku, bahkan isi piringnya masih terlihat utuh.


"Sudah tidak berselera." Dia melengos.


"Kenapa? Karena kakak iparmu sudah pergi ke kamar, jadi kau tidak bisa menggodanya?" tanyaku dengan penuh penekanan, jika terus di biarkan, dia akan semakin tidak terkendali.


"Sudah tau masih tanya."


"Dengarkan aku, Ra. Dia kakak iparmu, dia suamiku, sangat tidak sopan kau berpakaian seperti ini di hadapannya, kau seperti tidak punya etika."


"Seharusnya kau jaga kehormatanmu, tidak baik anak gadis bersikap seperti itu pada lawan jenis. Bagaimana nanti penilaian laki-laki di luar sana terhadapmu," paparku.


"Sama sekali bukan urusanmu, Kak. Jangan terlalu mencampuri kehidupanku," jawabnya sedikit berteriak.

__ADS_1


"Seharusnya, kau juga jangan mengusik laki-laki yang sudah di miliki orang lain, Ra." Aku bersikap tegas.


"Hah, kenapa? kau takut suamimu itu tergoda olehku, Kak?"


"Memang sepantasnya dari awal dia menikah denganku, secara garis besar aku jauh lebih segalanya darimu, Kak." Safira melipat kedua lengannya di depan dada.


"Cukup, Safira. Hentikan!"


Dadaku bergemuruh, sakit mendengar kata-kata itu terlontar langsung dari mulut adikku, satu-satunya saudara yang ku jaga dan ku sayangi sepenuh hati, begitu tega mencabik-cabik perasaan ini.


Entah mengapa, kali ini kata-katanya begitu menusuk, seakan tombak yang tepat menghujam jantungku, sakit.


Aku meninggalkan piring yang masih menyisakan makanan, berlari menaiki tangga meninggalkan Safira yang duduk mematung di kursinya.


Aku duduk merosot di lantai dekat pintu kamar, menenggelamkan wajahku, dan memeluk kedua lututku erat. Aku terisak, bahuku berguncang.


Entah dosa apa yang ku perbuat, sampai-sampai adikku sendiri bersikap begitu buruk padaku, padahal selama ini aku selalu berusaha menjadi saudara dan sahabat yang baik untuknya.


Setelah diri mulai tenang, aku menuju ruang keluarga dan mengambil sekotak tisu di sana, ku bersihkan eyeliner dan mascara yang berantakan, lalu memberanikan diri masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kau kenapa?" tanya suamiku dengan wajah khawatir, mata sembab dan make up berantakan sudah memperlihatkan bagaimana keadaanku saat ini.


"Apakah adik kurang ajar mu itu menyakitimu?"


Aku menggeleng, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Aku melihat pantulan wajahku di cermin, aku memang tidak secantik Safira, bahkan aku jauh dari kata sempurna. Tapi seperti itukah seorang adik berkata buruk tentang aku, kakaknya sendiri?


Ku usap wajahku dengan sabun beberapa kali, membersihkan sisa make up yang masih menempel, lalu berganti pakaian, menghampiri suamiku yang masih duduk di tepi kasur.


"Ceritakan, ada apa? kenapa kau menangis, Sayang?" tanya suamiku lagi. Aku tidak ingin menceritakan hal ini padanya, sungguh bukan hal yang pantas mengumbar keburukan saudara meskipun pada suamiku sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2