
Aku dan Claire sampai di ruang makan, terlihat jelas wajah Claire yang berubah semu kemerahan saat tuan Joe menatapnya dengan menampakkan senyum yang begitu manis.
"Claire," sapa tuan Arga.
"Hai, Ga. Kau sehat?" tanya Claire lalu menarik kursi untuk duduk di sebelahku.
"Hari ini aku benar-benar sehat, kemarin aku hampir sekarat," jawab tuan Arga tersenyum, aku mendelik ke arahnya.
"Kenapa sayang? aku benar-benar sekarat sebelum kau pulang," katanya melihat ekspresiku.
"Baiklah, sekarang jangan di bahas lagi, ayo kita sarapan," ucapku yang ku tujukan untuk semua orang.
"Bagaimana kabarmu, Claire?" tanya tuan Joe kali ini. Namun Claire tidak langsung menjawab, dia seperti mati kutu. Aku menginjak kakinya di bawah meja.
"Aku, aku baik, Joe. Bagaimana kabarmu?" jawab Claire, dia meremas jemarinya di atas pangkuannya.
"Seperti yang terlihat, aku selalu baik," ujar tuan Joe mengarahkan pandangannya tepat ke mata Claire.
Aku dan tuan Arga hanya menjadi pendengar yang baik, mungkin tuan Arga sudah mengerti tentang perasaan Claire, jadi dia juga tidak ingin menambah kecanggungan di antara mereka.
Usai acara sarapan selesai, Claire pamit untuk masuk ke dalam kamar lebih dulu, karena dia harus menghubungi seseorang tentang acara pameran yang seharusnya ia datangi hari ini.
Aku, tuan Arga dan tuan Joe masih duduk di meja makan sambil menikmati potongan berbagai macam buah yang sudah di sediakan. Ah, aku benar-benar rindu suasana rumah ini.
"Honey, kau tidak ingin menemui Claire?" tanyaku pada tuan Arga, kali ini aku berniat mengusirnya agar aku bisa leluasa berbicara dengan tuan Joe.
"Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Kau bilang akan mengucapkan terimakasih padanya karena sudah membawaku pulang, kau lupa?"
"Hmm, baiklah. Aku akan menemuinya sebentar, kau tunggu disini, jangan pergi kemana pun, Sayang." Tuan Arga beranjak meninggalkan kursinya.
Setelah laki-laki itu sudah sedikit menjauh, aku segera mengintrogasi laki-laki yang kini ada di hadapanku, tuan Joe.
"Tuan Joe," sapaku mendahului pembicaraan.
"Ya, Nona." Dia menjawab tanpa melihatku, tangannya sibuk memotong apel.
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi pada tuan Arga, dia sedang tidak baik-baik saja kan?"
"Benar, dia sedang sakit," jawabnya singkat.
"Sakit?"
"Ya, kau seharusnya sudah tau, di bagian mana dia sakit, Nona. Kau meninggalkannya selama itu, kau pergi tanpa kabar, kau membawa seluruh hidupnya, kau meninggalkan hati yang sudah tergores dan kau biarkan luka itu menganga lebar dengan siraman cuka." Kata-katanya menohok menghujam jantungku.
"Kau berpikir aku salah dalam hal ini?"
Kenapa kata-katanya seakan aku adalah orang jahat yang 100% salah sih.
"Aku tidak menyalahkan dirimu, Nona. Aku tau kau juga butuh waktu untuk menenangkan hatimu, tapi seharusnya semua itu bisa di bicarakan, kau tidak boleh egois dengan hanya mendengar sesuatu dari satu arah, kau juga harus memastikan kebenarannya sebelum mengambil tindakan."
"Baiklah, maafkan aku karena merepotkan kalian," ucapku menghela nafas panjang, menyandarkan punggungku di kursi. Entah mengapa, semua kata-kata tuan Joe seakan menyudutkanku.
__ADS_1
"Boss sedang sakit, jiwanya yang sakit. Hanya kau yang bisa mengobatinya, Nona," lanjut tuan Joe.
"Bagaiman caranya?"
"Seminggu yang lalu aku mengajak seorang teman datang ke rumah ini untuk mengunjunginya, dia seorang psikiater, dia mendiagnosa boss mengalami thantophobia, sebuah ketakutan berlebihan untuk kehilangan seseorang."
"Itu membuat boss sering menangis secara tiba-tiba, emosinya tidak stabil," lanjut tuan Joe.
"Apakah ada obatnya?"
"Tidak, dia hanya membutuhkanmu, kau adalah obatnya, Nona."
"Dia tidak pernah mencintai seorang wanita, sekali dia mencintai, dia menumpahkan seluruh cinta itu padamu, sampai dia lupa caranya mencintai dirinya sendiri." Tuan Joe beranjak, dia meninggalkanku di meja makan sendirian dengan tumpukan rasa bersalah yang menggunung di dadaku.
Sungguh penyesalan yang menyakitkan. Aku membuat rasa sakit itu semakin nyata, tuan Arga juga kehilangan calon anaknya, darah dagingya, sama sepertiku, tapi di saat bersamaan, aku tidak datang menguatkan hatinya dan merangkulnya, aku memilih pergi dengan membawa rasa sakit dan keegoisanku sendiri.
Saat itu aku memang benar-benar kacau, aku tidak bisa berpikir dengan jernih, yang aku rasakan hanya rasa sakit dan kecemburuan yang besar, semua itu menguasai diriku.
"Sayang." Tuan Arga menepuk pundakku, aku tersadar dari lamunan.
"Kau sudah selesai makan?" tanyanya.
"Sudah, Honey."
"Kau mau duduk di taman samping bersamaku?" ajaknya. Dia mengulurkan tangannya, aku mengangguk dan menerima uluran tangan itu.
Akhirnya kami duduk berdua di taman samping sambil menikmati secangkir coklat hangat bersama, aku rindu coklat buatan pelayan rumah ini, meskipun sama-sama coklat, tapi rasanya seperti ada yang berbeda.
"Setiap hari, aku menyiram semua tanaman mawar mu, aku tidak mau mereka layu saat kau kembali pulang, Sayang." Laki-laki itu meraih tanganku, dia membawaku dalam pangkuannya.
"Itu tidak perlu, Honey. Ini semua sudah cukup. Aku tidak perlu apapun lagi, aku hanya butuh dirimu," ucapku mencium bibirnya yang basah.
"Aku mencintaimu, Sa. Apakah kau mencintaiku?"
"Menurutmu, apa alasan aku kembali pulang?"
"Mungkin, karena kau lupa menyiram tanaman mawar favoritmu," jawabnya mengulum senyum.
"Hah, itu bukan alasan yang bagus, Honey. Tentu saja aku pulang karena aku mencintaimu, dan aku menyadari bahwa jauh darimu adalah hal yang sangat menyakitkan untukku."
"Berjanjilah lagi, jangan pernah pergi meninggalkan aku, Sa. Aku mohon," ucapnya memeluk tubuhku. Kali ini matanya kembali mengembun.
"Aku berjanji, Honey." Ku acungkan jari kelingkingku di depannya, dia kembali tersenyum dan menautkan kedua jari kelingking kami, mengikat janji.
Setelah cuaca mulai terik dan matahari semakin merangkak naik, aku dan tuan Arga memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat melewati ruang tengah, aku melihat tuan Joe dan Claire sedang duduk menonton tv berdua, Claire masih terlihat dengan wajah tegangnya.
"Kalian mau kemana?" tanya Claire saat melihatku dan tuan Arga bergandengan tangan.
"Ah, kami akan ke kamar, kami mau menyicil masa depan, Claire," kataku sedikit tertawa.
"Hah, menyicil masa depan?" tanya Claire dengan wajah bingung.
"Sebaiknya kalian juga merencanakan masa depan, tapi belum boleh menyicilnya," lanjutku.
__ADS_1
"Ngomong apa sih," ujar Claire tersipu malu. Sedangkan tuan Joe senyum-senyum sendiri menatap kepolosan wanita di sampingnya.
Tuan Arga menarik tubuhku dengan merangkul pinggangku menuju kamar, sepertinya laki-laki itu sudah tidak sabar karena aku membahas cicilan masa depan kami.
Saat membuka pintu, aroma harum bunga mawar menembus hidung memenuhi seluruh ruangan, pot-pot besar dengan rangkaian bunga mawar putih dan merah muda terpajang di setiap sudut kamar. Dua meja dekat tempat tidur juga di letakkan vas bunga dengan beberapa tangkai mawar merah.
Tempat tidur kami, di taburi dengan kelopak mawar berbagai warna berbentuk hati, di sana tergeletak satu buket besar mawar putih.
"Kau suka?" tanya tuan Arga mendekatkan tubuhku padanya.
"Hah, semua ini, aku sangat suka, Honey," ucapku tersenyum. Tidak menyangka bahwa tuan Arga akan menyiapkan kejutan seperti ini untukku, aku terharu sekaligus takjub, aku seperti menjalani peran para pengantin di negri dongeng.
"Ini adalah malam pertama kita," ucapnya lalu mencium bibirku, dia meletakkan kedua tangannya di pinggangku, membuat tubuh kami tak lagi jarak.
Bahkan kita sudah melakukannya berkali-kali, mungkin sudah lebih dari seratus kali, bukan malam pertama lagi namanya. Apalagi ini kan masih siang.
Dengan langkah perlahan dia mendorong tubuhku, mengarahkanya munuju tempat tidur, merebahkanku lebih dulu disana.
"Honey."
"Hmm," ucapnya lirih, dia mulai menindih tubuhku.
"Ini masih siang."
"Lalu?"
"Kita akan melakukannya nanti malam saja," ucapku menolak halus.
"Bukannya kau sendiri yang bilang bahwa kita akan menyicil masa depan?"
"Ya, tapi tidak sekarang, bisakah kita tunda dulu, Honey?
Dia tidak peduli, kali ini tangannya sudah bergerilya kesana kemari mencari sasaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...