
Ku lihat wajah bi Ijah yang kebingungan, mungkin dia masih punya tanggung jawab yang belum terselesaikan disini, jadi ia tampak ragu untuk segera kembali ke kota hari ini.
"Sebentar, Tuan. Saya akan berdiskusi sebentar dengan kedua anak saya," jawab bibi.
Meskipun aku tidak begitu paham dengan bahasa yang mereka gunakan, namun sedikit-sedikit aku menangkap pembicaraan tentang hutang dan biaya resepsi pernikahan anaknya yang belum lunas.
Beberapa saat kemudian, bi Ijah kembali ke ruang tamu menemuiku, ia masih tampak resah.
"Ada apa, Bi?"
"Saya, masih punya tanggungan yang belum saya selesaikan di sini, Tuan. Jadi ...."
"Tanggungan apa? saya akan membantu," tukasku.
"Silahkan tulis nomer rekening keluargamu di kertas, Bi. Aku akan segera memberikan sesuatu untuk pernikahan anakmu, anggap saja ini hadiah, dan bayaran atas kebaikanmu ikut kembali ke kota bersamaku, Bi" jelasku dengan sopan. Aku mencoba berbicara sebaik mungkin agar mereka tak tersinggung.
Sesaat kemudian, ku lihat bi Ijah nampak berpikir, ia saling melempar pandang dengan wanita di sampingnya, mungkin wanita itu adalah putrinya yang baru saja menikah.
"Saya mohon, Bi. Bukan maksud saya untuk sombong dan pamrih dengan memberi uang, namun saya benar-benar butuh bantuan bibi, kasihan Sabrina," lanjutku lagi.
"Baiklah, Tuan. Tapi, bibi hanya meminta sedikit bantuan uang saja untuk melunasi sisa hutang hajatan kemarin, bulan depan bibi janji akan membayarnya setelah mendapat gaji dari ibu dan ayah nona Sabrina."
"Tidak perlu, Bi. Yang terpenting bibi harus ikut saya kembali ke kota, sekarang juga."
Akhirnya bibi setuju, dia pun memberikan kertas bertuliskan nomor rekening atas nama putrinya. Aku segera menyuruh Joe mentransfer sejumlah uang ke nomer rekening tersebut.
Dengan tergesa-gesa, bi Ijah langsung berkemas dan membawa segala sesuatu yang harus ia bawa kembali ke kota. Aku sangat senang, semoga Sabrina sabar menantiku pulang.
...
Hari sudah hampir sore, akhirnya aku dan bi Ijah sudah sampai di kota. Hari ini aku memang tidak menghubungi Sabrina sama sekali, aku hanya menitipkan pesan pada Salimah untuk menjaganya dan memberitahukan jika aku ada keperluan mendadak jadi harus pergi di pagi-pagi buta.
Selama perjalanan dari bandara menuju rumah, aku sudah berdiskusi dengan bi Ijah tentang makanan yang ingin sekali di makan oleh Sabrina.
Beberapa kali bi Ijah terlihat menahan senyum tatkala aku mengutarakan kebingunganku tentang Sabrina yang begitu pandai membedakan masakan-masakan orang lain dengan masakan miliknya.
Setiap kali ku tanya resep rahasianya, dia hanya bilang "Tidak ada resep rahasia, Tuan. Saya hanya memasak sesuai resep yang saya ketahui, tentu saja dengan penuh cinta saya menyajikan setiap hidangan dari olahan tangan saya." hanya begitu.
Aku tidak akan membawa bi Ijah langsung ke rumah mertuaku, aku akan mempekerjakannya di rumahku selama beberapa hari, sampai Sabrina mendapatkan keinginannya.
"Bi, jika mau istirahat dulu tidak apa-apa, saya akan suruh pelayan menyiapkan kamar," ujarku saat kami sudah sampai di depan gerbang.
"Tidak perlu, Tuan."
"Jangan memaksakan diri jika masih lelah, Bi. Masaknya nanti saja."
"Saya tidak lelah sama sekali, Tuan. Saya akan langsung masak saja," jawabnya dengan tersenyum ramah.
"Baiklah, saya akan minta beberapa koki untuk membantu, semoga nanti makanan siap saat makan malam, ya."
"Baik, Tuan. Oh ya, uang yang tuan transfer terlalu banyak, saya akan kembalikan sisanya."
"Tidak perlu, anggap saja itu sebagai ungkapan terimakasih saya karena bibi sudah bersedia datang ke rumah ini."
__ADS_1
"Wah, terimakasih banyak, Tuan. Terimakasih." Bi Ijah tampak begitu bahagia, aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sebelum menemui Sabrina di kamar, aku memastikan Salimah untuk menyiapkan kamar dan berbagai keperluan bi Ijah selama menginap di rumah ini, bagaimanapun dia adalah tamu, meskipun kedatangannya adalah sebagai juru masak khusus untuk Sabrina.
...
"Sayang," sapaku pada wanita cantik berperut buncit yang duduk sambil membaca buku di tangannya.
"Honey, kau kemana saja, kenapa tidak memberikan kabar, aku mengirim pesan berkali-kali tidak kau balas," ujarnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Maafkan aku, Sayang. Aku ada keperluan mendadak yang sangat penting."
"Sepenting itukah sampai kau tak berpamitan dan tidak mengatakan apapun padaku?" Wajahnya yang imut dan menggemaskan kini mulai tampak menyeramkan, hampir saja tanduk dan taringnya bermunculan.
"Sayang, maafkan aku ...."
"Tidak perlu minta maaf, aku ini memang tidak penting untukmu kan?"
"Memangnya pekerjaan apa yang membuatmu sampai lupa padaku?"
"Apa karena aku sekarang buncit, gendut dan tidak cantik, makanya kau bisa pulang pergi sesuka hatimu?"
"Apa kau tidak paham jika aku ini khawatir?"
"Dasar tidak peka!" umpatnya sambil membanting buku di atas kasur.
Gawat, bahkan kata-katanya panjang bak rel kereta api tanpa stasiun, tak berujung.
Mendengar berbagai pertanyaan dan kata-katanya yang sudah menjalar sampai kemana-mana, aku langsung memeluk tubuhnya, menenangkannya.
"Jangan pergi lagi tanpa kabar, aku takut," ujarnya sambil terisak, kini dia menangis di pelukanku.
Ah, jahatnya diriku sampai membuatnya seperti ini. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah membuat air mata bidadari yang kau kirim menetes begitu saja.
"Jangan menangis, Sayang. Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kataku lemah lembut sambil mengusap kedua pipinya yang basah.
"Janji?" Dia mengacungkan jari kelingking padaku.
"Janji." Jari kelingking kami kini saling bertautan.
Setelah melewati drama panjang penuh air mata, aku langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian. Perjalanan menjemput bi Ijah yang melelahkan memang membuat badanku terasa pegal, namun semua terobati saat melihat istriku tersenyum bahagia.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Salimah datang dan memberitahu jika menu makan malam sudah siap di meja makan.
"Aku tidak berselera makan, Honey," ujar istriku merajuk.
"Makan sedikit-sedikit agar kau tetap sehat, Sayang. Demi si kecil ini," ujarku sambil mengelus perutnya. Dia menurut, lalu ku gandeng menuju meja makan.
Semua makanan sudah tersaji di meja, termasuk mie ongklok dan garang asam yang sudah di masak langsung oleh bi Ijah.
Awalnya, Sabrina terlihat enggan menyendok mie tersebut, namun saat satu suapan mendarat di mulutnya, wajahnya langsung berubah ceria dan bersemangat.
__ADS_1
"Bagaimana? enak?" tanyaku.
"Ah, kenapa ini enak sekali, Honey. Bagaimana bisa rasanya sangat mirip dengan masakan bi Ijah," ujarnya dengan mulut penuh, ia tampak sangat bahagia.
"Memang saya yang memasaknya, Non," sahut wanita paruh baya yang berdiri di belakang kursi Sabrina.
"Hah, bi Ijah? bukannya bibi sedang pulang kampung?" tanya Sabrina.
"Benar, Non. Tadi pagi tuan Arga menjemput saya ke kampung, hehehe."
"Hah, artinya ...." ucapan Sabrina terputus, ia menatapku dengan senyum yang merekah.
"Iya, Sayang. Aku pergi pagi-pagi sekali untuk menjemput bi Ijah ke kampung halamannya, tentu saja aku tidak mau istriku berlama-lama mogok makan," jawabku.
"Honey, terimakasih, aku sangat senang. Maafkan aku karena sudah menuduh yang bukan-bukan." Dia meletakkan sendok dan garpunya lalu berhambur memelukku.
"Maaf jika sudah membuatmu khawatir."
Dalam sekejap mata, dua buah menu dengan porsi jumbo sudah di lahap habis oleh istriku, entah karena doyan atau lapar.
Setelah makan malam, aku segera mengajaknya kembali ke kamar. Tentu saja, karena dia sedang sangat bahagia, aku pasti dengan mudah merayunya untuk mendapatkan jatah olahraga malamku.
"Sayang ...." Ku elus pipinya yang lembut, lalu mendaratkan ciuman di bibirnya.
"Emm, bolehkan aku minta jatah olahraga malamku, Sayang."
"Malam ini?" tanyanya. Aku mengangguk penuh semangat.
Hah, tentu saja malam ini, aku bahkan sudah tidak mampu menahannya lagi.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati, Sayang. Aku tidak akan menyakiti si kecil di dalam sana," ujarku.
Dia tersenyum dan mengangguk pasrah. Selama kehamilannya sampai saat ini, kami hanya melakukan ini dua kali, bisa di bayangkan bagaimana rasanya tegang nganggur selama berbulan-bulan? sakit.
Dengan berbagai ilmu yang ku pelajari melalui internet, tentang posisi berhubungan yang baik saat hamil, tentang tips dan trik agar bisa mendapat puncak kenikmatan dengan membuat istriku tetap merasa nyaman.
"Baby, ku pinjam mommy sebentar, ya. Daddy berjanji kau akan tetap nyaman di dalam sana," bisikku di dekat perut Sabrina.
Dengan semangat perjuangan 45, segera ku kerahkan seluruh tenaga untuk memanjakan istriku malam ini, aku tidak hanya mementingkan kesenanganku, namun aku juga selalu membantunya mendapatkan puncaknya.
Kami berpeluh bersama, setelah sekian purnama, akhirnya aku bisa kembali merasakan berkeringat di tengah malam, olahraga yang sangat mengasyikkan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...