
Hari ini aku tidak berangkat bekerja, aku menghabiskan waktu duduk di taman samping, menyiram tanaman mawar dan menggambar.
Ini adalah hari ketiga tuan Arga tidak ada di rumah, semalam tuan Joe sudah memberi kabar, kalau tidak nanti malam, maka besok pagi mereka akan terbang kembali ke kota ini.
Aku meminta pada Salimah membawa coklat hangat seperti biasa untuk menemaniku duduk di sini.
Saat Salimah kembali dengan secangkir coklat hangat, dia menampakkan wajah bingung dan pucat.
"Salimah, ada apa?" tanyaku saat dia enggan ku persilahkan duduk di kursi sebelahku.
"Emm, Anu, Nona. Ada nona Hana di ruang tengah," ucapnya sambil meremas tangannya sendiri.
"Ada apa dia kemari?"
"Tidak tau, Non."
"Memangnya kau tidak bilang kalau tuan Arga sedang tidak ada di rumah?"
"Sudah, tapi dia ingin bertemu dengan nona, bukan tuan."
"Baiklah, aku akan menemuinya."
Aku beranjak meninggalkan coklat hangat yang belum ku cicipi sama sekali, buku gambar milikku juga ku tinggalkan begitu saja di sana.
"Kau mencari siapa, nona Hana?" tanyaku masih berusaha sopan, padahal aku begitu benci padanya setelah melihat sikapnya saat makan malam waktu itu.
"Ah, aku ingin menemuimu, nyonya Sabrina." Dia tersenyum.
"Panggil saja Sabrina. Jika kau mencari tuan Arga, dia sedang tidak ada di rumah," kataku ketus.
"Aku tau," jawabnya sambil tersenyum penuh kepalsuan.
"Lalu, kau mencari siapa?"
"Aku hanya ingin menemui dirimu, Sabrina. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
"Jika kau datang hanya untuk berbasa-basi, maka silahkan pergi dari rumah ini," ujarku.
"Kau! jangan sombong, kau berani mengusirku?"
"Tentu saja, ini rumah suamiku, artinya ini juga rumahku, aku berhak menerima siapa saja yang datang dan mengusir siapa saja yang mengganggu."
"Suamimu? Hahaha" Dia tertawa lebar, tidak beretika.
"Di rumah ini, dia memang suamimu, tapi apakah kau tau apa yang dia lakukan di luaran sana?"
__ADS_1
"Kau hanya istri simpanan, Sabrina. Kau tidak berhak mendapatkan dia seutuhnya, bagaimanapun dia tetaplah milikku." lanjutnya.
Dia berdiri mendekatiku, menghujaniku dengan tatapan kebencian yang begitu menusuk, aku berusaha tetap tenang, mencoba untuk tidak percaya dengan apapun yang dia katakan.
"Silahkan berpikir sesuka hatimu, jika kau sudah selesai dengan ocehanmu, silahkan pergi," ucapku dengan nada masih lembut, aku menghela nafas panjang.
"Lihat ini!" ujarnya sambil melemparkan ponsel miliknya, aku membuka layar ponsel itu.
Seketika mataku terbelalak tidak percaya, di layar ponsel itu terlihat tuan Arga sedang duduk berdampingan dengan nona Hana, tuan Arga memegang sebuah gelas berisi minuman, bibirnya tersenyum ceria, sedangkan si wanita ular itu juga ikut duduk bersanding dengan wajah penuh senyum kebahagiaan.
Aku meremas ponsel itu sekuat tenagaku, dadaku sesak, rasanya ribuan tombak menusuk jantungku, begitu sakit, setetes air mata lolos begitu saja.
Aku pikir, setelah satu bulan terakhir dia selalu perhatian padaku, itu semua karena sebuah ketulusan. Kenapa rasa sakit ini begitu nyata, bahkan aku sudah menyiapkan hal besar yang akan mengubah hidup kita. Kau jahat!
Tuan Arga mengenakan kemeja dariku, kemeja yang baru saja beberapa hari lalu aku berikan sesaat sebelum keberangkatannya, artinya foto itu memang foto terbaru. Ku usap dengan kasar tetesan bening yang jatuh tiada henti.
"Bagaimana? kau terkejut? itu foto kami saat menunggu rekan bisnis datang untuk makan malam bersama," ucap nona Hana merebut ponselnya dari tanganku yang gemetar.
"Tidak, aku percaya suamiku tidak seperti yang terlihat di foto itu. Lagipula, kau bisa saja mengeditnya, aku tidak percaya dengan wanita licik sepertimu."
"Terserah apa katamu, yang penting aku sudah memberitahumu. Oh ya, jangan berpikir kalau selama ini dia mencintaimu, dia sama sekali tidak seperti apa yang kau harapkan," ujarnya tersenyum sinis.
"Kau tidak percaya? lihat video ini." Nona Hana kembali memperlihatkan tayangan video di layar ponselnya, dengan wajah pucat, aku tetap penasaran ingin melihat isi video itu.
"Ya," jawab singkat tuan Arga.
"Aku mau menjadi istri keduamu, aku yakin wanita itu juga tidak akan keberatan," lanjut nona Hana.
"Benarkah?" tuan Arga tersenyum.
"Apakah kau mencintainya?" selidik nona Hana.
"Aku tidak tau." jawab tuan Arga sambil mencebik, lalu video berakhir.
Sakit, sakit sekali mendengar jawaban tuan Arga. Aku mengatur nafasku dalam-dalam, mencoba mengendalikan diri agar tangan ini tidak sampai menjambak rambut panjang yang sudah di gerai dengan indah wanita ular itu.
"Aku hanya tinggal menunggu waktu, jika kau tak mengizinkannya menikahiku, maka sebentar lagi Arga akan menceraikanmu, membuangmu seperti sampah." Nona Hana berdiri di samping pagar tangga.
"Kau, percaya diri sekali, Hana."
"Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan Arga, termasuk wanita sepertimu."
"Ah, suamiku itu tidak akan pernah meninggalkanku, karena saat ini aku sedang mengandung anaknya, anak dari hasil buah cinta kami selama ini," ucapku dengan tersenyum, Seketika wajah wanita itu pucat, dia terlihat tidak percaya.
"Kau hamil?" Matanya melotot seakan ingin loncat dari tempatnya.
__ADS_1
"Ya, tentu saja aku hamil, setiap malam kami selalu menghabiskan waktu berbagi peluh bersama," ujarku pelan, tapi kejam.
"Bohong! Arga tidak pernah menceritakan itu padaku."
"Untuk apa aku bohong? ini memang hasil dari malam-malam indah yang tidak pernah kami lewatkan, aku akan segera memberitahunya setelah dia pulang nanti," ujarku, nona Hana tidak bergeming, dia diam mematung.
"Kenapa? apakah sekarang kau yang terkejut?" lanjutku, aku mencoba tegar, demi anak yang sedang bersemayam di rahimku.
"Wanita sialan!" Makinya, wanita yang sudah berdandan dengan cantik dan bergaun seksi itu kini wajahnya memerah menahan marah, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras dengan sorot mata tajam setajam silet.
"Terserah apa katamu. Silahkan pulang, aku akan membukakan pintu untukmu agar segera pergi dari rumah ini," ujarku sambil berusaha tetap tersenyum, aku tidak boleh terlihat rapuh di hadapannya.
Tanpa menunggu jawabannya, aku melangkah cepat tanpa menoleh. Saat akan menuruni anak tangga, tiba-tiba sebelah kaki nona Hana menendang betisku, dia memang berdiri pas di sebelah tangga.
Aku hilang keseimbangan, aku mencoba meraih pagar tangga, namun tidak sampai, karena tanganku sudah basah karena keringat dingin yang sedari tadi ku tahan menjadikan peganganku licin.
Nona Hana yang terkejut mencoba meraih tubuhku, namun aku sudah terlanjur terguling dengan cepat sampai di ujung tangga.
Darah mengalir dari kepala dan pahaku, mataku terasa berkunang-kunang, aku memegang perutku yang terasa sangat sakit.
"Nona!" Aku mendengar sayup-sayup suara Salimah berteriak ketakutan, dia lalu menghampiriku dan berteriak minta tolong.
Samar-samar, aku melihat nona Hana berdiri mematung di tangga paling atas, apakah dia sudah bahagia melihatku seperti ini?
Aku hilang kesadaran, sampai rasa sakit di perutku berangsur hilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1