
Aku kembali ke kamar setelah puas menatap kumpulan bunga mawar yang bermekaran dengan indah, secangkir coklat hangat yang di bawa Salimah juga sudah kuteguk habis.
Di dalam kamar, aku melihat tuan Arga berdiri mondar -mandir seperti ayam mau bertelur.
"Kau ini kemana saja?" ucap tuaan Arga saat melihatku.
"Sa, saya tadi di taman samping, Tuan."
"Papa sudah menunggu di kolam belakang, aku mencarimu ke mana-mana tidak ketemu." Dia mendengus kesal.
"Tuan duluan saja, saya akan menyusul."
"Cepat, telat lima menit, aku akan kembali menceburkanmu di kolam itu!" Ancamnya sambil melotot ke arahku.
Aku hanya diam tidak menanggapi, lalu mencari ponsel yang tadi ku tinggal, menunggu kabar dari ayah dan ibuku, apakah mereka bisa datang malam ini.
"Sabrina!" tuan Arga kembali masuk ke dalam kamar.
Kau ini tidak sabar sekali sih!
"Apa lagi, Tuan?"
"Ayo kesana sekarang, tidak perlu ganti-ganti baju renang," lanjutnya.
"Saya ganti piyama panjang saja," jawabku.
"Terserah, asal jangan pakai baju renang."
"Memangnya kenapa?" Aku bertanya.
"Apa kau tidak malu memperlihatkan tubuhmu pada papa?"
"Eh, iya lupa." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Akhirnya laki-laki itu menungguku di depan pintu, sedangkan aku cepat-cepat mengganti bajuku dengan piyama panjang berwarna biru muda. Aku bahkan menyukai semua pakaian apapun yang sudah di sediakan disini, hampir semuanya sesuai dengan seleraku.
Setelah sampai di depan kolam renang, entah kenapa tiba-tiba kepalaku berdenyut, sakit, pusing. Seketika aku terduduk lemas di samping kursi panjang yang terletak di sisi kolam. Tubuhku gematar, tanganku mengeluarkan keringat dingin.
"Kau kenapa?" tanya tuan Arga melihat wajahku yang memucat.
"Saya tidak tau," bibirku gemetar meskipun hanya untuk menjawab pertanyaanya.
"Apa kau sakit?" tuan Arga berjongkok di depanku.
Aku menggeleng, aku sendiri tidak tau benar apa yang melanda tubuhku, dadaku seakan bergemuruh, jantungku berdetak kuat. Aku memegang dadaku, sedikit nyeri rasanya.
Papa yang sudah lebih dulu menceburkan diri di kolam, memilih naik untuk melihat kondisiku.
"Sabrina kenapa, Ga?" tanya papa.
"Tidak tau, Pa. Tadi dia sehat dan baik-baik saja, tapi pas sampai depan kolam sini wajahnya pucat," ujar tuan Arga menjelaskan.
"Apakah dia punya trauma berat atau ketakutan terhadap kolam renang? kau bilang dia tidak bisa berenang."
Seketika tuan Arga tersentak mendengar pertanyaan papa. Aku pun menyadari, sepertinya reaksi tubuhku ini terjadi karena aku memiliki trauma tenggelam sejak tuan Arga dengan sengaja mendorongku disini.
Tanpa menjawab apapun, tuan Arga lalu memapah tubuhku untuk duduk di kursi panjang pinggir kolam, dia mengangkat kedua kakiku agar berselonjor.
__ADS_1
"Tunggu disini, aku akan mengambilkan minum," ucap tuan Arga berlalu.
Sedangkan papa terus menatapku, raut wajahnya menampakkan rasa khawatir akan keadaanku.
"Apa kau takut berenang, Nak?" tanya papa sambil duduk di kusi sebelahku
"Iya, Pa. Sepertinya begitu," jawabku lirih, aku berusaha keras mengeluarkan suara, namun rasanya tertahan di tenggorokan.
"Kau pernah tenggelam?"
"Pernah, beberapa kali."
"Baiklah, duduk saja disini, kau tidak usah ikut berenang. Biarkan Arga yang menemani papa," ujar papa sambil tersenyum.
Tuan Arga berlari kecil mendekat ke arah kami sambil membawa sebotol air mineral di tangannya.
"Minumlah, tenangkan dulu dirimu," ucapnya sambil menyodorkan ujung botol yang sudah di buka di depan mulutku. Aku meneguk air itu beberapa kali, Namun rupanya tidak membuat gemetar di tangan dan seluruh badanku ini membaik.
"Aku akan mengantarkanmu ke kamar," lanjut tuan Arga sambil membantuku berdiri.
Lututku terasa lemas, seperti tidak ada lagi tulang yang menyatu dalam tubuhku. Entah kenapa bisa sampai separah ini, namun ketakutanku pada kolam renang ini seperti sudah menyelubungi jiwaku.
"Aku akan menggendongmu." Tuan Arga langsung membopong tubuhku di depan dadanya tanpa menunggu persetujuanku.
Dia meletakkan tubuhku diatas kasur dengan hati-hati, kemudian menarik selimut di bawah kakiku agar menutupi tubuhku yang dingin ini, tangannya mengelus rambutku pelan.
"Apa kau seperti ini sejak tenggelam di kolam waktu itu?" tanyanya.
"Ya, saya trauma, saya takut sekali."
"Sekali lagi, aku minta maaf, ini semua salahku," ucapnya sambil menunduk.
"Maaf, maafkan aku karena dari awal tidak bertanya apakah kau bisa berenang atau tidak." Tuan Arga menggenggam tanganku.
"Tidak apa-apa." Aku mengatur nafasku.
Keringat dingin yang membanjiri tubuhku semakin berkurang, rasa pusing dan sakit di kepalaku berangsur hilang. Ajaib sekali, semua rasa itu hilang seketika saat aku sudah menjauhi kolam renang.
Mungkin benar, inilah yang dinamakan ketakutan, trauma, atau sejenis phobia. Namun sebelumnya tidak separah ini.
"Temani papa berenang saja, Tuan. Saya tidak apa-apa," ujarku.
"Papa sebentar lagi akan kemari, aku sudah tidak selera berenang."
Aku diam, tidak menanggapi. Benar saja, beberapa detik setelah tuan Arga menutup mulut, papa sudah berdiri di depan pintu melihat kami.
"Apakah perlu menghubungi dokter Budi?" tanya papa pada tuan Arga.
"Tidak perlu, Pa. Sekarang sudah membaik, Sabrina sudah tidak apa-apa." Aku menjawab.
"Kau yakin?" ucap tuan Arga sambil menempelkan punggung tangannya di keningku.
"Ya, aku hanya butuh sedikit istirahat, tidak perlu khawatir."
"Baiklah, aku akan meninggalkanmu disini sendirian, pelayan akan mengantarkan minuman hangat untukmu," ujar tuan Arga
Lalu merekapun meninggalkanku sendirian di dalam kamar ini. Aku mencoba memejamkan mata, namun tidak bisa, aku lapar.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara pintu di ketuk, namun belu sempat aku turun dari kasur, Salimah sudah terlanjur membuka pintu itu sendiri.
"Bolehkah saya masuk, Nona," tanya Salimah meminta izin.
"Silahkan, Salimah," jawabku. Lalu salimah di ikuti seorang pelayan masuk membawa beberapa jenis roti dan kue serta teh hangat.
"Jika nona butuh sesuatu, katakan saja."
"Aku lapar, Salimah."
"Nona tinggal katakan, apa yang ingin nona makan," tanya Salimah.
"Aku ingin sekali makan mie instan, apa kau punya?"
"Sayang sekali, Nona. Dalam peraturan menu di rumah ini tuan Arga tidak mengizinkan semua jenis makanan instan, kami para koki memasaknya secara homemade," jelas Salimah.
"Hmm, padahal aku ingin sekali makan mie instan, Salimah."
"Baiklah, koki akan membuatkan mie untuk nona, tapi sekarang makanlah beberapa roti ini agar tidak terlalu lapar menunggu selama koki memasak."
"Kalian mau membuatkan mie untukku, mie buatan sendiri?"
"Tentu saja, Nona."
"Wah, kalau begitu aku akan sabar menunggunya, Salimah."
Hebat sekali ya, bahkan koki di rumah ini bisa membuat mie sendiri, padahal di luar sana banyak sekali jenis dan merk mie instan yang enak, lebih mudah dan praktis, tidak perlu repot-repot membuatnya. Ternyata tuan Arga sangat memperhatikan hidup sehatnya.
"Kami permisi dulu, Nona." pamit Salimah sambil tersenyum dan bergegas pergi.
Aku memang sangat beruntung di nikahi oleh laki-laki kaya raya dengan fasilitas hidup yang mewah, namun selalu ada yang kurang di hatiku.
Aku bertahan disini bukan karena aku menikmati semua kemewahan ini, aku tidak ingin di perlakukan seperti ratu, aku juga tidak suka jika di perlakukan seperti pelayan.
Aku bertahan demi keluargaku, perusahaan ayahku sepenuhnya bergantung pada tuan Arga, dia adalah pemegang saham terbesar di perusahaan milik ayah, jika selangkah saja menjauh dari keluargaku, itu pasti berpengaruh sangat besar bagi kehidupan kami nantinya. Itulah perkataan ayahku seminggu yang lalu melalui panggilan ponselku, dan menjadikan aku sebagai tumbal agar tuan Arga tetap menggelontorkan pendanaan bagi bisnis keluargaku.
Miris sekali nasibku bukan,
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*B**ersambung* ...