
Sepertinya mobil yang aku tumpangi kini sudah sampai di halaman rumah sakit, langkah orang-orang yang berlari menghampiriku membawa kursi roda nampak nyaring, tangan kananku terus memegang perut yang kian mulas, dan tangan kiri mencengkram kuat ujung baju suamiku.
Sesaat setelah pintu mobil terbuka, suamiku langsung menggendong tubuhku dan berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang bersalin, ia bahkan tak menghiraukan perawat yang menawarkan kursi roda untuk membawaku.
"Cepat tangani istriku," teriaknya.
Dengan sigap, beberapa dokter perempuan yang sudah memakai pakaian khusus dan seragam menghampiriku, mereka memintaku berbaring terlentang dengan kedua kaki yang di tekuk.
"Tarik nafas, Non," seru dokter wanita yang mungkin usianya lebih tua dariku.
"Baru pembukaan 7, Non. Sabar ya, tunggu pembukaan lengkap," lanjutnya.
Aku menahan buliran bening yang menetes di ujung mataku, suamiku tampak begitu takut, ia terus menggenggam tanganku tanpa sekalipun melepaskannya.
Ku rasakan bayi kecil dalam perutku bergerak lincah seakan ingin menerobos gerbangnya sendirian, rasa nyeri dan perih di area sensitifku semakin menjadi-jadi.
"Dok, apa masih lama? kasihan istriku," ujar suamiku pada dokter.
"Tunggu pembukaan lengkap, Tuan. Jika memaksa bayi lahir dalam kondisi tubuh ibu belum siap, maka akan banyak sekali resiko."
"Tapi, aku tidak tega melihatnya menahan sakit, lakukan sesuatu, Dok."
Dokter pun diam, kini ia mendekat ke arahku, dan kembali memeriksa jalan lahir.
"Apakah sakitnya tidak tertahankan, Nona?" tanya dokter. Aku mengangguk.
"Bagaimana kalau di pakai berdiri, duduk di bola ini misalnya, ini bisa membantu mempercepat pembukaan, dan bisa memberi rasa nyaman di area jalan lahir," jelas dokter, aku pun menurut lalu turun dari ranjang.
Suamiku dengan cekatan membantuku duduk di atas bola besar empuk berukuran putih, rasanya memang nyaman, membuat rasa nyeri di panggulku sedikit berkurang.
Sambil menahan rasa sakit, aku berusaha tersenyum, agar suamiku tidak lagi takut melihatku seperti ini.
Para dokter dan perawat sudah menyiapkan semua alat dan keperluan persalinanku, mereka menyuruhku untuk mengganti pakaian agar mempermudah prosesnya nanti. Perawat memasang jarum infus di tangan kiriku.
"Sayang, maaf," lirih suamiku, ia terus saja menggenggam erat kedua tanganku sambil membantu menjaga keseimbangan tubuh saat aku duduk di birth ball ini.
"Kenapa minta maaf, Honey?" ucapku.
__ADS_1
"Semua ini salahku, jika saja aku tidak memintamu segera hamil, mungkin kau tidak akan merasakan sakit seperti ini," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, air matanya sudah menganak sungai disana.
"Dengar, aku baik-baik saja, Honey. Kita akan segera melihat bayi kecil kita, apa kau tidak bahagia?"
"Aku bahagia, sungguh, ini seperti mimpi yang nyata bagiku, tapi melihatmu seperti ini bukan bagian dari mimpiku, Sayang. Jika boleh, inginku gantikan rasa sakitmu ini, biarkan aku yang merasakannya." Dia menundukkan kepalanya di pangkuanku.
Aku tau dia begitu khawatir dan takut, namun apa yang bisa ku lakukan? aku hanya terus berusaha tersenyum menghiburnya.
Dia mengusap perut besarku yang mulai mengencang, sepertinya si kecil sudah sangat tidak sabar, ia terus saja mencoba menerobos jalan lahirnya.
"Honey, bantu aku berdiri," pintaku. Aku berdiri perlahan dari bola besar nan empuk itu untuk berpindah ke tempat tidur.
"Saya lihat lagi, ya." Dokter menghampiriku dengan memasang sarung tangan karet di kedua tangannya, ia mulai memeriksa kembali jalan lahir.
"Sudah bukaan 9, sebentar lagi, sabar," ujarnya tersenyum. Dokter memintaku rebahan menghadap kanan, dan ia memijat pelan punggungku.
"Apa tidak bisa cepat, kasihan istriku sudah kesakitan, Dok," kata suamiku dengan wajah kesal, ia nampak begitu gelisah.
"Maaf, Tuan. Tapi kita menunggu tubuh nona siap dulu, sebaiknya tuan tunggu saja di luar jika tidak sabar, kami bisa menangani istrimu," sahut salah seorang perawat dengan ketus.
Ah, nona perawat muda itu sepertinya tidak tau siapa lawan bicaranya.
BRAK!!!
Suamiku menggebrak meja, seketika semua mata di ruang bersalin ini memandang ketakutan ke arahnya, rasa sakit dan mulas yang ku rasakan sedari tadi kini semakin meningkat, entah kenapa tiba-tiba tubuhku bereaksi untuk mengejan.
Ku ulurkan tanganku ke sembarang arah mencari bantuan, karena semua mata seakan hanya fokus pada suamiku yang sedang di liputi amarah, semua perawat hanya bergeming sambil menundukkan kepala ketakutan.
"Honey, Honey," panggilku, suaraku seperti tertahan di tenggorokan.
"Sayang, ada apa? apa semakin sakit?" ujar suamiku menghampiri, ia langsung menggenggam erat tangan kananku, sedangkan tangan kiri kini berpegangan pada pinggiran ranjang yang terbuat dari besi.
"Apa kalian tidak lihat istriku sedang kesakitan? cepat lakukan sesuatu!" teriak suamiku, seketika semua orang panik, termasuk dokter Vantie, dokter kandungan yang sudah di tugaskan menangani persalinanku kali ini.
Dokter lalu membantuku mencari posisi terbaik dulu, posisi yang paling aman menurutnya adalah dengan meletakkan dagu diatas dada, dan menarik kaki sampai ke arah dada, posisi ini akan membantu otot-otot bekerja dengan baik.
"Ambil nafas, tahan ... keluarkan," seru dokter.
__ADS_1
"Istirahat sebentar."
"Ambil nafas lagi dalam-dalam, langsung mengejan sampai hitungan ke 10, ya."
"Dorong ... dorong ... lagi, bagus ...."
Aku mengikuti instruksi dokter dengan patuh, rasa sakit ini rasanya belum pernah ku alami, ini adalah pertama kalinya aku mengalami sakit hampir di sekujur tubuhku, dan pusatnya adalah di area sensitifku.
"Kepala sudah terlihat, tarik nafas dalam-dalam, langsung mengejan sekali, lebih kuat," perintahnya.
Rasa perih dan nyeri menjadi satu tatkala aku merasakan guntingan di sekitar jalan lahir anakku, namun semuanya terbayar tuntas saat ku dengar tangis nyaring di depanku.
"Selamat, Nona. Bayi perempuan, cantik sekali," ujar dokter tersenyum, aku hanya bisa menangis sambil menunggunya di bersihkan dari sisa darah dan air ketuban yang menempel.
"Sebentar, ya. Kami keluarkan dulu ari-arinya," lanjut dokter.
Entahlah, semua rasa sakit, air mata, dan keringat yang bercucuran itu seakan sudah tak lagi berarti saat kini bisa ku lihat dengan jelas wajah cantik bidadari kecilku.
Ku lihat suamiku kini berdiri di samping perawat yang sedang melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tubuh kecil putriku.
"Berat badan 3,4 kilogram, dengan panjang badan 50 sentimeter, dalam keadaan sehat dan lengkap, selamat, Tuan," ujar salah seorang perawat pada suamiku.
Dengan langkah pelan sambil menggendong putri kecilnya, suamiku menghampiriku.
"Lihat, Sayang. Dia mirip sekali denganku," ujarnya tersenyum bahagia, sekaligus haru. Aku tersenyum, lalu mengambil alih bayi kecil itu dari gendongannya.
Ku dekap dia di dadaku, ia tampak tersenyum merasakan kehangatan tubuhku, sesekali jemarinya meraba-raba, mulutnya sedikit membuka seperti sedang mencari sesuatu, namun tiba-tiba saja ia refleks memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut.
Lucu sekali dirimu, Nak. Terimakasih sudah berjuang bersama mommy, terimakasih bidadari kecilku.
Ku cium pipinya yang lembut, aku menangis haru menatap bola mata coklatnya, mirip sekali dengan sang ayah.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah berjuang demi melahirkan anak kita, aku mencintaimu, sangat!" Ciuman ia daratkan di seluruh area wajahku, berkali-kali pula di memeluk tubuhku.
Bersambung ...
Halooo, kalian semua boleh kasih saran nama baby girl-nya Arga dan Sabrina ya, silahkan tulis di kolom komentar, ku tunggu ❤️
__ADS_1
ILY 3000