TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Lukis aku!


__ADS_3

Aku sangat menyukai pemandangan seperti ini, pemandangan indah ketika laki-laki yang aku cintai baru saja terbangun dari tidurnya, rambutnya acak-acakan namun masih terlihat cool, mata coklatnya berbinar segar setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup, wajah tampannya tidak berubah sedikitpun meskipun belum mandi dan membersihkan diri.


Ia meraih tubuhku dalam pelukannya, tubuhku yang belum benar-benar kering ini menempel padanya, pelan-pelan ia mencoba melepaskan handuk yang melilit tubuhku, dengan cepat aku menepis tangannya.


"Jangan! masih pagi," ujarku kesal, belum apa-apa tangannya sudah meraba-raba.


"Memangnya kenapa kalau pagi, bukankah waktu pagi itu semakin baik?" jawabnya santai sambil mempererat pelukannya.


"Semakin baik?"


"Ya, semakin baik untuk berolah raga."


"Aku baru saja mandi, Honey. Jangan sekarang."


"Kau tau, aku pernah membaca beberapa artikel tentang bertempur saat pagi, itu sangat efektif untuk membuat seorang wanita cepat hamil," ujar tuan Arga menatap mataku.


Hamil? benarkah yang aku dengar ini? kau menginginkan aku segera hamil?


"Kau ingin aku cepat hamil?" tanyaku memastikan.


"Aku menginginkannya, untuk apa aku berusaha bertempur siang malam denganmu jika tak ingin segera mendapatkan malaikat kecil kita."


"Sungguh?" Aku masih tak percaya mendengar ucapannya pagi ini.


"Ya, mengapa kau terlihat tidak percaya padaku?"


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya memastikan kalau kau sedang tidak mengigau, Honey." Aku sedikit tersenyum menggodanya.


"Kau menginginkannya?"


"Menginginkan apa?"


"Seorang anak."


Ah, pertanyaan macam apa ini, tentu saja aku menginginkannya, aku seorang wanita dan aku normal.


"Ya," jawabku singkat.


"Kalau begitu, ayo kita menyicil masa depan kita," ujarnya langsung membalik tubuhku menjadi di bagian bawah, dan dia berada di atas, menindihku.


Susahlah, jika memang ini adalah keinginannya, aku tak bisa lagi menolak. Apakah hanya kami pasangan yang tidak kenal waktu pagi, siang, malam, dan selalu bertempur tanpa lelah?


Tubuhku yang baru saja basah karena guyuran air dari shower, kini kembali basah karena peluh yang menyatu.


Erangan panjang beriringan menunjukkan kami telah sampai di sebuah titik puncak. Melelahkan memang, tapi ini adalah kegiatan yang menyenangkan.


"Aku akan meminta dokter Budi mencari dokter terbaik untuk persiapan kehamilanmu selanjutnya, Sayang. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang buruk padamu," ujar tuan Arga saat ia telah usai menuntaskan hasratnya.


"Baiklah, terserah padamu saja, Honey." Aku membereskan kasur dan selimut yang berantakan, ranjang ini sudah seperti kapal pecah setiap kali kami usai berselancar mencari kenikmatan.


"Kau mau mandi denganku?" tanya tuan Arga.


Oh, No!


Cukup, aku sudah cukup lelah, semalam sudah, pagi ini sudah, aku tau semuanya akan kembali berlanjut jika aku menerima ajakan mandi bersamanya.


"Kau duluan saja, Honey. Aku mau ...."


"Mau apa? cari-cari alasan!" Tuan Arga memonyongkan bibirnya sambil menutup pintu kamar mandi.


Hah, selamat.


Setelah kami berdua selesai mandi secara bergantian, aku segera mengajak tuan Arga untuk sarapan bersama papa di ruang makan, papa pasti sudah menunggu.

__ADS_1


Sesaat setelah kami keluar kamar, aku juga melihat papa keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan, aku dan tuan Arga berjalan di belakangnya.


"Loh, kalian sudah bangun?" tanya papa terkejut, tidak menyadari keberadaan kami.


"Sudah, Pa. Ayo sarapan," ajakku.


"Ayo, papa sangat senang kalau ada yang menemani papa sarapan," kata laki-laki paruh baya itu. Hari ini wajahnya terlihat lebih segar dan ceria, berbeda dari kemarin uang tampak muram.


Sesampainya di meja makan, beberapa menu sudah di tata rapi di atas meja, beberapa pelayan berjalan hilir mudik membawa makanan yang masih mengantre di dapur untuk segera di hidangkan.


"Wah, banyak sekali," seruku girang melihat berbagai masakan yang sangat menggugah selera ini.


"Papa sengaja, karena ada anak dan menantu kesayangan papa di sini," ujar papa tersenyum. Sedangkan tuan Arga, sedari tadi dia hanya diam, tidak menampakkan ekspresi apapun.


"Oh ya, kalian sampai seminggu kah menginap di sini? papa sangat berharap," tanya papa.


"Besok pagi kami harus kembali, Pa. Banyak pekerjaan yang penting," jawab tuan Arga datar.


"Oh, ya sudah." Papa menghela nafas panjang, ada gurat kekecewaan yang tidak bisa di sembunyikan dari wajahnya.


"Kapan-kapan kami akan main kesini lagi, Pa," ujarku.


"Papa akan dengan senang hati menyambutnya, karena papa memang sangat kesepian di rumah ini," jawab papa penuh harap.


"Bagaimana kalau papa ikut tinggal bersama kami, papa tidak akan kesepian lagi," ujarku penuh semangat, berharap saranku di terima.


"Tidak, Nak. Papa tidak bisa meninggalkan rumah ini," jawab papa, kini ia kembali menundukkan kepalanya.


"Baiklah, Pa. Sabrina hanya memberi saran, jika memang papa tertarik, tentu tuan Arga juga sangat senang, iya kan, Honey?" kataku melempar pandangan pada laki-laki yang sedang menunduk memainkan sendok di tangannya.


"Eh, iya-iya." Tuan Arga menjawab sambil menggaruk kepalanya, aku tau dia sedang memikirkan sesuatu sampai-sampai tidak mendengar apa yang sedang kami bicarakan.


Entah apa yang masih membayangi pikiran laki-laki itu sehingga ia kembali tidak fokus dan terlihat salah tingkah.


Banyak sekali jenis tanaman anggrek disini, dengan berbagai jenis yang berbeda tentunya.


"Anggrek-anggrek ini sangat cantik, ya, Honey," ucapku mencoba mengajaknya bicara, karena sejak bertemu papa di meja makan tadi ia lebih banyak diam.


"Ya, cantik, sepertimu."


"Benarkah? aku cantik?" Aku menggodanya.


"Dulu kau bilang aku ini tidak menarik, kurang cantik."


"Itu karena aku belum mencintaimu, sekarang aku mencintaimu, jadi hanya kau lah wanita paling cantik dan menarik bagiku," ujarnya tersenyum.


"Hmm, begitu ya. Dulu aku juga tidak mencintaimu, tapi kenapa aku sudah bisa melihat ketampananmu?" tanyaku sok polos.


"Karena aku sudah tampan dari sananya, itu sudah mutlak."


Hah, di puji sedikit langsung terbang melayang-layang begitu.


Aku memanyunkan bibir, kenapa otaknya itu bisa saja menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang aku lemparkan, mudah sekali dia merangkai kata.


"Jangan cemberut. Baiklah, aku mengakui kalau kau juga cantik dari dulu, cantik sekali," katanya mengacak rambutku asal.


"Bohong!"


"Aku tidak bohong, aku jujur apa adanya."


"Kalau begitu, lukis aku," ujarku nyengir.


"Melukismu? aku sudah lama tidak melukis."

__ADS_1


"Baikalah, aku ngambek! pergi sana!" usirku.


"Kau mau aku melukismu?"


"Ya, lukis aku dengan pose yang cantik," ucapku sedikit girang.


"Tapi ada syaratnya?"


"Apa syaratnya?"


Tuan Arga lalu mengambil ponsel di saku celananya, ia memperlihatkan sebuah cuplikan film lawas tentang sebuah kapal besar yang tenggelam karena menabrak bongkahan es.


Film itu bercerita tentang seorang wanita bangsawan yang jatuh cinta kepada laki-laki sederhana yang pandai melukis.


Di pertengahan tayangan, tampak si wanita berbaring di sofa panjang dengan pose panas tanpa busana sedang di lukis laki-laki yang ia sukai.


"Aku ingin kau berpose seperti ini," ujar tuan Arga menunjuk gambar di layar ponselnya.


Hah, gila ya?


Penyakit gilamu apa sudah kambuh lagi?


"Malu, Honey. Aku tidak mau!" tolakku mentah-mentah.


"Ini akan sangat bagus."


"Tidak, sekali tidak tetap tidak!"


"Baiklah, aku beri diskon. Sebagian tubuh di tutup dengan selimut," rayunya lagi.


"Tidak! mana mungkin aku berpose seperti itu, kalau ada yang lihat bagaimana?"


"Memangnya aku melukismu di jalan raya? kalau di kamar kan tidak akan ada yang melihatmu," lanjutnya.


"Tapi, Honey."


"Sudah, ayo ikut aku!"


Tuan Arga menggandeng lenganku, ia mengajakku menuju kamar lamanya, mengambil beberapa peralatan melukis seperti kuas, cat air, dan sebuah kain putih berukuran lumayan lebar yang sudah di bingkai dengan kayu. Lalu kami kembali menuju kamar tamu yang kami tempati untuk beristirahat selama ini.


"Kemarilah, aku akan membantumu melepas kain-kain yang menghalangi pemandangan indahku ini," ujar tuan Arga mendekap tubuhku, tangannya bergerilya melepas kancing-kancing bajuku.


"Aku tidak mau kalau harus persis di film itu, aku ingin memakai pakaian, itu terlalu memalukan, Honey."


"Hmm, baiklah. Akan ku beri diskon tambahan, kau boleh memakai lingerie hitam kesukaanku," ujarnya sedikit manyun.


"Yes! aku akan memakainya." Usai bajuku terlepas, aku mengambil lingerie yang berada di lemari dan memakainya di depan tuan Arga, dia selalu tak berkedip menatap setiap lekuk tubuhku.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2