TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Ronde kedua


__ADS_3

"Kau senang?" tanya tuan Arga sambil menatapku berdiri di samping tempat tidur.


"Senang kenapa?"


"Jangan pura-pura tidak tau! Cepat siap-siap, papa menunggu kita di bawah," ujarnya sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Akhirnya, pagi ini kami bertiga berolahraga pagi dengan berlari-lari kecil mengelilingi komplek perumahan mewah tempat tuan Arga tinggal, kalau bukan karena papa, mungkin pagi ini aku sudah menjadi santapan lezat bagi tuan Arga diatas kasur, untung saja papa mertuaku ini menyelamatkanku dari terkamn harimau pagi ini.


Aku dan papa berlari-lari kecil sambil mengobrol, membahas tentang makanan kesukaan papa, hobby papa, bahkan tempat-tempat favorit yang sering dikunjungi oleh papa mertuaku ini.


Dengan senang hati aku mendengarnya. Sedangkan tuan Arga berlari di depan kami sambil mengenakan headset yang di sambungkan ke ponsel pintarnya.


Setelah cukup lama kita keliling, akhirnya dengan nafas ngos-ngosan papa meminta kami berhenti sejenak untuk beristirahat.


"Papa senang sekali, akhirnya papa punya anggota keluarga baru," ucap papa padaku.


"Sabrina juga senang punya papa mertua yang begitu baik terhadap Sabrina." Aku tersenyum memandang keriput laki-laki di hadapanku, sedangkan tuan Arga masih menekuk-nekuk badannya, lututnya untuk melemaskan otot.


"Nanti siang kita berenang ,Ya. Sudah lama sekali papa tidak berenang, karena di rumah papa sana tidak punya teman," ujar papa.


"Hah, berenang?" Mendengar kata-kata itu saja sudah membuatku merinding.


"Ada apa, Nak?" tanya papa menatapku heran.


"Dia tidak bisa berenang, Pa," sahut tuan Arga sambil duduk mengambil air mineral di sampingku.


"Benarkah? kenapa kau tidak mengajarinya berenang, Ga?"


"Dia tidak mau," jawab tuan Arga sambil melirikku.


Apa? dasar tukang bohong!


Aku juga ingin sekali bisa berenang, tapi kejadian waktu itu membuatku takut dan trauma, itu semua kan ulahmu, Tuan. Jangan memutar balikkan fakta.


"Nanti Arga akan mengajarimu berenang, Sabrina. Dulu sewaktu masih sekolah dasar, dia sudah menjadi atlit berenang loh," ujar papa sambil tersenyum bangga.


"Wah, benarkah? pasti lucu sekali, Ya." Aku ikut tersenyum membayangkan tuan Arga di masa kecil.


"Apanya yang lucu?" Tuan Arga melirik tajam ke arahku.


"Ya lucu, masih kecil sudah jadi atlit renang, pasti gayanya lucu gitu," jawabku asal, karena ada papa di sebelahku, aku tidak takut lagi tuan Arga mengomel atau menghukumku.


"Kamu mau tau apa yang lebih lucu?" Dia bertanya sambil tersenyum miring.


"Apa?"


"Udah gede tapi sok-sok'an bisa berenang pakek baju renang segala, pada akhirnya kelelep (tenggelam). Itu baru yang namanya lucu!"

__ADS_1


"Hah, dasar!" Aku memukul bahunya dengan keras.


"Kau ini perempuan, kenapa kasar sekali sih?" ucapnya melirikku sinis.


"Apa sakit?"


"Sakit!"


"Hah, kacangan, baru di senggol sedikit saja sakit," ejekku membalasnya.


Dia dengan wajah memerah langsung bangkit dan berjalan meninggalkan aku dan papa. Sedangkan papa yang mendengarkan celotehan kami hanya menahan senyum, mungkin papa berpikir kami ini pasangan suami istri yang aneh.


Akhirnya kami menyelesaikan istirahat kami dan menyusul tuan Arga yang sudah berlari kecil jauh di depan kami.


...


Setelah tubuh sudah basah oleh keringat hasil olahraga sungguhan, kami bertiga kembali pulang. Aku berjalan mengikuti tuan Arga untuk masuk ke dalam kamar, sedangkan papa memilih untuk duduk-duduk sebentar di taman halaman depan.


"Sabrina," sapa tuan Arga saat aku hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Ada apa lagi?" jawabku cuek.


"Kenapa kau jadi cuek begitu padaku?"


"Baiklah, sekarang tuan mau apa?" tanyaku sambil berbalik menatapnya.


"Tentu saja, memangnya kalau saya masuk ke kamar mandi sambil bawa handuk, apa tuan kira saya sedang mau tidur?" Aku menautkan kedua alisku, raut wajah tuan Arga sudah terlihat tidak suka dengan jawaban yang aku berikan.


"Jangan banyak bicara!" ucapnya sambil menghampiriku.


Dengan gerakan tiba-tiba dia langsung mendekap tubuhku di dalam pelukannya, lalu menggiringku menuju tempat tidur sambil menautkan bibirnya pada bibirku.


Kenapa kau suka sekali tiba-tiba seperti ini sih, aku bahkan belum siap.


Dia menjatuhkan tubuhku di atas kasur secara perlahan, sambil menggigit bibir bawahku dengan lembut.


Aku mulai berontak ingin melepaskan diri, ku pikir dengan ajakan papa berolah raga tadi pagi akan mengurungkan niat tuan Arga memakanku pagi ini, namun ternyata itu semua hanya menunda hasratnya.


Dia tidak peduli dengan kedua tanganku yang mendorong dadanya agar menjauh, matanya tetap terpejam menyesap bibirku tanpa ampun. Dia terus melakukannya hingga rasanya aku menyerah berusaha.


Setelah dia menyadari aku mulai pasrah, dia memulai kebiasaan nakalnya menyusuri bagian leherku. Kedua tangannya meraih bagian bawah kaos dan berusaha melepaskan kain itu dari tubuhku.


Dia tidak peduli lagi dengan badanku yang sudah lengket dan basah keringat, dia menikmatinya.


"Bisakah kita lakukan setelah saya mandi?" tanyaku sambil meraih rambutnya.


"Tidak, aku tidak sesabar itu," jawabnya lalu kembali menyesap lembut bibirku.

__ADS_1


Akhirnya kami melakukan olahraga ronde kedua dengan versi yang berbeda, keringat yang sudah membasahi tubuh kami kini bukan lagi basah, namun sudah banjir kemana-mana.


"Selesaikan, Tuan. Kita harus segera turun untuk sarapan, sebelum papa datang memanggil," pintaku, karena aku sudah cukup lelah meladeninya selama satu jam tanpa jeda, bahkan jika tubuhku ini bukanlah ciptaan Tuhan, pasti sudah hancur luluh lantak di buatnya.


"Jangan membuatku tergesa-gesa," jawabnya masih enggan menyelesaikan misinya.


"Tapi---," ucapanku terhenti, suara ketukan pintu mengagetkan kami.


"Sudah ku bilang," lanjutku.


"Sial! siapa yang datang mengganggu," pekiknya kesal.


"Ayo kita sudahi saja, pasti yang berdiri di depan pintu itu papa." Aku meyakinkan, karena tuan Arga masih tidak mau pindah dari posisinya.


"Baiklah, baiklah, terserah apa maumu!"


Akhirnya tuan Arga menyerah dan menyudahi sesi olahraga lanjutan kami, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan tuan Arga kembali memunguti semua pakaian yang berserakan di sembarang tempat untuk menghindari papa berpikir yang iya-iya.


Semoga yang mengetuk pintu itu memang papa, kalau tidak, tuan Arga pasti marah besar karena sudah ada yang berani membuatnya kehilangan momen terbaik sesi sarapan paginya.


Usai mandi, aku menemukan tuan Arga membaringkan tubuhnya diatas kasur sambil kedua matanya terpejam. Aku berjinjit pelan menuju ruang ganti agar tidak membangunkannya, ku biarkan dia beristirahat sebentar, pasti dia sangat lelah karena sudah bekerja keras pagi ini.


"Saa," ucapnya pelan, padahal aku sudah berusaha tidak terlihat olehnya, namun sepertinya laki-laki itu punya penglihatan magic sampai-sampai bisa merasakan kehadiranku dengan kedua matanya yang tertutup.


"Ya." Aku mengurungkan niat membuka pintu ruang ganti.


"Siapkan air hangat, aku mau mandi."


Aku langsung berbalik arah kembali ke kamar mandi dan mengisi bath up untuknya.


Tinggal mutar kran seperti ini saja kau masih menyuruhku, lalu tanganmu itu fungsinya untuk apa, Tuan. Apakah memang fungsi tanganmu itu hanya untuk meraba-raba tubuhku saja?


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2