TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Obat pelangsing


__ADS_3

Usai semuanya terlepas dengan sempurna, aku mendorongnya dengan lembut menuju tempat tidur, kali ini aku bermain cantik sebagai pemeran utama.


Nafas laki-laki itu memburu, tangannya meraba setiap inci tubuhku tanpa terkecuali, melemparkan kecupan di setiap permukaan kulitku dari kepala sampai dada, di sengaja meninggalkan bekas kepemilikan di berbagai wilayah.


Tanpa menunggu aba-aba, aku pun ikut melepaskan semua sisa kain yang melekat di tubuhku, aku membuatnya hanyut dalam gelora hasrat yang benar-benar dahsyat.


Entah dari mana aku mendapatkan keberanian ini, namun aku melakukannya dengan sangat epic, tuan Arga benar-benar tenggelam dalam malam indah yang tidak pernah sekalipun aku bayangkan.


Kami bergumul penuh gairah semalaman, tidak hanya cukup sekali dua kali, kami melakukannya bahkan berkali-kali, ini akan menjadi malam paling gila yang pernah aku alami.


"Ah, sayang," ucap tuan Arga penuh gairah sambil mendesah.


Aku melanjutkan aktifitas nakalku tanpa jeda, kali ini rasanya jiwa dan pikiranku sedang di perbudak setan mesum yang sedang pubertas.


Waktu hampir menunjukkan pukul empat pagi, bunyi ayam jago peliharaan tukang kebun di rumah belakang membuat kami tersadar, bahwa kami sudah harus menghentikan kegilaan ini sebelum kehabisan tenaga dan kewarasan.


"Istirahatlah, Tuan." Aku turun dari atas tubuhnya lalu berbaring di sisi kanannya.


Dia tidak menjawab, matanya terpejam lalu memelukku begitu erat.


Tubuhku rasanya sudah remuk, tulang-tulang ini sepertinya sudah seperti mau lepas dari badan, sungguh liar sekali diriku.


Aku turut memejamkan mata di sampingnya, ku balas pelukan laki-laki ini dengan lembut, berharap nanti terbangun dengan suasana hati yang penuh kebahagiaan.


...


Suara alarm dari ponsel milikku berbunyi, artinya sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, terlihat sinar matahari sudah terang benderang menerobos sela-sela gorden yang tersingkap.


Dengan hati-hati aku menurunkan lengan kekar tuan Arga dari perutku, namun sepertinya dia sengaja menahannya agar lebih berat.


"Saya mau mandi, Tuan." ucapku sedikit berbisik mendekat ke telinganya.


"Lima menit lagi," jawabnya, dia semakin mempererat pelukannya dan menciumi seluruh permukaan wajahku.


"Ini sudah siang, tuan akan terlambat bekerja."


"Aku pemilik perusahaan itu, jadi terserah aku mau datang ke kantor jam berapapun."


Baiklah, baiklah, kau yang paling berkuasa, Tuan. Jadi terserah saja apa maumu!


"Hmm." Aku menghela nafas panjang.


Aku memperhatikan setiap gerakan jarum jam yang berdetak di dinding, sudah hampir sepuluh menit, tapi laki-laki ini masih memelukku begitu erat, bahkan dia semakin menenggelamkan wajahnya di dekat leherku.


"Saya sudah kebelet pipis, Tuan. Saya mohon lepaskan saya, kalau tidak saya bisa ngompol disini," ucapku mencari alasan, tapi saat ini aku memang sedang ingin buang air kecil.

__ADS_1


"Hmm, baiklah."


Akhirnya laki-laki itu menyerah dan mengangkat lengan kekarnya dari tubuhku, dia membalikkan tubuhnya dan berganti memeluk guling di sisi kirinya.


Dengan cepat aku bergegas menuju kamar mandi, berendam dengan air hangat sebentar pasti bisa membuat tubuhku yang sudah lelah begelut berjam-jam ini lebih fit.


Usai mandi, aku langsung menuju ruang ganti dan bersiap-siap dengan pakaian kerjaku.


Setelah aku keluar dari ruang ganti, tuan Arga juga baru saja menyelesaikan mandinya, dia terlihat berdiri di depan meja riasku dengan tangan memegang sesuatu.


"Ini apa, Sabrina?" tuan Arga bertanya sambil menunjukkan satu tablet obat yang sengaja aku sembunyikan.


"Eh, di mana tuan menemukannya?" Aku begitu terkejut melihat apa yang dia pegang.


Gawat, bagaimana ini, apa yang harus aku katakan jika dia tau soal obat itu.


"Di laci ini, ini obat apa? kenapa bentuknya sangat kecil dan warna-warni?" Dia kembali bertanya sambil membolak balikkan apa yang sedang dia pegang.


"Anu, itu---." Aku gugup, udara pagi yang dingin terasa panas di tubuhku, aku sampai berkeringat.


"Jangan-jangan ini obat perangsang," ujarnya sedikit tersenyum miring.


"Mana mungkin, itu bukan obat perangsang." Aku terkejut dengan perkiraan laki-laki itu, bisa-bisanya dia berpikir aku menyimpan obat perangsang.


"Lalu ini obat apa? kenapa di bagian belakangnya ada jadwal minum dari hari senin sampai minggu, dan ini selama satu bulan penuh, jawab, Sabrina!


"Obat pelangsing? siapa yang menyuruhmu meminum obat ini?" Dia melempar obat itu di lantai lalu menginjaknya.


"Emm, maafkan saya, Tuan."


"Aku sudah katakan, aku lebih suka tubuhmu yang berisi, untuk apa kau meminum obat pelangsing, apa kau tidak suka jika aku menyukaimu?" Dia berucap dengan sedikit membentak.


"Saya tidak bermaksud seperti itu, Tuan. Maafkan saya."


"Jauhkan obat itu dari sini, jika aku kembali menemukan obat semacam ini, jangan harap aku mau memaafkanmu!"


Dia berlalu meninggalkanku menuju ruang ganti. Aku sedikit bernafas lega, dia mempercayai apa yang aku katakan.


Jika dia tau kebenaran tentang obat itu, aku tidak tau responnya akan lebih marah dari ini, atau biasa saja. Namun aku belum siap jika dia tau soal ini, biarkan aku melakukan semua ini dengan caraku sendiri, setidaknya ini akan melindungi ku sementara jika terjadi hal-hal buruk di kemudian hari nanti.


Aku duduk di depan meja riasku sambil memoles wajahku dengan bedak, sedikit membuat bibirku semakin merona dengan lipstik merah cerah.


Tuan Arga sudah rapi saat keluar dari ruang ganti, aku meliriknya sekilas. Dia memakai kemeja abu-abu dengan jas hitam, bahkan dia hanya menyisir rambutnya dengan jemarinya, namun meskipun begitu, dia terlihat sangat tampan dan mempesona.


"Maafkan aku jika kata-kataku tadi kasar padamu, Sabrina," ujarnya sambil berdiri mematung di belakangku, aku melihat raut wajah menyesalnya dari pantulan cermin.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya memang salah, maafkan saya." Lagi-lagi aku meminta maaf.


"Dari mana kau mendapatkan obat itu?"


"Emm, saya membelinya di apotik," jawabku asal.


"Jadi, itu bukan obat dari dokter spesialis?" Dia nampak terkejut.


"Bukan, obat seperti itu banyak di jual bebas dan harganya juga tidak mahal, Tuan."


"Berhentilah mengkonsumsi obat seperti itu, belum tentu obat itu bereaksi baik di tubuhmu, itu tidak baik untuk kesehatanmu, aku tidak mau menjadi duda tampan di umurku yang belum cukup tua" lanjutnya.


Hah, dalam hal seperti ini saja kau sudah mengira aku akan mati hanya gara-gara meminum obat murah?


Dan kau berpikir akan menjadi duda tampan, dasar kurang ajar!


"Baiklah," ujarku sambil tersenyum kecut.


"Ayo, kemarilah, kau belum mengucapkan ucapan selamat pagi padaku." Tuan Arga tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, sedangkan aku masih duduk menghadap cermin.


Dengan berat hati aku berdiri dan membalikkan tubuhku menghadap dirinya, aku memeluk tubuhnya dengan erat, dia membalas pelukanku dan mencium kilas keningku.


Beberapa saat kemudian dia merenggangkan pelukannya dan mengangkat daguku perlahan, matanya terpejam, aku mencium bibir basahnya dengan lembut.


Aku benar-benar canggung melakukan ini, tapi sepertinya aku memang harus membiasakan diri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2