
Satu bulan berlalu, aku menjalani keseharianku seperti biasa, datang ke butik setiap pagi di antarkan suamiku, lalu ia kembali menuju kantornya.
Ya, meskipun bang Bimo adalah supir dan pengawal yang baik dan tidak pernah berbuat macam-macam padaku, namun suamiku sangat tidak rela jika membiarkanku duduk dalam satu mobil bersamanya.
Kami tidak boleh berbagi udara yang sama. Karena bisa jadi, karbondioksida yang di hembuskan oleh bang Bimo malah ku hirup sebagai oksigen.
Pemikiran gila macam apa itu!
Setiap hari, bang Bimo selalu membuntuti mobil yang di kendarai suamiku dan aku, selalu begitu. Dia tidak pernah keberatan meskipun ada namun tak di anggap keberadaannya.
Yang lebih mengherankan lagi, suamiku tidak mengizinkan bang Bimo bertegur sapa denganku meski hanya sekedar melempar senyum. Sungguh kecemburuan yang di luar batas standar.
...
Beberapa hari belakangan aku bahkan kehilangan nafsu makan, tubuhku sering lemas dan kepala sering pusing.
Pernah aku datang ke klinik karena merasa sakit kepala yang hebat, tapi dokter bilang hanya karena tensiku rendah. Ya, aku kekurangan sel darah merah, ia hanya meresepkan obat penambah darah dan memberi saran padaku untuk sering makan daging-dagingan dan hati sapi.
Meskipun aku sudah menghabiskan satu tablet obat penambah darah, namun rasa pusing tak kunjung pergi, hampir setiap hari Salimah memasak oseng hati sapi atau rendang daging, namun nihil, kepala masih terasa pusing, yang ada aku malah bosan dan mual.
Pagi ini aku enggan beranjak dari tempat tidur, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, aku sepertinya akan memilih libur bekerja hari ini.
"Sakit kepala lagi, Sayang?" tanya suamiku. Aku hanya mengangguk.
"Ku buatkan susu untukmu," ujarnya meletakkan segelas susu coklat di atas meja. Selama satu bulan ini, aku rutin mengkonsumsi susu pra kehamilan, yaitu susu yang di peruntukkan untuk menyambut kehamilan, susu ini tinggi asam folat, bagus untuk penunjang program hamil yang sedang kami jalani.
Belum habis setengah gelas, aku kembali memuntahkan susu itu bahkan di atas kasur.
"Sayang, kenapa?" ujarnya khawatir, ia meraih selembar tisu dan mengusap bekas susu di area sekitar mulutku.
"Tidak enak," jawabku sambil menyerahkan gelas.
"Ini kan susu yang sama yang setiap hari ku buat, Sayang. Kemarin kok enak." Dia menggaruk kepalanya.
"Apa sudah kadaluarsa? Sebentar, aku akan melihatnya." Dia berjalan menuju meja dekat pintu, mengambil kotak susu dan mencari tanggal kadaluarsa yang tertera di bagian samping kemasan.
"Expired date nya masih satu tahun lagi, Sayang. Lalu kenapa tidak enak?" Dia kembali bertanya, lalu mencoba mencicipi sendiri susu yang tadi ia berikan padaku.
"Ini enak, Sayang."
"Apa lidahku saja yang aneh, dari aromanya saja aku sudah mual, Honey. Tolong jauhkan gelas itu dariku, cepat!" perintahku, entah mengapa aku begitu merasa sangat mual.
"Baiklah, apa perlu ku ganti dengan susu rasa lain?"
"Coba yang rasa strawberry, Honey." Dia mengangguk, lalu membuka kardus susu rasa strawberry yang baru.
Setiap pagi, pelayan selalu mengantarkan satu termos berisi air panas ke dalam kamar, itu di gunakan untuk membuat susu untukku, jadi tidak perlu repot-repot ke dapur.
Setelah selesai membuatnya, ia kembali menyerahkan segelas susu strawberry dalam keadaan hangat. Kali ini aku meneguknya perlahan, meski sedikit terasa mual, aku menahannya.
"Sebaiknya kita ke dokter, Sayang. Aku khawatir," ujarnya, ia membereskan selimut dan bantal yang basah dengan bercak coklat.
"Jadwal kontrol masih 2 hari lagi, Sayang. Lagipula ini karena tensiku yang rendah."
"Tapi, aku tidak tahan melihatmu lemas seperti ini, ayolah, tidak perlu menunggu jadwal kontrol."
"Obat dan vitamin yang di berikan dokter Daren masih ada, cukup untuk 2 hari kedepan."
"Kenapa kau sekarang tidak menurut padaku? ini demi kesehatanmu." Suamiku mulai menaikkan nada suaranya, ia terlihat kesal.
__ADS_1
"Kau selalu saja memaksa, sedikit-sedikit memaksa. Kapan kau mau menuruti keinginanku?" ucapku dengan suara melengking.
Entah mengapa, akhir-akhir ini aku mudah sekali emosi, setiap hal yang dia lakukan selalu salah di mataku, aku hampir darah tinggi di buatnya.
"Baiklah, aku mengalah. Kali ini jangan marah, Sayang. Aku hanya khawatir dengan kondisimu." Suaranya kembali melemah, ia meraih tanganku.
"Sudah, aku bosan di paksa-paksa. Kau pergi kerja saja, tinggalkan aku di rumah sendiri." Ku tepis tangannya kasar, lalu beranjak turun dari tempat tidur.
"Jangan begitu. Aku akan menemanimu seharian, Sayang," ujarnya pelan sambil membantuku berdiri.
"Tidak usah!"
"Sayang ...."
"Jangan panggil-panggil. Aku mau mandi," gerutuku, ku tinggalkan ia yang berdiri menatapku dengan pandangan nanar.
Siapa suruh pagi-pagi sudah ngajak ribut.
Usai mandi, aku sudah melihat baju piyama panjang bergambar boneka terlipat di atas kasur, aku segera mengambilnya dan kembali ke kamar mandi untuk memakainya. Sedangkan laki-laki itu tidak lagi terlihat batang hidungnya di dalam kamar.
Usai mengganti pakaian dan menyisir rambut, aku memoles wajahku yang kian hari kian pucat ini dengan sedikit taburan bedak dan lipstik merah muda yang lembut. Meskipun dalam keadaan tubuh yang lemah, aku masih suka berdandan di depan cermin, memoles make up tipis-tipis meski tidak hendak pergi kemanapun.
"Kau cantik, Sayang." Dia tiba-tiba datang dan mendekat ke arahku yang masih duduk di depan cermin.
"Ayo kita sarapan, Joe sudah menunggu," lanjutnya.
Aku pun bangun dan menggandengnya menuju meja makan, meskipun aku mudah sekali marah dan kesal padanya, namun perasaan itu biasanya tidak bertahan lama, beberapa menit kemudian aku menyesal telah memarahi dan membentaknya.
Di meja makan, aku sudah melihat tuan Joe duduk sambil memainkan ponselnya.
"Kau baik-baik saja, Nona?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.
Setelah sampai di meja makan, aku langsung mengisi piring suamiku dengan dua sandwich berisi potongan daging dan sayuran. Sedangkan aku, tetap makan nasi dengan lauk oseng hati sapi seperti biasa, membosankan. Tuan Joe, tentu saja mengambil menu sarapannya sendiri, ia tidak pernah mau dilayani.
Dengan cepat aku berlari menuju dapur sambil menutup mulut dengan kedua tanganku, aku bahkan menabrak seorang pelayan yang berjalan menuju dapur, tak ku hiraukan panggilan dan teriakan dua laki-laki yang ku tinggalkan di meja makan.
Suamiku berlari mengejar, aku memuntahkan semua isi perutku ke dalam wastafel dapur yang baru saja di bersihkan, ia memijat tengkuk leherku pelan sambil membalurkan minyak kayu putih di sana.
"Sudah ku bilang, ayo kita ke dokter." Dia berkata dengan mata berkaca-kaca, seperti tidak tega melihatku dalam keadaan seperti ini.
"Ya, Nona. Sebaiknya kau harus periksa ke dokter, sepertinya kondisimu serius," timpal tuan Joe, dia juga berdiri tidak jauh dari kami.
Suamiku menuntun tubuhku kembali ke meja makan, ke dua laki-laki itu tampak enggan melanjutkan sesi sarapan mereka.
"Apa ada sesuatu yang salah di makanannya?" tanya tuan Joe lagi. Aku menggeleng.
"Lalu kenapa?"
"Tidak tau, Joe. Dari pagi dia sudah muntah, akhir-akhir ini sering pusing dan mual, tapi di ajak ke dokter selalu nolak," jawab suamiku.
"Dia bilang sudah datang ke klinik, katanya tensi rendah, cukup minum obat penambah darah dan makan daging-dagingan akan kembali normal, buktinya lebih dari seminggu ini keadaannya tidak membaik," lanjut suamiku.
"Hmm, sepertinya kau harus mengunjungi rumah sakit, Nona. Jika tidak ingin keadaan ini terus berlanjut," timpal tuan Joe.
"Aku sudah memaksanya, Joe. Yang ada, dia malah marah padaku," suamiku melirik ke arahku, sedangkan aku duduk bersandar di kursi makan sambil merasakan kepalaku yang berputar-putar.
"Ya sudah, aku harus ke kantor sekarang. Semoga lekas membaik, Nona."
Selepas kepergian tuan Joe, suamiku memapah tubuhku kembali ke kamar, ia berulang kali merayuku dengan berbagai iming-iming agar aku mengizinkannya menghubungi dokter Daren.
__ADS_1
Setelah hampir siang, akhirnya aku menyetujui keinginannya, dan segera menelfon dokter itu untuk datang ke rumah.
"Honey, aku ingin es krim," pintaku.
"Rasa apa? aku akan mengambilnya untukmu."
"Rasa nanas atau mangga, seadanya saja."
"Kau tidak mau coklat?" tanyanya memastikan.
"Kan sudah ku bilang, aku mau rasa nanas atau mangga, masih saja di tawari coklat." Aku mendengus kesal. Padahal sudah jelas apa yang ku bilang, masih saja tanya.
"Iya, iya. Jangan marah."
"Sedikit-sedikit marah," gumamnya yang masih terdengar di telingaku.
Akhirnya dia langsung menuju ruang tengah dan kembali membawa dua es krim sekaligus.
"Ku ambilkan dua-duanya, terserah kau pilih yang mana," ucapnya sambil menyerahkan dua bungkus es krim padaku.
"Kau mau satu?" tanyaku. Dia menggeleng.
"Ya sudah." Aku mencebik, lalu menghabiskan dua es krim sekaligus dalam waktu cepat.
Satu-satunya hal yang bisa menghilangkan rasa tidak enak di perutku adalah es krim ini.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter Daren datang dengan peralatan tempur di dalam tas jinjingnya yang berwarna hitam.
"Istrimu kenapa, Ga?"
"Kalau aku tau, aku tidak perlu menyuruhmu datang kesini," jawab suamiku ketus.
"Dasar, aku kan cuma tanya." Dokter tersenyum miring menatap suamiku. Mereka seperti kucing dan tikus, hampir tidak pernah akrab ketika bertemu, dokter Daren yang suka sekali menjahili suamiku, seperti tidak kehabisan ide untuk membuatnya semakin kesal.
"Apakah kalian sudah melakukannya sesuai jadwal yang ku berikan?" tanya dokter, aku hanya mengangguk.
Ya, meskipun suamiku itu sering merengek sampai tengah malam saat keinginannya sudah memuncak, namun aku tetap menolak dengan tegas karena malam itu bukanlah jadwalnya kami ber iya-iya, akhirnya kami sudah melewatinya selama sebulan dengan penuh drama.
Hampir setiap malam, suamiku itu memaki dokter Daren, karena ulah dokter Daren lah dia tidak bisa mendapatkan olah raga malam sesuka hatinya, dia harus sering libur dan menahan gejolak hasrat yang menggelora.
"Kapan seharusnya kau datang bulan lagi, Nona?" tanya dokter Daren membuyarkan lamunanku.
Aku kembali mengingat, seharusnya aku sudah kedatangan tamu bulanan itu sejak tiga hari lalu. Karena dari jaman gadis, aku selalu mendapatkan jadwal datang bulan di tanggal yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya, tidak pernah sekalipun telat meski sehari, terkadang malah maju.
Apakah aku hamil?
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....